

Kudus Jadi Rumah Kedua bagi Atlet Pra POPDA Jateng Zona III
KUDUS – Pra POPDA Zona III Jawa Tengah selalu menjadi ruang bagi atlet pelajar untuk menguji kemampuan sekaligus memperebutkan kesempatan melangkah ke tingkat provinsi. Di setiap pertandingan, ada target yang ingin dicapai, kerja keras yang telah dipersiapkan jauh sebelum peluit pertama dibunyikan, serta harapan yang dibawa oleh setiap kontingen.
Pada tahun 2026, Pra POPDA Zona III Jawa Tengah berlangsung di Kabupaten Kudus pada 20–23 Juli dengan diikuti lima kabupaten di wilayah eks Karesidenan Pati, yakni Kudus, Pati, Jepara, Rembang, dan Blora. Pembukaan resmi digelar di Pendopo Kabupaten Kudus, menandai dimulainya rangkaian pertandingan yang tersebar di sejumlah venue.
GOR Bung Karno di Kudus Sport Center menjadi arena pertandingan bola basket, sedangkan bola voli indoor dipusatkan di Lapangan Voli Porvit dan Rajawali. Untuk cabang sepak bola, pertandingan digelar di Lapangan Porma, Mlati Norowito, serta Lapangan Tanjungkarang, sementara Gedung Multifungsi Kudus Sport Center dan lapangan Indoor SMAN 2 Bae Kudus menjadi venue cabang sepak takraw.
Penyebaran lokasi pertandingan ini membuat atmosfer kompetisi terasa di berbagai sudut kota. Bagi para atlet pelajar, ajang ini bukan sekadar kompetisi antardaerah, tetapi juga tahap penting untuk membuktikan hasil latihan sekaligus memperebutkan tiket menuju POPDA Jawa Tengah.
Namun, perjalanan menuju kompetisi tidak hanya diukur dari hasil di papan skor. Ada pengalaman yang justru membekas lebih lama setelah pertandingan berakhir. Bagi banyak atlet dan official yang datang ke Kudus pada Pra POPDA Zona III Jawa Tengah 2026, kota ini meninggalkan kesan yang melampaui perannya sebagai tuan rumah. Selama beberapa hari berada di Kota Kretek, mereka tidak hanya menjalani pertandingan, tetapi juga merasakan suasana yang membuat perjalanan kompetisi terasa lebih hangat dan berkesan.
Lebih dari Arena Pertandingan
Pra POPDA Zona III Jawa Tengah resmi dibuka Bupati Kudus Sam’ani Intakoris pada Senin (20/7/2026). Hingga 22 Juli 2026, atlet pelajar dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, dan Blora bersaing dalam empat cabang olahraga, yaitu bola basket, bola voli indoor, sepak bola, dan sepak takraw.

Pertandingan tersebar di sejumlah lokasi. Bola basket digelar di GOR Bung Karno, bola voli indoor berlangsung di Porvit, sepak bola dimainkan di Lapangan Tanjungkarang, sedangkan sepak takraw dipusatkan di Indoor SMAN 2 Bae Kudus. Penyebaran venue tersebut memperlihatkan bagaimana setiap cabang olahraga mendapatkan ruang pertandingan yang telah dipersiapkan sesuai kebutuhannya.
Dalam sambutannya, Sam’ani mengajak seluruh atlet menjadikan pertandingan sebagai sarana belajar sekaligus membentuk karakter. Menurutnya, semangat sportivitas menjadi bagian penting dalam melahirkan atlet yang mampu berkembang hingga level yang lebih tinggi.
Ia berharap setiap pertandingan berlangsung secara adil sehingga menghasilkan atlet-atlet terbaik yang nantinya dapat mewakili Jawa Tengah pada jenjang berikutnya. Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya peran pelatih dalam menemukan dan membina bibit atlet muda agar proses pembinaan berjalan secara berkelanjutan.
Kudus yang Menyambut Para Tamu

Bagi para peserta, kesan terhadap sebuah kota sering kali terbentuk sejak pertama kali mereka turun dari kendaraan. Akses menuju venue, sambutan panitia, hingga kenyamanan fasilitas menjadi pengalaman awal yang menentukan bagaimana mereka menjalani pertandingan.
Muhammad Rizki Nazaruddin, atlet bola voli asal Kabupaten Pati, merasakan hal tersebut selama berada di Kudus. Menurutnya, pertandingan memang menjadi tujuan utama, tetapi pelayanan yang diterima membuat pengalaman bertanding terasa lebih nyaman.

Ia menilai fasilitas venue cukup lengkap, lapangan dalam kondisi bersih, tersedia ruang istirahat, dan seluruh rangkaian pertandingan berlangsung disiplin. Baginya, panitia mampu menjaga jalannya kompetisi sesuai jadwal tanpa keterlambatan.
Di luar arena, Rizki justru menemukan hal lain yang membuatnya ingin kembali datang ke Kudus.
Kuliner menjadi salah satu pengalaman yang paling diingatnya. Ia mengaku menikmati berbagai makanan khas yang ditemui selama berada di kota ini. Pengalaman tersebut semakin lengkap karena bukan kali pertama dirinya datang ke Kudus. Sebelumnya, ia pernah berkunjung saat tradisi Dandangan berlangsung di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh. Keramaian tradisi itu masih menjadi kenangan yang membekas hingga sekarang.
Karena itu, jika suatu saat kembali mendapat kesempatan bertanding di Kudus, ia mengaku akan datang dengan antusias yang sama.
Rasa Nyaman Membuat Ingin Kembali
Cerita serupa datang dari atlet bola voli Kabupaten Jepara, M. Rega Ardian Hidayatullah. Kesempatan mengenakan seragam daerah sudah menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Namun, bertanding di tengah atmosfer pertandingan yang ramai memberikan pengalaman berbeda dibanding latihan sehari-hari.

Ia mengaku senang melihat antusiasme penonton yang memenuhi venue pertandingan. Suasana tersebut membuat setiap pertandingan terasa lebih hidup.
Selain lapangan yang nyaman, Rega juga menilai ruang transit dan fasilitas pendukung lainnya membantu atlet menjalani jadwal pertandingan dengan lebih baik.
Di sela-sela pertandingan, ia menyempatkan diri menikmati Soto Kudus untuk pertama kalinya. Semangkuk kuah hangat dengan cita rasa khas itu menjadi salah satu pengalaman kuliner yang langsung meninggalkan kesan.
Perjalanannya kemudian berlanjut ke kawasan Menara Kudus. Bagi Rega, kawasan tersebut menghadirkan suasana yang berbeda. Ia melihat Kudus sebagai kota yang memiliki nuansa religius sekaligus nyaman untuk dikunjungi kembali pada kesempatan berikutnya.
Menyalanya Semangat Olahraga
Atmosfer pertandingan juga dirasakan Ahmad Wajih Wijdani, atlet sepak takraw asal Jepara. Baginya, pertandingan menjadi lebih berwarna ketika tribun dipenuhi suporter yang memberikan dukungan sepanjang laga.

Sorak-sorai penonton membuat pertandingan berlangsung lebih hidup sekaligus memacu semangat para atlet yang berada di lapangan.
Di luar pertandingan, Ahmad merasakan keramahan masyarakat yang ditemuinya selama berada di Kudus. Ia menggambarkan kota ini sebagai daerah yang ramah, asri, dan memiliki antusiasme tinggi terhadap olahraga.
Pengalaman tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cerita yang akan dibawanya pulang setelah kompetisi selesai.
Kudus Hadirkan Pengalaman Positif
Kesan positif terhadap penyelenggaraan Pra POPDA juga datang dari para pelatih yang mendampingi kontingen masing-masing. Mereka melihat penyelenggaraan pertandingan bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga koordinasi, akses menuju venue, hingga kebutuhan para atlet selama berada di Kudus.
Pelatih bola voli Kabupaten Jepara, Titut Arif Setyawan, menilai koordinasi panitia berjalan baik sejak awal pertandingan. Menurutnya, akses menuju lokasi pertandingan mudah dijangkau, sementara pilihan kuliner dan fasilitas kota menjadi nilai tambah bagi seluruh kontingen.

Ia juga melihat posisi Kudus yang berada di kawasan tengah Pantura membuat kota ini relatif mudah dijangkau dari berbagai daerah peserta.
Penilaian serupa disampaikan Pelatih bola voli Kabupaten Pati, Kusnaidi Adang. Menurutnya, antusiasme peserta dan suasana pertandingan berjalan baik selama Pra POPDA berlangsung.
Ia mengapresiasi koordinasi panitia, dukungan terhadap kebutuhan transportasi dan akomodasi, serta keramahan masyarakat yang ditemui selama mendampingi atlet bertanding.

Sementara itu, Pelatih sepak takraw Jepara, Anom Estu Prasetyo, melihat perkembangan olahraga di Kudus mengalami perubahan yang cukup terasa dibanding beberapa tahun lalu.

Menurutnya, pembinaan atlet di Kudus semakin berkembang. Ia menilai kualitas pemain yang dimiliki saat ini menunjukkan hasil dari proses pembinaan yang berjalan secara konsisten hingga mampu bersaing di tingkat Jawa Tengah.
Saat Kota dan Olahraga Tumbuh Bersama
Setiap penyelenggaraan kejuaraan selalu menghadirkan dua cerita yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, ada pertandingan yang menentukan siapa melangkah ke babak berikutnya. Di sisi lain, ada kota yang menjadi ruang pertemuan bagi ratusan atlet, pelatih, official, dan masyarakat.

Selama tiga hari penyelenggaraan Pra POPDA Zona III Jawa Tengah, Kudus memperlihatkan bahwa sebuah kota olahraga tidak hanya dibangun melalui venue pertandingan. Pengalaman para tamu juga terbentuk dari pelayanan panitia, kemudahan akses, kebersihan fasilitas, keramahan masyarakat, hingga kesempatan menikmati kekayaan kuliner dan destinasi yang dimiliki daerah tersebut.
Ketika pertandingan selesai dan kontingen kembali ke daerah masing-masing, yang mereka bawa bukan hanya catatan hasil pertandingan atau pengalaman bertanding di lapangan. Mereka juga membawa ingatan tentang ruang transit yang nyaman, lapangan yang tertata, sorak-sorai suporter, semangkuk Soto Kudus, kunjungan ke Menara Kudus, hingga sambutan hangat masyarakat yang mereka temui selama berada di kota ini.

Pra POPDA Zona III Jawa Tengah pun menjadi pengingat bahwa sebuah kejuaraan tidak hanya melahirkan pemenang. Ia juga mempertemukan banyak orang dalam satu pengalaman bersama.
Di Kudus, olahraga menghadirkan lebih dari sekadar kompetisi. Kota ini menjadi tempat singgah yang memberi kenyamanan, meninggalkan kesan, dan membuat banyak atlet merasa datang bukan sekadar sebagai tamu, melainkan seperti pulang ke rumah kedua. (ITN/mainkekudus)