

KUDUS – Mengangkat beban dalam olahraga angkat besi membutuhkan lebih dari kekuatan fisik. Ketepatan teknik, keseimbangan gerakan, disiplin, dan kesiapan mental menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang atlet. Bagi para lifter perempuan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, olahraga ini juga menjadi ruang untuk membuktikan kemampuan sekaligus menepis anggapan bahwa angkat besi hanya cocok bagi laki-laki.
Sejak pembinaan Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Kabupaten Kudus mulai aktif pada 2024, regenerasi atlet perempuan terus diupayakan. Sekitar sepuluh atlet putri berusia 13–18 tahun tercatat mengikuti pembinaan, dengan pengalaman dan kemampuan yang beragam.
Sebagian telah mencicipi persaingan di kompetisi pelajar dan menjalani persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Sebagian lainnya masih mempelajari teknik dasar, membangun kekuatan fisik, dan mengenal dunia kompetisi.
Perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana regenerasi atlet dibangun melalui pembinaan berkelanjutan, dukungan lingkungan, serta keberanian anak perempuan untuk mencoba olahraga yang belum banyak dikenal masyarakat.

Ketua PABSI Kabupaten Kudus sekaligus pelatih angkat besi, Meka Yulianto, melihat peluang besar dalam pengembangan atlet perempuan. Namun, keterbatasan pengenalan olahraga ini masih menjadi tantangan dalam menjaring bibit potensial.
Kekhawatiran orang tua terhadap risiko cedera serta anggapan bahwa latihan beban dapat menghambat pertumbuhan tinggi badan anak menjadi persoalan yang kerap dihadapi. Karena itu, pengenalan angkat besi perlu disertai pemahaman mengenai teknik, keselamatan, dan tahapan latihan yang sesuai dengan usia atlet.
“Peluang untuk putri ini sebenarnya lebih besar,” kata Meka.
Pembinaan angkat besi Kudus mulai berjalan aktif pada 2024, meskipun saat itu masih menghadapi keterbatasan peralatan. Partisipasi dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) pada 2025 dan 2026 kemudian membuka kesempatan untuk memperkenalkan olahraga ini sekaligus menemukan calon atlet.
“Dengan adanya Popda itu, jangkauan kita lebih mudah untuk mencari bibit-bibit ke depannya,” ujar Meka.
Penjaringan juga dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Latihan telah berjalan di SMK Ma’arif dan SMP 1 Kaliwungu, sementara pengurus menjangkau sejumlah sekolah lain, termasuk SMK Masehi, SMK Bakti, dan SMA 1 Bae.
Dengan sekitar enam sekolah yang terhubung dalam pengembangan angkat besi, perluasan jangkauan pembinaan masih menjadi pekerjaan penting.
Pembinaan yang awalnya berfokus pada siswa SMA mulai diperluas ke tingkat SMP pada 2026. PABSI Kudus juga memiliki rencana menjangkau siswa sekolah dasar, khususnya kelas V dan VI, untuk memperkenalkan olahraga ini sejak usia lebih muda.
“Tahun 2025 kita fokus untuk yang SMA. Kemudian pada 2026 ini sudah mulai merambah ke SMP. Semoga saja nanti tahun 2027 kita mulai masuk ke SD, khususnya kelas V dan VI,” katanya.
Perluasan tersebut berjalan beriringan dengan pendekatan latihan bertahap. Atlet pemula terlebih dahulu membangun kekuatan fisik dan mempelajari gerakan dasar sebelum meningkatkan beban sesuai kemampuan.
Menurut Meka, kekuatan otot tidak otomatis membuat seseorang mampu melakukan angkatan dengan benar. Teknik menjadi faktor penting yang harus dikuasai melalui latihan konsisten.
“Otot besar pun belum tentu bisa mengangkat seperti itu, karena butuh teknik,” katanya.
Dalam proses pembinaan, atlet senior turut mendampingi junior untuk memperbaiki gerakan dan berbagi pengalaman. Pendekatan ini membantu atlet pemula beradaptasi sekaligus membangun kedekatan antargenerasi.

Bagi Agustina Azani, perjalanan menjadi lifter tidak selalu berjalan mulus. Sejak mulai menekuni angkat besi pada 2023, ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk cedera dan terkilir yang sempat menghambat aktivitas latihan.
Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kemampuan fisik harus diimbangi ketahanan mental. Ada masa ketika latihan terasa berat, tetapi keinginan untuk berkembang membuatnya terus berusaha.
“Perjalanannya berat sih, tapi kita tetap semangat,” ujar Agustina.
Sebagai atlet yang mengikuti program Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), Agustina terbiasa menjalani latihan fisik dan teknik secara teratur. Persiapan menghadapi kompetisi juga menuntut penyesuaian program, termasuk latihan khusus selama sekitar satu bulan menjelang pertandingan.
“Untuk meraih medali dan prestasi, kita harus tetap semangat,” katanya.

Seiring waktu, Agustina merasakan perubahan pada kekuatan tubuhnya. Kemampuan fisik yang meningkat menjadi salah satu hasil nyata dari latihan yang dijalani, meskipun masih banyak aspek yang ingin terus diperbaiki.
Ia memasang target meraih medali perunggu atau perak dalam kompetisi yang diikutinya. Cita-citanya pun lebih jauh, yakni memiliki kesempatan tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON).
Bagi Agustina, angkat besi bukan alasan bagi perempuan untuk merasa minder. Justru melalui olahraga ini, ia belajar mengenali kemampuan diri, menghadapi tantangan, dan membangun kepercayaan diri.
Perjalanan menjadi atlet angkat besi juga dialami Zabrina Putri Calista, atlet asal Kabupaten Kudus yang kini duduk di kelas XI SMA 2 Bae Kudus. Ia mulai mengenal angkat besi pada awal 2024 setelah diajak dan diikutkan oleh gurunya di SMP 1 Kaliwungu Kudus, yang melihat adanya potensi dalam dirinya.
Pada awal latihan, Zabrina sempat takut menghadapi beban yang harus diangkat. Perasaan tersebut perlahan berubah menjadi ketertarikan setelah ia mulai memahami teknik dan menjalani latihan secara rutin.
Namun, proses meningkatkan kemampuan tidak selalu mudah. Ada kalanya perkembangan angkatan terasa lambat, sementara kekhawatiran terhadap cedera membuatnya ragu.

“Ya takut gitu, kalau misalnya angkatannya ga naik-naik kan bisa mengakibatkan cedera jadi takut masuk rumah sakit kalau sakit terus,” ungkap Zabrina.
Meski menghadapi keraguan, ia tetap mengikuti arahan pelatih. Latihan yang dijalani secara bertahap membawanya pada kesempatan mengikuti seleksi atlet tingkat kabupaten.
Awalnya, Zabrina hanya ingin mencoba tanpa membayangkan akan terpilih mewakili Kudus di Porprov. Hasil seleksi tersebut menjadi pengalaman yang tidak disangkanya.
“Sempat ga nyangka bisa masuk Porprov, karena awalnya kemarin iseng aja ikut seleksi tapi malah keterima ikut Porprov,” katanya.
Sejak November 2025, Zabrina menjalani persiapan menuju Porprov. Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanannya untuk menguji teknik, kesiapan fisik, dan mental bertanding.
Pengalaman itu juga memperbesar ambisinya. Zabrina ingin terus meningkatkan kemampuan hingga memiliki kesempatan bersaing di tingkat internasional.
Di luar target prestasi, ia memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada perempuan seusianya. Menjadi kuat secara fisik tidak berarti harus kehilangan sisi feminin. Baginya, perempuan tetap dapat mengekspresikan kepribadian sekaligus menunjukkan kemampuan dalam olahraga yang menuntut kekuatan.

“Sempat ga nyangka bisa masuk Porprov, karena awalnya kemarin iseng aja ikut seleksi tapi malah ketrima ikut Porprov,” katanya.
Pengalaman itu menjadi kesempatan bagi Zabrina untuk menguji kemampuan yang telah dibangun selama latihan. Ia menyadari bahwa penguasaan teknik dan kesiapan mental masih perlu terus dikembangkan, terutama ketika menghadapi atlet yang lebih berpengalaman.
Ke depan, Zabrina ingin meningkatkan kemampuannya hingga memiliki kesempatan bersaing di tingkat internasional. Ia juga ingin mendorong perempuan lain agar berani mencoba olahraga yang selama ini kerap dianggap identik dengan laki-laki.
Bagi Zabrina, menjadi perempuan tangguh tidak berarti harus meninggalkan sisi feminin. Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan dapat memiliki kekuatan fisik sekaligus tetap mengekspresikan diri sesuai kepribadian.

Jika Agustina dan Zabrina telah mengenal kerasnya latihan dan persaingan, Nabila Dewi Safari, Siswi kelas VII MTS NU Hasyim Asyhari 1 Kabupaten Kudus ini masih berada pada tahap awal perjalanan sebagai lifter.
Nabila Dewi Safari, mulai mengenal angkat besi sekitar dua bulan lalu. Ketertarikannya tumbuh dari keinginan untuk memiliki piala dan meraih prestasi melalui olahraga yang kini ditekuninya.
“Pengen punya piala,” ungkap Nabila.
Sebagai atlet pemula, Nabila masih mempelajari teknik dasar, mengenali kemampuan tubuh, dan beradaptasi dengan beban latihan. Ia mengaku pernah mengangkat beban seberat 17 kilogram dan menyukai latihan dengan beban 15 kilogram.
Meski belum pernah mengikuti pertandingan, Nabila sudah memiliki keinginan untuk menjajal kompetisi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). “Aku pengen bisa ikut di Popda,” katanya.
Keinginan tersebut menjadi motivasi bagi Nabila untuk terus belajar dan berlatih. Baginya, meraih piala menjadi salah satu impian yang ingin diwujudkan melalui angkat besi. Perjalanannya masih berada di tahap awal, dengan kemampuan yang terus dibangun melalui latihan dan pendampingan.

Perjalanan Agustina, Zabrina, dan Nabila menggambarkan tiga tahapan penting dalam regenerasi atlet perempuan. Ada ketekunan untuk mempertahankan kemampuan, keberanian menghadapi persaingan, dan semangat generasi baru yang mulai mengenal olahraga angkat besi.
Ketiganya memiliki pengalaman dan target berbeda, tetapi tumbuh dalam proses pembinaan yang sama.
Bagi PABSI Kudus, keberlanjutan regenerasi membutuhkan lebih banyak kesempatan bagi anak perempuan untuk mengenal angkat besi. Perluasan pembinaan di sekolah, komunikasi dengan orang tua, ketersediaan fasilitas, serta pendampingan yang sesuai dengan kemampuan atlet menjadi bagian penting dalam membangun fondasi tersebut.
Kompetisi seperti Popda dan Porprov menjadi sarana mengukur hasil latihan sekaligus membuka jalan menuju jenjang prestasi lebih tinggi. Namun, pembinaan juga harus memastikan bahwa atlet pemula memiliki ruang untuk berkembang dan atlet yang lebih berpengalaman mendapat kesempatan meningkatkan kemampuannya.
Di tengah tantangan stigma dan keterbatasan jangkauan pembinaan, para lifter perempuan Kudus terus membangun jalannya sendiri. Setiap angkatan bukan hanya ukuran kekuatan, tetapi juga bagian dari proses panjang menumbuhkan kepercayaan diri, menjaga regenerasi, dan membuka peluang prestasi bagi generasi berikutnya. (FZ/mainkekudus)