

KUDUS – Matahari belum terlalu tinggi ketika Alun-Alun Simpang 7 Kudus mulai dipenuhi warga pada Minggu (13/9/2026) pagi. Jersey dengan warna yang sama terlihat di berbagai sudut. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berkelompok dengan rekan kerja, dan ada pula yang berkumpul bersama teman.
Suasana semakin ramai menjelang dimulainya Mlampah Sesarengan Bupati dan Wakil Bupati Kudus. Sekitar 10 ribu peserta berkumpul untuk mengikuti jalan sehat dalam rangka Hari Jadi ke-477 Kota Kudus. Dari titik start, peserta akan berjalan menempuh rute sekitar enam kilometer sebelum kembali ke Alun-Alun Simpang 7 sebagai garis finis.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang bagi warga untuk beraktivitas bersama. Jalan sehat tidak hanya mempertemukan peserta dari berbagai kelompok, tetapi juga menghadirkan suasana pagi yang berbeda di pusat Kota Kudus.

Sejak pagi, peserta mulai berdatangan ke kawasan Alun-Alun Simpang 7. Kerumunan warga terlihat semakin padat menjelang pelepasan.
Mereka datang dengan berbagai cara. Anak-anak mengikuti orang tua, kelompok rekan kerja berjalan bersama, sementara sejumlah warga memilih menikmati suasana sebelum perjalanan dimulai.
Tahun ini, jumlah peserta mencapai sekitar 10 ribu orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang diikuti sekitar 8 ribu peserta.
General Manager Radar Kudus, selaku ketua panitia, Ugi Wahyu mengatakan antusiasme warga sudah terlihat sejak proses registrasi. Pendaftaran masih ramai hingga sehari sebelum kegiatan. Bahkan, sebagian warga datang pada pagi hari untuk mendapatkan tiket melalui stan yang disiapkan di sekitar Alun-Alun Simpang 7.

Besarnya jumlah peserta juga membuat kebutuhan perlengkapan harus dipersiapkan dalam waktu yang terbatas. Salah satunya jersey. Lima hari sebelum kegiatan, kebutuhan jersey masih kurang sekitar 5 ribu. Kebutuhan tersebut akhirnya terpenuhi dua hari menjelang pelaksanaan.
Ketika bendera start dikibarkan, peserta mulai bergerak meninggalkan Alun-Alun Simpang 7. Kerumunan yang sebelumnya terkonsentrasi di titik awal perlahan memanjang mengikuti rute.

Rute Mlampah Sesarengan melewati Jalan Jenderal Sudirman, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Pramuka, dan Jalan Pemuda sebelum kembali menuju Alun-Alun Simpang 7.
Jarak sekitar enam kilometer tersebut ditempuh dengan suasana yang santai. Peserta tidak hanya berjalan dengan kelompoknya masing-masing, tetapi juga menikmati perjalanan bersama warga lain yang berada di sepanjang rute.
Anak-anak berjalan bersama orang tua. Ketika langkah mulai melambat, anggota keluarga saling menunggu. Rombongan rekan kerja juga memanfaatkan perjalanan untuk berbincang.
Di antara ribuan peserta, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus Belinda Putri Sabrina Birton turut berjalan bersama masyarakat.

Bagi Sam’ani, kebersamaan menjadi bagian penting dalam peringatan Hari Jadi ke-477 Kota Kudus. Ia menilai pemerintah membutuhkan dukungan berbagai unsur masyarakat untuk menjalankan pembangunan daerah.
“Pemerintah itu tidak bisa melakukan apa-apa tanpa dukungan masyarakat. Ada tokoh masyarakat, tokoh agama, para kiai, ulama, sesepuh, dan seluruh stakeholder. Kudus ini milik kita bersama,” kata Sam’ani.
Kehadiran kepala daerah di tengah peserta membuat interaksi berlangsung lebih dekat. Warga dapat bertemu langsung dan berbincang dalam suasana yang tidak formal.
Belinda mengatakan salah satu hal yang paling terlihat selama kegiatan adalah antusiasme masyarakat. Warga dapat berjalan bersama Bupati, Forkopimda, serta masyarakat lainnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan pemerintah untuk mendengar langsung kondisi dan aspirasi masyarakat.

Mengikuti jalan sehat selama enam kilometer menjadi salah satu bentuk aktivitas fisik yang dilakukan bersama-sama. Peserta dari berbagai kelompok usia berada dalam satu rute yang sama.
Suasana tersebut membuat pesan hidup sehat hadir melalui aktivitas sederhana. Warga berjalan, bergerak, dan menghabiskan waktu pagi di ruang terbuka bersama keluarga maupun kelompok masing-masing.
Semangat tersebut berjalan beriringan dengan agenda Menuju Kudus Sehat yang menjadi bagian dari arah kegiatan. Namun, kebiasaan hidup sehat tidak berhenti pada satu kegiatan jalan sehat.
Setelah acara selesai, peserta tetap memiliki pilihan untuk melanjutkan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan yang terbentuk juga dapat diteruskan melalui kegiatan bersama keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar.
Bagi peserta, pengalaman mengikuti jalan sehat pun tidak selalu hanya berkaitan dengan jarak yang ditempuh. Ada yang menikmati perjalanan bersama keluarga. Ada yang senang dapat mengikuti kegiatan dengan rekan kerja. Ada pula yang datang karena ingin merasakan suasana peringatan Hari Jadi Kota Kudus.
Mokhammad Jadid, salah seorang peserta, datang bersama 21 guru dari SMP 1 Kaliwungu. Ia menikmati perjalanan tersebut sebagai kesempatan melakukan kegiatan bersama di luar rutinitas.
“Yang berkesan itu jalan bersama, antusiasme-nya, dan banyak keluarga yang ikut,” ujar Jadid.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada tahun-tahun berikutnya. Namun, dari pengalaman mengikuti rute, ia juga memberikan catatan mengenai kebutuhan titik air yang menurutnya masih perlu diperbanyak.
Selain peserta, keramaian Mlampah Sesarengan juga menghadirkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi. Ribuan orang yang berkumpul menciptakan kebutuhan terhadap makanan, minuman, hingga berbagai jasa.
Pedagang dan pelaku UMKM memanfaatkan keramaian tersebut untuk menawarkan produk kepada peserta. Setelah berjalan, warga dapat membeli makanan dan minuman sebelum melanjutkan aktivitas di sekitar Alun-Alun Simpang 7.
Bagi Sam’ani, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan besar seperti ini berkaitan dengan semangat “Urup Nguripi Kudus”. Menurutnya, ketika produk lokal dibeli dan digunakan, aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak.
“Kalau produk lokal itu urup, laku, maka ekonomi akan bergerak. Pabrik bisa berjalan, pekerja punya pekerjaan dan penghasilan, uang juga berputar di masyarakat,” jelas Sam’ani.
Gambaran lain terlihat dari aktivitas parkir. Ugi memperkirakan sekitar 6 ribu hingga 7 ribu sepeda motor memenuhi kantong-kantong parkir selama kegiatan. Dengan tarif sekitar Rp3 ribu, aktivitas tersebut menjadi bagian dari pergerakan ekonomi yang muncul bersamaan dengan kedatangan peserta.
Keramaian juga dimanfaatkan sejumlah pelaku jasa. Salah satunya Aries Widodo, pemilik Street Barbershop dan Cukor Bro Barbershop dan Barber School.

Aries membawa 20 barber untuk memberikan layanan cukur rambut gratis di belakang Gerbang Timur Pendopo Kabupaten Kudus. Layanan tersebut digelar atas permintaan Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai bagian dari rangkaian Mlampah Sesarengan.
Sekitar 500 orang disebut mencoba layanan cukur tersebut. Bagi Aries, kegiatan itu bukan hanya kesempatan memberikan layanan kepada masyarakat, tetapi juga mempertemukan para siswa dan alumni yang pernah belajar kepadanya.

Dua puluh barber yang hadir merupakan siswa dan alumni yang pernah belajar kepada Aries. Setelah menyelesaikan pembelajaran, sebagian dari mereka diarahkan untuk membuka usaha secara mandiri.
“Saya juga membuka kursus. Jadi kami memberikan keterampilan dan peluang kerja kepada siswa. Setelah lulus, kami arahkan kalau memang mau membuka usaha, supaya bisa mandiri,” ujar Aries.
Keterlibatan mereka dalam Mlampah Sesarengan menjadi kesempatan untuk menunjukkan pekerjaan yang mereka tekuni sekaligus memberikan layanan kepada masyarakat.
Aries berharap profesi barber mendapat perhatian lebih. Menurutnya, pekerjaan tersebut masih kerap dipandang sebelah mata, meskipun keterampilan mencukur dapat menjadi bekal untuk memperoleh penghasilan dan membuka usaha.

Ia berharap dukungan terhadap pelaku barber dapat diwujudkan melalui fasilitas yang membantu mereka berkembang.
Dari kegiatan tersebut, Aries juga merasakan perubahan jumlah pengunjung. Ia menyebut jumlah orang yang datang untuk mendapatkan layanan cukur meningkat sekitar dua hingga tiga kali dibandingkan kondisi normal.
Keramaian memberikan ruang pertemuan antara pelaku usaha dan masyarakat. Bagi UMKM, kegiatan seperti ini tidak hanya berkaitan dengan transaksi, tetapi juga kesempatan memperkenalkan produk maupun keterampilan kepada lebih banyak orang.

Setelah peserta menyelesaikan rute, perhatian warga belum sepenuhnya beralih dari Alun-Alun Simpang 7. Rangkaian kegiatan masih berlanjut dengan pengundian hadiah.
Kupon yang dibawa peserta sejak awal kembali menjadi pusat perhatian. Satu per satu nomor dipanggil dari atas panggung.
Hadiah yang disiapkan untuk peserta antara lain sepeda gunung, sepeda motor, motor listrik, dan hadiah lainnya. Tiga motor listrik Polytron juga menjadi bagian dari hadiah yang diundi. Puncaknya adalah hadiah utama berupa satu paket umrah.


Saat nomor disebut, peserta mulai memeriksa kupon masing-masing. Ada yang bersorak ketika nomor mereka sesuai dengan pengumuman. Sebagian lainnya masih menunggu kemungkinan nomor berikutnya menjadi milik mereka.

Pengundian tersebut membuat peserta memiliki pengalaman lain setelah menyelesaikan perjalanan enam kilometer. Bagi sebagian warga, hadiah menjadi kejutan tambahan setelah mengikuti jalan sehat. Bagi peserta lainnya, kebersamaan sejak garis start tetap menjadi bagian yang paling berkesan.
Kegiatan kemudian perlahan memasuki penghujung. Peserta mulai meninggalkan kawasan Alun-Alun Simpang 7. Pedagang membereskan lapak, sementara jalan yang sebelumnya dipenuhi ribuan jersey kembali berangsur lengang.

Menjelang siang, Mlampah Sesarengan berakhir. Sekitar 10 ribu orang telah menyelesaikan perjalanan mereka dengan cerita masing-masing.
Ada peserta yang pulang bersama keluarga. Ada yang kembali bersama rekan kerja. Ada pula yang membawa hadiah dari pengundian atau membawa pengalaman baru setelah menikmati suasana Kota Kudus dalam satu pagi.
Bagi pemerintah daerah, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk hadir dan bertemu langsung dengan masyarakat. Bagi peserta, jalan sehat menjadi kesempatan bergerak bersama. Sementara bagi pelaku UMKM, keramaian memberikan peluang untuk menawarkan produk maupun jasa.
Tiga hal itu bertemu dalam satu kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Jadi ke-477 Kota Kudus.
Mlampah Sesarengan juga memperlihatkan bahwa kegiatan masyarakat tidak hanya berlangsung di garis start dan finish. Di sepanjang enam kilometer, ada warga yang berjalan, keluarga yang saling menunggu, rekan kerja yang berbincang, pedagang yang melayani pembeli, hingga pelaku jasa yang bekerja.
Ketika kerumunan akhirnya terurai, aktivitas Kota Kudus kembali berjalan seperti biasa. Namun, pengalaman berkumpul dan bergerak bersama telah menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kota Kudus.
Jalan sehat itu selesai setelah enam kilometer. Kebiasaan untuk hidup sehat, menjaga kebersamaan, dan memberi ruang bagi aktivitas ekonomi warga menjadi hal yang dapat diteruskan setelah kegiatan berakhir. (OEB/mainkekudus)