

KUDUS – Minggu pagi di Kudus diisi dengan aktivitas lari. Sekitar 150 peserta berkumpul di Moonlight CMC Beauty, Jalan Veteran, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, untuk mengikuti fun run sejauh 5 kilometer, Minggu (20/9/2026). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-5 Moonlight.
Peserta datang dengan pengalaman berbeda. Sebagian sudah rutin berlatih dan mengikuti event lari, sementara lainnya baru pertama kali mencoba suasana fun run. Dari titik keberangkatan, mereka kemudian menyusuri sejumlah ruas jalan di pusat Kota Kudus sebelum kembali ke lokasi yang sama sebagai garis finis.
Moonlight CMC Beauty sendiri merupakan toko kosmetik yang mulai beroperasi pada 18 September 2021. Saat pertama dibuka, toko tersebut menyediakan berbagai kebutuhan kosmetik, make up, skincare, hingga aksesori. Sejumlah merek seperti Y.O.U, Make Over, Emina, Pixy, dan Wardah disebut tersedia ketika toko mulai beroperasi.
Selain kosmetik, Moonlight CMC Beauty ketika itu juga menyediakan aksesori seperti bando, jepit, sisir, dan tas. Pada awal operasional, toko tersebut tercatat buka setiap hari pukul 08.00–21.00 WIB.
Lima tahun setelah pembukaannya, kawasan di depan toko tersebut menjadi titik awal sekaligus finis Moonlight Run 2026. Perayaan ulang tahun Moonlight pun diisi dengan kegiatan olahraga yang mempertemukan peserta dengan latar belakang dan pengalaman lari yang beragam.

Dari titik keberangkatan di Moonlight, Jalan Veteran, peserta bergerak ke arah barat menuju Perempatan Sucen. Rombongan kemudian berbelok ke selatan menuju Perempatan Majapahit sebelum melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Rute berikutnya melewati Jalan Mangga dan Gang 4. Dari kawasan tersebut, peserta bergerak menuju lampu merah Wergu, kemudian mengarah ke utara hingga Perempatan SMP 2.
Perjalanan berlanjut ke arah barat dengan melewati kawasan Alun-alun Kudus dan pusat kuliner Taman Bojana. Peserta kemudian memasuki Jalan Sunan Muria menuju perempatan Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK).
Dari PPRK, pelari bergerak ke arah barat hingga kembali menuju Jalan Veteran. Setelah menyelesaikan jarak kurang lebih 5 kilometer, peserta kembali ke titik awal yang sekaligus menjadi garis finis.
Rute tersebut membuat peserta melewati sejumlah kawasan yang menjadi bagian dari aktivitas Minggu pagi di pusat Kota Kudus. Pengaturan lalu lintas menjadi perhatian karena beberapa bagian lintasan berdekatan dengan kawasan Car Free Day dan Alun-alun Kudus.
Panitia menempatkan satu water station di Perempatan Jalan Mangga. Titik tersebut sekaligus digunakan sebagai checkpoint bagi peserta.
Peserta yang melewati titik itu mendapatkan gelang yang nantinya dapat ditukarkan dengan gift khusus dari Moonlight. Kehadiran water station menjadi salah satu bagian pendukung selama peserta menempuh lintasan.
Pengaturan rute juga dibantu sejumlah marshal. Mereka ditempatkan di beberapa persimpangan dan mengenakan rompi oranye untuk membantu mengarahkan peserta.
Pengamanan melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa Desa Glantengan, dan Polsek Kota Kudus. Kehadiran petugas diperlukan untuk membantu menjaga pergerakan peserta sekaligus mengatur lalu lintas di sejumlah ruas yang dilewati.
Koordinator Komunitas Kudus Runners, Izzad Sofyan Amrullah, mengatakan penyelenggaraan Moonlight Run juga menjadi bagian dari upaya Moonlight memperkenalkan kegiatannya kepada masyarakat di wilayah Kudus dan sekitarnya.
“Intinya Moonlight ini kan sedang ulang tahun yang ke-5. Moonlight ingin meningkatkan exposure agar lebih dikenal masyarakat Kudus, Jepara, Pati, dan sekitarnya,” ungkap Izzad.

Salah satu cerita menarik datang dari Alvin Nurinnuha Santoso. Peserta asal Demak tersebut baru pertama kali mengikuti event lari ketika turun di Moonlight Run 2026.
Sebelumnya, Alvin lebih sering berlatih sendiri. Ia biasa berlari di GOR, Oasis, maupun di rumah. Untuk mengikuti fun run 5K, ia juga telah terbiasa menempuh jarak serupa dalam latihan.
Sesekali, Alvin melakukan long run hingga 10 kilometer. Persiapan itu membuatnya tidak asing dengan jarak yang harus diselesaikan pada Minggu pagi tersebut.
“Ini kali pertama saya ikut event lari,” kata Alvin.
Dalam perlombaan pertamanya, Alvin justru menjadi peserta yang lebih dahulu mencapai garis finis. Ia menyelesaikan lintasan dengan waktu kurang lebih 15 menit.

Catatan tersebut tidak membuat seluruh perjalanan terasa mudah. Alvin mengaku mulai merasakan kelelahan ketika memasuki kilometer ketiga hingga keempat.
“Sudah nggak kuat,” ujarnya sambil tertawa ketika menceritakan bagian lintasan yang paling menguras tenaganya.
Namun, ia tetap mampu mempertahankan langkah hingga mencapai garis akhir. Pengalaman tersebut membuat Alvin tertarik untuk kembali mengikuti event lari lainnya.
“Sangat seru. Ini juga menjadi pengalaman pertama saya mengikuti event seperti ini dan saya ingin ikut lagi kalau ada,” katanya.

Bagi Dewi Suryani dan Mega Indah Silfiani, mengikuti Moonlight Run bukan pengalaman pertama. Keduanya sudah tiga kali mengikuti event lari di Kudus.
Aktivitas tersebut juga tidak berhenti ketika tidak ada perlombaan. Setiap Sabtu, mereka biasa berolahraga bersama di Oasis.
Dewi melihat aktivitas fisik sebagai bagian dari kebiasaan yang perlu dipertahankan. Ia memilih tetap aktif meski usia terus bertambah.
“Umur saya sudah mulai sunset, area senja. Kita harus tetap fit, tetap strong, dan finish strong,” ujar Dewi.

Keduanya juga tidak menjadikan jumlah teman sebagai syarat untuk mulai berolahraga. Datang sendiri, berdua, atau bersama kelompok tetap dapat dilakukan.
Bagi mereka, kemauan untuk bergerak menjadi hal yang lebih penting daripada memikirkan siapa yang akan menemani.
Suasana Moonlight Run juga menjadi bagian yang mereka nikmati. Selain lintasan 5 kilometer, peserta mendapatkan refreshment, buah, medali, dan gift.
“Event kali ini seru banget,” kata Mega.

Pengalaman mengikuti event lari juga menjadi kesempatan bagi Dewi dan Mega untuk menyampaikan pesan kepada warga yang baru ingin mencoba olahraga tersebut.
Menurut Mega, seseorang tidak perlu merasa malu ketika datang sendirian ke sebuah event. Kegiatan seperti fun run dapat menjadi tempat untuk mulai mengenal pelari lain dan membangun kebiasaan olahraga.
“Jangan malu. Kalau mau ikut event seperti ini meskipun belum punya teman, enggak apa-apa. Jangan malu,” ujarnya.
Dewi menambahkan, pelari pemula juga tidak perlu langsung memaksakan kemampuan fisiknya. Jarak dan kecepatan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
“Yang paling penting jangan memaksakan diri. Ukur kemampuan diri sendiri, yang penting fun dulu,” katanya.
Mega juga tidak melihat pace sebagai hal yang harus menjadi perhatian utama bagi orang yang baru mulai berlari.
“Yang penting mau bergerak. Enggak usah lihat pace, yang penting lari dulu,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan karakter fun run yang mempertemukan peserta dengan kemampuan berbeda dalam satu kegiatan. Tidak semua orang datang untuk mengejar catatan waktu. Sebagian ingin berolahraga, mencoba pengalaman baru, atau sekadar mengisi akhir pekan dengan aktivitas fisik.

Peserta lain, Tias Arini, datang dengan pengalaman mengikuti sejumlah event lari. Di luar perlombaan, ia menjaga rutinitas latihan dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Oasis menjadi salah satu tempat yang digunakannya untuk berlatih. Bagi Tias, konsistensi menjadi bagian penting sebelum seseorang mengikuti event dengan jarak tertentu.
“Rutin latihan dan kuatkan otot kaki. Itu yang paling penting,” kata Tias.
Moonlight Run memberikan pengalaman tambahan bagi Tias. Setelah menyelesaikan kegiatan, ia mendapatkan doorprize berupa set meja rias.
Hadiah tersebut tidak masuk dalam persiapan yang ia perkirakan ketika datang mengikuti event. Ia mengaku terkejut ketika namanya terpilih.
“Saya nggak menyangka bisa dapat itu,” ujarnya sambil tertawa.
Pengalaman seperti itu menjadi bagian lain dari sebuah kegiatan lari. Selain menyelesaikan rute, peserta juga mendapatkan kesempatan menikmati rangkaian acara dan bertemu dengan pelari lain.
Moonlight Run 2026 tidak hanya menjadi kegiatan perayaan ulang tahun ke-5 Moonlight. Jumlah peserta yang mencapai sekitar 150 orang juga menjadi gambaran minat masyarakat terhadap kegiatan lari yang dikemas dalam format fun run.
Bagi penyelenggara, pelaksanaan tahun ini sekaligus menjadi pengalaman untuk melihat kemungkinan pengembangan acara pada kesempatan berikutnya.

Izzad mengatakan terdapat harapan agar jumlah peserta dapat meningkat menjadi lebih dari 200 orang apabila Moonlight Run kembali digelar.
Persiapan lokasi menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Dengan jumlah peserta yang lebih besar, penyelenggara masih melihat kemungkinan menggunakan tempat yang lebih sesuai untuk pelaksanaan kegiatan.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan Moonlight Run kembali dilaksanakan, Izzad menjawab, “Insyaallah, iya.”
Minggu pagi kemudian berakhir setelah peserta menyelesaikan seluruh lintasan. Jalan yang sejak pagi digunakan sebagai bagian dari rute kembali pada aktivitas masing-masing.

Bagi Alvin, lima kilometer tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti event lari sekaligus pengalaman mencapai finis paling awal. Bagi Dewi dan Mega, kegiatan itu menjadi bagian dari kebiasaan menjaga tubuh tetap aktif. Sementara Tias membawa pulang pengalaman dari lintasan sekaligus hadiah doorprize yang tidak disangka.
Sekitar 150 peserta datang dengan alasan masing-masing. Ada yang berlari untuk mengejar waktu, ada yang ingin mencoba event pertama, ada pula yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari rutinitas olahraga.
Moonlight Run 2026 akhirnya bukan hanya tentang jarak lima kilometer. Kegiatan itu mempertemukan berbagai pengalaman dalam satu lintasan, dari pelari pemula hingga mereka yang sudah menjadikan lari sebagai bagian dari aktivitas rutin.
Untuk peserta yang baru memulai, pesan yang muncul dari pengalaman para pelari cukup sederhana: mulai sesuai kemampuan, lakukan secara konsisten, dan tidak perlu menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya tujuan. (OEB/mainkekudus)