

KUDUS – Partai final HYDROPLUS Multi Kabupaten Bitingan Masters 2026 di GOR Djarum Arena 1 Kaliputu, Kudus, Sabtu (10/10/2026), mempertemukan para pemain yang berhasil melewati persaingan selama enam hari. Di pertandingan penentuan, kemampuan menjaga konsentrasi, mengatur tempo, dan mengantisipasi permainan lawan menjadi ujian terakhir sebelum gelar juara ditentukan.
Turnamen yang berlangsung pada 5–10 Oktober 2026 tersebut diikuti 753 atlet dari Kudus, Pati, Jepara, Rembang, dan Blora. Jumlah ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang mencatat sekitar 649 peserta.

Berakhirnya kompetisi memberikan gambaran mengenai hasil pembinaan bulu tangkis di wilayah eks Karesidenan Pati. Selain capaian para atlet, penyelenggaraan tahun ini juga menjadi kesempatan untuk menilai kesiapan pemain menghadapi sistem skor 3 x 15 yang mulai diterapkan dalam turnamen.
Bagi klub, hasil pertandingan menjadi dasar untuk menyusun program latihan berikutnya. Sementara bagi atlet yang berhasil mencapai babak akhir, pengalaman menghadapi tekanan pertandingan menjadi bekal untuk memperbaiki penampilan pada kompetisi selanjutnya.
Daftar hasil pertandingan menunjukkan atlet PB Champion Kudus menempati sejumlah posisi teratas di berbagai kategori. Pada nomor tunggal pra-dini putra, Kenzo Leonardo Wijaya meraih posisi pertama, disusul Raffasya Alkhalifi Oktana di posisi kedua. Keduanya tercatat mewakili PB Champion Kudus.
Pada nomor tunggal anak putri, Glory Patricia Djawa Bele dari PB Champion Kudus menempati posisi pertama. Sementara itu, Mohammad Hakim Hanafi dari klub yang sama menjadi juara tunggal anak putra. PB Champion Kudus juga meraih posisi pertama pada nomor ganda anak putri melalui pasangan Glory Patricia Djawa Bele dan Namia Queen Mutiara Sapphire.
Meski sejumlah gelar diraih klub Kudus, daftar juara memperlihatkan keterlibatan atlet dari klub lain. Pada nomor tunggal pra-dini putri, Callysta Nathania Hariyanto dari PB E’France Kudus menempati posisi pertama. Sementara itu, Mahira Hasna Kamila dari Raja Badminton Club Kudus meraih posisi kedua pada nomor tunggal anak putri.
Persaingan lintas kabupaten juga terlihat pada nomor ganda anak putri. Fakhira Rafeyfa Labiba dari PB E’France Kudus dan Farras Zhafira Cahyono dari PB Champions Jepara menempati posisi kedua. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa persaingan berlangsung di antara atlet dari klub dengan latar pembinaan berbeda.
Turnamen ini juga mempertandingkan kategori Seneng Minton U-9 dan U-11, baik putra maupun putri. Pada kelompok putri U-9, Shavira Kirana Maharani dari MI Negeri Kudus meraih posisi pertama. Adapun pada kelompok putra U-9, Kenzo Fellycio Jasmine dari SD Masehi Kudus menempati posisi teratas.
Kategori Seneng Minton menjadi bagian dari kompetisi yang mempertemukan peserta dari lingkungan sekolah. Sementara itu, kategori pra-dini dan anak memberi ruang bagi pemain untuk mendapatkan pengalaman bertanding pada jenjang usia berikutnya.

Farras Zhafira Cahyono dari PB Champions Jepara menjadi salah satu atlet yang berhasil mencapai partai final. Ia turun di dua nomor, yakni tunggal putri dan ganda anak putri, dengan hasil berbeda.
Langkah Farras pada nomor tunggal terhenti di babak 16 besar. Namun, bersama Fakhira Rafeyfa Labiba dari PB E’France, ia berhasil menembus final ganda anak putri dan mengakhiri turnamen sebagai runner-up.
Menjalani dua nomor pertandingan menuntut Farras menjaga kesiapan fisik dan konsentrasi sepanjang turnamen. Ia memilih fokus pada setiap pertandingan yang dihadapi daripada memikirkan peluang meraih gelar sejak awal.
“Fokusnya main satu per satu dulu, jangan terlalu memikirkan lawan yang lain. Soal menang atau kalah itu urusan akhir, yang penting tampil maksimal,” ujar Farras.
Meski berhasil mencapai final, Farras mengakui masih ada aspek permainan yang perlu diperbaiki. Ketegangan menjelang pertandingan penentuan menjadi salah satu tantangan yang paling dirasakannya.
“Tantangannya menjaga fisik dan mengatasi rasa tegang saat memasuki final. Ke depan saya ingin bermain lebih tenang dan memperbaiki kesalahan sendiri untuk meraih juara di turnamen berikutnya.”
Capaian sebagai finalis sekaligus menjadi catatan penting bagi Farras. Setelah mampu bersaing hingga partai puncak, perhatian berikutnya tertuju pada kesiapan fisik dan pengendalian emosi agar dapat tampil lebih konsisten dalam pertandingan bertekanan tinggi.

Hasil Bitingan Masters 2026 juga menjadi bahan evaluasi bagi PB Champions Jepara. Klub tersebut mengirimkan 15 atlet dan berhasil menempatkan satu finalis pada kategori ganda anak putri serta dua semifinalis pada kategori ganda pemula putra.
Pelatih PB Champions Jepara, Zaenuri Subastian, menilai capaian tersebut perlu dilihat bersama perkembangan kualitas persaingan antarklub di wilayah eks Karesidenan Pati.
Menurutnya, kemampuan para pemain dari lima kabupaten semakin berimbang. Kondisi ini membuat setiap pertandingan menuntut kesiapan teknik dan strategi yang lebih matang.

“Kualitas lawan di wilayah Karesidenan Pati sudah mulai merata dan persaingan cukup berimbang. Turnamen ini menjadi ajang yang sangat baik untuk melatih mental bertanding anak-anak serta menerapkan strategi hasil latihan,” paparnya.
Dari hasil tersebut, Zaenuri telah mengidentifikasi sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian dalam latihan berikutnya, terutama penguatan teknik dasar dan mental bertanding.
Penambahan jam terbang melalui pertandingan uji coba juga menjadi bagian dari rencana persiapan PB Champions Jepara. Langkah ini diperlukan agar para pemain lebih terbiasa menghadapi perubahan strategi lawan dan tekanan pada fase-fase menentukan.
Capaian satu finalis dan dua semifinalis menjadi tolok ukur awal bagi klub untuk menilai perkembangan atletnya. Evaluasi tidak hanya diarahkan pada pemain yang gagal melaju ke babak berikutnya, tetapi juga mereka yang sudah mencapai semifinal dan final namun belum berhasil meraih gelar.
Dari sisi penyelenggara, hasil Bitingan Masters 2026 menjadi salah satu indikator untuk membaca peta kekuatan bulu tangkis di lima kabupaten. Jumlah peserta yang meningkat dan pertandingan antarklub memberikan gambaran mengenai perkembangan atlet di masing-masing daerah.
Koordinator Pertandingan sekaligus Sekretaris Umum PBSI Kudus, Raventus Pongoh, mengatakan bahwa format multi-kabupaten memungkinkan penyelenggara membandingkan kemampuan atlet Kudus dengan pemain dari daerah lain.

“Lewat tajuk multi-kabupaten ini, kita bisa mengetahui peta kekuatan bulu tangkis se-eks Karesidenan Pati sekaligus memetakan pembinaan yang ada. Kudus yang notabene sebagai tuan rumah juga bisa diukur apakah terus bersaing dengan kabupaten lain,” ungkap Raventus.
Selain memetakan persaingan, penyelenggaraan tahun ini membawa perubahan pada format pertandingan. Untuk pertama kalinya di Kudus, Bitingan Masters menerapkan sistem penghitungan skor 3 x 15, mengacu pada format yang telah digunakan dalam kompetisi Sirkuit Nasional (Sirnas) PBSI.
Perubahan tersebut menjadi perhatian karena memengaruhi cara pemain mengelola pertandingan. Dengan target angka yang lebih pendek dibandingkan sistem 21 poin, setiap kehilangan poin dapat memberi tekanan lebih besar terhadap peluang memenangkan gim.
“Ini turnamen pertama di Kudus yang menggunakan sistem scoring hingga 15, berkaca dari Sirnas yang dibuat oleh PBSI. Tahun depan semua kejuaraan akan menggunakan sistem 3 x 15, maka kami memulainya di sini. Ini menjadi ajang bagi kita semua untuk melihat bagaimana adaptasi para atlet dengan sistem skor baru,” jelas Raventus.
Dalam format ini, pemain dituntut lebih cepat menemukan pola permainan yang efektif. Kesalahan beruntun berpotensi membuat selisih angka semakin sulit dikejar, sehingga kesiapan sejak awal gim menjadi semakin penting.
Bagi pelatih, penerapan sistem baru turut memengaruhi pendekatan strategi. Pengaturan tempo, pemilihan pukulan, dan kemampuan menjaga momentum perlu disesuaikan dengan durasi permainan yang berpotensi lebih singkat.
Pengalaman menggunakan sistem 3 x 15 menjadi salah satu bekal menjelang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Klub memiliki waktu untuk mengevaluasi hasil pertandingan sekaligus menyesuaikan persiapan atlet sebelum memasuki persaingan tingkat provinsi.

Di luar hasil pertandingan, keberlanjutan pembinaan menjadi perhatian PBSI Kudus. Meningkatnya jumlah peserta menunjukkan besarnya keterlibatan atlet dalam kompetisi, tetapi ketersediaan pemain pada setiap kelompok usia tetap perlu dijaga melalui proses penjaringan yang berkesinambungan.
Raventus menilai sekolah memiliki peran penting sebagai titik awal pengenalan bulu tangkis sebelum anak-anak melanjutkan pembinaan di klub.
Kategori SenengMinton menjadi salah satu pintu masuk bagi pemain pemula. Setelah memperoleh pengalaman dasar, mereka dapat melanjutkan ke kategori Usia Dini sesuai perkembangan usia dan kemampuan.
“Klub-klub besar di eks Karesidenan Pati, khususnya Kabupaten Kudus, bisa menjaring pemain lebih banyak lagi. Anak-anak yang tahun ini main di kategori SenengMinton, tahun depan sudah bisa naik level bermain di kategori Usia Dini. Rekrutmen dari sekolah ke klub membuat jenjang prestasi dan kaderisasi atlet kita semakin luas,” pungkas Raventus.
Menurutnya, kesinambungan antara penjaringan di sekolah, latihan di klub, dan keikutsertaan dalam kompetisi perlu diperkuat agar perkembangan atlet tidak terputus ketika memasuki kelompok usia berikutnya.
Dengan berakhirnya Bitingan Masters 2026, perhatian kini beralih pada persiapan menghadapi Kejurprov Jawa Tengah. Bagi Farras dan para finalis lainnya, hasil di Kudus menjadi catatan untuk memperbaiki penampilan. Sementara bagi klub dan PBSI Kudus, capaian turnamen serta penerapan sistem skor baru menjadi bahan evaluasi sebelum memasuki agenda kompetisi berikutnya. (DN/mainkekudus)