

KUDUS – Bola voli memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan banyak orang dalam satu arena. Pemain beradu strategi di lapangan, pelatih mengamati perkembangan tim, sementara penonton mengikuti setiap reli dengan penuh antusias. Suasana itu terasa dalam Dandim Cup 0722/Kudus yang mempertemukan klub-klub dari berbagai daerah pada 9–11 Oktober 2026.
Turnamen untuk memeriahkan HUT ke-81 TNI tersebut diikuti 16 klub putra. Sejumlah tim diperkuat pemain berpengalaman di tingkat nasional maupun internasional, sehingga kompetisi menjadi kesempatan bagi klub untuk menguji kemampuan sekaligus memberikan tontonan bagi masyarakat.
Di tengah persaingan itu, Tabarruk keluar sebagai juara setelah mengalahkan Sukun Badak pada laga final dengan skor 3-0. Porvit menempati peringkat ketiga setelah mengalahkan Pijar Salatiga dengan skor 2-0.

Namun, penyelenggaraan Dandim Cup tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Kompetisi ini juga menjadi ruang bagi pemain untuk menambah pengalaman, pelatih mengevaluasi perkembangan tim, dan masyarakat menyaksikan pertandingan bola voli secara langsung.

Muhammad Rizal Muzaki, panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa Dandim Cup digelar untuk memeriahkan peringatan HUT TNI sekaligus memenuhi keinginan Kodim 0722/Kudus untuk kembali menghadirkan turnamen bola voli seperti yang pernah diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Turnamen ini diselenggarakan untuk memeriahkan HUT TNI ke-81. Selain itu, pihak Kodim juga ingin kembali mengadakan turnamen bola voli seperti yang pernah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya,” jelas Rizal.
Tahun ini, kompetisi menggunakan konsep open tournament. Sebanyak 16 klub dari Kudus, Salatiga, Boyolali, Grobogan, Demak, Gunungkidul, Karanganyar, dan Jepara ikut bertanding.
Sejumlah peserta di antaranya ABV Abimanyu dari Boyolali, Boiler AL dari Demak, Bhayangkara Muda dari Grobogan, Ganeksa Bhumikarta dari Gunungkidul, Jatema dari Jepara, dan Lereng Lawu dari Karanganyar. Kudus juga mengirimkan beberapa wakil, termasuk Tabarruk, Porvit, Sukun Badak, Sukun Badak Junior, Mustika Abadi, Senopati, dan Votka.

Pertandingan menggunakan sistem gugur yang dibagi menjadi dua pool, masing-masing berisi delapan tim. Panitia menjalin komunikasi langsung dengan klub-klub yang dipilih untuk mengikuti kompetisi. Sejumlah tim turut diperkuat pemain profesional dari luar daerah.
Ketua Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kudus, HM Rinduwan, menilai turnamen semacam ini dapat mendukung perkembangan bola voli melalui kesempatan bertanding dan mengukur kemampuan pemain.

“Turnamen seperti ini bagus untuk perkembangan bola voli. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan semacam ini juga bisa mendukung pembinaan atlet melalui kesempatan bertanding dan mengukur kemampuan pemain,” ujar Rinduwan.
Selain pertandingan, penyelenggara menghadirkan penampilan penyanyi dan orkes tunggal pada babak grand final. Kupon undian berhadiah juga dibagikan kepada penonton setiap hari untuk menambah semarak acara.

Bagi Made Harin Mayena, pemain Sukun Badak yang menempati posisi outside hitter, atmosfer pertandingan menjadi salah satu hal yang berkesan selama mengikuti Dandim Cup. Ia melihat antusiasme masyarakat terhadap bola voli terasa kuat sepanjang kompetisi.
“Suasana pertandingannya sangat seru. Lapangannya juga luar biasa meriah,” ungkap Made.
Sukun Badak datang dengan target meraih gelar juara. Namun, persaingan menghadapi tim-tim yang diperkuat pemain nasional menjadi tantangan tersendiri.
“Target kami tentu bisa tampil maksimal dan menjadi juara pertama. Persaingan di turnamen ini cukup menantang karena ada tim-tim kuat yang diperkuat pemain nasional,” katanya.
Persaingan akhirnya mempertemukan Tabarruk dan Sukun Badak di partai puncak. Tabarruk mengamankan set pertama dengan skor 25-21, kemudian unggul 25-20 pada set kedua. Pada set ketiga, tim tersebut kembali menang dengan skor 25-17.

Hasil 3-0 memastikan Tabarruk menjadi juara Dandim Cup 2026, sedangkan Sukun Badak menempati posisi kedua. Porvit melengkapi podium setelah mengalahkan Pijar Salatiga dengan skor 25-23 dan 25-21.
Timofei Sokolov, pemain asal Moskow, Rusia, yang memperkuat Tabarruk, menilai kekompakan menjadi salah satu kunci kemenangan timnya. Menurut dia, koordinasi antarpemain membantu Tabarruk membangun serangan dan menjaga permainan sepanjang pertandingan.

“Menurut saya, kuncinya adalah semangat tim. Kami saling mengenal satu sama lain. Setter tahu bagaimana memberikan umpan yang tepat dan membangun situasi permainan,” ungkapnya.
Sokolov juga menyebut Fakhri sebagai salah satu sosok penting dalam tim. Namun, ia menegaskan bahwa kemenangan merupakan hasil kerja bersama, termasuk kontribusi Jason dan pemain lainnya.
Bagi Sokolov, bermain di Kudus juga menghadirkan pengalaman menyenangkan. Ia merasa nyaman dengan sambutan dan dukungan penonton selama pertandingan.

“Saya tidak merasa tertekan. Saya justru merasa seperti berada di rumah sendiri. Saya bisa merasakan dukungan penonton, bercanda, dan bermain dengan nyaman. Saya senang berada di sini,” tuturnya.

Manfaat kompetisi juga dirasakan Porvit Kudus yang sedang mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Pelatih Porvit, Zahrul Anam, mengatakan timnya telah memulai persiapan sekitar dua pekan sebelum wawancara. Para pemain menjalani latihan rutin atau pemusatan latihan (training camp), sedangkan Dandim Cup dimanfaatkan untuk melihat perkembangan tim.

“Dandim Cup ini kami manfaatkan untuk melihat kemampuan pemain sekaligus mengevaluasi kekurangan tim. Dari pertandingan, kami bisa mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki untuk persiapan Porprov,” ujar Zahrul.
Sebagian besar pemain telah bergabung dalam persiapan. Namun, beberapa pemain masih terkendala jadwal liga mahasiswa. Pemain yang bekerja atau berdomisili di luar kota juga ditarik untuk memperkuat tim.
Menurut Zahrul, pertandingan memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan latihan. Pemain harus mengambil keputusan di bawah tekanan sekaligus membaca strategi lawan secara langsung.
Porvit menargetkan bisa melangkah hingga final dengan harapan meraih gelar juara. Zahrul menyebut Tabarruk dan Sukun Badak senior sebagai dua tim yang perlu diwaspadai karena turut merekrut pemain dari luar daerah.
“Bertemu klub dari luar Kudus penting untuk menambah pengalaman dan jam terbang pemain. Mereka juga bisa belajar membangun mental bertanding serta meningkatkan kualitas permainan,” katanya.
Pengalaman bertanding juga menjadi bagian dari pembinaan yang disoroti Dwi Frasilianto, wasit pertama pada laga final. Menurut dia, pertandingan yang mempertemukan pemain berkualitas nasional dan internasional menuntut seluruh pihak menjalankan perannya dengan baik.
“Pertandingan final ini sangat menarik dan menghibur. Kualitas permainannya luar biasa karena mempertemukan pemain-pemain berkelas nasional dan internasional,” ujar Dwi.
Di tengah permainan dengan intensitas tinggi, wasit harus menjaga konsentrasi dan mengambil keputusan secara konsisten tanpa terpengaruh tekanan penonton maupun reputasi pemain.
“Sebagai wasit pertama, tantangan terbesarnya adalah menjaga fokus di tengah atmosfer penonton yang begitu kuat dan pertandingan yang ketat. Kami harus tetap konsisten, netral, serta menghindari kesalahan yang bisa berakibat fatal,” jelasnya.
Dwi berharap turnamen seperti Dandim Cup terus diselenggarakan dan memberi kesempatan kepada lebih banyak atlet muda untuk berkembang, termasuk pemain dari daerah pinggiran.

Di tribun, Kristiyana datang dari Jepara bersama istrinya untuk menyaksikan pertandingan sekaligus mendukung putranya, Muhammad Choirusifa Raditya, yang memperkuat Sukun Badak Junior.
Sebagai orang tua atlet, Kristiyana melihat kompetisi seperti Dandim Cup sebagai kesempatan bagi pemain muda untuk memperoleh pengalaman menghadapi persaingan yang lebih luas.

“Menurut saya, kompetisi seperti ini sangat bagus untuk pembinaan atlet junior. Mereka bisa mendapatkan pengalaman bertanding dan semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan,” tuturnya.
Ia berharap kompetisi bola voli di Kudus dan daerah sekitarnya semakin berkembang sehingga lebih banyak atlet muda mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan.
Antusiasme serupa terlihat pada penonton yang datang untuk menyaksikan pemain-pemain berkualitas secara langsung. Rokhmat, warga Kudus yang mendukung Tabarruk, sengaja hadir pada laga final karena ingin melihat penampilan pemain nasional dari dekat.

“Pertandingannya seru dan menegangkan. Saya datang karena ingin melihat langsung pemain-pemain nasional. Kesempatan seperti ini jarang, jadi rasanya menyenangkan bisa menyaksikan mereka bermain dari dekat,” ungkap Rokhmat.
Smes keras Rivan Nurmulki dan permainan Jason sebagai pengatur serangan menjadi dua hal yang menarik perhatiannya. Menurut Rokhmat, pertandingan langsung memberikan pengalaman berbeda karena penonton dapat melihat pergerakan pemain dan mengikuti ketegangan setiap poin dari dekat.
Ia berharap turnamen serupa lebih sering digelar di Kudus, tidak hanya dalam rangka peringatan tertentu.
“Semoga pertandingan seperti ini lebih sering digelar di Kudus, tidak hanya saat ada peringatan tertentu. Selain menghibur, turnamen seperti ini juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat langsung pemain-pemain berkualitas,” harapnya.

Komandan Kodim 0722/Kudus Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie, S.Sos., M.Han., menilai persaingan sepanjang Dandim Cup 2026 berlangsung cukup berimbang. Ia melihat potensi para pemain voli di Kudus dan daerah sekitarnya, terutama saat empat tim bertemu di babak semifinal.

“Persaingannya cukup bagus dan berimbang. Terutama di semifinal, empat tim yang bertanding memiliki kualitas permainan yang baik dan diperkuat pemain-pemain berpengalaman,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat juga menjadi catatan penyelenggara. Pada laga final, jumlah penonton diperkirakan mencapai 1.300 orang. Yuusufa berharap Dandim Cup dapat berlanjut sebagai agenda tahunan sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk berkumpul melalui kegiatan olahraga.
“Kami berharap Dandim Cup bisa menjadi agenda tahunan. Kami ingin Kodim menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul melalui kegiatan positif, sekaligus mendorong generasi muda agar semakin tertarik menekuni olahraga voli,” tuturnya.
Ia juga berharap kompetisi dapat membantu mengenalkan potensi atlet Kudus kepada pelatih dan pengamat voli yang hadir. Kehadiran penonton di sekitar lokasi pun diharapkan membawa dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).