

KUDUS – Kota Kretek mendadak bergemuruh oleh derap langkah cepat, suara decit sepatu di atas lapangan karpet hijau, serta riuh rendah dukungan penonton yang memadati sudut-sudut arena. Suasana kompetitif yang kental langsung terasa sejak hari pertama penyelenggaraan Polytron Kudus Indonesia Masters 2026.
Gelaran bulu tangkis bergengsi kancah internasional dengan level BWF World Tour Super 100 ini resmi dihelat mulai 20 hingga 25 Oktober 2026 bertempat di Djarum Arena 2, Kaliputu, Kudus. Turnamen akbar ini menjadi magnet tersendiri bagi pecinta bulu tangkis tanah air karena menghadirkan total 322 atlet dari 16 negara yang siap bertarung habis-habisan memperebutkan gelar juara di lima nomor pertandingan resmi, yakni Tunggal Putra (Men’s Singles), Tunggal Putri (Women’s Singles), Ganda Putra (Men’s Doubles), Ganda Putri (Women’s Doubles), dan Ganda Campuran (Mixed Doubles) dengan total hadiah fantastis sebesar USD120.000 atau sekira Rp1,9 miliar.

Negara-negara dari berbagai belahan dunia hadir memeriahkan ajang prestisius ini, dengan Indonesia bertindak sebagai tuan rumah yang menyambut kedatangan delegasi tangguh dari Malaysia, Chinese Taipei (Taiwan), China (Tiongkok), Thailand, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Turki, Hong Kong China, Inggris, Myanmar, Sri Lanka, Uganda, Venezuela, dan Australia.

Pertandingan hari pertama langsung menyajikan suguhan duel sengit yang menguji mental serta ketahanan fisik para atlet, baik pemain muda potensial maupun jajaran pebulutangkis top dunia yang merintis jalan menuju panggung elite bulu tangkis internasional.
Penyelenggaraan turnamen internasional sebesar BWF World Tour Super 100 di Kota Kudus tentu tidak lepas dari kerja keras dan visi besar pihak panitia penyelenggara. Legenda pebulutangkis tanah air sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara sekaligus perwakilan PBSI, Yuni Kartika, memaparkan bahwa rangkaian hari pertama kejuaraan berjalan dengan cukup baik dan sesuai dengan skenario yang telah dirancang sebelumnya.

“Semua berjalan dengan baik sesuai dengan rencana kita,” ungkap Yuni Kartika di sela-sela pertandingan pertama pada Selasa (20/10/2026).
Yuni menjelaskan bahwa Indonesia menurunkan kekuatan penuh dengan mengirimkan banyak pemain, baik yang berasal dari pelatnas maupun dari klub-klub bulu tangkis di seluruh penjuru negeri. Langkah strategis ini diambil untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pemain muda Indonesia agar dapat merasakan atmosfer kompetisi tingkat internasional. Level Super 100 sendiri dinilai sebagai pintu gerbang krusial bagi para atlet untuk melangkah naik ke level BWF World Tour Super 300 yang memiliki tingkat persaingan jauh lebih ketat.
“Pemain Indonesia banyak, ada yang dari Pelatnas, ada yang dari klub. Jadi, kita memberi kesempatan banyak pemain Indonesia untuk bertanding di Super 100 ini. Super 100 ini pintu untuk naik ke 300. Jadi, loncatan lumayan signifikan sih. Masuk ke 300 itu yang enggak gampang. Makanya mereka harus mengumpulkan poin dari Super 100 ini,” jelas Yuni.
Lebih lanjut, Yuni menyoroti tren positif di kancah internasional di mana negara-negara kuat seperti Thailand, Korea Selatan, dan Chinese Taipei telah menurunkan pemain-pemain muda di bawah usia 19 tahun untuk bertarung di kelompok dewasa. Kehadiran turnamen di Indonesia ini diharapkan mampu memberi jam terbang serupa bagi atlet muda Merah Putih agar terbiasa menghadapi tekanan pemain senior.
“Kita melihat banyak pemain-pemain muda Thailand, Korea, Chinese Taipei, itu sudah mulai umurnya belum 19, tapi sudah main di kelompok-kelompok dewasa kayak gini. Jadi, kita mengadakan turnamen di Indonesia harapannya tidak hanya senior, tapi yang muda-muda juga bisa mulai main di sini. Kenapa? Beda main dengan sesama umur junior sama ketemu yang senior. Pengalamannya itu yang harus diambil lebih cepat dari secepat mungkinlah kasarnya gitu, supaya nanti mereka nggak kaget kalau pada akhirnya mereka naik ke usia yang senior,” tambahnya.
Mengenai tantangan di lapangan, Yuni menegaskan bahwa kehadiran pebulutangkis dari berbagai negara kuat membuat atmosfer turnamen ini sangat menantang. Kudus dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi para atlet Asia Tenggara dan negara-negara di Asia lainnya.
“Di sini challenging karena peserta-pesertanya negara-negara kuat dan cukup banyak jumlahnya. Enggak tahu, Kudus kayaknya menarik banget ya buat para pemain Asia dan Asia Tenggara ini. Ya, kita lihat apa sih penginnya mereka bisa buat kejutan di kandang sendiri. Karena kalau mereka ngalahin unggulan, mereka maju ke babak yang lebih depan lagi, mestinya makin PD, makin yakin, dan rankingnya juga makin bagus,” ujar Yuni.
Dari sisi infrastruktur dan pelayanan, panitia memastikan standar tinggi internasional telah terpenuhi dengan menyediakan berbagai fasilitas penunjang yang wajib ada dalam turnamen resmi BWF.

“Kita sudah wajib menyediakan beberapa ruangan. Satu, itu adalah player lounge, kedua adalah ruangan wasit dan line judges, kemudian yang ketiga medis, yang keempat ruangan doping, yang kelima ruangan media center, yang keenam lapangan latihan, yang ketujuh lapangan pemanasan. Jadi, semua itu harus ada,” tegas Yuni.
Tujuan utama digelarnya ajang ini di Kudus tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi atlet, tetapi juga memperkenalkan Kota Kudus sebagai episentrum bulu tangkis yang mumpuni dalam penyelenggaraan event kelas dunia.
“Pertama adalah kita ingin memberitahu bahwa Kudus layak untuk menjadi atau mengadakan sebuah turnamen internasional yang levelnya itu masuk levelnya BWF, itu satu. Kedua, kita pasti ingin memperkenalkan kota Kudus kepada masyarakat, kepada tentunya pihak-pihak yang BWF lah terutama ya, untuk melihat kota ini seperti apa. Karena kota ini adalah kota bulu tangkis ya. Jadi, kita ingin tidak hanya atlet yang kita cetak, tapi secara penyelenggaraan pun kita mampu,” tutup Yuni.

Panggung utama hari pertama langsung menyajikan sejumlah laga mendebarkan yang melibatkan wakil-wakil tuan rumah. Di sektor ganda putra, pasangan Pelatnas PBSI Wahyu Agung Prasetyo (binaan PB Exist) dan Pulung Ramadan (atlet binaan PB Djarum) sukses mengamankan kemenangan penting saat berhadapan dengan rekan sesama wakil Indonesia, Revand Harianto dan Akmal Nurrahman dari klub PB Jaya Raya Jakarta. Lewat pertarungan yang solid, Wahyu dan Pulung menutup laga dengan skor meyakinkan 21-16 dan 21-10.
Meski meraih kemenangan dua gim langsung, Wahyu mengakui bahwa pasangan mereka sempat menghadapi sedikit kendala di awal pertandingan akibat kesalahan sendiri yang berbuah pemberian poin cuma-cuma bagi lawan.

“Alhamdulillah kita menjalani pertandingan tanpa ada cedera atau apapun itu. Untuk tadi, pertama-tama kita lumayan ada kendala, banyak buang-buang poin mungkin kayak itu yang enggak seharusnya mati jadi mati. Tapi setelah itu, kita berdua bisa mengatasinya. Jadi, bisa jalan di pertandingan, kita udah nemu tempo dan pola permainan yang kita mau,” ujar Wahyu.
Menatap babak selanjutnya, Pulung menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah menjaga keyakinan diri dan memegang teguh pola permainan yang telah dilatih.
“Target, yang pastinya kita mau amin juara, tapi kita juga enggak mau mikir terlalu jauh ke sana. Jadi kita mau fokus pertandingan per pertandingan aja dulu,” ucap Pulung.
Tidak kalah menegangkan, duel di sektor tunggal putri menyajikan drama super ketat berdurasi 74 menit yang mempertemukan pebulutangkis muda berbakat kelahiran Semarang yang bernaung di bawah Exist Badminton Club dan terdaftar resmi sebagai atlet nasional PBSI, Oei Louisa Jovanka Sandi Winarto, melawan Sarah Daisy Theresia Christina Rambitan. Dalam pertarungan tiga gim yang sangat melelahkan, Jovanka akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor dramatis 22-20, 22-24, dan 25-23.
Jovanka menceritakan bagaimana ketatnya pertarungan melawan rekan senegaranya tersebut yang baru pertama kali ia hadapi di lapangan resmi.

“Tadi saya baru pertama kali kan, lawan Kak Sarah. Jadi masih meraba-raba juga mainnya gimana. Terus, dari set pertama tuh rame terus tadi kan. Gimnya juga deuce (imbang) terus. Tapi di set pertama saya menang, 22-20. Tapi di set keduanya tuh udah unggul 20-17, tapi terus jadi terkejar. Tapi di set ketiganya malah gantian saya yang ketinggalan, 18-20. Tapi untungnya bisa balikin keadaan, karena mindset-nya mau tahan terus aja sih,” tutur Jovanka.
Jovanka menambahkan bahwa karakter permainan lawan yang agresif sempat membuatnya terbawa pola reli cepat.

“Kalau tadi dia tuh mainnya benar-benar nyerang terus. Dia maunya kayak gempur terus gitu. Nah, kadang saya kepancing kayak pengin ngikutin polanya dia, kencang-kencang terus, lupa ngarem, lupa ngangkatnya, gitu sih, kak,” pungkasnya.

Kejuaraan BWF Super 100 ini jadi daya tarik tersendiri bagi para pebulutangkis asing yang datang jauh-jauh untuk berburu poin ranking dunia. Salah satu tunggal putra asal Hong Kong, Lam Ka To, harus melalui ujian berat di babak pertama saat menghadapi wakil Taiwan, Yi Liu. Melalui pertarungan tiga gim yang melelahkan, Lam Ka To sukses mengunci kemenangan dengan skor 21-15, 8-21, dan 21-18.
Bagi Lam Ka To, tampil di Kota Kudus memberikan kesan tersendiri yang sangat positif meski ini merupakan pengalaman perdana kunjungannya ke kota tersebut.

“Bukan (pengalaman pertama di Indonesia). Tapi kalau di kota ini, di Kudus, baru pertama kali ke sini,” ujar Lam Ka To.
Terkait persiapannya menghadapi turnamen ini, Lam memilih untuk tidak membebani diri dengan target yang terlalu tinggi, melainkan fokus menikmati setiap reli di atas lapangan.
“Ya, bisa dibilang persiapan turnamen ini ya, kita tingkatkan sendiri level-nya, tekniknya, latihannya. Saya rasa saya dari awal tidak menetapkan target apa pun, saya hanya ingin menikmati setiap pertandingannya. Karena saya pikir kalau terlalu memikirkan menang atau kalah, justru malah bikin kita tegang dan lain-lain. Jadi, ya jalani aja, sebisa mungkin memberikan penampilan terbaik,” jelasnya.

Menilai kondisi fasilitas pertandingan di Djarum Arena 2, pebulutangkis asal Hong Kong, China tersebut mengaku sangat terkesan dengan standar penataan ruangan dan lapangan yang disediakan oleh panitia pelaksana.
“Sangat bagus, ya. Mulai dari ruangannya, fasilitasnya, lapangannya, semuanya cukup baik dan memuaskan,” puji Lam Ka To.

Kemeriahan hari pertama Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 tidak hanya dirasakan di atas lapangan, tetapi juga menjalar hingga ke tribun penonton. Salah seorang penonton setia bulu tangkis asal Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Muhammad Fahrul Umam, tampak antusias hadir langsung di arena pertandingan sepulang bekerja demi menyaksikan aksi para bintang tepok bulu dunia secara langsung.
Fahrul mengungkapkan ketertarikannya datang ke Djarum Arena 2 karena turnamen tingkat internasional BWF Super 100 ini baru pertama kalinya digelar di tanah kelahiran mereka.

“Terutama sih dari atletnya sendiri ya. Ada berbagai macam dari negara, ada Indonesia, Thailand, China, dan lain-lain. Terus ini juga baru pertama kali ya di Kudus ada event Super 100. Terus dari masyarakat juga menyambutnya dengan senang dan meriah gitu,” ujar Fahrul.
Sebagai penggemar berat bulu tangkis, Fahrul mengaku sangat menikmati atmosfer hari pertama meskipun persaingan baru memasuki babak-babak awal.
“Atmosfer sendiri sih kalau untuk hari ini cukup bagus, dari penonton sih menyambutnya senang lah, banyak anak-anak yang menonton, terus banyak atlet dari luar juga yang bisa dibuat untuk belajar dan menambah pengalaman. Kalau melihat langsung itu ikut terbawa suasana lapangan. Biasanya kalau di televisi kan cuma satu court aja. Ini bisa melihat semua lapangan atau court secara langsung, Mas,” tambahnya.

Hari pertama Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 telah sukses digulirkan dengan menyuguhkan tontonan olahraga yang berkualitas tinggi, baik dari aspek teknis di dalam lapangan maupun kesiapan infrastruktur di luar lapangan. Berdasarkan sistem pertandingan BWF Super 100, rangkaian babak kualifikasi dan fase awal ini masih akan terus berlanjut dan memanas dalam beberapa hari ke depan, di mana sejumlah unggulan utama dan jajaran atlet nasional andalan lainnya akan turun bertanding.
Dengan dukungan penuh suporter tuan rumah, fasilitas kelas dunia di Djarum Arena 2, serta semangat juang tinggi yang ditunjukkan oleh para atlet dari 16 negara, turnamen ini dipastikan akan terus menyajikan kejutan-kejutan menarik hingga puncak partai final pada 25 Oktober 2026 mendatang. Seluruh pecinta bulu tangkis di tanah air kini menantikan lahirnya juara-juara baru yang akan mengharumkan nama bangsa di panggung bulu tangkis internasional. (JMY/mainkekudus)