

KUDUS – Gemuruh sorak-sorai ribuan pasang mata menggema di dalam GOR Djarum Arena 2, Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah, pada Minggu (25/10/2026). Sesaat setelah kok terakhir jatuh mengunci angka kemenangan di gim penentuan, emosi yang tertahan bertumpah ruah di atas karpet hijau. Ada gurat lega yang pecah menjadi sujud syukur dan pelukan hangat antaratlet, namun di sudut lain, ada pula napas berat serta tatapan lelah dari mereka yang harus puas menerima posisi runner-up.
Atmosfer kemeriahan tak hanya terasa di dalam arena yang dipadati penonton. Di luar GOR, antrean penonton tampak mengular di pintu masuk sebelum gim dimulai. Guna memfasilitasi antusiasme masyarakat dan pencinta bulu tangkis dari berbagai daerah yang tidak tertampung di dalam tribun, pihak penyelenggara sampai menyediakan layar lebar untuk nonton bareng (nobar) di sejumlah titik strategis sekitar lokasi turnamen.

Hari pamungkas turnamen bulu tangkis tingkat internasional BWF World Tour Super 100 ini tak sekadar menjadi panggung perebutan trofi. Di balik angka-angka di papan skor, Final Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 meninggalkan cerita mendalam tentang perjuangan, sportivitas, kehangatan suporter, hingga geliat ekonomi lokal yang menjadikan Kota Semarak ini kian kukuh sebagai destinasi sports tourism.
Gelaran final Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 berakhir manis bagi tim tuan rumah. Skuad Merah Putih tampil dominan dan memborong medali paling banyak setelah mengamankan tiga podium tertinggi dari lima nomor yang dipertandingkan.
Pada sektor tunggal putra, kejutan manis dihadirkan oleh pemain muda Indonesia, Richie Duta Richardo. Menghadapi ujian berat melawan unggulan pertama asal China, Dong Tian Yao, Richie menunjukkan daya juang luar biasa dalam laga rubber game berdurasi panjang yang menguras emosi dan stamina. Meski sempat tertinggal di gim pertama, Richie bangkit dan membalikkan keadaan hingga mengunci kemenangan dengan skor akhir 17-21, 21-12, dan 21-16.


Pesta tuan rumah makin lengkap lewat sektor ganda putra. Pasangan kombinasi senior-muda, Muhammad Rian Ardianto / Daniel Edgar Marvino, tampil solid dan menyuguhkan permainan taktis saat meredam perlawanan wakil Korea Selatan, Jin Yong / Jo Song Hyun. Rian/Daniel berhasil memetik kemenangan dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-12 untuk mengunci gelar ketiga bagi Indonesia.


Sementara itu, dua gelar lainnya berhasil diboyong oleh skuad China. Di sektor tunggal putri, wakil Tiongkok Xu Wen Jing keluar sebagai pemenang usai mengandaskan perlawanan Lo Sin Yan Happy dari Hong Kong dua gim langsung dengan skor 21-12 dan 21-16.
Adapun podium juara ganda campuran menjadi milik pasangan China, Li Hong Yi / Huang Ke Xin, yang memenangi laga sengit tiga gim atas pasangan kombinasi Singapura/Indonesia, Hee Yong Kai Terry / Gloria Emanuelle Widjaja, dengan skor 15-21, 21-5, dan 21-10.


Di balik sorakan kemenangan di sektor ganda putri, ada determinasi mental dan kematangan strategi yang ditunjukkan pasangan tuan rumah, Isyana Syahira Meida dan Rinjani Kwinnara Nastine. Bermain sebagai unggulan kedua, Isyana/Rinjani sukses menundukkan ganda putri unggulan pertama asal Thailand, Hathaithip Mijad / Napapakorn Tungkasatan, lewat laga dua gim langsung 21-15 dan 21-17.
Gelar ini menjadi pencapaian yang sangat krusial bagi Isyana/Rinjani di level BWF Super 100, sekaligus membuktikan konsistensi permainan mereka di hadapan publik sendiri. Dia menjelaskan ketenangan mental di lapangan saat menghadapi laga krusial final, Isyana Syahira Meida mengungkapkan bahwa fokus utama mereka adalah menikmati tiap reli tanpa terbebani target juara.

“Tadi permainannya kita lebih main yakin aja sih, mau menikmati pertandingan. Mungkin karena ini satu langkah lagi, kita enggak mau mikirin mau juara, enggak mau ke situ. Kita mau mikirin cara main aja gimana di lapangannya,” ujar Isyana.
Rinjani Kwinnara Nastine menambahkan bahwa tantangan terbesar tampil di kandang sendiri adalah mengelola tekanan ekspektasi suporter agar tidak menjadi beban.
“Pastinya mereka (lawan), main di sini tuan rumah, apalagi pasti mereka mau ngalahin kita, karena kita kan tuan rumah. Dan itu jangan jadi bumerang buat kita sendiri. Jadi kita juga lebih adu mental dan tahan sih. Tadi awal-awal di set pertama mereka bermain cukup lumayan baik. Tapi di set-set akhir kita bisa unggul jauh karena mereka mungkin loss point atau loss feeling. Jadi kita memanfaatkan momentum itu. Di set kedua juga sempat unggul, tapi dikejar-kejar lagi dan mereka juga goyang, jadi kita bisa ngambil kesempatan itu,” jelas Rinjani.
Isyana juga menyampaikan bahwa kunci kemenangan hari ini tidak terlepas dari instruksi pelatih di pinggir lapangan. “Instruksi dari coach Nitia hari ini bermain yakin aja sih, percaya diri sama pukulannya masing-masing, apa yang mau dibuat, yakin aja sama pukulannya,” tambahnya.
Gelar ini terasa semakin istimewa karena merupakan trofi BWF Super 100 kedua dalam karier ganda putri muda ini. “Ini Super 100 yang kedua. Sebelumnya dapat di India tahun kemarin, 2023. Kemenangan ini pasti sangat bermakna, ini kesempatan di akhir-akhir tahun kita bisa dapat medali emas, setelah sebelum-sebelumnya kita kalah di babak awal. Kita mau membuktikan hasil latihan kita selama ini kalau tidak sia-sia,” tutur Isyana dengan nada emosional.

Mereka berdua menegaskan bahwa keberhasilan ini lahir dari sokongan banyak pihak, mulai dari keluarga hingga tim di balik layar. Isyana menceritakan bagaimana kehadiran orang tua yang datang langsung dari Jakarta dan Gresik membakar semangat mereka di lapangan. “Pasti semua berperan ya. Dari suporter di sini juga sangat berperan buat kita, terus kebetulan orang tua saya juga datang di sini buat nyemangatin dan mendoakan. Partner juga, terus dari tim pendukung kita seperti tim gizi, tim mess, tim fisioterapi, dan pembantu, semuanya berperan.”
Sebagai atlet jebolan binaan PB Djarum, bertanding di GOR Djarum Arena Kudus membawa kesan nostalgia tersendiri bagi Isyana dan Rinjani. Selain merasa familiar dengan atmosfer GOR, Rinjani mengaku sangat menikmati kekayaan kuliner di Kota Kudus. Tak lupa, Isyana menyoroti antusiasme tribun serta kehadiran teknologi instant review yang sempat menyelamatkan momen krusial mereka. “Vibes penonton dan venuenya luar biasa. Apalagi level 100 ada challenge dan itu menguntungkan buat kita berdua pas di 8 besar bisa amankan game gara-gara challenge,” pungkasnya.
Di sisi lain lapangan, kekalahan menjadi pelajaran berharga yang harus diterima dengan lapang dada. Pemain tunggal putra asal China, Dong Tian Yao, harus puas berada di podium runner-up usai menyerah di tangan wakil Indonesia, Richie Duta Richardo, atlet tunggal putra Indonesia dalam pertarungan sengit tiga gim.

Legawa menerima hasil laga final, Dong Tian Yao memberikan apresiasi tinggi terhadap pertahanan tangguh dan ketahanan mental yang ditunjukkan oleh wakil Indonesia. “Menurut saya pertahanan lawan sangat kuat, saya sendiri tidak memiliki cara baru yang kreatif untuk menembusnya, termasuk semangat juang mereka di lapangan.

Intinya, setiap poin harus dikonsentrasikan dengan baik. Saat di lapangan, jika kehilangan satu poin, saya tidak akan memikirkan poin sebelumnya, melainkan tetap fokus pada sisa pertandingan berikutnya,” puji Dong Tian Yao.
Atlet asal Tiongkok ini mengaku memetik banyak pelajaran berharga dari gaya permainan pebulutangkis Indonesia yang cermat memanfaatkan area depan lapangan. “Yang saya pelajari adalah permainan lawan di area tengah dan depan secara keseluruhan cukup baik, serta bagaimana mereka menggunakan teknik pukulan drive (datar) dan teknik permainan ganda.”
Meski bertindak sebagai pemain lawan, Dong Tian Yao mengaku terkesan dengan gemuruh suporter di Kudus yang membuat suasana pertandingan terasa begitu hidup. Ia menilai keramahan kota dan fasilitas arena membuat pengalamannya bertanding di Kudus sangat berkesan.

“Dukungan penonton tentu sangat mempengaruhi. Rasanya ketika bertanding di luar negeri seperti ini, ada penggemar yang datang dari jauh, kita tentu ingin menampilkan performa yang lebih baik agar mereka tidak merasa sia-sia datang mendukung. Menurut saya tempat pertandingan, termasuk hotel tempat menginap, semuanya sangat bagus. Semoga ada kesempatan tahun depan atau di masa depan saya bisa datang untuk bertanding di sini lagi,” ungkapnya.

Daya tarik Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 tak hanya menggema di kalangan atlet, tetapi juga menyedot perhatian ribuan pecinta bulu tangkis dari luar daerah. Tribun penonton menjadi saksi antusiasme masyarakat yang rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan aksi bulu tangkis level dunia secara langsung.
Salah satu penonton luar kota yang hadir memboyong keluarga besarnya adalah Erwin Kurniawan. Datang jauh-jauh naik sepeda motor dari Kabupaten Kendal, Erwin memanfaatkan momen akhir pekan ini untuk memberikan pengalaman menonton ajang internasional kepada anak dan orang tuanya.

“Dari Kendal datang ke sini sama keluarga, sama orang tua dan anak-anak saya juga. Datang ke sini tujuannya ya melihat pertandingan atlet-atlet Indonesia main di sini secara langsung, Mas. Ini pertama kali saya menonton Super 100 di sini. Sebelum-sebelumnya ya cuma nonton di siaran TV di rumah. Karena lokasi Kudus lumayan dekat, jadi kami luangkan waktu untuk lihat langsung turnamen kelas internasional seperti ini,” tutur Erwin dengan nada penuh semangat.
Erwin memuji kelengkapan fasilitas arena GOR Djarum Arena yang dinilainya sangat ramah keluarga, mulai dari kenyamanan area menonton hingga wahana permainan anak di area luar tribun.
“Untuk fasilitas sih sangat-sangat istimewa. Terus untuk pertandingan juga seru banget. Fasilitas untuk nobar di luar ruangan ada, di dalam juga ada, sangat menikmati lah. Di depan juga disediakan layar besar buat nobar, terus bisa ngantar anak buat mainan karena di depan ada fasilitas buat anak-anak juga,” lanjutnya.
Meski tidak menginap karena harus kembali bekerja pada Senin pagi, Erwin mengaku puas dan menyimpan nostalgia manis dari atmosfer final di Kudus. “Momennya sangat seru pertandingannya, ya bisa langsung lihat atlet Indonesia dan mancanegara secara langsung. Ya semoga kalau ada waktu bisa ke sini lagi nantinya untuk melihat atlet-atlet Indonesia bertanding lagi.”

Kemeriahan turnamen internasional ini membawa berkah tersendiri bagi sektor perekonomian lokal. Di area khusus UMKM yang disiapkan di sekitar arena, lapak-lapak pedagang tampak diserbu pengunjung. Penonton silih berganti menjajal aneka kuliner khas hingga produk olahan herbal lokal.
Kebahagiaan dan rasa syukur diungkapkan oleh Rubiyanti, pemilik usaha Mampir Djamoe Herbal Food & Beverage. Ia mengaku tidak mengira produk olahan jamu rempah instan miliknya bakal menjadi incaran tidak hanya penonton lokal, tetapi juga atlet dan official mancanegara.

“Alhamdulillah ikut jualan untuk di sekitar area arena dari awal mulai, ya, dari tanggal 20 sampai akhir tanggal 25 Oktober. Jualannya kita sebenarnya produk herbal, kemasan jamu rempah instan siap minum dingin seperti temulawak, jahe nanas, kunyit asam, beras kencur, sampai ramuan pegal linu. Awalnya kita buat racikan segar di tempat, tapi karena peminatnya banyak dan tempat terbatas, kita siapkan botolan langsung siap minum,” terang Rubiyanti.
Rubiyanti menuturkan bahwa peningkatan omzet penjualan di stan miliknya melonjak drastis, terutama saat memasuki babak semifinal hingga hari final.
“Aktivitas pelanggan alhamdulillah ya, ini benar-benar berkah yang tak terhingga di tengah situasi ekonomi seperti ini karena ternyata pendapatan kami melebihi ekspektasi. Awalnya kami ragu, hari gini kok jualan jamu di event olahraga. Ternyata penggemarnya luar biasa dan banyak yang balik lagi. Bahkan semalam saja untuk di sini pemasukan kita bisa sampai Rp2 juta, ini sangat luar biasa sekali bagi kami pelaku UMKM kecil,” jelasnya gembira.
Menariknya, kelezatan rempah khas Muria tersebut turut memikat lidah para tamu internasional. Seperti pelanggan yang beli dari Malaysia dan India cukup terkesan setelah membeli produknya dan menikmati langsung di depannya. Perihal tersebut membawa kesan tersendiri bagi dirinya pelaku usaha kecil olahan rempah.

“Banyak atlet atau official dari luar negeri, seperti India dan Malaysia, yang ketagihan balik lagi cari beras kencur sama kunyit asam. Mereka bilang dengan bahasa yang kita pahami kalau rempah Kudus ini dalam bayangan mereka awalnya pahit, tapi setelah dicoba ternyata rasanya sangat enak. Mereka bilang ‘wow amazing‘. Varian paling laris itu beras kencur, kunyit asam, sama jahe nanas.”
Rubiyanti berharap ajang olahraga bergengsi dapat terus digelar secara rutin di Kudus, diiringi pendampingan berkelanjutan bagi UMKM lokal. “Harapan besar saya sebagai binaan Djarum Foundation, semoga nanti ada pendampingan berkelanjutan tentang higienitas pangan dan kelayakan gizi. Jadi produk warisan Kudus yang kami jual memiliki nilai angka gizi yang tepat dan makin terpercaya untuk dikonsumsi baik oleh pengunjung maupun atlet internasional,” tutupnya.

Ketika sorak penonton mereda dan panggung selebrasi perlahan mulai dibongkar, yang tersisa dari Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 bukan sekadar catatan angka di atas kertas statistik atau daftar nama para pemenang di papan skor. Lebih dari itu, turnamen ini telah meninggalkan jejak ingatan yang mendalam bagi semua orang yang terlibat di dalamnya.
Bagi para atlet, Kudus menawarkan arena pertandingan dengan atmosfer suporter yang hangat serta fasilitas berstandar dunia yang memberikan kenangan bertanding berkesan. Bagi para penonton seperti Erwin dan keluarganya, Kudus menghadirkan pengalaman liburan olahraga yang berkesan dan ramah keluarga. Sementara bagi para pelaku usaha lokal seperti Rubiyanti, event ini menjadi ajang pembuktian bahwa potensi lokal bahkan sebotol jamu tradisional rempah Muria mampu melangkah menembus batas budaya dan disukai mancanegara.
Suksesnya penyelenggaraan Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi olahraga, fasilitas kelas dunia, dan kehangatan tradisi lokal mampu menyatu harmonis. Kudus tak lagi hanya dikenal sebagai Kota Kretek, tetapi telah memantapkan langkahnya sebagai destinasi sports tourism unggulan yang akan selalu dirindukan untuk dikunjungi kembali. (JMY/YSR/mainkekudus)