

KUDUS – Peluit panjang di Supersoccer Arena, Kudus, Minggu (18/10/2026), mengakhiri final MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Kudus Seri 1 2026–2027 dengan skor 5-4. Pemain SD Unggulan Muslimat NU Kudus merayakan kemenangan, sementara pemain SDN Karangsono 2 Mranggen, Kabupaten Demak, harus menerima kekalahan tipis di partai final kelompok usia (KU) 12.
Di tengah suasana tersebut, Himmatul Aliya, pemain berusia 11 tahun dari SD Unggulan Muslimat NU Kudus, justru menghampiri pemain lawan yang kecewa. Ia memeluk dan menenangkan lawannya setelah pertandingan berakhir. Bagi Nora Ari Rahmawati, ibu Aliya, momen itu menjadi pengalaman yang lebih membekas daripada kemenangan putrinya.
Final tersebut mempertemukan dua tim yang telah melewati rangkaian pertandingan sejak 13 Oktober 2026. Aliya dan rekan-rekannya berhasil membawa pulang gelar juara KU 12, sedangkan Syafaatun Medina Wijayana bersama timnya harus puas menjadi runner-up.
Kemenangan dan kekalahan menghadirkan perasaan berbeda bagi kedua tim. Namun, di balik hasil pertandingan, ada perjuangan anak-anak untuk menghadapi tekanan, dukungan keluarga yang menyertai perjalanan mereka, serta pelajaran tentang menghormati lawan.

Bagi Aliya, keberhasilan mencapai final tidak sepenuhnya diperkirakan sejak awal. Pemain yang mulai mengenal sepak bola ketika duduk di kelas II sekolah dasar itu mengaku sempat meragukan kemampuan timnya. Seiring berjalannya kompetisi, keyakinan mereka tumbuh hingga berhasil melangkah ke partai puncak.
“Senang banget bisa menang. Enggak nyangka aja,” ungkap Aliya.
Perjalanan menuju gelar juara tidak lepas dari persiapan yang dilakukan selama sekitar dua bulan. Pelatih SD Unggulan Muslimat NU Kudus, Ahmad Yusuf, menyiapkan latihan ekstrakurikuler dan program khusus untuk menghadapi MLSC. Ia juga berusaha membangun kepercayaan diri pemain, terutama ketika berhadapan dengan tim yang dianggap lebih kuat.
Pada kompetisi sebelumnya, tim tersebut hanya mampu mencapai babak 16 besar dan delapan besar. Kali ini, mereka berhasil melangkah hingga final dan merebut gelar juara. Menurut Yusuf, perkembangan itu menunjukkan kemajuan anak-anak dalam menghadapi persaingan.

“Pembelajaran yang paling menonjol adalah bagaimana memunculkan kepercayaan diri anak-anak. Perkembangan mereka sangat pesat. Selain kemenangan, pengalaman ini mengajarkan mereka pantang mundur dan membuat mentalitas mereka menjadi lebih baik,” kata Yusuf.
Yusuf menyebut para pemain yang dibawanya berasal dari kelompok kelas III. Mereka harus menghadapi persaingan dengan tetap menjaga konsentrasi dan bekerja sama selama pertandingan.
Bagi pelatih, pencapaian tersebut bukan hanya tentang trofi. Pengalaman menghadapi tekanan dan mempercayai kemampuan rekan setim menjadi bagian penting dari proses pembinaan mereka.
Sementara itu, di final KU 10, SDN Jambean 02 Pati berhasil menjadi juara setelah mengalahkan MI NU Baitul Mukminin dengan skor 5-4. Hasil tersebut melengkapi persaingan final dua kelompok usia yang sama-sama berakhir dengan selisih satu gol.

Di kubu runner-up KU 12, Syafaatun Medina Wijayana menghadapi pengalaman yang berbeda. Pemain berusia 11 tahun dari SDN Karangsono 2 Mranggen itu harus menerima kekalahan tipis setelah timnya berjuang hingga partai final.
“Sedih banget karena belum bisa memberikan yang terbaik, yaitu juara satu. Harapannya, tahun depan bisa juara,” ujarnya.
Bagi Medina dan rekan-rekannya, hasil tersebut tentu tidak sesuai dengan harapan. Namun, perjalanan menuju final memberinya kesempatan untuk bertanding melawan pemain dari sekolah lain, menghadapi tekanan, dan memperluas pertemanan.
Perjuangan timnya juga dimulai jauh sebelum pertandingan. Rombongan dari Mranggen berangkat sekitar pukul 05.00 dan tiba di Kudus pada pukul 07.00 hingga 07.30. Perjalanan pagi itu menjadi bagian dari persiapan yang harus dijalani pemain bersama keluarga dan pendamping.
Pelatih SDN Karangsono 2 Mranggen, Lukman Hakim, memahami kekecewaan anak-anak asuhnya. Tim tersebut telah tiga kali mencapai final, tetapi belum berhasil membawa pulang gelar juara.
Pengalaman berulang kali menjadi runner-up menjadi tantangan tersendiri. Lukman berusaha membantu pemain agar tidak terus dibayangi hasil pertandingan sebelumnya. Ia mendorong mereka membangun kembali kepercayaan diri melalui latihan dan target baru.

“Perjuangan tim ini sangat berat. Anak-anak harus menempuh perjalanan jauh, sementara waktu istirahat juga terbatas. Namun, mereka tetap bersemangat,” ujarnya.
Bagi Lukman, tiga kali mencapai final menunjukkan bahwa timnya mampu bersaing. Pekerjaan berikutnya adalah memperbaiki kekurangan, meningkatkan kedisiplinan latihan, dan membantu pemain mengelola tekanan ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
Kekalahan kali ini belum menghapus keinginan Medina untuk kembali berjuang. Ia masih menyimpan target menjadi juara pada kesempatan berikutnya.

Perjalanan pemain di lapangan tidak terlepas dari dukungan orang tua. Mereka mendampingi latihan, menyiapkan kebutuhan pertandingan, mengatur waktu perjalanan, dan membantu anak menerima hasil kompetisi.
Bagi Nora, kemenangan Aliya memang membahagiakan. Namun, ia justru tersentuh ketika melihat putrinya memeluk pemain lawan yang sedang kecewa.

“Yang mengharukan itu ketika saya melihat anak saya memeluk lawannya, menenangkan lawannya. Saya bilang kepada Himmatul untuk tetap menghormati lawan,” tutur Nora.
Nora berusaha menanamkan pemahaman bahwa kemenangan bukan alasan untuk merasa lebih hebat daripada orang lain. Sebaliknya, kekalahan juga tidak seharusnya membuat seorang anak kehilangan semangat untuk berkembang.
Ia mendukung minat Aliya terhadap sepak bola sekaligus mendampingi aktivitas putrinya di luar lapangan. Menurut Nora, sejak menekuni olahraga tersebut, Aliya menjadi lebih disiplin dan aktif bergerak. Ia juga berusaha mengarahkan waktu anak agar tidak terlalu banyak dihabiskan dengan gawai.
Pengalaman serupa dirasakan Leani Suprana, orang tua Medina. Ketertarikan putrinya terhadap sepak bola bermula ketika duduk di kelas IV sekolah dasar, saat sekolah membuka kegiatan ekstrakurikuler. Dari kegiatan tersebut, Medina mulai mengikuti pertandingan dan semakin tertarik untuk berlatih.
Bagi Leani, kekalahan di final tidak mengurangi kebanggaannya terhadap perjuangan putrinya.

“Meski anak saya kalah di final, saya tetap bangga. Belum rezekinya kali ini,” ujarnya.
Persiapan menuju Kudus menuntut keluarga berangkat sejak sekitar pukul 04.30 hingga 05.00. Di tengah perjalanan dan pertandingan, dukungan orang tua menjadi bagian dari proses yang dijalani Medina untuk mengejar prestasi.
Bagi kedua keluarga, hasil pertandingan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemenangan perlu disertai sikap rendah hati, sedangkan kekalahan membutuhkan ruang untuk menerima kekecewaan dan keberanian untuk mencoba kembali.

Pelukan Aliya setelah final menjadi contoh sederhana dari sikap tersebut. Persaingan berlangsung selama pertandingan, tetapi rasa hormat kepada lawan tetap dapat ditunjukkan setelah peluit panjang berbunyi.

Selain pertandingan KU 10 dan KU 12, rangkaian MLSC Kudus Seri 1 2026–2027 juga menghadirkan Festival SenengSoccer KU 8 pada 17 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diikuti 250 peserta dari 40 sekolah dasar di Kudus, Pati, dan Jepara.
Berbeda dari pertandingan kompetitif, festival ini mengenalkan keterampilan dasar sepak bola kepada anak perempuan melalui berbagai aktivitas. Peserta mencoba berlari zig-zag melewati rintangan, menggiring bola, mengoper, menendang, hingga melakukan lemparan ke dalam.
Format tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal gerakan dan keterampilan dasar sepak bola secara bertahap sebelum mengikuti kompetisi dengan tingkat persaingan lebih tinggi.
Sementara itu, MLSC Kudus Seri 1 2026–2027 secara keseluruhan diikuti 1.672 atlet dari 100 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan seri sebelumnya pada 2025–2026 yang diikuti 1.391 peserta.
Kompetisi berlangsung pada 13–18 Oktober 2026 di Supersoccer Arena dan Lapangan Rendeng, dengan masing-masing 80 tim bertanding di kategori KU 10 dan KU 12.
Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge Kudus, Yayat Hidayat, menilai meningkatnya partisipasi menjadi modal bagi pembinaan sepak bola putri. Kompetisi memberikan kesempatan untuk mengamati kemampuan pemain, mulai dari kerja sama dan pengambilan keputusan hingga kesiapan menghadapi tekanan.

Sebagian peserta juga menargetkan kesempatan mengikuti pembinaan lanjutan, termasuk MLSC All-Stars. Hasil pemantauan bakat selama turnamen dapat menjadi bahan untuk menentukan pemain yang berpotensi mengikuti program berikutnya.

Bagi Aliya, MLSC Kudus Seri 1 2026–2027 berakhir dengan gelar juara dan pengalaman menunjukkan kepedulian kepada lawan. Bagi Medina, final menyisakan kekecewaan, tetapi juga target untuk kembali mencoba pada tahun berikutnya.
Keduanya pulang dengan pengalaman berbeda setelah menjalani persaingan yang sama. Di lapangan, mereka berusaha menguasai bola, bekerja sama, dan menghadapi tekanan. Di luar pertandingan, mereka belajar bahwa hasil akhir bukan satu-satunya hal yang layak dibawa pulang.
Pelukan Aliya dan harapan Medina untuk kembali menjadi juara memperlihatkan dua sisi dari perjalanan atlet muda. Satu merayakan kemenangan tanpa melupakan lawan, sementara yang lain berusaha menerima kekalahan sambil menjaga keinginan untuk berkembang.
Perjalanan mereka masih berlanjut melalui latihan dan kesempatan bertanding berikutnya. Di usia ketika kemampuan terus dibentuk, keberanian untuk mencoba, kemauan memperbaiki diri, dan sikap menghormati lawan menjadi bagian dari pengalaman yang tumbuh bersama sepak bola. (ITN/mainkekudus)