

KUDUS – Sebanyak 1.601 peserta dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Kudus untuk mengikuti Audisi Umum PB Djarum 2026 yang berlangsung pada 9–13 September 2026. Dari Sumatera hingga Papua, mereka bersaing dalam tiga kelompok usia, yakni U-11, KU-11, dan KU-12 putra maupun putri.
Kudus menjadi kota ketiga penyelenggaraan audisi setelah Pekanbaru pada Juli dan Makassar pada Agustus 2026. Selama lima hari, GOR Djarum Jati menjadi tempat para peserta menjalani pertandingan sekaligus menunjukkan kemampuan di hadapan tim pencari bakat.
Namun, rangkaian audisi tidak hanya berlangsung di dalam arena. Peserta yang datang dari luar daerah juga harus mengatur kebutuhan selama beberapa hari berada di Kudus, mulai dari tempat tinggal, makan, transportasi, latihan, hingga waktu istirahat.
Penyelenggaraan Audisi Umum PB Djarum tidak hanya membuat tingkat hunian hotel dan homestay mengalami kenaikan. Banyaknya peserta yang datang dari berbagai daerah juga membuka ruang bagi rumah warga untuk menjadi tempat singgah sementara. Sebagian peserta memilih rumah yang disewakan di sekitar GOR Djarum Jati karena lokasinya lebih dekat dengan arena sekaligus menawarkan biaya yang lebih terjangkau.

Pertemuan antara peserta audisi dan warga setempat kemudian menghadirkan aktivitas lain di luar pertandingan. Tuan rumah membantu pendatang mengenali lingkungan Kudus, sementara orang tua dan pendamping mengatur berbagai kebutuhan anak agar tetap siap mengikuti setiap tahapan seleksi.

Salah satu hunian yang menerima peserta adalah Fafin Kost & Guest House di Jalan Lingkar Timur Kudus Nomor 345, Barisan, Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tempat tersebut dikelola Nanang Wahyu, yang selama masa audisi menerima peserta dari sejumlah daerah bersama orang tua maupun pendamping mereka.
Menurut Nanang, salah satu persoalan yang kerap dihadapi peserta dari luar daerah adalah minimnya pengetahuan mengenai Kudus, termasuk lokasi tempat tinggal, akses menuju arena, dan kebutuhan selama berada di kota tersebut.
Nanang telah memasuki tahun ketiga mengelola Fafin. Pada audisi tahun ini, delapan peserta tercatat menginap di tempat tersebut. Enam diantaranya berasal dari Tangerang, sedangkan dua lainnya datang dari Bandung dan Mojokerto. Orang tua serta pelatih turut mendampingi mereka selama mengikuti rangkaian seleksi.

Sebagian peserta mulai mencari penginapan sebelum audisi berlangsung. Google Maps menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk mencari hunian yang dianggap cukup dekat dengan arena. Setelah memperoleh lokasi yang sesuai, mereka menghubungi pengelola untuk memastikan ketersediaan kamar serta fasilitas yang dibutuhkan selama berada di Kudus.
Bagi Nanang, interaksi dengan tamu tidak berhenti setelah kamar tersedia. Ia dan keluarganya juga kerap memberikan informasi mengenai transportasi, tempat makan, maupun kebutuhan lain yang mungkin diperlukan peserta dan pendamping.
Bahkan ketika kamar di Fafin sudah penuh, Nanang berusaha membantu mencarikan pilihan penginapan lain di sekitar kawasan tersebut.
“Kalau kita sendiri kan di sini menerapkan sistem kekeluargaan. Jadi kalau ada apa-apa, kita selalu terbuka untuk mereka untuk kita bantu,” katanya.
Untuk peserta Audisi Umum PB Djarum, Fafin menerapkan tarif harian yang berbeda berdasarkan fasilitas kamar. Kamar berpendingin udara dikenakan Rp150 ribu per hari, termasuk televisi, sedangkan kamar dengan kipas angin Rp 80 ribu per hari. Tersedia pula paket satu minggu, yakni Rp 700 ribu untuk kamar berpendingin udara dan Rp 500 ribu untuk kamar kipas.
Adapun tarif bulanan Fafin untuk kamar berpendingin udara sebesar Rp 1,2 juta, termasuk listrik. Kamar kipas tipe A dipatok Rp700 ribu per bulan, sedangkan tipe B Rp 800 ribu.
Fafin bukan satu-satunya hunian warga yang menerima peserta audisi. Ada Kos Lumintu milik Sri Mulyati, ibu Nanang, yang telah berdiri sekitar 15 hingga 20 tahun dan memiliki 14 kamar.

Pada masa audisi, dua kamar di antaranya ditempati peserta dari Mojokerto dan Sampang, Madura. Hunian tersebut menggunakan kipas angin pada setiap kamar, sedangkan kamar mandi berada di luar.
Kos Lumintu memiliki tarif bulanan sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu. Khusus peserta Audisi Umum PB Djarum, tarif yang diberlakukan sebesar Rp60 ribu per hari atau Rp400 ribu untuk satu minggu.

Selama Audisi Umum PB Djarum 2026, dua kamar di Kos Lumintu ditempati peserta dari Mojokerto dan Sampang, Madura. Setiap kamar dilengkapi kipas angin, sedangkan fasilitas kamar mandi berada di luar kamar.

Bagi Nanang, setiap penyelenggaraan audisi membawa pengalaman berbeda. Ia masih mengingat sejumlah peserta yang pernah tinggal di Fafin dan kemudian berhasil diterima PB Djarum.
Dalam kurun tiga hingga empat tahun terakhir, ia memperkirakan ada sekitar empat hingga lima peserta yang pernah menginap di tempatnya kemudian mendapatkan kesempatan bergabung dengan klub tersebut. Nanang tidak lagi mengingat seluruh nama mereka, tetapi pengalaman itu membuatnya mengikuti perjalanan peserta yang datang dari tahun ke tahun.
Hasil seleksi tentu tidak selalu dapat diperkirakan sejak awal. Ada anak yang mampu melangkah jauh dalam tahapan audisi, sementara peserta lainnya harus berhenti lebih cepat dan kembali mencoba pada kesempatan berikutnya.
Situasi tersebut juga membuat pengalaman setiap keluarga berbeda. Peserta berfokus pada pertandingan, sedangkan orang tua, pelatih, dan pendamping mengatur berbagai kebutuhan yang memungkinkan anak tetap mengikuti proses seleksi dengan baik.
Salah satu peserta yang kembali datang ke Kudus adalah Rofi Tristan Alifsuyono dari Tangerang. Bagi Rofi, Kudus bukan lagi kota yang sepenuhnya asing karena ia telah beberapa kali mengikuti audisi di tempat tersebut.
Selama berada di Kudus, Rofi memiliki kesan tersendiri terhadap warga yang ditemuinya. Ketika ditanya mengenai pengalamannya selama tinggal di kota ini, jawabannya singkat.
“Ramah,” katanya.
Rofi berlatih bersama pelatih dari PB Champion Kebumen. Kendati telah beberapa kali mengikuti seleksi, keinginannya belum berubah. Ia berharap dapat memperoleh kesempatan bergabung dengan PB Djarum.
“Pengen masuk PB Djarum,” katanya.
Keinginan tersebut membawanya kembali mengikuti Audisi Umum PB Djarum pada 2026. Selain mengejar peluang lolos seleksi, pertandingan dengan peserta dari berbagai daerah juga menjadi pengalaman bagi Rofi dalam mengembangkan kemampuan bertanding.

Di luar arena, rutinitas Rofi diatur bersama orang-orang yang mendampinginya. Ia tetap menjalani latihan, sementara kebutuhan makan, istirahat, dan jadwal pertandingan harus disesuaikan agar kondisi tubuh tetap terjaga sepanjang audisi.
Salah satu orang yang mendampinginya adalah Sri Yutini, yang akrab disapa Bu Iyut. Ia datang dari Tangerang untuk menemani perjalanan anaknya mengikuti seleksi.
Audisi 2026 menjadi pengalaman ketiga bagi keluarga tersebut. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, Rofi mampu bertahan hingga babak 32 besar. Tahun ini, perjalanannya terhenti lebih awal, sekitar babak 62 atau 64 besar. Menurut Bu Iyut, kondisi kesehatan ikut mempengaruhi penampilan anaknya.
Hasil itu tidak membuatnya menutup kemungkinan untuk mengikuti audisi lagi pada tahun berikutnya. Ia menilai seorang anak masih memiliki waktu panjang untuk berkembang dan belajar dari setiap pertandingan.
“Jangan takut untuk ngikutin audisi ini. Perjalanannya kan masih panjang, namanya juga lagi proses. Ikutin aja dulu,” ujarnya.
Bagi Bu Iyut, dukungan keluarga menjadi salah satu hal yang perlu terus diberikan, terlepas dari sejauh mana anak mampu melangkah dalam seleksi.
“Yang penting kasih support nomor satu buat anak,” katanya.

Di sela kegiatan selama berada di Kudus, Rofi dan Bu Iyut sempat mencicipi Soto Gobyos Bu Sum. Keduanya memberikan respons sederhana setelah mencicipinya. Menurut mereka, soto tersebut terasa segar.
Soto Gobyos Bu Sum memiliki karakter yang berbeda dari Soto Kudus tradisional, meskipun sama-sama berkembang di Kudus. Jika Soto Kudus umumnya menggunakan daging kerbau atau ayam dengan kuah bening kecoklatan yang gurih dan ringan, Soto Gobyos Bu Sum menggunakan suwiran ayam dengan kuah kuning yang kaya rempah dan rasa pedas yang menyatu di dalam kuah. Pelengkapnya juga berbeda, dengan campuran kol dan soun sebagai bagian dari sajian.
Karakter pedas tersebut menjadi bagian dari nama “gobyos”, yang menggambarkan sensasi setelah menyantap soto hingga membuat tubuh berkeringat. Berbeda dengan Soto Kudus tradisional yang biasanya menyajikan sambal secara terpisah, rasa pedas pada Soto Gobyos Bu Sum sudah menjadi bagian dari kuahnya.

Salah satu Soto Gobyos Bu Sum berada di kawasan Gendang Sewu, Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Warung tersebut beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 15.00 WIB. Harga soto berada di kisaran Rp 8.000 untuk porsi kecil dan Rp 10.000 untuk porsi besar. Pilihan pelengkap seperti gorengan dan sate tersedia mulai Rp 1.000, sedangkan minuman berada di kisaran Rp 2.500–Rp 3.500.
Bagi Rofi dan Bu Iyut, mencicipi soto menjadi bagian kecil dari aktivitas selama berada di Kudus. Di tengah jadwal latihan dan pertandingan yang harus dijalani Rofi, waktu makan tetap menjadi bagian dari rutinitas selama mengikuti audisi.
Pengalaman sederhana tersebut memperlihatkan sisi lain dari perjalanan peserta dari luar daerah. Mereka tidak hanya datang ke Kudus untuk bertanding, tetapi selama beberapa hari juga menjalani aktivitas sehari-hari di lingkungan masyarakat setempat, termasuk mengenal makanan yang ditemui di sekitar tempat mereka tinggal.
Selama berada di Kudus, kehidupan peserta tidak sepenuhnya berhenti pada kegiatan audisi. Bu Iyut mengatakan Rofi tetap menjalani latihan pada pagi dan sore hari untuk menjaga kondisinya.
Kewajiban sekolah dan kegiatan mengaji juga tetap diperhatikan. Sebelum berangkat mengikuti audisi, Rofi harus mendapatkan izin dari sekolah. Selanjutnya, jadwal pertandingan, latihan, makan, istirahat, hingga kegiatan lainnya diatur selama berada di Kudus.
Lokasi Fafin yang relatif dekat dengan GOR Djarum Jati cukup membantu keluarga tersebut. Menurut Bu Iyut, perjalanan menuju arena membutuhkan waktu kurang dari lima menit.
Jarak yang pendek membuat mobilitas selama audisi menjadi lebih mudah. Ketika pertandingan atau latihan selesai, Rofi dapat segera kembali ke tempat menginap untuk beristirahat maupun mempersiapkan kebutuhan untuk agenda berikutnya.
Dari beberapa kali kunjungan ke Kudus, keluarga ini juga mulai memiliki kebiasaan tersendiri. Salah satunya dalam memilih makanan. Soto Gobyos menjadi menu yang disukai anak-anak selama berada di kota tersebut.
Menurut Bu Iyut, mereka hampir setiap hari menyantap makanan tersebut ketika berada di Kudus. Di tengah jadwal latihan dan pertandingan, pilihan makanan yang sudah dikenal membuat urusan makan menjadi lebih praktis.
Bagi orang tua yang mendampingi peserta audisi, kebutuhan anak memang tidak berhenti setelah pertandingan selesai. Kondisi fisik, waktu latihan, sekolah, asupan makanan, istirahat, hingga pemulihan harus terus diperhatikan selama menjalani rangkaian seleksi.

Dalam situasi seperti itu, keberadaan warga yang menerima para pendatang ikut membantu. Nanang, misalnya, tidak sekadar menyediakan kamar, tetapi juga menjadi salah satu sumber informasi ketika peserta maupun orang tua membutuhkan bantuan terkait lingkungan sekitar.
Interaksi tersebut terbangun secara alami selama mereka tinggal dalam beberapa hari. Sebagian tamu bahkan kembali pada penyelenggaraan audisi berikutnya karena sudah mengenal lokasi dan orang-orang yang pernah membantu mereka sebelumnya.
Audisi Umum PB Djarum 2026 mempertemukan 1.601 peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Di lapangan, mereka bersaing menunjukkan kemampuan untuk mendapatkan perhatian tim pencari bakat. Di luar arena, perjalanan itu melibatkan lebih banyak orang.
Orang tua mendampingi anak melewati setiap tahapan seleksi. Pelatih menjaga program latihan dan kesiapan pemain. Sementara warga yang menyediakan tempat menginap membantu pendatang menjalani kebutuhan sehari-hari selama berada di Kudus.
Bagi Nanang, pengalaman menerima peserta dari tahun ke tahun membuatnya mengenal beragam perjalanan anak yang datang dengan tujuan serupa. Sebagian berhasil melanjutkan langkah hingga bergabung dengan PB Djarum, sementara lainnya pulang dengan pengalaman yang dapat digunakan untuk mencoba kembali.
Bagi Rofi, audisi tahun ini menjadi kelanjutan dari usahanya mengejar kesempatan masuk PB Djarum. Hasil seleksi belum sesuai yang diinginkan, tetapi kesempatan untuk kembali masih terbuka. Bu Iyut pun memilih untuk terus mendampingi proses tersebut selama anaknya masih ingin mencoba.
Pengalaman keluarga Rofi sekaligus memperlihatkan berbagai hal yang harus diatur selama mengikuti audisi. Pertandingan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Ada latihan yang tetap dilakukan, kondisi kesehatan yang harus dijaga, sekolah yang tidak boleh diabaikan, hingga kebutuhan harian selama berada jauh dari rumah.
Di sisi lain, kehadiran peserta dari berbagai penjuru Indonesia juga membawa aktivitas ke lingkungan sekitar arena. Rumah kos dan guest house milik warga menjadi tempat tinggal sementara, sementara interaksi antara tuan rumah dan peserta berkembang melalui kebutuhan sehari-hari.
Pada akhirnya, setiap peserta pulang dengan hasil berbeda. Ada yang melanjutkan ke tahap berikutnya, ada yang harus menunggu kesempatan lain, dan ada pula yang membawa pengalaman bertanding menghadapi peserta dari berbagai daerah.
Bagi peserta yang menempuh perjalanan jauh menuju Kudus, proses audisi itu pun tidak berlangsung di arena semata. Selama beberapa hari, mereka juga mengenal lingkungan baru, tinggal bersama warga, serta menjalani rutinitas bersama orang tua dan pelatih yang mendampingi.
Di GOR Djarum Jati, mereka mengejar kesempatan melalui pertandingan. Sementara beberapa menit dari arena, rumah-rumah warga menjadi tempat mereka beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kembali menjalani tahapan berikutnya. (OEB/mainkekudus)