

KUDUS — Susunan kok yang dibuat menjadi menara beberapa kali roboh sebelum akhirnya bisa ditata kembali. Di pos permainan lain, anak-anak berusaha mengarahkan kok ke sasaran, berlari mengejar waktu, hingga mengulang gerakan yang belum berhasil. Sesekali, tawa pecah ketika mereka kesulitan menyelesaikan tantangan. Teman-teman dan guru pendamping ikut memberi semangat dari pinggir arena.
Suasana itu mewarnai MilkLife Festival SenengMinton Kudus 2026 di GOR PB Djarum Jati, Kudus, pada 17–18 Oktober 2026. Bagi anak-anak yang masih duduk di kelas 1, 2, dan 3 sekolah dasar, festival ini bukan sekadar kesempatan mencoba berbagai permainan bulu tangkis, tetapi juga pengalaman menghadapi kesulitan, merasakan suasana kompetisi, dan bersenang-senang bersama teman.
Sebanyak 360 siswa dari 24 sekolah di Kabupaten Kudus mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama Pengkab PBSI Kudus tersebut. Mereka menjajal sejumlah permainan yang menguji ketepatan, koordinasi, kelincahan, dan kemampuan mengendalikan raket.
Mahatma Gavin Gita Palupi, siswa peserta dari MIN Kudus, menjadi salah satu anak yang menikmati beragam permainan di festival tersebut. Ketika menceritakan pengalamannya, ia masih berusaha mengingat nama-nama tantangan yang baru saja dicobanya.

“SenengMinton, tadi main minton, servis, servis, shadow, sama apa itu? Nyusun kok, latihan, lari. Yang paling seru ketika servis, bisa. Yang paling sulit traving, tapi akhirnya bisa,” ujar Gavin.
Bagi Gavin, servis menjadi permainan yang paling menyenangkan karena ia berhasil melakukannya. Sebaliknya, ada tantangan yang membuatnya harus berusaha lebih keras sebelum akhirnya bisa menyelesaikannya.
Festival tersebut memang menghadirkan beragam pos permainan, mulai dari Servis Ring, Pyramid Shuttlecock atau menara kok, Wall Volleying, Shuttle Run, Target, hingga latihan shadow dan drive. Setiap pos menawarkan tantangan berbeda, sehingga peserta tidak hanya mengandalkan kemampuan memukul kok, tetapi juga ketepatan dan koordinasi gerak.
Pengalaman mengikuti festival membuat Gavin semakin tertarik untuk menekuni olahraga ini. Meski tak memiliki cerita lucu yang berkesan, ia mengaku menikmati seluruh rangkaian kegiatan dan ingin berlatih lebih serius.

“Enggak ada yang lucu, cuma asyik, senang saja. Iya, mau (latihan lebih serius ke depan),” ujarnya.
Jawaban sederhana itu menunjukkan bahwa pengalaman menyenangkan tidak harus selalu datang dari kejadian lucu. Bagi Gavin, kesempatan mencoba berbagai permainan dan berhasil melewati tantangan sudah cukup membuatnya menikmati kegiatan tersebut.
Rania Adzkya Putri, siswi kelas 3 MI NU Nurus Shofa, berhasil meraih juara ketiga dalam keikutsertaannya yang kedua di MilkLife Festival SenengMinton Kudus 2026. Baginya, permainan drive menjadi tantangan paling menarik sekaligus sulit karena membutuhkan koordinasi tangan dan ketepatan pukulan.

“Seru. Udah pernah ikut dua kali. Tadi ada servis, terus shadow. Yang paling seru itu pas nge-drive, tapi yang paling sulit ya drive,” tuturnya.
Selain mengasah teknik pukulan, Rania juga menghadapi tantangan menyusun kok menjadi menara yang membuatnya harus mencoba berulang kali.
“Tadi pas nata kok itu, ngulang terus, yang menara kok,” ceritanya.
Meski berhasil naik podium, Rania mengaku belum puas dengan pencapaiannya. Ia menyayangkan kemungkinan tidak bisa kembali mengikuti festival tahun depan karena batas jenjang kelas. Namun, semangatnya menekuni bulu tangkis tetap besar, terlebih ia bercita-cita menjadi atlet seperti idolanya, Anthony Sinisuka Ginting.
“Kan sudah enggak bisa, sudah kelas 3. Sayang banget cuman juara 3. Cita-citanya ingin jadi atlet badminton, favoritnya Ginting. Ikut terus aku,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Rania untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus mengejar cita-citanya di dunia bulu tangkis.

Ketertarikan terhadap bulu tangkis juga tumbuh pada Muhammad Fikri Maulana, siswa MI Baitul Mukminin Getas Pejaten yang berhasil mencapai babak final festival.
Menurut ayahnya, Yanuar Dwi Ariwibowo, Fikri mulai tertarik bermain bulu tangkis setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Sebelumnya, keseharian Fikri lebih banyak diisi dengan bermain sepeda dan bermain bersama teman-temannya.
Ketertarikan itu kemudian berkembang. Fikri meminta dibelikan raket agar bisa semakin sering bermain bulu tangkis di sekolah. Yanuar pun mendukung keinginan anaknya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Dia dari sekolahan ada ekstra badminton. Nah, di situ dia tertarik ingin ikut. Dengan semangatnya, dia saya ikuti kemauan anak. Alhamdulillah terpilih dan ikut peserta lomba seneng badminton di Djarum,” kata Yanuar.
Menjelang festival, Fikri menjalani latihan setiap hari selama satu minggu. Bagi Yanuar, masa persiapan itu bukan hanya tentang kesiapan anak menghadapi perlombaan, tetapi juga kesempatan melihat perubahan kebiasaan dalam kesehariannya.
“Kalau saya sendiri jadi orang tua merasa bangga. Anaknya itu semangatnya tinggi. Walaupun berangkat pagi untuk ikuti latihan, selama persiapan untuk lomba ini kan satu minggu full latihan seneng badminton untuk persiapan lomba,” ujarnya.
Yanuar juga melihat Fikri mulai lebih disiplin menjalani jadwal latihan. Ia menilai anaknya semakin terbiasa bersiap tanpa harus terus-menerus diingatkan.
“Disiplinnya kelihatan berubah. Setelah adanya latihan ekstra ini, kemungkinan dari pelatihnya yang mengarahkan untuk harus disiplin, mungkin jadi membentuk karakter yang disiplin. Jadi kalau jadwal berangkat ya pasti sudah siap, tanpa perlu dioyak-oyak,” lanjutnya.
Perubahan tersebut menjadi hal yang membanggakan bagi Yanuar. Ia juga menyampaikan bahwa hasil ujian tengah semester Fikri tetap baik, dengan sejumlah nilai mencapai 100 dan nilai terendah 86.
Bagi keluarga, pengalaman Fikri mengikuti festival menjadi bagian dari dukungan terhadap minat anak. Ketertarikan yang berawal dari kegiatan ekstrakurikuler kini memberinya kesempatan untuk berlatih lebih rutin dan mencoba kemampuan di arena perlombaan.

Keseruan festival tidak hanya berlangsung di pos permainan. Di bangku penonton, siswa yang datang bersama sekolah ikut menyemangati teman-teman mereka yang sedang berlomba.
Muhammad Ghofarul, guru pendamping dari MI NU Miftahul Ulum Loram Kulon, melihat antusiasme itu tumbuh selama persiapan hingga kegiatan berlangsung. Menurutnya, festival menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar memberikan dukungan kepada teman yang sedang mengikuti perlombaan.

“Ya, gembira, ceria, justru mereka tuh antusias, Mas. Karena ini kan ajang untuk meningkatkan kreativitas mereka, terutama dalam hal mendukung teman-temannya yang ikut lomba badminton,” kata Ghofarul.
Mengajak anak-anak berlatih untuk menjadi suporter, menurutnya, juga membutuhkan proses. Pada awal persiapan, beberapa siswa merasa kesulitan mengikuti arahan dan menyelaraskan gerakan.
“Pas awal-awal kita mengajak untuk latihan itu anak-anak pada, ‘Ah, lah, sulit.’ Ditata pun itu butuh waktu yang lama. Namun, ternyata dalam waktu satu minggu dapat hasil yang maksimal, dapat juara satu kemarin yang suporter,” kenangnya.
Dalam waktu sekitar satu minggu, kelompok suporter sekolah tersebut berhasil meraih juara pertama pada kategori suporter. Hasil itu menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa yang sebelumnya masih membutuhkan waktu untuk memahami apa yang harus dilakukan.
Bagi Ghofarul, hal yang berkesan bukan hanya hasil perlombaan. Ia juga melihat bagaimana anak-anak tetap memberikan semangat ketika teman mereka melakukan kesalahan atau belum berhasil menyelesaikan tantangan.
Setelah kegiatan suporter selesai, mereka kembali memperhatikan teman dan adik kelas yang sedang bertanding. Dukungan diberikan dari luar lapangan, termasuk ketika peserta menghadapi kesulitan.
Di sekolahnya, minat siswa terhadap olahraga juga disalurkan melalui sejumlah kegiatan ekstrakurikuler, seperti bulu tangkis, sepak bola, sepak bola putri, dan tenis meja. Pengalaman mengikuti festival menjadi salah satu kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga bersama teman-teman.

Bagi Gavin, festival menjadi pengalaman yang membuatnya ingin berlatih lebih serius. Rania pulang dengan pengalaman mengikuti perlombaan sekaligus keinginan memperbaiki permainan yang masih sulit dikuasai. Sementara itu, Fikri mendapat kesempatan menguji hasil latihan yang dijalaninya bersama dukungan keluarga.
Di sisi lain, kelompok suporter belajar menyiapkan penampilan bersama dan memberikan semangat kepada teman-teman mereka. Berbagai pengalaman itu memperlihatkan bahwa keterlibatan anak-anak dalam festival tidak berhenti pada hasil yang tercatat dalam perlombaan.

Di GOR PB Djarum Jati, ada servis yang berhasil dilakukan, menara kok yang harus disusun ulang, gerakan drive yang masih sulit, hingga sorak-sorai dari teman-teman di pinggir arena. Dari permainan yang dicoba dan kesulitan yang dihadapi, anak-anak mendapat kesempatan untuk mengenal bulu tangkis lebih dekat, sekaligus menikmati prosesnya bersama teman-teman. (JMY/mainkekudus)