

“Awalnya, kami mengenalkan hoki melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” ujar Pertiwi.
Dari pengenalan itu, anak-anak yang tertarik dapat melanjutkan latihan melalui klub. Mereka mulai belajar mengendalikan bola, melakukan operan, memahami pergerakan pemain, dan mengikuti pola permainan. Proses tersebut menjadi fondasi sebelum seorang pemain mendapat kesempatan masuk dalam tim yang disiapkan untuk bertanding.
Upaya menjaring atlet juga dilakukan melalui Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kabupaten Kudus. Kompetisi pelajar ini membuka kesempatan bagi sejumlah sekolah untuk mengirimkan pemain sekaligus memperkenalkan mereka pada atmosfer pertandingan.
“Dalam dua tahun terakhir, kami juga menggelar Popda di Kabupaten Kudus. Antusiasme dari sejumlah sekolah untuk mengikuti pertandingan cukup besar, termasuk pada Popda 2025 dan 2026,” tutur Pertiwi.
Keikutsertaan dalam pertandingan di luar daerah juga menjadi kesempatan bagi pelatih untuk melihat perkembangan pemain. Dari sana, mereka dapat menilai kemampuan atlet sekaligus menentukan siapa yang berpeluang masuk dalam susunan tim kompetisi.
“Setiap ada event di luar Kudus, kami ikut serta sekaligus melakukan seleksi,” katanya.
Jumlah pemain yang dapat dibawa ke sebuah pertandingan tentu terbatas. Pada kelompok U-12, misalnya, hanya 12 anak yang bisa masuk dalam tim. Pemain dari berbagai sekolah harus bersaing untuk mendapatkan tempat.
Karena itu, proses pembinaan tidak berhenti pada pengenalan olahraga, tetapi berlanjut pada latihan, evaluasi, dan seleksi. Setiap tahapan menjadi kesempatan bagi atlet muda untuk menunjukkan perkembangan kemampuannya.

Di lapangan, perkembangan atlet membutuhkan proses bertahap. Pelatih tim hoki Kudus, Yuli Irsanto, menempatkan pembentukan mental sebagai bagian awal yang perlu diperhatikan sebelum pemain mengembangkan kemampuan teknis dan memahami strategi permainan.
“Dalam pembinaan, yang pertama harus dibangun adalah mental. Setelah itu, teknik dasar menjadi fundamental yang harus benar-benar diperhatikan,” ujar Yuli.

Kemampuan setiap pemain berkembang dengan kecepatan berbeda. Atlet yang baru bergabung masih perlu membangun dasar permainan, sedangkan pemain yang disiapkan untuk kompetisi membutuhkan latihan lebih terarah sesuai kebutuhan tim.
Pembinaan hoki Kudus dijalankan melalui latihan rutin setiap hari, kecuali Minggu, dengan dua sesi latihan. Sesi pagi berlangsung sekitar pukul 07.00 atau 08.00 hingga pukul 11.00 atau 12.00 WIB. Sementara itu, sesi sore berlangsung sekitar pukul 15.00 atau 16.00 hingga pukul 18.00 atau 19.00 WIB.
Intensitas dan materi latihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan persiapan kompetisi, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah.
Yuli berupaya menjaga agar pemain junior tetap memiliki ruang untuk belajar dari atlet senior. Ia tidak membuat pemisahan yang terlalu tegas dalam sesi latihan.
“Untuk mencegah kesenjangan antara senior dan junior, porsi latihan kami samakan. Tidak ada pembedaan dalam latihan,” katanya.
Sementara itu, pemilihan pemain untuk tim kompetisi dilakukan melalui sistem promosi dan degradasi. Mekanisme ini memberi kesempatan kepada atlet untuk menunjukkan perkembangan sekaligus menjaga persaingan yang sehat dalam perebutan tempat di tim.
“Prosesnya sudah dimulai sejak Februari melalui sistem promosi dan degradasi,” ujar Yuli, menjelaskan tahapan seleksi yang dijalankan tim.
Dalam persiapan kompetisi, materi latihan diarahkan pada kebutuhan pertandingan. Pemain mengasah kemampuan shooting, situasi bola mati, pertahanan, dan strategi penalti. Latihan rutin menjadi kesempatan untuk memperbaiki kekurangan sekaligus membangun koordinasi antarpemain.

Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup. Atlet juga perlu menghadapi lawan dengan karakter permainan berbeda agar terbiasa membaca situasi dan mengambil keputusan di bawah tekanan.
“Uji tanding sangat penting. Jika dalam satu tahun atlet hanya mendapatkan satu kali pertandingan, kemampuan mereka tidak akan berkembang secara optimal,” tutur Yuli.
Baginya, pengalaman bertanding menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari latihan. Semakin beragam lawan yang dihadapi, semakin besar pula kesempatan pemain menguji kemampuan dan memahami tuntutan kompetisi.

Bagi Yasril Faza Aftoni, perjalanan menekuni hoki bermula ketika duduk di bangku SMA. Ia mengenal olahraga tersebut setelah diajak seorang teman. Ketertarikannya tidak langsung tumbuh, tetapi latihan yang dijalani perlahan membuatnya memilih untuk terus menekuni hoki.
“Saya mengenal hoki ketika duduk di bangku SMA setelah diajak seorang teman. Awalnya saya tidak tertarik, tetapi lama-kelamaan mulai menikmati dan menekuni olahraga ini,” katanya.
Dalam kondisi normal, Yasril berlatih sekitar satu sampai tiga kali dalam sepekan. Frekuensi tersebut meningkat ketika ia bersama tim menjalani persiapan menuju kompetisi besar seperti Porprov Jawa Tengah.
“Dalam persiapan Porprov, latihan dilakukan sekitar lima sampai enam kali dalam sepekan,” ujar Yasril.
Penambahan frekuensi latihan menuntut konsistensi lebih besar. Pemain harus menjaga kemampuan teknis sekaligus membangun kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi pertandingan.
Yasril juga merasakan manfaat dari kesempatan bertanding di luar daerah. Berhadapan dengan tim dari wilayah lain memberinya pengalaman untuk mengukur kemampuan dan memahami situasi pertandingan yang tidak selalu ditemukan dalam latihan rutin.
“Pengalaman bertanding di luar daerah sangat berpengaruh terhadap perkembangan saya sebagai atlet hoki Kabupaten Kudus,” katanya.
Menurut Yasril, pertandingan turut membentuk mentalitas dan sikap profesional seorang atlet. Pengalaman itu kemudian ia bagikan kepada pemain yang lebih muda, baik melalui latihan maupun interaksi sehari-hari di lapangan.
“Dari senior dan pelatih, saya banyak belajar teknik dasar, pengalaman bertanding, serta mentalitas dalam sebuah tim. Hal-hal tersebut kemudian saya teruskan kepada pemain yang lebih muda,” tuturnya.
Pengalaman atlet senior menjadi bagian penting dalam proses regenerasi. Pengetahuan tentang teknik, kerja sama tim, dan cara menghadapi pertandingan dapat diteruskan kepada pemain junior yang sedang membangun kemampuan.

Salah satu pemain muda yang menjalani proses tersebut adalah Sabelino Ezza Alhakim. Atlet yang saat diwawancarai berusia 14 tahun itu telah menekuni hoki sejak kelas 4 SD.
Sebelum mengenal hoki, Ezza ingin melanjutkan sepak bola. Ajakan teman dan pelatih membuatnya mencoba olahraga baru, meski pada awalnya ia harus beradaptasi dengan teknik dan pola permainan yang berbeda.
“Awalnya saya ingin melanjutkan sepak bola. Namun, setelah diajak teman dan pelatih untuk mengikuti hoki, lama-kelamaan saya justru tertarik menekuninya,” ujarnya.
Ia mengaku sempat mengalami kesulitan ketika mulai berlatih. Penguasaan bola dan pemahaman terhadap teknik dasar membutuhkan waktu sebelum ia semakin terbiasa bermain.
“Pada awal latihan memang cukup sulit. Namun, setelah memahami teknik dasarnya, saya mulai bisa menguasai permainan,” kata Ezza.
Kompetisi kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangannya. Ia mendapat kesempatan bertemu pemain dari daerah lain, menambah pengalaman, dan membangun motivasi untuk terus berlatih.
“Setiap mengikuti event, saya mendapatkan teman dan pengalaman baru. Itu membuat saya semakin termotivasi untuk berlatih,” tuturnya.
Ezza telah mengikuti sejumlah ajang, antara lain Kejurprov, Kejurnas, Dharma Raj Cup, dan Popda. Pada Popda 2026, ia berhasil meraih juara pertama.
Bagi Ezza, pemain senior juga menjadi referensi untuk mengembangkan kemampuan. Ia melihat teknik dan mentalitas mereka sebagai hal yang perlu dipelajari dalam perjalanan menjadi atlet.
Pengalaman tersebut turut membentuk ambisinya untuk kembali tampil di tingkat nasional dan membuka peluang menembus tim nasional. Keinginan itu memperlihatkan bagaimana regenerasi tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya jumlah pemain muda, tetapi juga tumbuhnya motivasi untuk mencapai jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Porprov Jawa Tengah menjadi salah satu tolok ukur perkembangan hoki Kudus. Melalui kompetisi tersebut, atlet berkesempatan menguji hasil latihan, sementara pelatih dapat mengevaluasi kemampuan individu, kerja sama tim, dan kesiapan menghadapi persaingan di tingkat provinsi.
Bagi Yasril, medali emas Porprov Jawa Tengah menjadi salah satu pencapaian yang ingin diperjuangkan bersama tim Kudus.
“Target terdekat kami adalah meraih medali emas pada Porprov Jawa Tengah,” katanya.
Ambisi tersebut memiliki pijakan dari sejumlah prestasi yang telah ditorehkan hoki Kudus. Pada Kejurprov Jawa Tengah 2024, tim putri U-12 berhasil menjadi juara sekaligus meraih penghargaan pemain terbaik putri U-12. Tim putra U-12 menempati posisi ketiga, dengan salah satu pemainnya meraih predikat pemain terbaik. Sementara itu, kelompok U-17 juga finis di peringkat ketiga.
Setahun sebelumnya, tim Kudus menjadi runner-up Dharma Raj Cup 2023 di Senayan setelah menghadapi tim Malaysia pada partai penentuan. Pertiwi mencatat, sepanjang periode setelah Porprov 2023 hingga 2026, atlet hoki Kudus telah mengumpulkan sekitar 27 prestasi dari berbagai kompetisi.
Deretan capaian tersebut menunjukkan perkembangan pembinaan yang berlangsung lintas kelompok usia. Namun, mempertahankan prestasi membutuhkan kesinambungan. Atlet senior perlu menjaga performa dan pengalaman bertanding, sementara pemain junior membutuhkan kesempatan untuk mengasah kemampuan sebelum mengambil peran lebih besar dalam tim.

Pembinaan lintas generasi juga menghadapi tantangan dalam hal fasilitas dan perlengkapan. Gedung Multifungsi GOR Bung Karno menjadi salah satu tempat latihan. Ketika gedung digunakan untuk kegiatan lain, para pemain berpindah ke area di samping Lapangan Bale Jagong.
Ketersediaan peralatan, terutama stik, juga belum selalu mencukupi kebutuhan seluruh atlet yang terus bertambah.
“Pengkab memang memiliki peralatan, tetapi jumlahnya belum mencukupi kebutuhan atlet yang terus bertambah, terutama stik,” kata Pertiwi.
Bagi pemain yang baru mengenal hoki, ketersediaan alat menjadi kebutuhan mendasar. Tanpa perlengkapan yang memadai, kesempatan anak-anak untuk mencoba dan mengembangkan kemampuan menjadi terbatas.
“Ketika anak tidak mendapatkan stik untuk berlatih, ada kemungkinan mereka tidak kembali pada latihan berikutnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi FHI Kudus dalam memperluas pembinaan. Antusiasme anak-anak yang mulai mengenal hoki melalui sekolah perlu diimbangi dengan fasilitas latihan, perlengkapan, dan kesempatan bertanding yang memadai.
Yuli berharap hoki dapat diperkenalkan lebih luas melalui jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, serta dikembangkan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.
“Target jangka panjangnya adalah mengenalkan hoki di seluruh jenjang sekolah, mulai SD, SMP, hingga SMA, sekaligus membangun kerja sama dengan perguruan tinggi,” tuturnya.
Bagi hoki Kudus, prestasi dalam berbagai kejuaraan menjadi bukti perkembangan sekaligus bahan evaluasi pembinaan. Keberlanjutannya bergantung pada kemampuan menjaga regenerasi, sehingga anak-anak yang baru mengenal olahraga ini memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi atlet kompetitif.
Dari pemain yang baru belajar mengendalikan bola hingga atlet senior yang membagikan pengalaman bertanding, proses pembinaan terus berjalan. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tingginya kebutuhan jam terbang, regenerasi menjadi fondasi bagi hoki indoor Kudus untuk mempertahankan prestasi dan membuka peluang pencapaian berikutnya. (OEB/YSR/mainkekudus)