

KUDUS – Suara shuttlecock yang dipukul bergantian memenuhi GOR Djarum Arena 1 Kaliputu, Kudus, sejak pagi. Anak-anak dengan raket di tangan bergantian mengejar bola, sementara pelatih mengamati permainan dari sisi lapangan.
Sebagian peserta datang dari Kudus. Peserta lainnya menempuh perjalanan dari Pati, Jepara, Rembang, hingga Blora. Mereka bertemu di satu arena untuk menghadapi lawan dari daerah berbeda setelah menjalani latihan di klub dan daerah masing-masing.
Pertemuan antardaerah itu berlangsung dalam HYDROPLUS Multi Kabupaten Bitingan Masters 2026 pada 5–10 Oktober 2026. Turnamen tersebut mempertemukan atlet bulu tangkis dari lima kabupaten di wilayah Karesidenan Pati.

Sebanyak 753 peserta ambil bagian tahun ini, meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti sekitar 649 peserta.
Koordinator Pertandingan Panpel HYDROPLUS Multi Kabupaten Bitingan Masters 2026, Raventus Pongoh, mengatakan perluasan cakupan peserta menjadi salah satu pembeda turnamen tahun ini.
“Kalau sebelumnya kita mengadakan Bupati Cup khusus untuk Kabupaten Kudus, kalau HYDROPLUS Multi Kabupaten Masters ini cakupannya se-Karesidenan Pati,” ujarnya.

Peserta Bitingan Masters 2026 berasal dari Kabupaten Kudus, Pati, Jepara, Rembang, dan Blora. Pertandingan berlangsung selama enam hari dengan memanfaatkan enam lapangan di GOR Djarum Arena 1 Kaliputu.
Kategori yang dipertandingkan mencakup Senengminton U-9 dan U-11, tunggal usia dini, anak, pemula, remaja, dewasa, hingga veteran. Pada nomor ganda terdapat kategori anak putra, pemula putra, remaja putra dan putri, dewasa putra dan putri, veteran putra, serta pemula campuran.
Komposisi tersebut mempertemukan pemain dari berbagai jenjang pembinaan dalam satu rangkaian kompetisi. Sistem pertandingan menggunakan sistem gugur atau knock-out, sehingga pemain atau pasangan yang kalah langsung tersingkir dari babak berikutnya.
Bagi atlet yang rutin bertanding, kompetisi menjadi ruang untuk mengukur hasil latihan. Sementara bagi pemain usia dini, pertandingan memberi pengalaman menghadapi lawan yang belum tentu ditemui dalam latihan sehari-hari.
Perbedaan karakter permainan itulah yang menjadi bagian penting dari kompetisi antardaerah. Atlet tidak hanya dituntut menerapkan teknik yang dipelajari, tetapi juga menyesuaikan permainan ketika menghadapi lawan dengan kemampuan dan pola bermain berbeda.
Pelatih dapat mengajarkan teknik pukulan, pergerakan kaki, strategi, dan pola permainan di tempat latihan. Namun, kemampuan menerapkan materi tersebut baru terlihat ketika atlet berhadapan langsung dengan lawan dalam situasi kompetitif.
Raventus mengatakan perluasan turnamen juga dimaksudkan untuk melihat perkembangan bulu tangkis di wilayah Karesidenan Pati.

“Karena cakupannya masih banyak, kami ingin tahu penyebaran bulu tangkis se-Karesidenan Pati seperti apa dan minatnya seperti apa,” katanya.
Pertandingan kemudian menjadi salah satu bahan evaluasi. Dari permainan yang terlihat di lapangan, pelatih dapat mengetahui bagian yang sudah berjalan maupun yang masih perlu diperbaiki dalam latihan berikutnya.
Kesempatan bertanding juga diberikan kepada atlet usia dini untuk mencoba kategori yang lebih tinggi. Menurut Raventus, langkah tersebut dapat digunakan untuk melihat kemampuan atlet ketika menghadapi pemain yang lebih kuat secara fisik maupun pengalaman.
“Memberanikan atlet-atletnya untuk naik tingkat, seperti naik dari U-9 ke U-11. Walaupun umurnya belum, tetap dicoba dulu supaya kita lebih banyak yang di atas,” jelasnya.
Dengan begitu, pertandingan antardaerah tidak hanya menjadi tempat mencari hasil, tetapi juga menjadi tahapan bagi atlet untuk mengenal tingkat persaingan yang lebih luas.

Pengalaman tersebut dirasakan atlet-atlet muda yang datang dari Rembang. Pelatih PB Bumi Makmur Sakti (BMS) Rembang, Muhammad Nur Achdi Sisdiyantara, membawa 10 atlet dari kelompok U-9 dan U-11.
Menurutnya, Bitingan Masters menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk menghadapi pemain dari luar daerah. Target mereka tetap kompetitif, yakni membawa pulang gelar.

“Targetnya tentu juara. Paling tidak salah satu di antara mereka ada yang meraih juara,” ujarnya.
Salah satu pemain yang dibawanya adalah Ibrahim Mahardika. Atlet berusia sembilan tahun itu turun di kategori U-11 putra setelah menjalani latihan setiap sore.
Ibrahim datang dengan target menang. Namun, pertandingan juga memberinya pengalaman menghadapi lawan dari daerah lain.
“Tantangannya seru, lawannya tangguh-tangguh, tapi saya tidak gentar,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Razzendra Saddam Arfasy Putra, atlet MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus yang berusia delapan tahun. Ia turun di kategori U-9 putra dan berlatih dua kali dalam sepekan sebagai persiapan.

Targetnya menjadi juara pertama. Ketika menghadapi lawan yang dianggap tangguh, Razzendra tetap menikmati pertandingan.
“Lawannya tangguh-tangguh tapi saya tidak takut,” katanya.
Bagi atlet seusia mereka, keberanian menghadapi lawan, menjaga fokus selama pertandingan, dan menerima hasil menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian dapat dibawa kembali ke latihan.

Dari sisi tuan rumah, pertandingan antardaerah juga menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan atlet Kudus. Muhammad Rifki Ambari, pelatih sekaligus guru MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus, membawa 13 anak untuk mengikuti Bitingan Masters.
Menurut dia, kompetisi diperlukan agar anak-anak tidak hanya terbiasa menghadapi pemain dari lingkungan latihan sendiri.

“Kalau anak-anak sudah dibekali kualitas dan latihan yang rutin, pasti kita bisa melawan atlet-atlet dari luar Kudus,” katanya.
Pertemuan antardaerah juga membawa aktivitas ke luar arena. Rombongan PB BMS Rembang, misalnya, berencana berada di Kudus sejak awal hingga akhir turnamen.
“Dari hari pertama sampai akhir insyaallah akan tetap di sini selama lima hari. Persiapannya seperti booking penginapan dan lainnya,” ujar Muhammad Nur.
Rombongan atlet tidak datang sendirian. Pelatih dan official ikut mendampingi selama berada di Kudus. Kebutuhan mereka mencakup penginapan, makanan, transportasi, dan kebutuhan harian lainnya.
Namun, bagi penyelenggara dan pelatih, pertemuan lintas daerah memiliki tujuan yang lebih panjang daripada satu penyelenggaraan turnamen.

Bagi PBSI Kudus, keberadaan kategori anak-anak dalam Bitingan Masters berkaitan dengan proses regenerasi. Pembinaan perlu dimulai sejak usia dini, dengan sekolah dan klub menjadi bagian dari ruang pencarian bibit sebelum atlet diarahkan ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Salah satu kategori yang mendapat ruang adalah Senengminton. Kategori tersebut diarahkan untuk mengenalkan bulu tangkis kepada anak-anak sekaligus membangun minat mereka terhadap olahraga tersebut.

“Target kita adalah pemasaran dari yang kecil-kecil. Kalau tidak, kita bersaing dengan cabang olahraga yang lain,” jelas Raventus.
Setelah anak mulai berlatih, kompetisi menjadi salah satu tahapan untuk mempertemukan mereka dengan situasi pertandingan. Levelnya dapat berkembang dari kompetisi lokal, antar kabupaten, hingga ajang dengan cakupan yang lebih luas.
Menurut Raventus, kesinambungan kompetisi dibutuhkan agar atlet memiliki kesempatan bertanding secara rutin. Wilayah Jawa Tengah memiliki enam karesidenan. Ia berharap setiap wilayah memiliki agenda pertandingan sehingga atlet mempunyai ruang untuk terus menguji kemampuan.
Bitingan Masters menjadi salah satu bentuk kompetisi yang mempertemukan atlet dari daerah berbeda dalam satu arena. Bagi pemain, pertemuan tersebut memberi pengalaman. Bagi pelatih, pertandingan menjadi bahan untuk melihat perkembangan dan menentukan latihan berikutnya.

Dari lapangan-lapangan GOR Djarum Arena 1 Kaliputu, hasil latihan akhirnya mendapatkan ruang untuk diuji. Para atlet membawa pengalaman dari pertandingan, sementara pelatih membawa catatan permainan untuk menjadi bagian dari proses pembinaan berikutnya. (ITN/mainkekudus)