

KUDUS — Pembinaan tenis meja di Kudus berjalan melalui latihan rutin, pendampingan pelatih, dan kesempatan mengikuti kompetisi sejak usia pelajar. Proses ini menjadi bagian penting dalam mengembangkan kemampuan atlet sekaligus menjaga regenerasi agar tenis meja memiliki pemain yang siap bersaing di berbagai jenjang pertandingan.
Pengembangan atlet tidak hanya bertumpu pada penguasaan teknik, tetapi juga kesiapan fisik dan mental, kedisiplinan berlatih, serta pengalaman menghadapi lawan. Setiap tahapan pembinaan memberi ruang bagi pemain untuk mengenali kekurangan, memperbaiki kemampuan, dan belajar menghadapi tekanan saat bertanding.
Karena itu, pembinaan tidak berhenti pada pencapaian dalam satu kejuaraan. Konsistensi latihan, evaluasi setelah pertandingan, dan persiapan menghadapi kompetisi berikutnya menjadi bagian dari upaya menjaga perkembangan atlet sekaligus memastikan regenerasi tenis meja di Kudus terus berjalan.

Suravinda merupakan atlet tenis meja nomor tunggal putri yang menjalani pembinaan sejak usia sekolah dasar. Siswi SMP 3 Kudus asal Magetan itu mulai mengenal tenis meja ketika duduk di kelas I SD. Ketertarikannya terhadap olahraga tersebut terus berkembang hingga ia bergabung dengan PTM Sukun saat kelas VI SD.
Sejak itu, latihan menjadi bagian dari kesehariannya. Suravinda berlatih setiap hari, termasuk menjalani latihan fisik tambahan dan sesi khusus untuk mengasah servis. Rutinitas tersebut menjadi bekal untuk menjaga konsistensi permainan ketika berhadapan dengan lawan.
Meski terbiasa berlatih, rasa gugup tetap muncul saat bertanding. Suravinda mengaku terkadang justru merasa khawatir ketika unggul dengan selisih poin cukup jauh. Baginya, keunggulan belum menjamin kemenangan karena lawan masih memiliki kesempatan untuk mengejar.

“Kadang sudah unggul jauh pun masih merasa gugup. Takut nanti lawan bisa mengejar,” ungkapnya.
Untuk mengatasi kegugupan, Suravinda memiliki cara tersendiri. Ia berusaha mengatur napas dan melakukan lompatan kecil di sela pertandingan sebelum kembali memusatkan perhatian pada permainan.
“Biasanya tarik napas dulu, lalu lompat-lompat sedikit. Setelah itu berusaha fokus lagi ke pertandingan,” tuturnya.
Kebiasaan sederhana itu membantunya mengalihkan perhatian dari kekhawatiran terhadap skor. Ia berusaha menghadapi setiap poin tanpa terus memikirkan kemungkinan lawan membalikkan keadaan.
Di luar pertandingan, Suravinda juga menghadapi tantangan membagi waktu antara pendidikan dan latihan. Dukungan keluarga, sekolah, serta pelatih membantunya menjalankan kedua tanggung jawab tersebut.
Ketekunannya membuahkan hasil ketika ia meraih medali emas nomor tunggal putri pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Jawa Tengah 2026. Prestasi itu menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan Suravinda, yang telah menekuni tenis meja sejak usia sekolah dasar.
Meski demikian, ia masih memiliki ambisi untuk melangkah lebih jauh. Setelah meraih prestasi di tingkat provinsi, Suravinda berharap mendapat kesempatan menguji kemampuan dalam kompetisi internasional.

Bagi Nuralip Hakiki, tekanan justru datang ketika peluang meraih kemenangan semakin menipis. Pada final POPDA Jawa Tengah 2026, atlet tunggal putra asal Madura itu harus menghadapi situasi sulit setelah kehilangan dua gim pertama dari lawannya asal Purbalingga.
Satu gim lagi yang dimenangkan lawan akan mengakhiri peluangnya meraih gelar juara. Namun, Kiki tidak membiarkan ketertinggalan tersebut menentukan hasil akhir pertandingan.
Ia berhasil memenangkan tiga gim berikutnya dan menutup laga dengan skor 3-2. Kemenangan itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanannya sebagai atlet tenis meja.
Kiki mengenal olahraga tersebut sejak taman kanak-kanak setelah diperkenalkan oleh sang ayah. Sekitar dua tahun sebelum POPDA 2026, ia mulai menempuh pendidikan di Kudus. Kini, ia duduk di kelas IX SMP 3 Kudus dan mengikuti pembinaan melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP).
Selain mengikuti latihan bersama, Kiki menyempatkan diri berlatih mandiri untuk memperbaiki teknik dan menjaga kondisi fisik. Namun, pengalaman di final POPDA memberinya pelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan keterampilan bermain.
Dalam situasi tertinggal, ia harus menghadapi tekanan sekaligus mencari cara untuk kembali mengendalikan permainan. Keberhasilannya membalikkan keadaan menghadirkan rasa lega sekaligus kebanggaan tersendiri.

“Rasanya senang dan lega bisa menang setelah sempat tertinggal. Buat saya, itu seperti remontada. Pengalaman ini jadi motivasi untuk terus berlatih dan meraih prestasi yang lebih tinggi,” kata Kiki.
Istilah remontada, yang merujuk pada keberhasilan membalikkan keadaan, menjadi cara Kiki menggambarkan perjuangannya dalam pertandingan tersebut. Kemenangan yang semula terasa jauh akhirnya dapat diraih setelah ia mampu mengejar ketertinggalan.
Pengalaman itu juga memperkuat motivasinya untuk menghadapi persaingan di tingkat lebih tinggi. Kiki membidik prestasi di kejuaraan nasional dan berharap mendapat kesempatan tampil dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).
“Saya ingin bisa berprestasi di Kejurnas dan ikut Popnas. Semoga bisa tercapai dengan terus berlatih dan meningkatkan kemampuan,” ujarnya.
Bagi Kiki, kemenangan di final POPDA menjadi bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya. Ia masih perlu meningkatkan konsistensi permainan dan kemampuan mengambil keputusan, terutama ketika menghadapi lawan dengan karakter serta strategi berbeda.

Kemampuan menghadapi tekanan tidak terbentuk hanya melalui pengalaman bertanding. Cara atlet menerima arahan, merespons kesalahan, dan mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
Ketua PTMSI Kabupaten Kudus, Heni Sandra Nurwati, menilai setiap atlet memiliki karakter berbeda, termasuk ketika berhadapan dengan situasi pertandingan yang menegangkan.
Sebagian pemain dapat menerima instruksi pelatih dengan mudah, sementara yang lain justru merasa tertekan ketika mendapat teguran. Perbedaan tersebut menuntut pelatih memahami karakter masing-masing atlet agar arahan yang diberikan tidak mengganggu kepercayaan diri mereka.
Pendekatan ini menjadi penting terutama ketika pertandingan memasuki situasi krusial. Atlet perlu belajar melepaskan kesalahan pada poin sebelumnya, mengendalikan kekhawatiran terhadap hasil akhir, dan kembali memusatkan perhatian pada permainan.
Di sisi lain, kesiapan mental juga perlu ditunjang kemampuan teknis yang memadai. Pelatih harus mampu mengenali kelemahan pemain, mulai dari penguasaan servis, putaran bola, hingga kemampuan mengembalikan servis lawan.
Aspek permainan yang belum konsisten kemudian dapat diperbaiki melalui latihan individual sesuai kebutuhan atlet. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya berfokus pada hasil pertandingan, tetapi juga pada kemampuan pemain menerapkan strategi dan merespons tekanan.
Pengalaman bertanding menjadi sarana untuk melihat perkembangan tersebut. Situasi yang dihadapi atlet tidak selalu dapat diperkirakan, sehingga kemampuan beradaptasi perlu terus diasah melalui latihan dan pendampingan.

Pengalaman Suravinda dan Kiki memperlihatkan bagaimana tantangan mental dapat muncul dalam kondisi yang bertolak belakang. Suravinda berusaha menjaga keunggulan tanpa dikuasai kekhawatiran, sedangkan Kiki menemukan cara untuk bangkit ketika tertinggal.
Keduanya masih memiliki perjalanan panjang sebagai atlet pelajar. Suravinda ingin membuka peluang tampil di tingkat internasional, sementara Kiki membidik prestasi nasional dan kesempatan mengikuti Popnas.
Bagi mereka, kemenangan di POPDA Jawa Tengah 2026 menjadi salah satu pencapaian sekaligus pengalaman untuk mengenali kemampuan diri. Ada teknik yang masih perlu diasah, strategi yang harus dimatangkan, dan kesiapan mental yang terus dibangun.
Di meja tenis, skor menentukan siapa yang memenangkan pertandingan. Namun, pengalaman Suravinda dan Kiki menunjukkan bahwa setiap poin juga menghadirkan pelajaran berbeda: bagaimana menjaga ketenangan saat berada di depan, serta menemukan keberanian untuk bangkit ketika keadaan belum berpihak. (OEB/YSR/MainKeKudus)