

KUDUS – Bulu tangkis di Kabupaten Kudus berkembang melalui jalur pembinaan yang dimulai sejak anak mengenal olahraga tersebut di sekolah. Dari kegiatan ekstrakurikuler, anak-anak mendapat kesempatan mencoba bermain sebelum melanjutkan latihan di klub. Di tempat itulah kemampuan mereka dibentuk lebih serius melalui latihan rutin dan kompetisi.
Perjalanan tersebut tidak berhenti pada kemampuan bermain. Atlet muda juga membutuhkan pengalaman bertanding untuk menguji teknik, mental, dan karakter. Sejumlah klub di Kudus telah membawa atlet binaannya mengikuti kejuaraan hingga Sirkuit Nasional atau Sirnas. Beberapa atlet juga mendapat kesempatan melanjutkan pembinaan ke klub yang lebih besar di luar daerah.

Sekretaris Pengkab Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kudus, Raventus Pongoh, melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari proses regenerasi yang terus berjalan. Bertambahnya klub dan keterlibatan atlet Kudus dalam berbagai kejuaraan menjadi salah satu perkembangan yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Sekolah menjadi salah satu pintu yang digunakan untuk memperkenalkan bulu tangkis kepada anak-anak. PBSI Kudus mendorong terbentuknya ekstrakurikuler bulu tangkis agar olahraga tersebut dapat dikenalkan lebih awal.
Langkah itu penting karena tidak semua anak mengenal bulu tangkis dari klub. Sebagian justru pertama kali memegang raket ketika mengikuti kegiatan di sekolah. Dari sana, mereka memiliki kesempatan untuk mengetahui apakah olahraga tersebut ingin ditekuni lebih lanjut.
Raventus mengatakan permintaan pendampingan dari sekolah juga mulai muncul. Sejumlah sekolah ingin mengembangkan kegiatan bulu tangkis dan membutuhkan pelatih untuk mendampingi siswa.
Persoalannya, kebutuhan tersebut belum seluruhnya dapat diimbangi dengan ketersediaan tenaga pelatih. Jumlah sekolah yang membutuhkan pendampingan cukup banyak, sementara pelatih yang tersedia harus dibagi sesuai kebutuhan.
Meski menjadi tantangan, meningkatnya permintaan sekolah menunjukkan adanya ruang yang semakin besar untuk pengenalan bulu tangkis pada usia dini.
Bagi PBSI Kudus, kegiatan di sekolah merupakan tahap awal. Anak-anak yang mulai tertarik kemudian dapat diarahkan menuju klub untuk mendapatkan pembinaan yang lebih teratur.
Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari jalur tersebut adalah “Seneng Minton”. Kegiatan ini mempertemukan anak-anak yang sebelumnya mengikuti ekstrakurikuler bulu tangkis di sekolah dengan suasana pertandingan.
Melalui kegiatan tersebut, PBSI dapat melihat anak-anak yang memiliki minat dan potensi untuk melanjutkan latihan. Mereka kemudian mempunyai kesempatan masuk ke klub dan menjalani proses pembinaan yang lebih serius.
Pola itu membentuk jenjang yang cukup jelas. Anak mengenal bulu tangkis di sekolah, melanjutkan latihan di klub, kemudian mengikuti kompetisi. Ketika kemampuan berkembang, atlet dapat mencoba kejuaraan yang lebih tinggi atau melanjutkan pembinaan di klub yang memiliki jenjang lebih besar.
Raventus menilai keberadaan klub yang aktif menjadi bagian penting dalam perkembangan bulu tangkis Kudus. Beberapa klub bahkan telah membawa atlet binaannya mengikuti Sirnas C hingga Sirnas A.
Setelah anak memutuskan menekuni bulu tangkis, klub menjadi tempat untuk membangun kemampuan secara lebih terarah. Latihan tidak hanya mengenai teknik pukulan, tetapi juga fisik, kelincahan, permainan, dan kedisiplinan.
Nita Amalia, pelatih PB Ngudi Berkah Bae Kudus, melihat jumlah anak yang mengikuti latihan semakin banyak. Menurutnya, minat tersebut terasa lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Program pengenalan melalui sekolah ikut membantu memperluas kesempatan anak untuk mengenal bulu tangkis. Anak tidak harus berasal dari lingkungan klub untuk mulai bermain. Mereka dapat mengenalnya melalui kegiatan sekolah, kemudian memutuskan untuk melanjutkan latihan.
Bagi klub, bertambahnya atlet muda juga berarti bertambahnya kebutuhan pembinaan. Tempat latihan harus tersedia, pelatih harus mencukupi, sementara perlengkapan latihan harus terus disediakan.

Salah satu perlengkapan yang banyak digunakan dalam latihan adalah shuttlecock. Berbeda dengan raket atau sepatu yang dapat digunakan dalam waktu lebih lama, shuttlecock relatif cepat rusak sehingga harus sering diganti.
Bagi klub dengan jumlah atlet yang banyak, kebutuhan tersebut menjadi bagian dari pengeluaran latihan. Nita berharap dukungan terhadap klub tidak hanya berkaitan dengan kegiatan atau program pembinaan, tetapi juga menyentuh kebutuhan perlengkapan seperti shuttlecock.
Fasilitas lapangan menjadi persoalan lain. Tidak semua sekolah memiliki lapangan yang dapat digunakan untuk latihan secara memadai. Ketika minat anak bertambah, kebutuhan terhadap ruang latihan ikut meningkat.
Raventus menyebut fasilitas dan jumlah pelatih sebagai tantangan yang masih perlu diperhatikan. Dukungan pendanaan dari Djarum selama ini membantu ekosistem bulu tangkis di Kudus, tetapi kebutuhan fasilitas tetap menjadi bagian yang harus terus dibenahi.

Latihan membutuhkan pasangan dari pertandingan. Atlet perlu mendapatkan kesempatan untuk membawa kemampuan yang dipelajari di tempat latihan ke situasi kompetisi.
PBSI Kudus memiliki sejumlah agenda yang rutin digunakan sebagai ruang pertandingan. Salah satunya Simpang 7 Master yang mempertemukan pelajar dari berbagai jenjang kelas. Kompetisi tersebut memiliki kategori beregu dan perorangan.
Selain itu, terdapat Bupati Cup sebagai kejuaraan tingkat Kabupaten Kudus serta Bitingan Master yang mempertemukan peserta dari wilayah eks Karesidenan Pati.
Kompetisi memiliki dua fungsi dalam proses pembinaan. Atlet mendapatkan pengalaman bertanding, sementara PBSI dan pelatih dapat melihat perkembangan kemampuan pemain.
Raventus menyebut kompetisi juga menjadi sarana untuk menjaring bibit atlet dan meningkatkan jam terbang. Sementara bagi Nita, pertandingan menjadi tempat menguji kemampuan teknik sekaligus mental dan karakter.
Seorang atlet dapat terlihat berbeda ketika berada dalam pertandingan. Tekanan, gaya bermain lawan, dan situasi pertandingan membuat kemampuan yang diperoleh saat latihan harus digunakan dengan cara yang lebih cepat dan tepat.

Jalur pembinaan di klub kemudian memberikan peluang bagi sejumlah atlet untuk melanjutkan perjalanan ke tingkat yang lebih tinggi. PBSI Kudus mencatat beberapa atlet dari klub lokal yang mendapat kesempatan bergabung dengan klub besar.
Sebagian diantaranya melanjutkan pembinaan ke PB Djarum. Ada pula atlet yang mencoba bergabung dengan klub lain di luar Kudus, seperti Mutiara Cardinal Bandung dan Tangkas Arena.
Bagi PBSI Kudus, kesempatan tersebut menjadi bagian dari jenjang pembinaan. Klub di daerah tetap memiliki ruang untuk mengembangkan atlet sesuai kemampuan. Ketika atlet menunjukkan perkembangan, mereka dapat mencoba lingkungan latihan dengan tingkat pembinaan yang berbeda.
Dari jalur tersebut, PBSI Kudus berharap semakin banyak atlet binaan klub di Kudus yang dapat melanjutkan perjalanan hingga level nasional, termasuk memiliki kesempatan menuju Pelatnas.

Gambaran mengenai proses tersebut terlihat dalam rutinitas Ahmad Akmal Jamili. Atlet PB Ngudi Berkah Kudus itu mulai mengenal bulu tangkis pada akhir 2023 setelah mengikuti sang kakak bermain.
Ketertarikan yang bermula dari keluarga kemudian berkembang menjadi latihan rutin. Saat ini, Akmal berusia 12 tahun dan duduk di kelas 1 MTs NU Ibtidaul Falah.
Jadwal latihannya berlangsung hampir setiap hari. Senin ia berlatih pukul 17.00–19.00 WIB, Selasa pukul 16.00–18.00 WIB, dan Rabu pukul 15.00–17.00 WIB. Kamis dan Jumat latihan kembali berlangsung pukul 16.00–18.00 WIB. Pada Sabtu, durasi latihan berlangsung pukul 15.00–18.00 WIB, sedangkan Minggu digunakan untuk latihan privat.
Materi latihan meliputi stroking, drilling, permainan, fisik, dan kelincahan. Dari berbagai sesi tersebut, Akmal menyukai latihan gim karena dapat berhadapan langsung dengan teman-temannya.
Rutinitas tersebut juga mengajarkan disiplin. Latihan memiliki aturan yang harus diikuti, termasuk menjaga keseriusan ketika berada di lapangan.
Akmal telah mengikuti sejumlah kompetisi. Ia pernah tampil dalam Sirkuit Nasional C Muria Cup Kudus, Kejurkab, Porsema tingkat Jawa Tengah, dan Simpang Tujuh Master. Ia juga sudah dua kali mengikuti Audisi Umum PB Djarum.
Dalam salah satu kompetisi, Akmal berhasil menjadi juara dua pada Kejurkab. Pengalaman bertanding tersebut menjadi bagian dari proses untuk mengetahui kemampuan sekaligus menambah jam terbang.
Ia juga memiliki sosok yang menjadi inspirasi, yaitu Kevin Sanjaya Sukamuljo. Akmal pernah bertemu langsung dengan Kevin ketika berada di Djarum.
Pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang diingat Akmal. Ia menyebut permainan Kevin serta sikapnya yang baik dan ramah sebagai alasan mengidolakannya.
Kini, target Akmal diarahkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia ingin masuk Pelatnas PBSI dan memiliki cita-cita menjadi atlet nomor satu dunia.
Target tersebut masih membutuhkan perjalanan panjang. Latihan rutin dan pertandingan menjadi bagian dari proses yang harus dijalani untuk mendekati tujuan tersebut.

Di tengah jadwal latihan yang padat, pendidikan tetap berjalan. Atlet muda berada pada usia sekolah sehingga kegiatan olahraga harus dapat disesuaikan dengan kewajiban belajar.
PBSI Kudus menyebut sudah ada sekolah yang terbuka menerima atlet dan memahami kebutuhan mereka ketika harus mengikuti latihan maupun pertandingan.
Menurut Raventus, sekolah biasa tetap dapat menjadi tempat pendidikan bagi atlet selama pihak sekolah bersedia memahami konsekuensi yang menyertai aktivitas olahraga.
Keseimbangan tersebut menjadi penting karena karier atlet membutuhkan proses panjang dan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pendidikan tetap menjadi bekal bagi anak selama menjalani pembinaan olahraga.

Bertambahnya minat terhadap bulu tangkis membawa kebutuhan yang ikut meningkat. Fasilitas, jumlah pelatih, dan perlengkapan latihan menjadi beberapa persoalan yang harus disiapkan agar pembinaan dapat berjalan.
Bagi atlet dan klub, biaya perlengkapan juga menjadi perhatian. Raket, senar, grip, sepatu, dan kebutuhan latihan lainnya membutuhkan pengeluaran. Shuttlecock menjadi salah satu kebutuhan yang terus berulang selama latihan.
Nita menilai dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar anak-anak yang memiliki minat dan potensi dapat terus berlatih. Sementara itu, Akmal juga melihat fasilitas sebagai salah satu hal yang masih dibutuhkan untuk menunjang latihan.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa regenerasi atlet tidak cukup hanya dengan mencari anak berbakat. Setelah ditemukan, mereka membutuhkan tempat latihan, pelatih, perlengkapan, kompetisi, serta dukungan keluarga dan sekolah.
Dalam ekosistem tersebut, masing-masing pihak memiliki peran. Sekolah menjadi tempat pengenalan awal. Klub menjalankan pembinaan. PBSI menyediakan dan mengawal kompetisi serta jalur pembinaan. Orang tua memberikan dukungan dari rumah, sementara pemerintah dan pihak swasta dapat membantu kebutuhan fasilitas dan pendanaan.
Koordinasi antara pihak menjadi penting ketika atlet mulai memasuki tahap latihan yang lebih intensif. Jadwal sekolah harus berjalan, latihan tetap dilakukan, dan pertandingan membutuhkan waktu serta dukungan.
PBSI Kudus berupaya menjaga agar jalur tersebut tetap terbuka. Anak-anak yang muncul dari sekolah dapat diarahkan menuju klub. Atlet yang berkembang kemudian memiliki kesempatan mengikuti kompetisi dan mencoba jenjang pembinaan yang lebih tinggi.
Target berikutnya adalah semakin banyak atlet yang dapat disetorkan ke Pelatnas, baik atlet yang berasal dari Kudus maupun atlet yang dibina oleh klub-klub yang berada di Kudus.

Perkembangan bulu tangkis Kudus pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari jumlah pertandingan atau atlet yang menjadi juara. Ada proses yang berlangsung jauh sebelum seorang atlet berdiri di podium.
Proses itu dimulai ketika seorang anak mendapat kesempatan mencoba bulu tangkis di sekolah. Ketika minatnya tumbuh, klub menjadi tempat untuk berlatih lebih serius. Kompetisi kemudian memberikan pengalaman menghadapi lawan dan menguji kemampuan.
Sebagian atlet dapat melanjutkan pembinaan ke klub yang lebih besar. Dari sana, kesempatan menuju tingkat nasional dapat terbuka.

Jalur tersebut masih menghadapi kebutuhan fasilitas, pelatih, perlengkapan, biaya, dan dukungan pendidikan. Karena itu, keberlanjutan pembinaan membutuhkan kerja bersama antara PBSI, klub, sekolah, orang tua, pemerintah, dan pihak swasta.
Bagi Akmal, perjalanan itu kini masih berada pada tahap latihan dan kompetisi. Jadwal latihan yang hampir setiap hari menjadi bagian dari kesehariannya. Target masuk Pelatnas dan menjadi atlet nomor satu dunia masih jauh, tetapi sudah menjadi tujuan yang ia kenal sejak sekarang.
Bagi PBSI Kudus, tujuan yang lebih luas adalah memastikan semakin banyak anak memiliki kesempatan melewati tahapan tersebut. Selama jalur dari sekolah menuju klub, kompetisi, klub pembinaan yang lebih besar, hingga Pelatnas tetap tersedia, regenerasi dapat terus berlangsung.
Tradisi bulu tangkis Kudus pun tidak hanya bergantung pada nama-nama yang pernah lahir sebelumnya. Tradisi itu diteruskan melalui anak-anak yang datang ke lapangan, klub yang membina, kompetisi yang memberi pengalaman, dan dukungan berbagai pihak yang menjaga agar proses tersebut tetap berjalan. (FZ/mainkekudus)