

KUDUS – Aktivitas di Hotel Graha Muria, Desa Colo, Dawe, Kudus, meningkat seiring bergulirnya ajang Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026. Para pelari dari berbagai daerah berdatangan ke kawasan kaki Gunung Muria ini untuk bersiap menghadapi perlombaan.
Tepat pada 3 Oktober 2026, hotel pelat merah di bawah pengelolaan UPT Obyek Wisata Colo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus tersebut resmi menjadi titik Race Pack Collection (RPC) hari kedua.

Di waktu yang bersamaan, penginapan ini juga sibuk menampung para peserta, keluarga, dan pendamping yang datang dari luar kota. Dari segi letak, hotel ini memang menawarkan kenyamanan tersendiri bagi para pelari.
Posisinya yang sangat dekat dengan pusat kegiatan, garis start, hingga finish di D’tjolo Eco Park menjadi keunggulan tersendiri. Kedekatan jarak inilah yang dicari agar waktu tempuh ke venue jauh lebih singkat, melanjutkan rekam jejaknya yang juga dipercaya sebagai lokasi RPC pada UTMM 2025.

Selama UTMM 2026 bergulir, fungsi Graha Muria pun bertambah. Aula pertemuan hotel disulap menjadi pusat registrasi bagi peserta untuk merampungkan tahapan administrasi sebelum menenteng perlengkapan lomba.
Alur pengambilan race pack pada 3 Oktober itu dibuka dengan verifikasi data. Para pelari cukup menunjukkan surel pendaftaran atau kode batang (barcode) sebelum melanjutkan ke meja pemeriksaan kesehatan bersama tim medis.

Bagi peserta dengan riwayat kesehatan khusus, panitia menyematkan gelang merah sebagai penanda agar mendapat pengawasan ekstra di jalur lomba. Tahap berikutnya adalah pemeriksaan perlengkapan wajib (mandatory gear), utamanya bagi pelari kategori 30K dan 50K yang diberangkatkan pada malam hari.
Perlengkapan yang diperiksa meliputi headlamp, rompi lari, botol air minum, perlengkapan P3K, jas hujan, dan makanan ringan pribadi. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, peserta menerima jersey sesuai ukuran dan nomor dada sebagai identitas lomba.
Event Director UTMM 2026, Muhammad Yusrul Huda, menjelaskan bahwa pemilihan hotel ini berpijak pada faktor kedekatan dengan arena lomba.

“Graha Muria kami pilih karena lokasinya dekat dengan start dan finish. Posisi ini juga membantu memenuhi kebutuhan akomodasi peserta yang datang dari luar Kudus,” ujar Yusrul.
Kesibukan di aula tersebut berjalan beriringan dengan layanan reguler hotel. Pihak pengelola sigap mengatur strategi operasional agar aktivitas para peserta maupun kenyamanan tamu umum tetap terlayani tanpa hambatan.
Lonjakan kedatangan pelari membawa berkah tersendiri bagi tingkat keterisian kamar. Staf operasional Hotel Graha Muria, Musrini, menuturkan bahwa seluruh pemesanan tempat tidur dipusatkan langsung melalui panitia lomba.
Reservasi tersebut sudah masuk sekitar tiga bulan sebelum pelaksanaan Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026.

“Reservasi sudah dibooking panitia sejak tiga bulan lalu. Semua pemesanan untuk peserta melalui panitia,” ujar Musrini.
Dampaknya, seluruh kamar ludes terisi penuh selama event berlangsung. Situasi ini kontras dengan hari-hari biasa, di mana penginapan pelat merah tersebut umumnya hanya menyerap satu atau dua kamar dari wisatawan reguler atau peziarah Makam Sunan Muria.
Selain para pelari, kamar-kamar tersebut turut dihuni oleh keluarga dan pendamping yang membersamai. Catatan pengelola menunjukkan, ada sekitar 60 orang yang meliputi peserta beserta kerabatnya menginap di Graha Muria sepanjang rangkaian acara.

Untuk menampung para tamu, Graha Muria menyediakan beberapa opsi ruang istirahat yang fleksibel. Menariknya, tarif yang dipatok selama perhelatan UTMM 2026 tetap mengacu pada harga normal tanpa ada kenaikan.
Pilihan pertama adalah kamar utama sebanyak delapan unit di lantai dua. Berkapasitas dua orang per kamar, fasilitasnya mencakup AC, air panas, televisi, serta suguhan lanskap pegunungan dari ketinggian seharga Rp220.000 per malam.
Berikutnya terdapat empat unit kamar paviliun di lantai satu bagian belakang. Mengusung kapasitas dasar enam orang, ruangan ini dilengkapi kipas angin dan kamar mandi dalam berbanderol Rp165.000 per malam, dengan opsi tambahan kasur (extra bed) senilai Rp35.000.

Bagi tamu yang datang secara rombongan, tersedia pula dua pilihan kamar bangsal. Bangsal 1 berkapasitas hingga sembilan orang dengan tarif Rp275.000 per malam, sementara Bangsal 2 yang lebih besar sanggup menampung hingga 25 orang seharga Rp550.000 per malam; keduanya sudah dilengkapi kipas angin dan kamar mandi dalam.
Beragamnya pilihan kapasitas ini memberikan keleluasaan bagi peserta, baik yang datang seorang diri, bersama keluarga, maupun dalam rombongan besar, untuk menyesuaikan tempat menginap dengan kebutuhan masing-masing.

Menghadapi lonjakan tamu, pihak pengelola tidak tinggal diam. Sejumlah persiapan matang langsung dikebut jauh-jauh hari sebelum para pelari tiba, mencakup kebersihan ruang istirahat hingga pengecekan fungsi fasilitas penunjang.
“Kami melakukan kerja bakti untuk kebersihan, menyiapkan kamar, serta mengecek air dan daya tampungnya karena jumlah tamu cukup banyak. Sarana dan prasarana juga kami siapkan untuk mendukung kebutuhan tamu,” kata Musrini.
Selama perhelatan berlangsung, akomodasi yang disediakan bagi peserta berbasis layanan kamar (room only). Pihak hotel tidak menyertakan fasilitas sarapan pagi dalam paket menginap tersebut.

Kendati demikian, sejumlah fasilitas umum tetap bisa dimanfaatkan secara leluasa, mulai dari ruang tunggu di area kantor, taman belakang, aula pertemuan, hingga kantong parkir luas untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.



Pola kebutuhan para pelari gunung ini pun terbilang khas, jauh berbeda dari pelancong biasa atau peziarah religi. Mereka menuntut waktu istirahat yang berkualitas dan ruang privat yang tenang untuk konsentrasi penuh menjelang start, terutama bagi peserta kategori malam hari.

Faktor kedekatan dengan arena lomba terbukti menjadi daya tarik utama yang memikat para peserta. Pengalaman ini dirasakan langsung oleh Agung Nugroho, pelari asal Gresik, Jawa Timur, yang memboyong istri serta anaknya demi turun di kategori 50K.
Bagi Agung, memilih bermalam di kawasan Colo adalah strategi jitu untuk memangkas durasi perjalanan ke titik start. Terlebih, jadwal kategori ultra yang diikutinya menuntut kesiapan fisik ekstra pada malam hari.
“Menginap semalam karena Graha Muria lebih dekat dengan venue. Waktu perjalanan menuju start lebih singkat sehingga tenaga lebih tersimpan untuk mengikuti kategori ultra,” ujar Agung.
Keputusan itu sekaligus membuat Agung dan keluarganya tidak perlu repot menempuh perjalanan jauh dari luar Colo pada hari lomba. Selepas merampungkan tantangan di jalur lari, ia bersama keluarga kecilnya pun leluasa meluangkan waktu sejenak untuk menikmati suasana Colo sebelum bertolak kembali ke Gresik.
Bagi para penggiat lari lintas alam seperti Agung, kalkulasi jarak penginapan ke titik start senantiasa menjadi pertimbangan penting dalam mengatur waktu istirahat dan menjaga stamina.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Abdul Halil, menyambut positif penyelenggaraan UTMM 2026. Ia berharap ajang lari lintas alam ini bisa menjadi agenda rutin yang terus berlanjut di Kudus pada masa mendatang.
“Oh ya, kami menyambut baik adanya kegiatan ini dan kami berharap untuk tidak hanya kali ini saja, tapi untuk tahun-tahun berikutnya penyelenggaraan event ini bisa dilaksanakan di Kudus. Dan tentunya juga semakin besar lagi sehingga ini berdampak kepada masyarakat, khususnya terkait dengan kunjungan-kunjungan wisata, kemudian kulinernya, termasuk juga penginapan dan lain sebagainya,” ujar Abdul Halil.
Menurutnya, fasilitas akomodasi milik pemerintah daerah akan terus dijaga dan dirawat agar selalu siap menampung wisatawan maupun peserta dalam berbagai kegiatan skala nasional hingga internasional.
“Kalau kondisi kamarnya sih menurut kami baik ya, baik. Artinya masih layak untuk dijadikan sebagai penginapan dan bisa dijadikan sebagai persiapan untuk event–event baik itu nasional maupun internasional,” tambahnya.

Melalui perhelatan UTMM 2026 ini, Graha Muria telah membuktikan perannya. Seluruh kamar terisi penuh berkat persiapan matang jauh-jauh hari, sekaligus memastikan ketersediaan akomodasi bagi para peserta dan pendamping yang datang dari berbagai daerah di kaki Gunung Muria. (JMY/mainkekudus)