

KUDUS – Mayoritas peserta Ultra Trail Mount Moeria memilih akomodasi di sekitar lereng gunung yang lokasinya tidak jauh dari venue lomba. Demi mempermudah persiapan, para pelari sengaja memilih tempat menginap tersebut untuk mengatur jadwal keberangkatan ke garis start serta memastikan kebutuhan istirahat sebelum dan sesudah berlari benar-benar siap.
Gelombang kedatangan peserta dari berbagai daerah ini otomatis ikut menghidupkan suasana di sekitar kawasan lomba dari tahun ke tahun. Urusan tempat tinggal, kendaraan menuju venue, makanan, hingga waktu istirahat kini menjadi hal-hal penting yang selalu disiapkan para pelari sebelum mereka benar-benar turun ke medan perlombaan.
Pijar Resort sering kali menjadi salah satu tempat menginap yang diincar para peserta ajang tersebut. Dari sini terlihat jelas bahwa gaya menginap para pelari ini sangat berbeda dari pelancong biasa. Jarak yang dekat dengan venue selalu menjadi pertimbangan utama, apalagi jadwal start untuk setiap kategori lomba biasanya diatur secara berbeda-beda.

General Manager Pijar Park, Pujiharto, yang akrab disapa Pak Atok, mengungkapkan bahwa reservasi mengalami peningkatan jelang UTMM 2026. Sejumlah peserta bahkan sudah memesan kamar sejak dua pekan sebelum perlombaan dimulai.

“Ini ada peningkatan reservasi dan kami memberikan kesempatan untuk panitia. Ada beberapa yang sudah masuk ke resor kami,” kata Pak Atok.
Pijar Resort sendiri memiliki total rencana pengembangan sekitar 15 unit, dengan 12 unit di antaranya yang saat ini sudah siap ditempati. Pada hari libur akhir pekan, tingkat keterisian normal biasanya berada di kisaran 80 persen. Khusus menyambut UTMM 2026, tercatat sekitar 10 pesanan kamar datang dari para peserta lomba, dan angka tersebut masih berpotensi bertambah.

Menurut Pujiharto, dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar tamu yang menginap di Pijar Resort memang berasal dari luar kota. Peserta UTMM 2026 yang memesan tempat di sini pun datang dari luar Kudus, seperti Jakarta dan Bandung, dengan rata-rata lama menginap sekitar dua malam.
Kendati demikian, jumlah tersebut baru sebagian kecil dari keseluruhan peserta. Event Director UTMM 2026, Muhammad Yusrul Huda, menyebutkan bahwa ajang kali ini diikuti oleh sekitar 570 peserta yang berasal dari Kudus, berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta dan Yogyakarta, hingga tiga pelari asing asal Belgia, Rusia, dan Ukraina.

“Peserta kami banyak yang dari luar Kudus, Jakarta, dan ada yang luar negeri juga. Ada tiga asing dari Belgia, Rusia, Ukraina,” kata Yusrul.
Sebagian peserta terpantau sudah tiba di Kudus sejak hari Jumat. Guna mempermudah mobilitas, panitia juga menyediakan dukungan transportasi berupa layanan shuttle yang siap mengantar peserta dari stasiun maupun bandara langsung menuju lokasi venue.
Pilihan tempat menginap para peserta ini tidak terpusat di satu tempat saja, melainkan tersebar di berbagai titik di sekitar Colo. Selain Pijar Resort, banyak peserta yang melirik Graha Muria Colo hingga homestay milik warga setempat. Panitia pun sengaja menggandeng berbagai penginapan dan homestay tersebut agar peserta punya banyak pilihan akomodasi yang nyaman selama event berlangsung.
Bagi para pelari trail run, jarak antara tempat menginap dan garis start selalu masuk dalam hitungan matang sebelum lomba. Waktu tempuh menuju venue wajib disesuaikan pas dengan jadwal start dari masing-masing kategori.
Front Office Pijar Park Resort, Ulwana Alifia, menceritakan bahwa para peserta yang memesan kamar kerap bertanya soal rute jalan dan pilihan transportasi menuju lokasi acara.
Dari Pijar Resort, jarak ke venue terbilang dekat, yakni sekitar dua kilometer dengan waktu tempuh normal kurang dari 10 menit.

Namun, para pelari diingatkan bahwa mereka tidak bisa selalu mengandalkan taksi atau ojek berbasis aplikasi online untuk sampai ke lokasi. Pihak resor pun dengan sigap merekomendasikan penggunaan ojek pangkalan setempat.
“Karena kalau naik tidak boleh ojek online. Jadi ojek dari situ,” jelas Ulwana.
Informasi semacam ini menjadi krusial, terutama bagi peserta luar daerah yang belum hafal betul karakter transportasi di kawasan Muria. Jarak yang dekat dengan venue praktis memangkas waktu perjalanan, sehingga pelari tidak perlu terburu-buru sebelum start.
Pertimbangan praktis inilah yang juga mendasari pilihan Shintya Wulandari atau Cynthia, peserta kategori 50 kilometer asal Bekasi, untuk menginap langsung di kawasan Muria.

“Lebih dekat sama venue-nya, jadi lebih fleksibel untuk bisa sampai ke start,” ujarnya.
Cynthia sendiri sudah tiba di Kudus sejak pagi hari dengan menaiki bus, dan dijadwalkan berada di kota ini sampai hari Minggu sebelum kembali pulang ke Bekasi.
Baginya, lokasi penginapan yang dekat dengan titik start memberikan keuntungan besar dalam hal ketenangan persiapan.
“Menurut aku penting, karena semakin dekat kan semakin bisa prepare lebih banyak lagi untuk apa-apa yang perlu disiapkan, dan biar gak mepet juga sampai ke start,” katanya.
Selepas berjibaku dengan jalur pegunungan yang menantang, kebutuhan istirahatnya pun terbilang sederhana namun esensial. Air hangat dan kasur yang nyaman menjadi dua hal utama yang paling ia cari di penginapan.
“Kebutuhan utama paling karena race-nya agak gunung, jadi butuh yang ada air hangatnya mungkin, air hangat sama kasur yang lebih proper,” ujarnya.

Penyelenggaraan event olahraga di kawasan Muria turut membutuhkan dukungan akomodasi yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan peserta. Kedekatan dengan venue, akses transportasi, hingga fasilitas untuk beristirahat menjadi bagian dari persiapan pelari sebelum memasuki lintasan.
Pijar Resort menjadi salah satu penginapan yang menerima peserta Ultra Trail Mount Moeria 2026. Resor yang berada di kawasan Pijar Park ini memiliki sekitar 12 unit yang dapat ditempati dari sekitar 15 unit dalam konsep pengembangannya.
Pilihan akomodasinya terdiri dari rumah pohon di kawasan hutan pinus, cottage, hingga Villa Sunset dengan kapasitas lebih besar. Tarif akhir pekan berkisar Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung tipe unit.
Keterlibatan pengelola akomodasi dalam penyelenggaraan event juga terlihat dari penawaran khusus yang diberikan kepada peserta UTMM 2026. Pijar Resort memberikan potongan harga hingga 50 persen untuk sejumlah tipe kamar selama periode perlombaan.



Penawaran tersebut menjadi salah satu bentuk penyesuaian sektor akomodasi ketika menerima peserta event olahraga. Terlebih, pelari yang datang dari luar kota membutuhkan tempat menginap sebelum perlombaan sekaligus akses yang relatif mudah menuju venue.
Namun, dukungan terhadap peserta tidak selalu membutuhkan layanan yang berbeda dari tamu reguler. Front Office Pijar Park Resort, Ulwana Alifia, mengatakan sejauh ini belum ada permintaan khusus seperti early check-in, late check-out, maupun sarapan lebih pagi.
Pengelola juga belum menerima permintaan fasilitas khusus untuk menyimpan atau membersihkan perlengkapan setelah race. Peserta kategori 30 kilometer dan 50 kilometer yang memiliki jadwal start malam pun belum mengajukan kebutuhan layanan tambahan.
Kebutuhan mereka masih berpusat pada hal-hal mendasar untuk menunjang persiapan dan pemulihan, seperti tempat tidur yang nyaman, air hangat, lokasi yang relatif dekat dengan venue, serta akses transportasi.
Pijar Resort menjalankan pelayanan selama 24 jam dengan tim yang bersiaga apabila tamu membutuhkan bantuan pada malam hari. Waktu check-in dan check-out tetap mengikuti ketentuan reguler, yakni pukul 14.00 dan 12.00 keesokan harinya.
Kehadiran peserta UTMM 2026 memperlihatkan bagaimana sektor akomodasi menjadi bagian dari ekosistem pendukung sebuah event olahraga. Bukan hanya menyediakan kamar, tetapi juga membantu peserta mendapatkan tempat beristirahat dan akses yang memadai selama mengikuti perlombaan di Kudus.

Bagi sebagian besar peserta, kedatangan ke Kudus kali ini memang didedikasikan sepenuhnya untuk menghadapi tantangan lintasan. Shintya Wulandari atau Cynthia, pelari asal Bekasi, menjadi gambaran bagaimana para atlet menjaga fokus penuh jelang garis start.
Meski demikian, kunjungan Cynthia ke kawasan Muria bukanlah yang pertama. Dua pekan sebelum perlombaan, ia sengaja datang lebih awal bersama rekan-rekannya untuk menjelajahi keindahan puncak Natas Angin, menikmati kuliner lokal yang menggugah selera, hingga memborong oleh-oleh jenang khas Kudus.
Hanya saja, begitu hari perlombaan tiba, prioritas utama berubah drastis.
“Only Ultra Trail Mount Muria 2026 saja,” ujarnya tegas mengenai agendanya kali ini.
Usai menaklukkan rute ekstrem pegunungan pada Minggu sore, ia memilih langsung bertolak pulang ke Bekasi untuk pemulihan.

Kendati demikian, ritme kunjungan yang singkat ini tetap meninggalkan dampak ekonomi yang hidup. Dalam durasi menginap satu hingga dua malam, para pelari aktif menggerakkan roda ekonomi lokal, mulai dari memburu kuliner khas, menggunakan transportasi setempat, hingga melengkapi berbagai kebutuhan logistik perlombaan.
Peluang inilah yang ditangkap dengan baik oleh para pelaku wisata lokal. Pijar Resort kini mulai mengemas berbagai aktivitas menarik seperti jeep adventure untuk opsi relaksasi pasca-lomba, sementara panitia terus memperkenalkan deretan destinasi kuliner dan wisata unggulan.
Dengan begitu, kehadiran ajang olahraga ini tidak hanya menghadirkan atmosfer kompetisi yang kompetitif, tetapi juga membuka ruang bagi para pelari untuk melirik pesona tersembunyi Kudus di kesempatan yang berbeda.
Bagi kawasan Colo, kedatangan para peserta UTMM 2026 membawa warna baru berupa kelompok pengunjung dengan karakter yang benar-benar berbeda dari profil wisatawan yang selama ini melekat di sana.
Selama ini, Colo memang sangat identik dengan wisata religi dan kunjungan para peziarah. Kehadiran ajang olahraga seperti ini pun memberikan alasan segar bagi orang-orang untuk datang, sekaligus memunculkan kebutuhan yang lebih beragam terhadap akomodasi, sarana transportasi, kuliner, hingga berbagai layanan penunjang di sekitar kawasan.

Yusrul mengungkapkan bahwa keberadaan UTMM 2026 sukses membuat variasi kunjungan ke Colo menjadi jauh lebih dinamis.
“Biasanya cuma dikunjungi peziarah, dan ziarah pun juga di bulan-bulan tertentu yang ramai. Dengan adanya event ini tentunya lebih variatif, tidak hanya peziarah yang datang ke Colo,” ujarnya.
Rangkaian aktivitas para peserta ini pun tidak hanya berhenti di area penginapan. Selama singgah di kawasan Muria, mereka turut memanfaatkan jasa transportasi lokal, mencari tempat makan, melengkapi kebutuhan perlengkapan lomba, hingga bepergian bersama keluarga dan rombongan.
Pijar Resort hadir sebagai salah satu simpul penting dalam pergerakan tersebut, berdampingan dengan hotel serta homestay lainnya, penyedia transportasi, sentra kuliner, hingga denyut usaha masyarakat di sekitar kawasan.
Pujiharto berharap event seperti UTMM 2026 ini bisa rutin digelar setiap tahunnya, sehingga gelombang kunjungan yang digerakkan oleh agenda olahraga dapat terus dirasakan oleh sektor penginapan dan pariwisata.
“Menurut kami ini event yang cukup positif dan bisa dilanjutkan di tahun-tahun selanjutnya. Bisa mendongkrak hotel dan wisata sehingga Kudus bisa lebih dikenal lagi,” ujarnya.

Meski sebagian peserta seperti Cynthia memilih langsung kembali ke Bekasi begitu race selesai, hal ini justru memperlihatkan fokus luar biasa para atlet terhadap target perlombaan mereka. Pihak Pijar Resort sendiri menyambut hangat setiap momen singgah para tamu, walau durasi tinggal rata-rata masih berada di kisaran satu hingga dua malam.
Dalam waktu singkat tersebut, kehadiran para pelari terbukti ampuh menghidupkan denyut ekonomi lokal, mulai dari sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga ragam layanan masyarakat yang bergerak dinamis.
Menariknya, pintu peluang untuk memperluas pengalaman wisata selalu terbuka lebar. Panitia telah menyiapkan kurasi rekomendasi kuliner dan destinasi lokal terbaik, sementara pengelola akomodasi juga proaktif menawarkan beragam aktivitas seru di kawasan Muria.
Bagi peserta yang memiliki waktu luang ekstra, momen kedatangan ini tentu membuka kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh pesona wisata Kudus di luar jadwal kompetisi.

Pada akhirnya, UTMM 2026 memberikan warna baru bagi kawasan Muria. Mulai dari para atlet yang memilih menginap dekat venue, pemanfaatan transportasi lokal, hingga terpenuhinya berbagai kebutuhan selama di Kudus, ajang ini sukses menggerakkan aktivitas di sekitar kawasan. Ke depan, potensi kunjungan ini berpeluang terus berkembang seiring ketertarikan peserta terhadap keindahan Kudus. (ITN/OEB/YSR/mainkekudus)