

KUDUS — Pagi dan sore menjadi bagian dari rutinitas atlet tenis meja binaan PTM Sukun Wartono Indonesia. Di meja latihan, mereka mengasah teknik pukulan, meningkatkan ketahanan fisik, dan mematangkan strategi permainan. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang menuntut kedisiplinan dan ketekunan sebelum seorang atlet mampu bersaing di tingkat kompetisi.
Di Kabupaten Kudus, pembinaan tenis meja dimulai sejak usia dini, ketika anak-anak diperkenalkan pada olahraga dan dibimbing mengembangkan kemampuan dasar. Seiring bertambahnya pengalaman, tuntutan latihan meningkat, termasuk kesiapan mental untuk menghadapi tekanan pertandingan.
Ketua Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Kudus, Heni Sandra Nurwati, memandang keberadaan klub sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Selain menyediakan fasilitas, klub berperan mendampingi perkembangan atlet agar memiliki kesempatan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Tidak semua atlet yang berlatih di Kudus berasal dari daerah setempat. Sebagian datang dari luar kota, bahkan luar Jawa Tengah, untuk mengembangkan kemampuan melalui pembinaan yang lebih terarah.
PTM Sukun Wartono Indonesia menjadi salah satu klub yang memberikan kesempatan tersebut. Dukungan yang disediakan mencakup fasilitas latihan, perhatian terhadap kebutuhan gizi dan kondisi fisik, hingga pendampingan pendidikan para atlet.
Bagi Heni, kontribusi klub tersebut telah berlangsung sejak ia masih aktif sebagai atlet. Pengalamannya di dunia tenis meja dimulai sejak usia sekolah, termasuk ketika meraih medali Porseni tingkat SD di Jawa Barat pada 1979.

“Sejak saya masih menjadi atlet, dukungan Sukun sudah sangat besar. Fasilitas dan kebutuhan atlet diperhatikan, bahkan pendampingannya berlanjut hingga mereka menyelesaikan pendidikan,” kata Heni.
Proses penjaringan atlet dilakukan melalui pengamatan dan penilaian para official. Pelatih mencermati kemampuan serta potensi pemain untuk menentukan tahapan pembinaan yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, setiap atlet dapat mengikuti program berdasarkan kebutuhan dan perkembangan masing-masing.
Salah satu atlet yang menjalani pembinaan di Kudus adalah Nuralip Hakiki, remaja asal Madura yang akrab disapa Kiki. Ketertarikannya pada tenis meja tumbuh sejak taman kanak-kanak setelah diperkenalkan oleh sang ayah.
Kini, Kiki merupakan siswa kelas IX SMP 3 Kudus dan telah sekitar dua tahun menempuh pendidikan di kota ini. Selain mengikuti latihan bersama, ia menyempatkan diri berlatih mandiri untuk memperbaiki teknik dan menjaga kondisi fisik.
Perjalanan Kiki memperlihatkan bagaimana minat yang tumbuh sejak kecil dapat berkembang melalui pembinaan yang terarah. Kesempatan berlatih dan pendampingan yang konsisten membantunya meningkatkan kemampuan hingga mampu bersaing di tingkat provinsi.

Perjalanan Kiki memperlihatkan bagaimana minat yang tumbuh sejak kecil dapat berkembang melalui dukungan lingkungan pembinaan. Kesempatan berlatih, pendampingan pelatih, dan pengalaman bertanding menjadi bekal untuk mengasah potensinya.
Dalam tenis meja, kecepatan tangan harus diimbangi kemampuan membaca permainan. Atlet perlu mengantisipasi arah bola, memahami strategi lawan, dan mengambil keputusan dalam waktu singkat. Karena itu, latihan tidak cukup hanya mengandalkan pengulangan pukulan.
Pelatih PTM Sukun, Doni Prasetyia Aji, menjelaskan bahwa program latihan berlangsung secara rutin pada pagi dan sore hari. Materinya mencakup penguatan fisik, penguasaan teknik, strategi permainan, hingga kesiapan mental, dengan intensitas yang disesuaikan menurut kemampuan pemain.

“Teknik, fisik, dan strategi memang penting. Namun, atlet juga harus memiliki kesiapan mental agar bisa menerapkan kemampuannya dengan baik saat bertanding,” ujarnya.
Pendekatan latihan dibedakan berdasarkan tahap perkembangan atlet. Bagi pemula, pelatih lebih dahulu memperkenalkan olahraga dan membenahi teknik dasar. Sementara itu, pemain yang telah memasuki level kompetitif diarahkan untuk mematangkan kemampuan dan mempersiapkan target prestasi.
Meski demikian, Doni menilai ketertarikan anak terhadap tenis meja perlu dibangun sebelum mereka dihadapkan pada tuntutan kompetisi. Rasa senang bermain menjadi modal awal untuk menumbuhkan kemauan berlatih secara konsisten.
“Yang pertama, anak harus merasa senang dengan tenis meja. Ketika sudah menyukai olahraga ini, kemauan untuk berlatih akan tumbuh dan potensinya bisa dikembangkan,” katanya.
Pembentukan karakter juga mendapat perhatian. Heni mengingatkan atlet muda agar mampu mengatur penggunaan telepon genggam sehingga tidak mengganggu konsentrasi dan kesungguhan mereka saat berlatih.
Selain disiplin menjalani program, atlet dibiasakan menerima arahan dan memperbaiki kesalahan. Sikap tersebut diperlukan ketika mereka menghadapi lawan dengan kemampuan dan karakter permainan yang berbeda.

Kemampuan teknis yang diasah selama latihan akan menghadapi ujian sesungguhnya ketika atlet turun bertanding. Dalam situasi kompetitif, pemain dituntut mampu menjaga konsentrasi, membaca perubahan strategi lawan, dan mengambil keputusan di tengah tekanan.
Pengalaman tersebut turut dirasakan Nuralip Hakiki saat meraih medali emas nomor tunggal putra pada POPDA Jawa Tengah 2026. Keberhasilannya menjadi salah satu hasil pembinaan yang dijalani sejak usia dini, sekaligus bekal untuk menghadapi jenjang kompetisi berikutnya.
Bagi pelatih, pertandingan menjadi kesempatan untuk melihat sejauh mana atlet mampu menerapkan materi latihan. Hasilnya digunakan untuk mengevaluasi aspek teknik, strategi, fisik, maupun mental yang masih perlu ditingkatkan.
Kiki sendiri telah menetapkan target untuk melangkah lebih jauh.
“Target saya ingin menjadi juara Kejurnas dan bisa ikut Popnas. Jadi, saya harus terus berlatih dan memperbaiki kekurangan,” katanya.
Target tersebut menjadi dorongan bagi Kiki untuk terus mengembangkan kemampuan. Prestasi di tingkat pelajar merupakan salah satu tahapan sebelum menghadapi persaingan yang lebih luas.

Keberhasilan Kiki menjadi bagian dari pencapaian kontingen tenis meja Kabupaten Kudus pada POPDA Jawa Tengah 2026. Melalui nomor tunggal dan ganda tingkat SMP serta SMA, para atlet berhasil mengumpulkan lima medali emas.
Pada kategori SMA, pasangan Mochamad Zeldan Tharikh dan I Kadek Bryan meraih emas ganda putra, sedangkan Nabila Fikriyah dan Karinza Matahari menjadi juara ganda putri.
Di tingkat SMP, Patria Surya Dharma Devananda dan Muhammad Ridwan menyumbangkan emas dari nomor ganda putra. Dua gelar lainnya dipersembahkan Nuralip Hakiki pada tunggal putra dan Suravinda pada tunggal putri.
Kontribusi atlet binaan PTM Sukun Wartono Indonesia turut mendukung keberhasilan tersebut. Bagi Heni, hasil yang diraih menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi para pemain untuk terus meningkatkan kemampuan.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Kudus. Saya bersyukur atas dukungan PTM Sukun sehingga atlet-atlet binaannya bisa menunjukkan kemampuan dan meraih hasil terbaik di ajang olahraga pelajar,” ujar Heni.
Capaian di tingkat pelajar membuka jalan menuju persaingan yang lebih luas. Pada 2026, pembinaan tenis meja Kudus juga diarahkan melalui keikutsertaan atlet dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Di tingkat internasional, Doni menyebut Citra Rasmi sebagai atlet asal Kudus yang diberangkatkan mengikuti kejuaraan Asian Table Tennis Union (ATTU) 2026 di Uzbekistan. Target yang dipasang adalah menembus babak 16 besar untuk membuka peluang menuju kejuaraan dunia.
“Targetnya 16 besar. Karena kalau sudah lolos 16 besar, bisa otomatis tembus kejuaraan dunia,” ujar Doni.
Kesempatan bertanding di level internasional memberi atlet pengalaman menghadapi persaingan yang lebih luas. Perbedaan karakter permainan dan kualitas lawan menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk mengukur kemampuan yang telah dibangun selama latihan.

Lima medali emas POPDA Jawa Tengah menjadi salah satu bukti perkembangan tenis meja Kudus. Namun, prestasi tersebut tidak serta-merta menjamin keberhasilan pada kompetisi berikutnya. Setiap jenjang memiliki tingkat persaingan dan tuntutan kemampuan yang berbeda.
Bagi Heni, motivasi dan kedisiplinan menjadi bekal penting bagi anak-anak yang ingin menekuni olahraga ini. Bakat dapat menjadi modal awal, tetapi kemauan menerima evaluasi dan memperbaiki kekurangan menentukan bagaimana kemampuan atlet berkembang.
Karena itu, peran klub dan pelatih dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan pembinaan. Atlet perlu mendapatkan pendampingan sesuai perkembangannya, sementara kesempatan mengikuti kompetisi menjadi sarana menguji kesiapan mereka menghadapi tantangan baru.

Bagi PTMSI Kudus dan klub-klub pembina, tantangannya bukan hanya melahirkan juara, melainkan memastikan selalu ada generasi berikutnya yang memiliki kesempatan untuk berkembang. Dukungan fasilitas, program latihan yang konsisten, dan akses menuju kompetisi menjadi bagian penting untuk menjaga proses tersebut.
Sebab, masa depan tenis meja Kudus tidak hanya ditentukan oleh medali yang diraih hari ini, tetapi juga oleh anak-anak yang terus berlatih, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri untuk menjadi atlet berprestasi berikutnya. (OEB/YSR/mainkekudus)