

KUDUS – Caffino Srikandi Merdeka Cup yang diselenggarakan pada 14 – 23 Agustus 2026 tidak hanya menghadirkan pertandingan sepak bola putri di Supersoccer Arena Kudus. Kehadiran Timnas Putri U-16 dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Yordania, Singapura, Arab Saudi, dan Hong Kong, China juga menarik warga untuk datang dan mengikuti pertandingan secara langsung.
Antusiasme itu terlihat dari kebiasaan penonton datang jauh sebelum pertandingan dimulai. Pada laga final, misalnya, sebagian warga sudah berada di sekitar arena sejak siang. Mereka tahu kapasitas tribun terbatas, sekitar 1.100 penonton, sehingga datang lebih awal menjadi cara untuk mendapatkan tempat.

Diandra Bratayudha Putra datang sekitar pukul 13.00 bersama teman-temannya dari SMP 3 Kudus. Pertandingan baru berlangsung malam hari, tetapi ia memilih menunggu karena ingin menyaksikan laga secara langsung.

“Karena biar bisa lihat sampai malam,” katanya.
Bagi Muhammad Sanusi, datang lebih awal bahkan berarti menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Ia menutup usahanya lebih cepat agar bisa membawa istri dan anak ke arena. Pengalaman datang terlambat pada pertandingan sebelumnya membuatnya tidak ingin mengambil risiko yang sama.

Pilihan warga untuk meluangkan waktu sejak siang menunjukkan bahwa pertandingan telah menjadi agenda tersendiri. Mereka tidak sekadar datang ketika laga dimulai, tetapi menyiapkan waktu agar bisa berada di lokasi lebih lama.
Jumlah penonton yang datang kemudian melampaui kapasitas tribun. Sebagian warga yang tidak mendapatkan tempat tidak langsung pulang. Mereka mencari cara lain untuk tetap mengikuti pertandingan, termasuk berpindah ke Srikandi Fair di Lapangan Rendeng dan lokasi nobar di Pendopo Kabupaten Kudus.
Di titik inilah cerita tentang turnamen mulai bergerak keluar dari stadion. Antusiasme penonton membuat aktivitas tidak lagi terkumpul di satu tempat. Warga berpindah, berkumpul, mencari makanan, membawa keluarga, dan mencari ruang lain untuk tetap menjadi bagian dari pertandingan.
Pendopo dan Srikandi Fair Jadi Alternatif Titik Nobar
Ketika tribun Supersoccer Arena mulai penuh, pertandingan tidak kehilangan penontonnya. Mereka hanya berpindah tempat.

Srikandi Fair di Lapangan Rendeng menjadi salah satu pilihan. Kawasan ini menyediakan lebih dari sekadar layar untuk menonton. Ada tenant makanan, permainan anak, dan berbagai aktivitas yang membuat warga tetap bisa menikmati suasana turnamen meski tidak berada di dalam stadion.
Indra Irawan datang bersama anak-anaknya dengan rencana awal menyaksikan final dari tribun. Setelah melihat kondisi yang sudah padat, ia memilih membawa keluarganya ke Srikandi Fair. Anak-anak bisa bermain, sementara ia tetap berada di tengah keramaian yang terbentuk karena pertandingan.

“Sering-sering aja, Mas. Biar rame,” katanya.
Bagi Arif Kurniawan, fair juga menjadi pilihan yang cocok untuk datang bersama keluarga. Ini merupakan kunjungan pertamanya. Selain suasana turnamen, ia tertarik karena anak-anak memiliki tempat untuk bermain.

“Kalau sama keluarga juga menarik, ada permainan anak-anak. Acaranya seru,” ujarnya.
Dengan berbagai aktivitas tersebut, Srikandi Fair tidak hanya ramai ketika pertandingan berlangsung. Warga bisa datang lebih awal, membeli makanan, menemani anak bermain, kemudian bergabung dalam nobar saat laga dimulai.
Ketika jumlah penonton di kawasan Rendeng diperkirakan masih akan bertambah, halaman Pendopo Kabupaten Kudus menjadi titik nobar lainnya. Sekitar 500 hingga 600 orang mengikuti pertandingan dari sana. Warga yang sebelumnya tidak mendapatkan tempat di stadion memiliki pilihan untuk tetap menonton bersama tanpa harus kembali ke rumah.

Rizki Kurnia Rosdiansyah termasuk yang memilih cara tersebut. Setelah gagal masuk ke Supersoccer Arena, ia mengetahui informasi nobar Pendopo melalui media sosial dan datang sejak sore. Di lokasi, warga bisa menyaksikan pertandingan melalui layar sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia.

Bagi pemerintah daerah, pembagian lokasi juga berkaitan dengan pengelolaan keramaian. Sekretaris Daerah Kudus Eko Djumartono mengatakan penonton perlu dibagi agar tidak terkonsentrasi di satu titik, terutama di kawasan Rendeng.

Akhirnya, satu pertandingan memiliki beberapa ruang untuk dinikmati. Stadion menjadi tempat utama bagi penonton yang mendapatkan kursi. Srikandi Fair menjadi ruang bagi keluarga, kuliner, permainan, dan nobar. Pendopo menjadi titik lain bagi warga yang ingin menyaksikan pertandingan bersama.
Pergerakan penonton inilah yang membuat event tidak berhenti di venue utama. Ketika satu ruang tidak lagi cukup, ruang lain ikut digunakan.

Keramaian yang terbentuk di sekitar pertandingan kemudian mengalir ke lapak-lapak UMKM. Orang datang untuk menonton, tetapi kebutuhan mereka selama berada di lokasi ikut menciptakan transaksi.
Di Srikandi Fair, sebanyak 32 UMKM mendapat tempat untuk berjualan. Pengunjung dapat membeli makanan dan minuman sebelum pertandingan, saat menunggu nobar, atau setelah laga selesai.
Rema Octaviana, pemilik Dimsum Viral Mpok Rani, merasakan perubahan itu pada malam final. Ia menjual lebih dari 100 porsi dimsum, sekitar tiga kali lipat dibandingkan hari biasa dan dua kali lipat dibandingkan hari pertama turnamen.

“Sudah ramai sebelum nonton juga,” kata Rema.
Pembelinya tidak hanya warga Kudus. Ia juga melayani pengunjung dari luar daerah dan peserta turnamen.
Di lapak Risol Bu Anik, pola yang sama terlihat. Anik Juliati Anti Sari mengatakan pengunjung biasanya mulai ramai pada malam hari, terutama ketika Tim Indonesia bertanding.

“Orang datang, keluar, datang, keluar. Pas ada tanding itu ada jajan juga. Ada yang langsung nobar, ada yang jajan dulu,” ujarnya.
Penjualan risolnya dapat meningkat sekitar dua kali lipat pada matchday dan hingga tiga kali lipat pada momen nobar tertentu. Jam berjualan pun ikut bertambah. Jika biasanya ia mulai berjualan pada sore hari dan pulang sekitar pukul 20.00 hingga 22.00, selama event ia bisa mulai sekitar pukul 14.00 dan bertahan hingga pukul 23.00.
Bagi pelaku usaha, perubahan ini tidak hanya soal jumlah makanan yang terjual. Keramaian juga membawa calon pembeli yang sebelumnya belum mengenal produk mereka. Orang yang datang untuk menonton bisa berhenti di satu booth karena tertarik melihat makanan. Keluarga yang membawa anak dapat membeli jajanan setelah bermain. Pengunjung yang tidak mendapatkan tempat di tribun pun tetap berada di kawasan event dan berbelanja.

Dengan pola seperti itu, aktivitas olahraga dan perdagangan berjalan berdampingan. Semakin lama orang berada di kawasan event, semakin banyak pula kesempatan untuk melakukan transaksi.
Dampaknya memang terlihat dari lapak-lapak kecil. Namun, justru di sana pengaruh sebuah event terhadap ekonomi lokal terasa paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, tambahan pembeli, penjualan yang meningkat, dan jam kerja yang lebih panjang.
Turnamen membawa penonton ke kota. Keramaian itu kemudian memberi kesempatan kepada usaha-usaha di sekitarnya untuk ikut bergerak.

Pertandingan memang berlangsung di satu lapangan. Namun, aktivitas yang muncul tidak berhenti di sana.
Selama turnamen, warga datang sejak siang, menghabiskan waktu di sekitar arena, lalu berpindah ke berbagai titik ketika tribun penuh. Ada yang tetap menonton dari stadion, ada yang memilih nobar di Srikandi Fair, dan ada yang berkumpul di Pendopo. Di antara perpindahan itu, aktivitas lain ikut berjalan: makan, bermain, berbincang, dan berbelanja.
Ruang-ruang yang biasanya memiliki fungsi berbeda, stadion, lapangan, hingga halaman pendopo, digunakan secara bersamaan untuk satu tujuan. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari aktivitas yang terbentuk di sekitar pertandingan.
Bagi pelaku usaha, keramaian berarti tambahan pembeli. Bagi keluarga, event menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu bersama. Sementara bagi kota, ada lebih banyak orang yang berada di ruang publik dalam waktu yang sama.

Yang terlihat bukan hanya jumlah penonton, tetapi bagaimana mereka bergerak. Datang lebih awal, berpindah tempat, bertahan lebih lama, lalu pulang setelah menghabiskan waktu di sekitar event.
Dari situ, dampak sebuah turnamen menjadi lebih jelas. Bukan hanya dari jalannya pertandingan, tetapi dari aktivitas yang muncul di sekitarnya.
Olahraga menghadirkan alasan untuk berkumpul. Kota menyediakan ruangnya. Ketika keduanya bertemu, aktivitas ikut tumbuh.
Ketika olahraga bergerak, kota ikut bergerak. (OEB/YSR/mainkekudus)