

KUDUS – Penyelenggaraan event olahraga dalam skala besar tidak hanya membutuhkan venue pertandingan. Ada kebutuhan akomodasi bagi atlet, pelatih, ofisial, panitia, kru, suporter, hingga keluarga peserta yang datang dari luar daerah.
Di Kudus, kebutuhan tersebut semakin terlihat seiring padatnya agenda olahraga yang menghadirkan peserta dari berbagai kota, bahkan negara. Hotel berbintang dua ikut mengambil peran karena menawarkan kombinasi tarif yang relatif terjangkau, fasilitas yang memadai, serta lokasi yang mendukung mobilitas menuju venue.
Pilihan ini terutama relevan bagi rombongan dalam jumlah besar. Tidak semua orang yang terlibat dalam sebuah event harus ditempatkan di hotel dengan kelas yang sama. Atlet dan official dapat menggunakan hotel tertentu, sementara panitia, kru produksi, tenaga pendukung, atau pendamping peserta menginap di akomodasi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran.
Dua hotel berbintang dua di kawasan Jati, yakni Hotel King’s Kudus dan Sunrise Hotel Kudus, menjadi contoh pilihan akomodasi dengan akses relatif dekat menuju GOR Djarum Kudus. Keduanya juga berada di kawasan yang terhubung dengan pusat kuliner, terminal, serta sejumlah tujuan wisata di Kudus.
Sejumlah agenda olahraga telah membuat Kudus menerima tamu dari berbagai daerah. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Panahan Junior,MilkLife Soccer Challenge All Stars, dan HYDROPLUS Soccer League All Stars menjadi bagian dari rangkaian tersebut.
Skalanya semakin beragam ketika Kudus menjadi tuan rumah event internasional. Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 pada Agustus mempertemukan tim sepak bola putri U-16 dari tujuh negara, yakni Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Hong Kong, Yordania, dan Arab Saudi.
Turnamen internasional seperti itu tidak hanya mendatangkan pemain dan official tim. Penyelenggaraannya juga melibatkan panitia, kru produksi, dokumentasi, tenaga teknis, transportasi, keamanan, serta berbagai tim pendukung. Kebutuhan akomodasi pun tersebar di beberapa hotel, termasuk hotel berbintang dua untuk kru dan vendor.

Pada 9–13 September 2026, pola kedatangan tamu dalam jumlah besar kembali terlihat melalui Audisi Umum PB Djarum. Kegiatan di GOR Djarum, Jati, tersebut diikuti 1.601 peserta dari berbagai wilayah Indonesia, mulai Sumatera hingga Papua.
Karena sebagian peserta usia muda datang bersama orang tua, keluarga, pelatih, atau pendamping, kebutuhan penginapan tidak hanya mengikuti jumlah peserta yang terdaftar. Satu agenda olahraga dapat membawa jumlah tamu yang jauh lebih besar ke sebuah kota.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Kudus, Muhammad Kirom, melihat aktivitas olahraga tersebut sebagai salah satu penggerak sektor akomodasi.
“Event-event olahraga yang rutin digelar sangat berpengaruh terhadap okupansi hotel. Sports tourism membawa peserta, official, suporter, bahkan keluarga atlet datang ke Kudus,” kata Kirom.
Dampaknya kemudian meluas ke sektor lain. Tamu menggunakan transportasi lokal, mencari tempat makan, membeli oleh-oleh, atau mengunjungi destinasi wisata ketika memiliki waktu di luar agenda utama.
Karakter Kudus yang relatif kompak turut memudahkan mobilitas tersebut. Sejumlah venue, hotel, pusat kuliner, dan pusat kota dapat dijangkau dalam waktu relatif singkat.
“Alhamdulillah Kudus termasuk kota yang mudah dijangkau. Jarak antar lokasi dekat, transportasi juga sudah banyak tersedia,” ujar Kirom.

Salah satu hotel berbintang dua di kawasan Jati adalah Hotel King’s Kudus. Hotel ini berada di Jalan Lingkar Barat Kav. 1, Jati, Kabupaten Kudus.
Lokasinya sekitar dua kilometer dari GOR Djarum Kudus. Dalam kondisi lalu lintas normal, perjalanan menuju venue dapat ditempuh sekitar lima menit menggunakan kendaraan. Jarak tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi atlet, official, kru, maupun keluarga peserta yang memiliki kegiatan di kawasan Jati.
Hotel King’s Kudus memiliki 32 kamar dengan pilihan Superior Twin, Superior Double, dan Deluxe. Kamar dilengkapi AC, televisi, minibar, kulkas, air mineral gratis, serta kamar mandi dengan perlengkapan mandi.

Fasilitas di area hotel meliputi Wi-Fi gratis, tempat parkir, restoran, function room, layanan kamar, dan layanan pijat. Restoran beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.

Tarif kamar berada pada kisaran Rp200 ribu hingga Rp350 ribu per malam, bergantung pada jenis kamar dan waktu pemesanan. Bagi rombongan yang memerlukan beberapa kamar untuk beberapa malam, rentang tarif tersebut dapat membantu menyesuaikan biaya akomodasi dengan kebutuhan perjalanan.

Lokasinya di kawasan Jati juga memberi akses menuju sejumlah tempat makan. Tamu tidak harus selalu menuju pusat kota untuk mencari kuliner setelah kegiatan selesai.
Soto Kudus Bu Djatmi di Jalan AKBP Agil Kusumadya, Getas Pejaten, menyediakan soto ayam dan soto daging kerbau. Pilihan lainnya adalah Soto Kudus Pak Denuh di kawasan Jati Kulon.
Bagi tamu yang ingin mencoba menu khas lain, Warung Makan Sate Kerbau Pak Min Jastro di Getas Pejaten menjadi salah satu pilihan. Garang asem dapat ditemukan di Gasasa Restoran Garang Asem Sari Rasa di Jalan AKBP Agil Kusumadya.
Untuk rombongan atau keluarga yang ingin makan dengan suasana lebih santai, Ulam Sari Resto & Pemancingan di Jalan Museum Kretek menyediakan masakan Indonesia dan olahan ikan air tawar.
Hotel King’s Kudus juga cukup dekat dengan Museum Kretek di kawasan Getas Pejaten. Jika memiliki waktu lebih panjang, tamu dapat menuju Museum Jenang Kudus dan kawasan Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.
Pilihan wisata lainnya berada di kawasan lereng Gunung Muria, seperti Pijar Park dan Waduk Logung. Bagi atlet, kunjungan tentu perlu menyesuaikan jadwal pertandingan dan waktu pemulihan. Namun bagi keluarga peserta, suporter, atau kru dengan waktu senggang, pilihan tersebut dapat menjadi alternatif kegiatan di luar venue.

Pilihan hotel berbintang dua lainnya adalah Sunrise Hotel Kudus di Jalan AKBP Agil Kusumadya Nomor 103, Jatimakmur, Jati Wetan.
Hotel berada di tepi jalan utama menuju Kota Kudus dan berjarak sekitar satu menit dari Terminal Bus Kudus. Posisi tersebut memudahkan akses bagi tamu yang datang menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Sunrise Hotel Kudus berjarak sekitar 2,5 kilometer dari GOR Djarum. Perjalanan menggunakan kendaraan dapat ditempuh sekitar enam menit dalam kondisi lalu lintas normal.
Hotel ini memiliki 30 kamar dengan pilihan Superior Queen Room dan Deluxe Queen Room. Tipe Superior memiliki luas sekitar 12 meter persegi dengan satu tempat tidur ukuran queen, sementara tipe Deluxe memiliki ruang sekitar 16 meter persegi.
Setiap kamar dilengkapi AC, Wi-Fi gratis, televisi pintar, kamar mandi dengan shower air panas, serta jendela. Hotel juga memiliki resepsionis dan sistem keamanan 24 jam, layanan penyimpanan bagasi, dan area parkir.
Untuk kebutuhan bersama, tersedia ruang makan atau kafe kecil serta function room yang dapat digunakan untuk rapat atau pertemuan. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan rombongan yang membutuhkan ruang untuk briefing atau koordinasi selama berada di Kudus.

Tarif kamar berada pada kisaran Rp230 ribu hingga Rp300 ribu per malam, bergantung pada tipe kamar dan pilihan sarapan.
Dari hotel, tamu juga memiliki sejumlah pilihan kuliner di kawasan Jati. Salah satunya Nasi Uduk Rojo Sambel di sepanjang Jalan AKBP Agil Kusumadya, yang menyediakan menu seperti bebek goreng, burung dara, entog, ayam, dan lele dengan pilihan sambal.
Soto Kudus Pak Denuh di Jati Kulon dapat menjadi alternatif bagi tamu yang ingin mencoba soto Kudus.
Untuk kegiatan di luar hotel, Museum Kretek masih berada di kawasan Kecamatan Jati dan dapat dijangkau menggunakan kendaraan. Museum tersebut memperkenalkan sejarah perkembangan industri kretek di Kudus.

Jika ingin menuju pusat kota, Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus berada sekitar 4,5 kilometer dari Sunrise Hotel atau kurang lebih 11 menit berkendara dalam kondisi lalu lintas normal. Jalurnya dapat ditempuh melalui Jalan AKBP Agil Kusumadya ke arah utara, kemudian tersambung dengan Jalan Loekmono Hadi menuju kawasan Simpang Tujuh.
Keberadaan pilihan kuliner dan tujuan wisata di sekitar hotel terutama dapat dimanfaatkan keluarga peserta, suporter, atau tamu lain yang memiliki waktu lebih longgar di luar jadwal event.
Tamu yang datang untuk kegiatan olahraga memiliki pola aktivitas berbeda dengan wisatawan biasa. Jadwal pertandingan, latihan, technical meeting, dan persiapan membuat waktu keluar-masuk hotel tidak selalu mengikuti pola perjalanan wisata.
Kru dan panitia juga memiliki kebutuhan tersendiri. Pada event berskala besar seperti Caffino Srikandi Merdeka Cup, sebagian kru dapat mulai bekerja sebelum pertandingan berlangsung dan baru kembali setelah seluruh pekerjaan di venue selesai.
Kondisi tersebut menuntut hotel memahami kebutuhan rombongan, mulai dari waktu sarapan, akses kendaraan, tempat parkir, hingga ruang yang dapat digunakan untuk koordinasi.
Bagi PHRI, kualitas pelayanan menjadi bagian penting ketika sebuah kota semakin sering menerima tamu melalui agenda olahraga.
“Sebagai tuan rumah sports tourism, Kudus wajib memberikan pelayanan maksimal. Kami terus memberikan edukasi kepada anggota agar menghadirkan service excellent sehingga tamu memiliki kesan positif selama berada di Kudus,” kata Kirom.
Kesiapan itu tidak hanya berkaitan dengan atlet. Ketika sebuah event berlangsung, hotel dapat menampung pelatih, official, panitia, kru, keluarga peserta, maupun suporter dalam waktu yang sama.
Dengan profil tamu yang beragam, kebutuhan hotel pun berbeda-beda. Ada yang mengutamakan kedekatan dengan venue, ada yang mempertimbangkan kapasitas kamar, sementara kelompok lain lebih sensitif terhadap tarif karena harus menginap dalam jumlah besar atau dalam waktu cukup lama.
Padatnya agenda olahraga juga membuat kebutuhan kamar meningkat pada periode tertentu. Ketika sebuah event besar berlangsung, tamu datang dalam waktu yang hampir bersamaan sehingga ketersediaan kamar dapat cepat berkurang.
Situasi tersebut membuat pemetaan akomodasi menjadi bagian penting dalam persiapan sebuah event. Penyelenggara perlu memperhitungkan jumlah peserta, official, kru, kebutuhan kamar, jarak hotel menuju venue, hingga transportasi.
“Kebutuhan kamar di Kudus sebenarnya masih terbatas. Ketika ada event besar, hampir semua hotel penuh karena jumlah kontingen sangat banyak,” ujar Kirom.
Keberadaan hotel dari berbagai kelas karena itu dibutuhkan untuk mendistribusikan tamu. Hotel berbintang lebih tinggi dapat digunakan atlet, ofisial utama, atau tamu tertentu, sementara hotel berbintang dua dapat menjadi pilihan bagi kru, panitia, pendamping, maupun rombongan yang membutuhkan tarif lebih terjangkau.
Hotel King’s Kudus dan Sunrise Hotel Kudus mengisi segmen tersebut. Keduanya menawarkan fasilitas dasar yang diperlukan tamu, tarif yang relatif terjangkau, serta akses yang dekat dengan GOR Djarum dan kawasan Jati.
Hubungan antara event olahraga dan sektor akomodasi juga tidak berdiri sendiri. Hotel membutuhkan akses transportasi, tamu membutuhkan tempat makan, sementara waktu di luar pertandingan dapat membawa pengunjung ke pusat oleh-oleh atau destinasi wisata.
Kirom menilai kerja sama antarpelaku menjadi bagian penting dalam pengembangan sports tourism.
“Sinergi antara penyelenggara event, pelaku pariwisata, transportasi, hingga hotel menjadi kunci keberhasilan pengembangan sports tourism,” tuturnya.
Ketika membicarakan sports tourism, perhatian sering tertuju pada venue, kualitas pertandingan, jumlah peserta, dan promosi event. Padahal, kemampuan sebuah kota menyediakan akomodasi juga menentukan kapasitasnya menerima tamu dalam jumlah besar.
Caffino Srikandi Merdeka Cup menunjukkan kebutuhan akomodasi dari sebuah event internasional yang tidak hanya menghadirkan pemain dan ofisial, tetapi juga panitia serta kru. Audisi Umum PB Djarum memperlihatkan pola berbeda, dengan 1.601 peserta dari berbagai daerah yang datang bersama ekosistem pendampingnya.
Kedua contoh tersebut memperlihatkan pentingnya variasi pilihan hotel.
Hotel berbintang dua tidak sekadar menjadi pilihan ketika hotel kelas lain penuh. Segmen ini memiliki fungsi tersendiri bagi tamu yang mencari lokasi strategis, fasilitas yang cukup, dan tarif yang dapat disesuaikan dengan anggaran perjalanan.
Bagi tamu yang berkegiatan di kawasan Jati dan GOR Djarum, Hotel King’s Kudus dan Sunrise Hotel Kudus dapat menjadi dua pilihan. Selain dekat dengan venue, keduanya memiliki akses menuju tempat makan, pusat kota, dan sejumlah tujuan wisata.
Pada akhirnya, pengalaman mengikuti event tidak hanya dibentuk oleh apa yang terjadi di arena.
“Hotel bukan hanya tempat tidur. Hotel adalah wajah pertama yang dilihat tamu ketika datang ke Kudus,” ujar Kirom.
Seiring bertambahnya agenda olahraga, kebutuhan terhadap pilihan akomodasi yang beragam ikut meningkat. Hotel bintang dua melengkapi pilihan akomodasi di Kudus sekaligus memperkuat kesiapan kota dalam menerima tamu dari berbagai agenda olahraga. (ITN/mainkekudus)