

KUDUS – D’Tjolo Ecopark, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tampak semarak pada Sabtu (3/10/2026) malam. Ratusan pelari bersiap di garis start untuk kategori 50K, menandai dimulainya ajang Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 yang menantang peserta menyusuri jalur Pegunungan Muria hingga Minggu pagi.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris hadir langsung melepas pelari kategori jarak terjauh tersebut. Ia berpesan agar para peserta tidak hanya fokus pada tantangan rute, tetapi juga mengutamakan kesehatan, ketertiban, dan kelestarian alam.

“Yang paling penting kesehatan dan ketertiban. Kami juga mengajak seluruh peserta untuk menjaga kebersihan sepanjang jalur dan tidak meninggalkan sampah di kawasan Gunung Muria,” ujar Sam’ani.
Berlangsung sepanjang 3–4 Oktober 2026, UTMM tahun ini diikuti sekitar 570 peserta, meningkat 12 persen dari penyelenggaraan sebelumnya. Ajang yang berpusat di D’Tjolo Ecopark ini memperlombakan empat kategori, yaitu 50K, 30K, 15K, dan 7K.
Antusiasme peserta pun datang dari berbagai penjuru, mulai dari berbagai daerah di Indonesia hingga pelari mancanegara asal Belgia, Prancis, Ukraina, dan sejumlah negara lainnya. Kehadiran mereka dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan potensi wisata Gunung Muria ke kancah yang lebih luas.

Rangkaian kegiatan sejatinya telah bergulir sehari sebelum perlombaan. Sesi Race Pack Collection (RPC) digelar di Kirana Toko Oleh-Oleh, United Grand Square, pada Jumat (2/10), sebelum berlanjut ke Aula Hotel Graha Muria keesokan harinya. Penempatan titik pengambilan perlengkapan di pusat oleh-oleh ini sekaligus memperkenalkan produk UMKM lokal kepada peserta dari luar daerah sebelum mereka turun ke jalur lomba.
Pergerakan itu kemudian berpusat di Colo. Sejak Sabtu malam, satu per satu kategori dilepas menuju jalur dengan jarak dan tingkat kesulitan berbeda. Dari sekitar 570 peserta yang memulai perlombaan, 539 di antaranya berhasil kembali ke garis finis.

Sejak kategori pertama dilepas pada Sabtu malam, ratusan peserta bergerak menyusuri jalur yang karakternya dirancang berbeda-beda menyesuaikan kelas perlombaan.
Kategori 7K menempuh jarak sekitar tujuh kilometer dengan elevation gain 455 meter, melintasi kawasan Colo, kebun kopi, dan Montel sebelum kembali ke D’Tjolo Ecopark.
Kategori 15K memiliki jarak aktual sekitar 16 kilometer dan elevation gain 1.098 meter, yang rutenya membawa pelari melewati kawasan Ternadi serta kebun kopi.
Tantangan semakin berat pada kategori 30K dengan jarak sekitar 32,51 kilometer serta elevation gain 2.841 meter, melalui jalur Ternadi, Puncak Natas Angin, hingga Semliro.
Kategori 50K menjadi lintasan paling menantang dengan jarak sekitar 50,12 kilometer dan elevation gain 4.164 meter, mengarahkan peserta lewat Natas Angin dan Tunggangan, turun menuju Tempur di Jepara, lalu melintasi Puncak 29 sebelum kembali ke titik finis.
Dari total sekitar 570 peserta yang ambil bagian, sebanyak 539 pelari sukses menuntaskan perjuangan hingga garis akhir.
Rinciannya meliputi 110 finisher dari kategori 7K, 239 pelari dari 15K, 139 orang dari 30K, serta 51 peserta dari kategori paling buncit, yakni 50K.
Pada kategori 50K Ultra Trail, Muhammad Fahri Zulhami keluar sebagai yang tercepat dengan catatan waktu 5 jam 37 menit 30 detik.
Posisi kedua ditempati Musayyin dengan torehan 6 jam 3 menit, disusul Hendra Siswanto yang membukukan waktu 6 jam 5 menit 24 detik.
Kategori 30K Hard Trail dikuasai Sugeng Witrianto lewat catatan 3 jam 58 menit 44 detik.
Wildan Yusuf Furqoni menyusul di tempat kedua dengan 4 jam 3 menit 50 detik, sementara Brillian Jordan mengamankan peringkat ketiga dalam waktu 4 jam 26 menit 41 detik.
Untuk kategori 15K Medium Trail, podium utama direbut Eko Paryono, diikuti Ardan Bangun di posisi kedua dan Mahfud Baini pada urutan ketiga.
Sementara itu, kategori 7K Fun Trail dimenangi oleh Fajar, dengan Muhammad Fahri di posisi kedua dan Joko Fani Prasetyo melengkapi podium ketiga.
Koordinator UTMM 2026 Muhammad Yusrul Huda alias Yuda menilai penyelenggaraan tahun ini berjalan mulus tanpa kendala berarti di lapangan.
Ia menyebutkan bahwa tim medis tidak sampai kewalahan menangani insiden di jalur, lantaran penanganan justru lebih banyak terkonsentrasi selepas peserta tiba di garis akhir.

“Secara keseluruhan berjalan lancar. Teman-teman banyak yang finish strong dan medis tidak terlalu banyak bekerja keras. Yang cukup banyak bekerja justru tim fisioterapi karena setelah finish peserta membutuhkan relaksasi otot,” ujarnya.
Setibanya di garis finis, ragam ekspresi dan kondisi fisik terlihat jelas dari para peserta. Sebagian langsung merebahkan diri untuk beristirahat, ada yang mendatangi pojok fisioterapi, dan sebagian lainnya asyik bertukar cerita seru seputar tanjakan, turunan, serta kerasnya medan yang baru saja ditaklukkan.
Di balik catatan waktu dan deretan nama di podium, setiap kilometer menuju garis finis menyimpan cerita perjuangan tersendiri bagi para peserta.
Wisnu Yudha Sena, finisher kategori 30K asal Bogor, sukses menuntaskan tantangan lebih cepat dari target waktu yang ia pasang sejak awal.

Bagi Wisnu, salah satu momen paling membekas selama di lintasan adalah ketika ia menaklukkan Puncak Natas Angin.
Ia mengungkapkan bahwa karakter jalur Pegunungan Muria menuntut pelari untuk cermat mengatur ritme pernapasan dan stamina.
“Jalurnya cukup menantang. Tipikalnya rolling, naik kemudian downhill, kemudian naik lagi,” katanya.
Di luar beratnya medan, sambutan hangat dari warga lokal yang berjajar di pinggir jalur turut membakar semangatnya hingga garis akhir, bahkan membuatnya tertarik kembali turun di UTMM tahun depan pada kategori yang lebih tinggi.
Pengalaman berkesan sekaligus menegangkan turut dirasakan Adi Rizqia, pelari asal Kudus yang juga turun di kelas 30K.

Sebagai orang lokal yang terbiasa dengan alam sekitar, ia menilai jalur trail di Muria memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih teknikal dan sulit diprediksi.
Ujian terberat baginya terjadi pada etape dari Jambu menuju Puncak Natas Angin hingga jalur turunan curam setelahnya, di mana kedua kakinya sempat terserang kram hebat hingga terasa kaku (lock).
Meski dihantam rasa sakit, keteguhan hati mendorong Adi untuk terus melangkah maju hingga akhirnya menjejakkan kaki di garis finis pada Minggu pagi sekitar pukul 06.09 WIB.
“Terus fight,” katanya.
Di balik perjuangan keras tersebut, ia menyebut persiapan matang lewat waktu istirahat yang cukup dan pengaturan nutrisi (fueling) menjadi kunci penting bertahan di jalur ekstrem. Adi berharap gelaran sekelas UTMM dapat terus digencarkan promosinya dari jauh-jauh hari agar potensi wisata Kudus semakin luas dikenal publik melalui jalur olahraga.

Cerita paling menguji batas ketahanan datang dari kelas terjauh, seperti yang dirasakan Mas Tejo, pelari asal Pakistan yang kini berdomisili di Jakarta.
Bagi Tejo, event ini bukan perjumpaan pertamanya dengan lanskap Gunung Muria, karena lima tahun silam ia pernah menyambangi kawasan ini menggunakan sepeda.
Kini, ia kembali menaklukkan medan yang sama dengan metode berbeda, yakni berlari melintasi jalur pegunungan yang menuntut fokus penuh.
Dari seluruh rute yang dilewati, Puncak Natas Angin diakuinya sebagai ujian terberat yang terasa bagaikan memanjat tebing dengan tanjakan seolah tanpa ujung.
Belum cukup sampai di situ, selepas titik tertinggi tersebut, pelari langsung diadang medan turunan yang curam, licin, berdebu, serta dipenuhi bebatuan tajam.
Kondisi jalur yang ekstrem itu membuat ia mendengar kabar sejumlah peserta harus terhenti dan gagal melanjutkan perlombaan di titik turunan tersebut.

“Kalau 50K ini memang luar biasa. Ini bukan untuk yang sekadar ingin mencoba. Harus benar-benar latihan secara rutin dan persiapannya matang,” ujarnya.
Di tengah perjuangan melawan lelahnya fisik, ia tetap konsisten menjaga kebersihan alam dengan menyimpan setiap sisa bungkus makanan dan botol minum di dalam sakunya.
Barulah ketika tiba di pos minum resmi (water station), ia membuang sampah-sampah tersebut pada tempat yang telah disediakan panitia.

“Kalau kita bisa membawa makanan dan minuman sampai ke atas, masa bungkusnya tidak bisa kita bawa turun. Saya selalu simpan sampah di saku, kemudian saya buang di water station,” katanya.
Prinsip kedisiplinan menjaga lingkungan itu menutup perjalanannya menuntaskan puluhan kilometer jalur Muria lewat kombinasi langkah lari dan jalan kaki.

Bagi sebagian peserta luar daerah, petualangan di ajang ini tidak berhenti begitu saja saat garis akhir terlewati.
Pengalaman khas tersebut dirasakan Anthony Dourneau, pelari asal Prancis berusia 55 tahun yang datang ke Indonesia untuk kali pertama demi mengikuti UTMM 2026, menghabiskan waktu empat hari di Kudus seorang diri dengan menginap di hotel.
Mulanya, ia berselancar di internet untuk mencari lomba lari lintas alam sekaligus merancang agenda liburan, sempat melirik informasi ajang di Borobudur, sebelum akhirnya mantap menjatuhkan pilihan pada UTMM 2026 dua hingga tiga pekan kemudian.
Meski mengakui informasi seputar perhelatan ini cukup sulit ditemukan secara online, perjalanannya sama sekali tidak sia-sia setibanya di tanah Kudus.
Selama di kota ini, ia secara konsisten memanjakan lidah dengan mencicipi aneka kuliner lokal dan sengaja menghindari gerai makanan cepat saji.
Mi tek-tek masuk dalam daftar menu yang dicobanya, yang sempat ia kira sebagai sajian pasta.
Tidak ketinggalan, ia juga menjajal martabak telur puyuh dan tak lupa mengabadikannya dalam bentuk foto untuk dikirimkan kepada rekan-rekannya di kampung halaman.
Langkah kakinya kemudian berlanjut menyambangi kawasan Menara Kudus serta kompleks makam Sunan Kudus, tempat ia menyaksikan langsung keramaian peziarah yang memanjatkan doa.
Kendati mengaku bukan sosok yang religius, ia tetap merasa begitu takjub menyaksikan gelora semangat serta kekhusyukan masyarakat yang beribadah di sana.
Kemeriahan di arena UTMM 2026 turut meninggalkan kesan tersendiri baginya, terutama apresiasi terhadap tata penyelenggaraan dan atmosfer meriah di garis start yang diiringi alunan musik.
Secara keseluruhan, durasi empat hari singgah di Kudus memberi Anthony jendela pengalaman yang jauh lebih luas melampaui sekadar agenda olahraga.
Nuansa berbeda datang dari Sina Lotfahmadi, pelari asal Kanada yang turun di kategori 15K dan menandai keikutsertaannya untuk kali kedua dalam ajang trail run di Pegunungan Muria.
Lantaran seluruh kamar penginapan dan homestay di sekitar lokasi utama telah habis dipesan, Sina menyiasatinya dengan mendirikan tenda berkemah di kawasan D’Tjolo Ecopark.
“Gunungnya cantik banget, semua orang friendly, welcoming banget. Seru event di sini, semua menyapa,” ujarnya.
Pengalaman Anthony dan Sina menunjukkan bahwa perjalanan mengikuti UTMM tidak hanya berlangsung di lintasan. Ada peserta yang tinggal selama beberapa hari untuk mengenal Kudus, sementara sebagian lainnya memilih berkemah di sekitar venue ketika akomodasi terisi.
Namun, hubungan antara peserta dan Kudus tidak hanya terbentuk dari tempat yang mereka datangi atau pengalaman yang mereka bawa pulang. Puluhan kilometer yang mereka tempuh di jalur Muria juga dikembalikan dalam bentuk kontribusi bagi kawasan yang menjadi arena perlombaan.
Setiap kilometer yang ditempuh peserta dari berbagai kategori dikonversi menjadi penanaman bibit pohon. Dari akumulasi jarak para pelari UTMM 2026, sebanyak 11.603 bibit disalurkan kembali untuk penghijauan kawasan Pegunungan Muria.
Deputy Program Manager Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Dandy Mahendra, menjelaskan bahwa penghitungan dilakukan berdasarkan jarak tempuh peserta dari kategori 7K hingga 50K. Semakin panjang akumulasi kilometer yang ditempuh, semakin besar pula alokasi bibit pohon untuk penghijauan.

Upaya penghijauan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang di Pegunungan Muria dan Patiayam yang telah berjalan sejak 2020 hingga mencakup 363.912 bibit tertanam pada kurun 2020–2025, dengan target berlanjut sampai 2031 demi mencapai lebih dari 1,2 juta pohon.
Jenis tanaman yang dikembangkan pun dirancang selaras dengan fungsi konservasi dan ekonomi, meliputi durian, alpukat, mangga, kopi, serta pohon jenis ficus untuk memperkuat biodiversitas.

Di sepanjang jalur perlombaan, kesadaran menjaga alam turut digelorakan melalui gerakan Kudus ASIK (Apik Resik) yang mengarahkan peserta serta pengunjung memilah sampah sekaligus mendorong pelari membawa pulang sampah dari lintasan.

Komitmen tersebut tercermin dari aksi Abdul Basir, pelari kategori 15K yang membawa dua kantong penuh sampah plastik dan botol air mineral dari kilometer ketujuh hingga garis finis.
“Alasan saya mengambil sampah-sampah tersebut karena ingin menjaga kebersihan lingkungan. Apalagi saya juga seorang pendaki. Jadi harus bisa menjaga diri dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, panitia melakukan penyisiran untuk memastikan tanda, rambu, dan perlengkapan event tidak tertinggal di kawasan alam.
Sementara jalur Muria menjadi ruang bagi perlombaan dan berbagai aksi lingkungan, kedatangan ratusan peserta juga membawa pergerakan lain di kawasan Colo. Dampaknya terasa hingga usaha-usaha kecil yang berada di sekitar lokasi event.

Mbak Nani, penjual di Warung Pink, merasakan perubahan jumlah pembeli selama UTMM berlangsung. Warung yang pada Minggu biasa mulai sepi setelah Zuhur justru terus didatangi peserta dan pengunjung.
Tercatat lebih dari 100 orang datang memesan aneka menu makanan dan minuman, dengan es teh, es jeruk, kopi kemasan, serta hidangan mi menjadi buruan utama pembeli.
Tingginya antusiasme membuat aktivitas di warungnya baru mereda hingga dini hari, yakni sekitar pukul 02.00–02.30 WIB.
Nani menuturkan bahwa omzet yang ia kantongi selama momen UTMM 2026 melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan hari Minggu biasa.

Berkaca dari pengalaman tersebut, ia menilai kegiatan semacam ini membuka peluang nyata bagi warga lokal untuk ikut menikmati perputaran ekonomi dari kedatangan pengunjung.
Ia pun berharap event olahraga seperti ini bisa digelar secara rutin, sekitar dua hingga tiga kali dalam kurun waktu satu tahun.
Gelombang kedatangan peserta, yang sejak awal telah dimulai saat pengambilan perlengkapan di pusat oleh-oleh, kini berujung manis di warung-warung makan sekitar Colo.
Warung Pink hanyalah satu potret nyata bagaimana semarak sebuah event berhasil menggerakkan roda perekonomian warga di akar rumput.
Lebih jauh, rekam jejak perjalanan Anthony yang merambah sektor hotel, kuliner, hingga destinasi wisata melengkapi dinamika ekonomi tersebut.
Sementara itu, cerita Sina yang harus mendirikan tenda turut memperlihatkan betapa tingginya lonjakan kebutuhan akomodasi ketika ratusan orang memadati satu wilayah secara bersamaan.
Seluruh rangkaian cerita ini memberikan gambaran utuh bahwa denyut nadi sebuah event olahraga tidak pernah berhenti sekadar di garis finis.
Lebih dari itu, pergerakan para peserta berhasil merambah luas, menyentuh sektor usaha, jasa, dan layanan lokal yang menggerakkan denyut kehidupan masyarakat Kudus.

Usainya perlombaan membawa panitia pada sesi evaluasi mendalam guna menelaah berbagai karakter jalur serta dinamika di lapangan.
Koordinator UTMM 2026 Muhammad Yusrul Huda alias Yuda mengungkapkan bahwa tantangan cuaca tahun ini terasa lebih terik akibat musim kemarau, membuat lanskap Muria tampak berbeda dibanding saat musim hujan yang dipenuhi hijaunya vegetasi serta limpahan air di kawasan Montel.
Dari sudut pandang peserta, bagian lintasan yang didominasi jalan cor di kawasan perkebunan kopi menuai tanggapan beragam; sebagian menyukainya sebagai variasi medan, sementara yang lain menjadikannya catatan untuk dievaluasi.
Menatap penyelenggaraan mendatang, pihak penyelenggara mulai melirik peluang untuk memperluas variasi kelas lomba.
Wacana menghadirkan kategori di atas 50K, bahkan hingga 100K, muncul sebagai opsi menarik, mengingat bentangan Pegunungan Muria yang luas mencakup wilayah Kudus, Jepara, dan Pati.
Di sisi lain, antusiasme peserta usia dini turut membuka potensi penambahan kategori khusus anak-anak, berkaca dari keikutsertaan pelari di bawah usia 10 tahun serta remaja di bawah 17 tahun yang sukses menuntaskan jarak 30K berkat izin dan pengawasan ketat orang tua.
Seluruh masukan tersebut kini dirangkum bersama catatan cuaca, keamanan, serta kondisi jalur sebagai bahan persiapan menyambut gelaran tahun depan di kawasan alam yang sama.
Dari garis akhir di D’Tjolo Ecopark, petualangan para pelari memang telah resmi tuntas, namun gaung acara ini meninggalkan rekam jejak yang merambah ke berbagai lini.

Mulai dari kedalaman pengalaman peserta mengenal Kudus, berkah rezeki bagi para pelaku usaha lokal, hingga kembalinya 11.603 bibit pohon ke pelukan alam Muria.
Ketika para pelari akhirnya meninggalkan kawasan Colo, lembaran perlombaan boleh saja ditutup, tetapi denyut manfaat dan cerita yang mereka bawa ke Kudus akan terus hidup melampaui garis finis. (OEB/YSR/mainkekudus)