

KUDUS – Kontingen Kudus membawa pulang 59 medali dari Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung pada 1–6 September di Semarang dan sekitarnya.
Dari 17 cabang olahraga yang diikuti, atlet pelajar Kudus mengoleksi 13 emas, 14 perak, dan 32 perunggu.
Mengusung tema “Tingkatkan Tradisi Prestasi”, POPDA Jateng 2026 diikuti 9.010 atlet pelajar dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat yang bertanding pada 23 cabang olahraga. Sejumlah pertandingan berlangsung di kawasan GOR Jatidiri, Semarang.

Di balik perolehan puluhan medali tersebut, terdapat proses panjang yang melibatkan atlet, pelatih, sekolah, keluarga, serta pengurus cabang olahraga. Mulai dari penjaringan bibit atlet, latihan rutin, hingga persiapan menghadapi persaingan di tingkat provinsi.
Hasil POPDA pun menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat perkembangan pembinaan olahraga pelajar sekaligus menyiapkan atlet Kudus menuju kompetisi berikutnya.

Tenis meja menjadi penyumbang emas terbanyak bagi Kudus dengan lima medali. Atletik, bulu tangkis, dan pencak silat masing-masing meraih dua emas, sedangkan tinju dan wushu menyumbangkan satu emas.

Dari sisi jumlah medali keseluruhan, gulat mengumpulkan 12 medali dan tinju 11 medali. Cabang olahraga lainnya turut berkontribusi melalui perolehan medali perak dan perunggu.
Sebaran tersebut memperlihatkan kontribusi atlet dari berbagai cabang olahraga. Perolehan emas menjadi salah satu ukuran keberhasilan, sementara jumlah medali secara keseluruhan memberikan gambaran lebih luas mengenai hasil pertandingan kontingen.
Bagi pengurus olahraga, rincian ini dapat digunakan untuk mengevaluasi cabang yang telah menunjukkan hasil sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pembinaan menjelang kompetisi berikutnya.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan pencapaian atlet dipengaruhi sejumlah faktor, terutama persiapan, dukungan anggaran, dan kualitas sumber daya manusia.

“Faktor hasil itu ada persiapan, dukungan anggaran, dan SDM atletnya sendiri. Kalau persiapannya lebih baik, tentu harapannya hasilnya juga lebih maksimal,” ujar Anggun.
Menurutnya, persiapan kontingen perlu mendapat perhatian agar pembinaan tidak hanya diperkuat menjelang pertandingan. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan ialah pemusatan latihan sebelum POPDA.
“Kalau persiapan bisa dilakukan lebih awal, tentu akan lebih baik. Di beberapa daerah ada training center pra-POPDA, dan itu bisa menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan kalau dukungan anggarannya memungkinkan,” katanya.
Meski Kudus berhasil mengoleksi 59 medali, pencapaian tersebut belum dapat dibandingkan secara rinci dengan target awal kontingen maupun hasil tahun sebelumnya karena data pembanding resmi belum tersedia dalam bahan yang dihimpun.
Evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk mengukur perkembangan prestasi sekaligus menentukan prioritas pembinaan pada masing-masing cabang olahraga.

Perjalanan atlet pelajar menuju POPDA dimulai jauh sebelum mereka memasuki arena pertandingan.
Di Kudus, penjaringan dan seleksi dilakukan oleh masing-masing pengurus cabang olahraga (Pengkab). Disdikpora memfasilitasi proses tersebut melalui koordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan pengurus cabang terkait.
“Seleksi itu melalui masing-masing Pengkab atau cabor. Kami memfasilitasi dan berkoordinasi dengan KONI serta cabor, termasuk dalam proses penjaringan atlet di tingkat kabupaten,” jelas Anggun.
Mekanisme seleksi disesuaikan dengan ketentuan setiap cabang olahraga. Pelajar yang berminat mengembangkan kemampuan dapat bergabung dengan klub, mengikuti latihan, dan menjalani seleksi untuk memperoleh kesempatan mewakili daerah.
Penjaringan juga dilakukan melalui sekolah. Disdikpora mengadakan safari ke sejumlah sekolah, terutama jenjang SMP dan SMA, untuk memperkenalkan jalur prestasi olahraga sekaligus menemukan bibit atlet potensial.
Kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi pelajar yang memiliki kemampuan olahraga, tetapi belum tergabung dalam klub atau mengikuti pembinaan secara intensif.
Dengan demikian, sekolah menjadi salah satu titik awal untuk mengenali potensi atlet sebelum mereka diarahkan menuju lingkungan latihan yang lebih terstruktur.
Namun, proses menemukan bibit atlet baru merupakan tahap awal. Pelajar yang telah terjaring masih membutuhkan pendampingan, kesempatan bertanding, serta program latihan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya.

Kesibukan berlatih dan mengikuti pertandingan menjadi tantangan tersendiri bagi atlet yang masih berstatus pelajar. Mereka dituntut mengembangkan kemampuan olahraga tanpa meninggalkan kewajiban akademik.
Di Kudus, dukungan terhadap kebutuhan tersebut antara lain diberikan melalui program Kelas Khusus Olahraga (KKO) yang telah diterapkan di SMP 3 Kudus dan SMA 2 Bae.
Program ini menjadi salah satu fasilitas bagi pelajar yang menjalani aktivitas olahraga lebih intensif. Meski demikian, pengembangan KKO ke sekolah lain tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan kesiapan masing-masing satuan pendidikan.
Anggun menjelaskan, sejumlah aspek perlu dikaji sebelum program diperluas, mulai dari ketersediaan ruang kelas, tenaga pendidik, rombongan belajar, hingga kemampuan sekolah menambah kelas.
“Untuk KKO ini sudah ada, tetapi kalau mau diperluas tentu harus dikaji lagi. Kita lihat antusiasmenya, kemudian kesiapan sekolahnya, termasuk kelas, guru, dan rombel,” ujarnya.
Selain fasilitas pendidikan, koordinasi antara sekolah, pelatih, dan orang tua diperlukan untuk mengatur aktivitas atlet pelajar.
Jadwal latihan dan pertandingan perlu diselaraskan dengan kegiatan belajar. Orang tua berperan dalam menjaga kebutuhan sehari-hari dan kondisi anak, sementara sekolah memberikan dukungan agar keduanya dapat berjalan beriringan.
Di sisi lain, prestasi olahraga juga dapat memberikan manfaat ketika pelajar melanjutkan pendidikan.
Disdikpora menyiapkan piagam atau sertifikat bagi atlet, termasuk mereka yang mengikuti seleksi tingkat kabupaten dan POPDA. Dokumen tersebut dapat digunakan sebagai bukti pengalaman dan pencapaian olahraga.
“Anak-anak perlu diberi pemahaman bahwa prestasi olahraga bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri, untuk daerah, dan juga bisa membantu ketika mereka melanjutkan pendidikan,” kata Anggun.

Tiga kali dalam sepekan, Herjuna Risqie Saputra menyisihkan waktu untuk berlatih atletik di tengah kesibukannya sebagai siswa kelas VI SD 1 Tumpang Krasak.
Sesekali, atlet yang akrab disapa Juna itu juga berolahraga pada pagi hari sebelum berangkat sekolah. Sepulang belajar, ia beristirahat terlebih dahulu sebelum kembali menjalani latihan sore.
Rutinitas tersebut menjadi bagian dari persiapannya menghadapi POPDA Jateng 2026. Hasilnya, Juna berhasil membawa pulang medali emas pada nomor trilomba putra cabang atletik.
Trilomba mempertandingkan tiga nomor, yaitu tolak peluru, lari cepat, dan lompat jauh.
Dalam pertandingan tersebut, Juna menempati posisi pertama pada tolak peluru dan sprint, serta posisi kedua pada lompat jauh. Akumulasi hasil dari ketiga nomor mengantarkannya meraih emas.
Bagi Juna, persiapan menghadapi pertandingan tidak hanya dilakukan di arena latihan. Ia juga berusaha mengatur waktu istirahat dan menjaga kondisi tubuh agar tetap mampu mengikuti kegiatan sekolah.
“Latihan serius, tidak tidur terlalu malam, terus kesehatan dijaga dan makanan juga dikontrol,” kata Juna.
Kedisiplinan itu menjadi penting karena atlet pelajar harus membagi energi antara pendidikan dan olahraga.
Pelatih atletik Kudus, Noor Akhmad, mengakui bahwa benturan jadwal sekolah dan latihan masih menjadi tantangan dalam proses pembinaan. Kehadiran atlet juga perlu dijaga agar program yang telah disusun dapat berjalan optimal.

“Kadang kegiatan sekolah berbenturan dengan latihan, ada juga anak yang tidak hadir. Jadi kita sebagai pelatih harus terus membangkitkan motivasi dan tanggung jawab mereka,” ujar Noor.
Di Kudus, pembinaan atletik berlangsung melalui sejumlah klub, antara lain Klub Sportif Kudus, Klub Rajawali, dan Klub Ababil.
Menjelang POPDA, para atlet mendapat penguatan persiapan melalui training camp (TC) yang dijadwalkan Disdikpora. Program tersebut melengkapi latihan yang sebelumnya dijalani di masing-masing klub.
Kini, setelah meraih emas di tingkat provinsi, Juna telah menetapkan target berikutnya. Ia membidik Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) dan ingin mencatatkan hasil lebih baik.
“Targetnya nanti ingin lebih baik lagi. Kalau latihan serius, saya yakin bisa,” ujarnya.
Keinginan Juna memperlihatkan bahwa satu medali dapat menjadi titik awal untuk menetapkan target baru. Namun, untuk mencapainya, ia tetap membutuhkan program latihan, pendampingan pelatih, dan kesempatan bertanding secara berkelanjutan.

Ketua KONI Kudus, Sulistiyanto, menekankan pentingnya keberlanjutan pembinaan bagi atlet yang telah menunjukkan prestasi di POPDA.
Menurutnya, kompetisi tingkat pelajar merupakan salah satu tahap pembibitan. Atlet yang berhasil meraih medali perlu terus dikembangkan agar siap menghadapi persaingan pada jenjang berikutnya, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
“Harapannya, atlet-atlet yang sudah berprestasi ini terus dibina dan berlatih lebih keras. POPDA menjadi salah satu tahap pembibitan, sehingga mereka bisa dipersiapkan untuk mengikuti kejuaraan yang lebih tinggi, termasuk Porprov,” ujarnya.
Sulistiyanto juga menyampaikan apresiasi kepada para atlet pelajar dan Disdikpora atas persiapan serta pendampingan yang diberikan kepada kontingen Kudus.
Keberlanjutan pembinaan membutuhkan perhatian terhadap hasil evaluasi pertandingan, perkembangan kemampuan atlet, dan kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
Atlet yang telah mengikuti POPDA memerlukan kesempatan untuk menguji hasil latihan dalam kompetisi berikutnya. Sementara itu, penjaringan bibit baru harus tetap berjalan agar daerah memiliki calon atlet dari berbagai kelompok usia.
Kedua proses tersebut perlu berlangsung secara beriringan untuk menjaga regenerasi olahraga di Kudus.

Bagi pelajar yang ingin menekuni olahraga melalui jalur prestasi, langkah awal dapat dimulai dengan mengenali minat dan kemampuan pada cabang tertentu.
Setelah menentukan pilihan, mereka dapat mencari informasi mengenai klub atau Pengkab yang menaungi cabang tersebut. Lingkungan latihan menjadi tempat untuk mempelajari teknik, meningkatkan kemampuan fisik, serta membangun pengalaman sebelum mengikuti seleksi.
Kesempatan bertanding dalam kejuaraan juga diperlukan agar atlet terbiasa menghadapi persaingan dan dapat mengevaluasi hasil latihannya.
Pemilihan tempat latihan perlu disesuaikan dengan fasilitas dan program pembinaan yang tersedia. Sebab, kebutuhan setiap cabang olahraga berbeda, baik dari sisi sarana, metode latihan, maupun intensitas persiapan.
Pelajar juga perlu mempertimbangkan waktu belajar, istirahat, dan dukungan keluarga sebelum menjalani aktivitas olahraga yang lebih intensif.

Untuk mengikuti POPDA berikutnya, informasi mengenai jadwal seleksi, persyaratan, dan mekanisme pendaftaran dapat diperoleh melalui Disdikpora Kudus atau Pengkab masing-masing cabang olahraga.
Jadwal resmi seleksi berikutnya beserta kontak layanan belum tercantum dalam bahan yang tersedia sehingga perlu dikonfirmasi langsung kepada instansi terkait.

Perolehan 59 medali pada POPDA Jateng 2026 menjadi catatan hasil kerja atlet dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga pelajar di Kudus.
Namun, pekerjaan tidak berhenti ketika para atlet kembali dari arena pertandingan. Hasil kompetisi perlu ditindaklanjuti melalui evaluasi, penguatan latihan, serta penyiapan kejuaraan berikutnya agar kemampuan yang telah dibangun terus berkembang.
Di saat yang sama, penjaringan atlet baru harus terus dilakukan melalui sekolah, klub, dan pengurus cabang olahraga. Jalur tersebut memberi kesempatan kepada lebih banyak pelajar untuk mengenal olahraga prestasi sejak dini.
Aktivitas pembinaan ini menjadi bagian dari ekosistem olahraga Kudus yang lebih luas. Keberadaan klub, komunitas, fasilitas latihan, dan penyelenggaraan berbagai kompetisi membuka ruang bagi atlet untuk berkembang sekaligus mendukung geliat sports tourism di daerah.
Ketika pertandingan mempertemukan atlet dan pendamping dari berbagai wilayah, aktivitas olahraga juga berpotensi menggerakkan sektor pendukung, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga usaha masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.
Bagi Kudus, pengembangan olahraga tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan kejuaraan, tetapi juga dengan kemampuan menjaga kesinambungan pembinaan atlet dan memanfaatkan aktivitas olahraga untuk menghidupkan daerah.
Dari 59 medali yang dibawa pulang, tantangan berikutnya adalah memastikan para atlet memiliki jalan untuk terus berkembang, sementara generasi baru mendapat kesempatan memulai perjalanan mereka sendiri. (OEB/YSR/mainkekudus)