

Kudus Wani Tanding, Jadi Arena Kickboxing untuk Laki-laki dan Perempuan
KUDUS – Sabtu (25/07/2026) pagi di Gedung Olahraga (GOR) Bung Karno Kudus dimulai dengan bunyi lonceng pertandingan yang memecah riuh penonton. Sorak-sorai bergantian terdengar setiap kali pukulan bersarang atau tendangan berhasil mengenai sasaran. Di sisi lain arena, para petarung sibuk melakukan pemanasan, melompat kecil, mengatur napas, dan mengencangkan pelindung tubuh sebelum dipanggil menuju ring. Tidak ada yang benar-benar tampak santai. Bahkan mereka yang terlihat tenang menyimpan ketegangan di balik tatapan.
Atmosfer itulah yang menyelimuti Kudus Wani Tanding (KWT), ajang yang digelar King Boxing Indonesia (KBI) Kabupaten Kudus. Bagi sebagian peserta, pertandingan ini memang menjadi kesempatan mengejar kemenangan. Namun bagi banyak petarung lainnya, terutama mereka yang baru pertama kali naik ring, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Ada keberanian yang sedang diuji, rasa takut yang harus ditaklukkan, dan kepercayaan diri yang dibangun sedikit demi sedikit.

Di balik setiap pertandingan, tersimpan kisah tentang proses panjang yang tidak terlihat penonton. Ring bukan sekadar tempat mengadu pukulan dan tendangan, melainkan ruang tempat seseorang belajar menerima tekanan, mengendalikan emosi, sekaligus memahami bahwa keberanian lahir dari latihan yang dilakukan berulang kali.
Belajar Berani dari Ring Pertandingan
Dari sekian atlet yang berpartisipasi di ajang Kudus Wani Tanding adalah Rara Setyawati Rahayu. Perempuan berusia 22 tahun asal Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu tidak datang dari latar belakang atlet profesional. Hari-harinya justru lebih banyak dihabiskan bekerja sebagai buruh rokok di PT Djarum.

Selepas bekerja, Rara menyisihkan waktunya untuk berlatih. Rutinitas itu dijalani dua kali dalam sepekan dengan menu latihan yang tidak ringan. Jogging mengelilingi GOR, mengulang teknik pukulan seperti jab, straight, uppercut, hingga menjalani sesi sparring menjadi bagian dari proses yang terus ia jalani.
Kecintaannya terhadap olahraga bela diri sebenarnya telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketika SMP, ia menekuni pencak silat melalui perguruan Pagar Nusa. Setelah sempat vakum karena kesibukan sekolah, ia kembali menemukan semangat berlatih setelah memasuki dunia kerja. Tahun ini menjadi awal perjalanannya mengenal kickboxing.
Keputusan itu sempat membuat keluarganya terkejut. Orang tuanya khawatir melihat putrinya memilih olahraga yang identik dengan benturan fisik. Namun Rara memiliki alasan sederhana. Baginya, bela diri bukan semata soal bertanding, melainkan kemampuan untuk menjaga diri ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan.
Latihan yang paling menguras tenaga justru bukan saat memukul ataupun menendang, melainkan ketika berlari. Setiap sesi latihan memiliki target yang harus dipenuhi sehingga ia harus mampu menjaga ritme hingga putaran terakhir. Rasa lelah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut.
Semua itu dijalani di sela-sela kesibukan bekerja. Tidak ada jalan pintas menuju ring. Setiap pertandingan adalah akumulasi dari waktu yang dikorbankan, tenaga yang dikeluarkan, dan kedisiplinan yang terus dijaga.
Kalah Menjadi Bagian dari Latihan

Naik ke atas ring berarti siap menerima dua kemungkinan sekaligus: menang atau kalah. Rara memahami hal itu sejak awal.
Ia mengaku pernah beberapa kali mengalami kekalahan dalam pertandingan. Namun baginya, hasil tersebut tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berlatih. Setiap kekalahan justru menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki teknik maupun mental saat menghadapi pertandingan berikutnya.
Cara pandang seperti itu membuatnya tidak gentar menghadapi lawan yang berasal dari sasana dengan pengalaman lebih banyak. Ia memilih menjadikan setiap pertandingan sebagai kesempatan belajar. Semakin kuat lawan yang dihadapi, semakin banyak pula pengalaman yang dapat dibawa pulang.

Prinsip tersebut perlahan membentuk kepercayaan dirinya. Bagi Rara, keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan tetap berani melangkah meskipun rasa gugup selalu hadir sebelum pertandingan dimulai.
Ia berharap semakin banyak perempuan berani mencoba olahraga bela diri. Selain meningkatkan kebugaran, latihan juga memberi bekal untuk melindungi diri ketika menghadapi situasi yang tidak diharapkan.
Mental Didahulukan, Teknik Menyusul
Di balik perkembangan Rara, ada proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap. Mas’ud, pelatih dari Akademi Silat Kudus (ASK), melihat bahwa tantangan terbesar dalam melatih atlet pemula bukanlah mengajarkan pukulan atau tendangan, melainkan membangun keberanian.

Menurutnya, banyak peserta baru datang dengan rasa takut untuk menerima pukulan maupun menghadapi lawan di atas ring. Selama mental tersebut belum terbentuk, teknik yang baik pun sulit berkembang.
Karena itu, pendekatan latihan selalu dimulai dari penguatan psikologis. Atlet diajak beradaptasi melalui sesi sparring bersama petarung yang lebih berpengalaman. Tujuannya bukan mencari pemenang, melainkan membiasakan mereka menghadapi tekanan pertandingan.
Setelah rasa takut mulai berkurang, latihan berlanjut pada penguasaan teknik dasar. Pukulan, tendangan, gerakan menghindar, hingga peningkatan kondisi fisik diberikan secara bertahap agar kemampuan atlet berkembang seiring bertambahnya pengalaman.

Mas’ud menilai ajang seperti Kudus Wani Tanding memiliki fungsi penting dalam proses pembinaan tersebut. Kompetisi menjadi ruang untuk mengukur hasil latihan sekaligus memberi pengalaman bertanding kepada atlet yang baru memulai perjalanan mereka. Dari sana, pelatih dapat melihat perkembangan teknik, kesiapan mental, hingga potensi atlet untuk dibina ke level yang lebih tinggi.
Dukungan yang Tidak Pernah Terlihat di Dalam Ring
Ketika pertandingan berlangsung, perhatian penonton lebih banyak tertuju pada dua petarung yang saling berhadapan. Padahal, ada orang-orang yang sama tegangnya di luar ring.
Di tribun GOR Bung Karno, Cempluk tidak henti mengikuti jalannya pertandingan dengan tatapan cemas. Sesekali tangannya mengepal, lalu menarik napas panjang ketika melihat atlet yang didukungnya menerima serangan lawan.
Bagi Cempluk, menyaksikan perempuan bertanding di arena bela diri selalu menghadirkan rasa khawatir. Namun kekhawatiran itu tidak pernah mengalahkan keyakinannya bahwa kemampuan bela diri merupakan bekal penting bagi perempuan.

Ia melihat situasi sosial saat ini menuntut perempuan memiliki kemampuan menjaga diri ketika menghadapi berbagai ancaman di ruang publik. Karena itu, ia terus memberikan dukungan kepada Rara sekaligus mengingatkan pentingnya menggunakan perlengkapan pelindung dan mengutamakan keselamatan selama bertanding.
Dukungan yang diberikan tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Semangat, perhatian, dan rasa percaya menjadi bagian penting yang membantu atlet bangkit setelah mengalami kekalahan maupun kembali mempersiapkan diri menuju pertandingan berikutnya.
Bagi Cempluk, olahraga bela diri juga membuka peluang masa depan yang lebih luas. Ia berharap generasi muda yang serius menekuni bidang ini dapat melanjutkan karier sebagai atlet, pelatih, guru olahraga, ataupun menembus level kompetisi yang lebih tinggi.
Menyiapkan Generasi Petarung Berikutnya
Di balik penyelenggaraan Kudus Wani Tanding, terdapat tujuan yang melampaui satu hari pertandingan. Pengurus KBI Kabupaten Kudus, Bowo Dwi Sulaksono atau Benjo, menjelaskan bahwa ajang ini dirancang sebagai bagian dari proses pembinaan atlet menuju kompetisi yang lebih tinggi.

Kompetisi dibuka bagi berbagai kategori, mulai pemula hingga amatir profesional. Dengan sistem tersebut, peserta memperoleh kesempatan merasakan atmosfer pertandingan sekaligus mengukur kemampuan sebelum melangkah ke kejuaraan tingkat berikutnya.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya partai yang dipertandingkan sepanjang hari. Sebanyak 70 partai mempertemukan 140 petarung yang berasal dari berbagai sasana. Dari jumlah tersebut, 17 petarung merupakan perempuan yang tampil pada kategori Influencer Class, Amatir Profesional, dan Kickboxing Putri.
Bagi KBI Kabupaten Kudus, pembinaan tidak berhenti setelah pertandingan usai. Latihan rutin terus dilakukan sebagai bagian dari proses regenerasi atlet. Targetnya adalah mempersiapkan petarung yang mampu bersaing pada ajang seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), Pra-PON, hingga Pekan Olahraga Nasional (PON).
Keberadaan kompetisi seperti Kudus Wani Tanding juga memperluas ruang bagi masyarakat untuk mengenal olahraga bela diri dari sisi yang berbeda. Arena pertandingan memperlihatkan bahwa disiplin, sportivitas, dan pengendalian diri menjadi nilai yang terus ditanamkan selama proses latihan, bukan sekadar kemampuan menyerang lawan.
Konsistensi Bagian dari Proses Mengalahkan Diri Sendiri
Setiap petarung yang turun dari atas ring membawa cerita yang berbeda. Ada yang pulang dengan medali, ada pula yang harus menerima kekalahan. Namun semuanya meninggalkan arena dengan pengalaman yang tidak bisa diperoleh dari sesi latihan biasa.
Perjalanan Rara Setyawati Rahayu menjadi salah satu gambaran bagaimana keberanian dibentuk melalui proses yang panjang. Dari seorang pekerja pabrik yang menyempatkan diri berlatih selepas bekerja, ia belajar bahwa keberanian tidak hadir dalam satu malam. Keberanian tumbuh dari latihan yang konsisten, dari keberanian menerima kekalahan, dan dari kemauan untuk kembali berdiri menghadapi tantangan berikutnya.
Melalui pembinaan pelatih, dukungan keluarga, serta ruang kompetisi yang disediakan Kudus Wani Tanding, olahraga bela diri di Kudus tidak hanya melahirkan petarung yang siap bertanding. Lebih dari itu, ia menjadi tempat lahirnya karakter yang tangguh, disiplin, dan mampu bangkit setiap kali menghadapi ujian. Di atas ring, mereka memang bertanding melawan lawan. Namun di balik semua itu, pertarungan terbesar sesungguhnya adalah mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri. (JMY/mainkekudus)