

Kudus – Tepuk tangan dan teriakan penonton pecah setiap kali Timnas Indonesia mendekati kotak penalti Singapura. Sebagian penonton berdiri, sementara lainnya ikut meneriakkan dukungan. Malam itu, lapangan yang sehari-hari digunakan untuk bermain tenis berubah menjadi tempat nonton bareng warga Kudus.
Jumat malam, 25 September 2026, Timnas Indonesia menghadapi Singapura pada laga Grup A Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Ratusan kilometer dari arena pertandingan, warga Kudus mengikuti laga pembuka Indonesia itu dari layar TV di Lapangan Tenis Indoor Angga Sasana Krida di sisi barat Pendopo Kabupaten Kudus.
Mereka datang bersama keluarga, pasangan, teman, maupun sendiri. Ketika Indonesia mencetak gol, sorakan serentak memenuhi ruangan dan menghidupkan suasana lapangan tenis sepanjang pertandingan.
Nonton bareng pertandingan Timnas bukan kali pertama difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kudus. Sebelumnya, kegiatan serupa pernah digelar di Alun-Alun Simpang Tujuh dan Pendopo Kabupaten Kudus. Lokasinya dapat berganti, tetapi semangat yang diakomodasi tetap sama: memberi ruang bagi warga untuk menikmati momentum olahraga bersama.
Untuk laga Indonesia melawan Singapura kali ini, nobar semula juga dijadwalkan di Pendopo Kabupaten Kudus. Namun, lokasi tersebut sedang dipersiapkan untuk agenda lain. Penyelenggara kemudian memindahkan kegiatan ke Lapangan Tenis Indoor Angga Sasana Krida agar nobar tetap dapat berlangsung.

Pemindahan lokasi dilakukan karena Pendopo Kabupaten Kudus tengah dipersiapkan untuk agenda rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kudus, Satria Agus Himawan, yang malam itu bertindak sebagai panitia penyelenggara, mengatakan lapangan tenis dipilih sebagai alternatif karena memiliki area yang cukup luas untuk menampung warga.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kudus, Abdjad Atfiyah Noor, menjelaskan Lapangan Tenis Indoor Angga Sasana Krida telah ada sejak sekitar 1989 dan dikelola Bagian Umum Setda Kabupaten Kudus.

Fungsi utamanya adalah sebagai fasilitas olahraga bagi pegawai di lingkungan pemerintah daerah dan Forkopimda. Lapangan tersebut juga dapat digunakan untuk pertandingan skala kabupaten maupun kegiatan pemerintah yang bersifat situasional.
“Ini hanya agenda darurat karena pendopo digunakan untuk acara lain,” kata Abdjad.
Karena itu, penggunaan Angga Sasana Krida sebagai tempat nobar tidak mengubah fungsi utama lapangan. Venue tersebut menjadi solusi ketika lokasi yang semula direncanakan tidak dapat digunakan.
Di sisi lain, pemindahan venue menunjukkan bagaimana antusiasme warga terhadap olahraga tetap mendapat ruang. Alih-alih membatalkan kegiatan ketika Pendopo tidak tersedia, Pemkab Kudus menggunakan fasilitas lain agar warga tetap dapat berkumpul dan mendukung Timnas.
Pilihan itu sekaligus menghadirkan pengalaman berbeda. Bagi sebagian penonton, nobar Indonesia melawan Singapura menjadi kesempatan pertama mereka memasuki Lapangan Tenis Indoor Angga Sasana Krida.

Muhammad Rifki Abdurrahman, warga Dawe, mengaku belum pernah datang ke Lapangan Tenis Angga Sasana Krida sebelumnya. Ia mengetahui informasi nobar melalui media sosial, lalu memilih datang untuk menyaksikan pertandingan bersama warga lain.
Kesan pertamanya singkat.
“Seru, asyik, ramai juga,” ujarnya.
Suasana semakin hidup ketika Indonesia mencetak gol. Ragnar Oratmangoen membuka keunggulan pada menit ke-13. Ole Romeny kemudian menggandakan skor melalui penalti pada menit ke-74. Indonesia menutup laga dengan kemenangan 2-0.
Bagi Rifki, nobar juga memberi kesempatan kepada para pendukung Timnas untuk bertemu dan memberikan dukungan bersama-sama.

Bukan hanya gol yang memancing reaksi penonton. Setiap peluang, pelanggaran, hingga serangan ke kotak penalti membuat respons muncul hampir bersamaan dari orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak saling mengenal.
Pertandingan menjadi titik temu. Warga yang datang bersama keluarga, pasangan, teman, maupun sendiri duduk dalam satu ruang dan memberikan dukungan kepada tim yang sama.

Haris Irwanto datang dari Kaliwungu bersama istri dan anaknya. Ia mengetahui informasi nobar melalui media sosial dan sengaja datang bersama keluarga untuk menyaksikan pertandingan.
Menurutnya, suasana di lapangan tenis ramai sekaligus menyenangkan.
“Seru,” katanya.
Haris menilai kegiatan serupa layak kembali digelar. Jika Angga Sasana Krida kembali digunakan, ia mengaku mungkin akan datang lagi karena suasananya relatif tenang dan nyaman untuk menonton bersama keluarga.

Malam itu, fungsi lapangan tenis pun meluas untuk sementara. Tempat yang biasanya menjadi ruang olahraga dan kegiatan pemerintahan menjadi titik pertemuan warga karena sepak bola.
Keramaian tersebut tidak hanya terasa di dalam lapangan. Berkumpulnya warga dalam waktu yang sama turut memunculkan aktivitas lain di sekitar lokasi.

Di sela pertandingan, pedagang memanfaatkan keramaian untuk menawarkan dagangan kepada penonton. Salah satunya Ahmad Teguh Riyanto yang datang membawa es teh dan es jeruk.
Ia merasakan perbedaan penjualan dibandingkan hari biasa ketika tidak ada kegiatan di kawasan tersebut. Pembelian datang spontan dari penonton yang sedang mengikuti pertandingan.
“Harapannya ada lagi yang bisa ramai,” katanya.

Kehadiran pedagang belum menjadi bagian utama dari konsep penyelenggaraan nobar. Mereka datang atas inisiatif sendiri, tetapi tetap difasilitasi selama berjualan secara tertib.
Untuk kegiatan berikutnya, panitia membuka kemungkinan melibatkan UMKM Kudus secara lebih terarah. Dengan demikian, keramaian yang terbentuk dari kegiatan olahraga dapat memberi ruang lebih besar bagi aktivitas ekonomi warga.
Malam itu skalanya memang masih sederhana. Namun, pergerakannya terlihat: warga datang untuk olahraga, lalu kebutuhan lain ikut muncul di sekitarnya. Makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling langsung dirasakan.
Pola tersebut juga terlihat dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga yang lebih besar. Ketika atlet, official, penonton, dan masyarakat bergerak menuju sebuah kegiatan, aktivitas di luar arena ikut tumbuh. Dari kuliner, transportasi, akomodasi hingga UMKM, olahraga dapat membawa pergerakan ke sektor lain.

Meski mampu menampung warga untuk nobar, Angga Sasana Krida pada dasarnya bukan ruang publik serbaguna.
Abdjad mengatakan lapangan tersebut diperuntukkan sebagai fasilitas olahraga di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kudus dan tidak disewakan secara bebas kepada masyarakat. Hingga kini, belum ada rencana menjadikannya fasilitas umum dengan fungsi baru.
Untuk nobar, panitia menyiapkan layar, jaringan internet, dan sound system. Akses penonton diarahkan melalui sisi barat Pendopo, melewati jalan di antara Pendopo dan Gedung B menuju lapangan tenis. Area parkir berada di sekitar Pos Satpol PP di sebelah barat.
Dari sisi kenyamanan, karakter bangunan yang semi tertutup membuat udara di dalam lapangan cukup gerah ketika dipenuhi penonton.


Satria turut merasakan kondisi tersebut selama nobar. Karena itu, Pendopo tetap dinilai sebagai lokasi yang lebih ideal apabila tidak sedang digunakan untuk agenda lain.
Pendopo telah memiliki videotron besar dan jaringan televisi sehingga penyelenggara tidak perlu membawa perangkat layar sendiri. Dari sisi teknis, fasilitas tersebut membuat persiapan nobar lebih sederhana.
Angga Sasana Krida akhirnya menjalankan fungsi alternatif karena kebutuhan saat itu. Lapangan cukup luas untuk menampung penonton, tetapi fungsi utamanya tetap sebagai fasilitas olahraga dan kegiatan pemerintah.
Pengalaman malam itu menunjukkan bahwa keterbatasan venue tidak selalu menghentikan sebuah kegiatan. Ketika satu ruang tidak tersedia, fasilitas lain dapat digunakan secara situasional untuk menjaga aktivitas warga tetap berjalan.

Nobar Indonesia melawan Singapura menjadi salah satu cara Pemkab Kudus mengakomodasi antusiasme warga terhadap olahraga. Ketika Pendopo tidak dapat digunakan, kegiatan tetap berlangsung dengan memanfaatkan Lapangan Tenis Indoor Angga Sasana Krida sebagai lokasi alternatif.
Bagi Pemkab Kudus, menyediakan ruang bagi aktivitas semacam ini menjadi bagian dari upaya menjaga kultur olahraga tetap hidup di tengah masyarakat. Tidak hanya melalui penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga dengan memberi kesempatan kepada warga untuk terlibat dalam momentum olahraga.

Kultur tersebut menjadi salah satu unsur yang mendukung perkembangan sports tourism di Kudus. Ketika sebuah kota memiliki aktivitas olahraga yang hidup dan masyarakat yang terlibat, penyelenggaraan event berskala lebih besar memiliki ekosistem pendukung yang lebih kuat.
Dampaknya dapat bergerak ke luar arena. Keramaian nobar malam itu, misalnya, ikut membuka peluang bagi pedagang yang datang menawarkan makanan dan minuman. Dalam skala event yang mendatangkan atlet, official, dan penonton dari luar daerah, pergerakan serupa dapat menjangkau akomodasi, transportasi, kuliner, hingga UMKM.
Pemkab Kudus masih melihat Pendopo sebagai lokasi yang lebih ideal untuk nobar berikutnya apabila tidak berbenturan dengan agenda lain. Satria juga membuka kemungkinan kegiatan serupa kembali digelar dengan mempertimbangkan lokasi dan agenda yang berlangsung.

Setelah Indonesia menutup pertandingan dengan kemenangan 2-0, penonton perlahan meninggalkan Angga Sasana Krida. Lapangan kembali pada fungsi sehari-harinya sebagai fasilitas olahraga. Namun, selama beberapa jam malam itu, satu fasilitas olahraga telah menjadi ruang bagi warga untuk menikmati pertandingan bersama, sementara keramaian yang tercipta ikut menggerakkan aktivitas di sekitarnya. (HNR/mainkekudus)