

KUDUS – Menikmati secangkir kopi di lereng Gunung Muria bisa menjadi alasan untuk memperlambat aktivitas sejenak. Di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kedai Watu Obonk Coffee & View menawarkan pengalaman ngopi dengan latar pemandangan perbukitan, matahari terbenam, hingga kerlip lampu permukiman pada malam hari.
Kedai yang berdiri sejak 2019 ini memanfaatkan bangunan rumah keluarga yang sudah tidak terpakai. Lokasinya yang berada di ketinggian menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pegunungan sambil mencicipi kopi lokal.
Di antara sejumlah menu yang tersedia, Kopi Japan khas Muria menjadi sajian yang banyak direkomendasikan pengelola. Biji kopi yang berasal dari kebun sendiri diolah secara mandiri, mulai dari pemilihan buah hingga proses sangrai, sebelum disajikan kepada pengunjung.

Pemilik Watu Obonk Coffee & View, Zainul Mukminin, mengatakan usaha tersebut bermula dari keinginan memanfaatkan rumah milik keluarga yang sudah lama tidak digunakan. Bangunan itu kemudian ditata menjadi kedai dengan mengandalkan pemandangan alam di sekitarnya.
Menurut Zainul, sejak awal lokasi tersebut dinilai memiliki potensi sebagai tempat bersantai bagi anak muda maupun keluarga. Penataan dilakukan secara bertahap hingga kedai mulai mendapat respons dari pengunjung.

“Kami berdiri mulai tahun 2019. Awalnya ini adalah rumah bekas milik keluarga, lalu kami tata sedemikian rupa untuk dijadikan kafe. Sejak awal saya melihat pemandangan di lokasi ini sangat bagus, jadi saya coba tata apakah hasilnya cocok untuk tempat bersantai anak muda maupun keluarga, dan ternyata direspons sangat baik,” ujar Zainul Mukminin.
Watu Obonk mengandalkan suasana sore hingga malam sebagai bagian dari pengalaman berkunjung. Dari lokasi kedai, pengunjung dapat menikmati bentang alam di sekitar lereng Muria. Ketika hari mulai gelap, lampu permukiman dari wilayah Kudus dan Pati terlihat dari kejauhan.
“Lokasi ini lebih mengandalkan pemandangan sore menjelang malam. Ngopi di sore hari dengan pemandangan lanskap alam tentu sangat nyaman. Terutama saat malam hari, pengunjung bisa menikmati city lights atau pendaran lampu permukiman dari wilayah Kudus maupun Pati,” kata Zainul.
Untuk mencapai kedai, pengunjung perlu melewati jalur menanjak khas kawasan pegunungan. Pengelola menyarankan pengunjung memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik sebelum berangkat. Sepeda motor menjadi pilihan yang lebih sesuai dengan kondisi akses menuju lokasi.
Di balik pemandangan alamnya, Watu Obonk juga mengembangkan sajian kopi yang berasal dari kawasan Muria. Pengelola menggunakan hasil panen kebun kopi sendiri sebagai bahan baku, dengan proses pemilihan buah dan biji sebelum diolah.
Zainul menjelaskan, pengelola menerapkan standar petik merah untuk bahan baku kopi. Buah kopi yang dipanen kemudian melalui proses penyaringan dan pemilihan biji sebelum diolah menjadi kopi bubuk.

“Untuk pasokan kopi, kami mengambil langsung dari kebun sendiri. Kami menerapkan standar petik merah seratus persen, kemudian disaring dan dipilih biji yang berukuran besar saja sebelum diolah menjadi kopi bubuk. Kopi favorit di sini adalah Kopi Japan khas Muria yang sangat disukai, baik oleh pengunjung usia muda maupun tua,” jelasnya.
Bagi pengelola, penggunaan hasil kebun sendiri menjadi bagian dari proses penyajian kopi yang ditawarkan kepada pelanggan. Biji kopi disangrai secara mandiri, kemudian digiling dan diseduh sesuai pesanan.
Barista Watu Obonk, Muhammad Ahfid Nurona, mengatakan menu minuman di kedai tersebut mencakup kopi hitam, seduh manual, serta racikan kopi susu dengan sejumlah varian rasa.

“Menu di sini cukup beragam, mulai dari kopi hitam hingga racikan kopi susu seperti suren, vanila, dan karamel. Namun, yang paling kami rekomendasikan adalah Kopi Japan. Biji kopi yang sudah di-roasting sendiri diolah dari hasil petani lokal. Prosesnya sederhana, biji kopi yang di-roasting digiling lembut, lalu diseduh langsung. Jika suka manis, bisa ditambah gula. Sangat spesial untuk penikmat kopi murni,” ungkap Ahfid.
Kopi Japan juga menjadi salah satu menu yang menarik perhatian pengunjung yang menyukai kopi tanpa campuran susu. Karakter rasanya dapat dinikmati bersama suasana sejuk di kawasan pegunungan.
Selain minuman, kedai menyediakan sejumlah makanan pendamping, seperti mendoan, tahu walik, dan getuk goreng khas Watu Obonk. Ada pula pecel pakis yang memanfaatkan tanaman pakis yang tumbuh di kawasan lereng Muria.

Pilihan tersebut memberi alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati camilan maupun menyantap makanan berat sambil menghabiskan waktu di kedai.

Panorama alam menjadi alasan Faruq Mahrus, pengunjung asal Kudus, beberapa kali datang ke Watu Obonk. Menurut dia, perjalanan menuju kedai memang membutuhkan perhatian karena kondisi jalan yang menanjak. Namun, pemandangan yang dijumpai setelah tiba di lokasi menjadi bagian yang ia nikmati.

“Perjalanan ke sini memang butuh perjuangan, tetapi pemandangan sore harinya sangat bagus. Kita bisa melihat matahari terbenam di sisi barat Gunung Muria, sekaligus melihat pemandangan dua waduk sekaligus, yaitu Waduk Logung dan Waduk Gembong. Tempat ini sangat cocok untuk menepi dari hiruk-pikuk dan kebisingan kota karena suasananya tenang, udaranya segar, dan kopinya terasa nendang di lidah,” kata Faruq.
Pengalaman tersebut membuat Faruq menjadikan Watu Obonk sebagai salah satu tempat untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ia biasanya berkunjung satu hingga dua kali dalam sebulan, sekaligus melanjutkan perjalanan ziarah ke kawasan Rejenu.
Faruq juga menilai Kopi Japan memiliki karakter rasa yang berbeda dari sejumlah kopi lain yang pernah dicicipinya.
“Tekstur rasanya khas, ada aroma fruity, tetapi rasa pahit robustanya tetap dominan dan mantap. Harganya juga sangat ramah di kantong mahasiswa maupun anak muda. Biasanya saya ke sini sebulan satu sampai dua kali bersama teman-teman, sekalian melanjutkan perjalanan ziarah ke Rejenu,” tuturnya.
Bagi Eko, pengunjung lain yang juga kerap datang ke Desa Japan, udara pegunungan menjadi salah satu alasan untuk singgah pada sore hari. Ia biasanya memesan Kopi Japan murni dan sesekali membeli bubuk kopi untuk dibawa pulang.

“Suasana di sini jelas beda dengan di rumah, udaranya jauh lebih segar. Kalau ke sini saya pasti memesan Kopi Japan murni. Bahkan saya sering membeli bubuk kopi kemasannya untuk dibawa pulang ke rumah karena rasanya memang khas,” ujar Eko.
Pengalaman Faruq dan Eko memperlihatkan dua cara menikmati Watu Obonk. Sebagian pengunjung datang untuk menghabiskan waktu sambil memandang lanskap Muria, sementara yang lain juga membawa pulang kopi yang disajikan di kedai.

Kedai Watu Obonk Coffee & View berlokasi di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kedai ini beroperasi setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB.
Pengunjung yang ingin menyaksikan perubahan suasana dari sore menuju malam dapat mempertimbangkan waktu kedatangan sekitar pukul 16.30–19.00 WIB. Pada rentang tersebut, pengunjung berkesempatan menikmati pemandangan sore sebelum lampu permukiman mulai terlihat ketika hari gelap.
Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir sepeda motor, musala, toilet, serta tempat duduk dengan konsep outdoor. Mengingat jalur menuju lokasi memiliki tanjakan cukup terjal, pengunjung disarankan memastikan kondisi kendaraan dan berkendara dengan hati-hati.

Dari sisi harga, Kopi Japan khas Muria ditawarkan Rp6.000 per porsi. Pilihan kopi hitam dan seduh manual berada pada kisaran Rp10.000–Rp12.000, sedangkan racikan kopi susu dan coffee latte berkisar Rp8.000–Rp16.000.
Untuk makanan, camilan seperti mendoan, tahu walik, dan getuk goreng dibanderol Rp10.000. Menu mix platter sosis ditawarkan Rp15.000.

Adapun makanan berat, termasuk nasi ayam geprek, nasi telur sambal matah, dan pecel pakis, berada pada kisaran Rp12.000–Rp18.000.

Pengunjung yang ingin membawa pulang kopi juga dapat membeli bubuk kopi hasil olahan kedai. Informasi harga kemasan perlu dikonfirmasi kembali kepada pengelola sebelum dijadikan acuan kunjungan. Pembayaran di kedai dapat dilakukan secara tunai maupun menggunakan QRIS.
Bagi Watu Obonk, kopi menjadi bagian penting dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Dari kebun di kawasan Muria, biji kopi diolah dan disajikan dalam bentuk minuman yang dapat dinikmati langsung di kedai maupun dibawa pulang.

Di Desa Japan, secangkir Kopi Japan pun memiliki tempat tersendiri dalam aktivitas pengunjung. Ada yang menikmatinya sambil menunggu matahari terbenam, ada pula yang datang kembali untuk merasakan kopi yang sama di tengah udara sejuk lereng Muria. (JMY/mainkekudus)