

KUDUS – Pagi di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, biasanya dimulai dari warung-warung lentog yang sudah mengepul. Lontong, sayur nangka muda, dan tahu tersaji sejak dini hari, menghidupkan kampung yang namanya lekat dengan salah satu kuliner khas Kudus tersebut.
Pada Jumat (25/9/2026) pagi, aktivitas warga juga terlihat di sebuah lahan di tengah persawahan. Lokasi itu merupakan tempat Klenteng Hok Tik Bio pernah berdiri sebelum dipindahkan ke tepi jalan utama Tanjungkarang.
Sebuah meja altar ditempatkan tak jauh dari bekas pondasi atau umpak klenteng. Goei Tjwan Gie berdiri di hadapannya memimpin doa, sementara warga mengikuti prosesi dengan berdiri maupun duduk di sekitarnya.
Hari itu, perayaan Tiong Ciu Pia atau Kue Bulan digelar. Air berkat dibagikan, kue bulan diberikan kepada masyarakat, sementara Lentog Tanjung ikut tersaji. Warga yang datang tidak seluruhnya memiliki keyakinan yang sama. Sebagian mengikuti rangkaian perayaan, sebagian lainnya datang untuk mengenal tradisi yang belum pernah mereka saksikan secara langsung.

Bekas pondasi yang berada di dekat altar menjadi jejak keberadaan Klenteng Hok Tik Bio di lokasi tersebut. Batu-batu yang masih tersisa menandai tempat umat pernah menjalankan ibadah sebelum klenteng berpindah ke lokasi sekarang.


Kehadiran warga dengan latar agama berbeda dalam perayaan itu bukan pemandangan yang asing di Tanjungkarang. Kebiasaan serupa juga berlangsung dalam berbagai kegiatan desa.
Kepala Desa Tanjungkarang, Sumarno, mengatakan warga terbiasa saling terlibat dalam kegiatan yang digelar di lingkungan mereka.
“Selama ini hidup berdampingan, saling damai, saling menghormati, saling mendukung. Tidak ada gangguan, tidak ada masalah,” ungkap Sumarno.

Dalam kegiatan desa, warga dari berbagai latar agama dapat terlibat sebagai pengurus maupun panitia. Dukungan serupa diberikan ketika salah satu kelompok menggelar kegiatan keagamaan.
“Setiap ada kegiatan desa, lintas agama kami jadikan sebagai pengurus atau panitia. Kalau misalkan ada kegiatan keagamaan juga saling membantu, saling mendukung,” jelasnya.
Suparno Bodhicakra, perwakilan umat Buddha yang hadir dalam doa lintas agama, melihat kehadiran sebagai salah satu cara sederhana untuk menghormati tradisi kelompok lain tanpa mengubah keyakinan masing-masing.

“Bahkan datang, duduk, tenang gitu aja sudah bagus. Itu dalam hatinya kan sudah ikut berdoa,” ujarnya.
Bagi Suparno, kesempatan untuk hadir juga membuat warga mengenal langsung tradisi yang selama ini mungkin hanya mereka dengar. Tidak harus menjalankan ritual yang sama. Datang, menyaksikan, dan menghormati tata cara yang berlaku menjadi bagian dari hubungan antarwarga di Tanjungkarang.
Jejak Klenteng Hok Tik Bio di Tanjungkarang berkaitan dengan perjalanan masyarakat Tionghoa yang menetap di wilayah tersebut. Riwayatnya ditarik hingga masa setelah Geger Pacinan di Batavia pada 1740.
Pada masa Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, terjadi pembantaian terhadap etnis Tionghoa di Batavia. Sebagian warga kemudian meninggalkan Batavia menggunakan perahu dan menyusuri jalur air hingga tiba di wilayah yang kini menjadi Desa Tanjungkarang.
Rombongan tersebut kemudian menetap di Dusun Bogo. Mereka membawa arca Hok Tek Cing Sien dan membangun tempat sembahyang sederhana berupa gubuk atau surau dari kayu di dekat aliran sungai. Bangunan tersebut menjadi cikal bakal Klenteng Hok Tik Bio.
Klenteng diperkirakan berdiri pada 1741. Tidak terdapat prasasti atau dokumen resmi yang mencantumkan tanggal pendiriannya secara pasti. Tahun tersebut lebih banyak dikaitkan dengan tradisi lisan serta riwayat kedatangan masyarakat Tionghoa setelah Geger Pacinan.

Tanjungkarang pada masa lalu juga disebut sebagai wilayah perairan atau pelabuhan dengan batu karang di tepi Selat Muria. Perubahan alam kemudian membuat kawasan tersebut menjadi daratan. Nama Tanjungkarang dikaitkan dengan kondisi geografis itu.
Perubahan berikutnya terjadi ketika jalan darat yang menghubungkan Kudus dan Purwodadi mulai dibuka pada 1782. Jalur baru membuat kawasan tepi jalan lebih strategis, terutama bagi masyarakat Tionghoa yang banyak bekerja sebagai pedagang.
Klenteng kemudian dipindahkan dari Dusun Bogo ke tepi jalan utama. Bangunannya disebut dipindahkan secara utuh dengan cara digotong bersama-sama.

Kini, Klenteng Hok Tik Bio berada di Jalan Tanjung Karang Nomor 104, Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati. Lokasi lama di Dusun Bogo tidak lagi memiliki bangunan klenteng, tetapi pondasinya masih menjadi penanda perjalanan tempat ibadah tersebut.

Pada perayaan Tiong Ciu Pia, Kong Co Hok Tek Cing Sin dihormati sebagai Dewa Bumi. Umat memanjatkan doa untuk rezeki, kesehatan, dan kemakmuran.
Goei Tjwan Gie, pemimpin doa ritual perayaan Kue Bulan, menjelaskan Tiong Ciu Pia diperingati setiap tanggal 15 bulan kedelapan dalam penanggalan Imlek. Perayaan tersebut bertepatan dengan sejit atau hari jadi Hok Tek Cing Sin serta Yue Lao Ren yang dikenal sebagai Dewa Perjodohan.
“Ini peringatan Kue Bulan, sekaligus peringatan Hari Perjodohan menurut orang Khonghucu, terutama Tionghoa,” kata Goei.

Prosesi telah dimulai sejak malam sebelumnya. Keesokan paginya, doa pembukaan berlangsung pukul 09.00 WIB, waktu yang menurut Goei telah digunakan sejak kegiatan tersebut pertama kali digelar.
“Jam 9 dilaksanakan, jalan. Langsung. Itu sejak pertama kali kita adakan acara ini,” tuturnya.
Usai prosesi, air berkat dibagikan kepada masyarakat. Bagi umat yang meyakininya, air tersebut dipercaya menjadi perantara doa untuk berbagai harapan, mulai dari kesehatan, kelancaran usaha, hingga persoalan rumah tangga.
Warga kemudian membawa air tersebut pulang. Pada saat yang sama, Lentog Tanjung dibagikan kepada mereka yang hadir.
Kue bulan menjadi bagian lain dari Tiong Ciu Pia. Menurut Goei, maknanya berkaitan dengan kisah Dewi Bulan dan Pangeran Tian Feng yang dipercaya menunggu selama setahun untuk bertemu pada tanggal 15 bulan kedelapan.
Dari kisah tersebut, kue bulan dimaknai sebagai lambang kesetiaan.

Perayaan tersebut juga berkaitan dengan Yue Lao Ren atau Dewa Perjodohan. Dalam tradisi yang disampaikan Goei, mereka yang belum memiliki pasangan dapat memanjatkan doa agar dipertemukan dengan jodoh yang baik.
Sekitar 400 porsi stroberi turut disiapkan dan dibagikan kepada masyarakat. Buah tersebut dipilih sebagai simbol cinta kasih dan habis dibagikan kepada warga yang datang.

Di antara mereka terdapat Septia Kholifatun Nadzifah, warga asal Pati. Ini menjadi kali pertama ia menyaksikan perayaan tersebut secara langsung.
“Saya ke sini kali pertama, jadi saya cuma mengikuti dan berharap ada keberkahan,” kata Septia.

Septia tidak datang dengan harapan khusus mengenai jodoh. Ia lebih tertarik melihat tradisi yang sebelumnya hanya diketahui dari cerita orang lain.
“Kalau itu saya tidak berharap, tapi saya mempercayainya, menghormati kepercayaan mereka kalau ada yang percaya seperti itu,” ujarnya.
Tidak hanya warga yang hadir dalam perayaan tersebut. Tujuh tokoh agama dan penghayat kepercayaan mengikuti doa lintas agama dalam rangkaian kegiatan.
Mereka adalah Muhammad Fadlullah dari Islam, Heri Kristianto dari Kristen, Suparno dari Buddha, Nawanto dari Hindu, Romo Walidi dari Katolik, Nurlan dari penghayat kepercayaan, serta Goei Tjwan Gie dari Konghucu.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, Shony Wardana, menilai kehadiran mereka mencerminkan keberagaman masyarakat Kudus.

“Di Kabupaten Kudus ini keberagaman, keharmonisan di antara kita seluruh warga negara dan warga Kabupaten Kudus yang beragam, ada Muslim, ada Kristen, ada Katolik, ada Hindu, Buddha, bahkan Konghucu dan penganut kepercayaan itu semuanya rukun,” ujarnya.
Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus, Andrias Wahyu Adi Setiawan, menyatakan pemerintah mendukung kegiatan yang ditujukan untuk menjaga keharmonisan masyarakat.

“Pemerintah akan mendukung semua kegiatan, event, acara dalam rangka menjaga harmonisasi, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak membeda-bedakan. Ini sesuai dengan salah satu simbol dari kita, Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
Keterangan Sumarno di awal perayaan memberi gambaran bagaimana hubungan itu berlangsung di tingkat desa. Warga tidak hanya bertemu ketika doa lintas agama digelar. Mereka juga bekerja bersama sebagai panitia, membantu kegiatan keagamaan kelompok lain, atau sekadar memenuhi undangan tetangga.
Etika Berkunjung ke Klenteng
Klenteng Hok Tik Bio dapat dikunjungi masyarakat yang ingin mengenal sejarah dan tradisi yang berkembang di Tanjungkarang. Namun, statusnya sebagai tempat ibadah membuat pengunjung tetap perlu memperhatikan tata cara selama berada di lokasi.

Informasi kunjungan yang tersedia menyebut kisaran waktu kunjungan umum pukul 07.00–20.00 WIB. Waktu tersebut bukan jam operasional resmi yang dipublikasikan secara khusus oleh pengelola.


Pengunjung yang ingin memasuki bagian dalam atau mengambil gambar, terutama ketika kegiatan ibadah berlangsung, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu kepada penjaga atau pengurus.
Pakaian yang sopan, rapi, dan tertutup juga perlu disesuaikan dengan fungsi klenteng sebagai tempat ibadah.

Tidak semua bagian klenteng dapat dimasuki pengunjung. Jika terdapat area yang tidak diperuntukkan bagi umum, arahan pengurus di lokasi perlu diikuti.

Tanjungkarang dikenal lewat Lentog Tanjung yang tumbuh bersama keseharian warganya. Di kampung yang sama, Klenteng Hok Tik Bio menyimpan jejak perjalanan masyarakat Tionghoa sejak ratusan tahun lalu, sementara tradisi seperti Tiong Ciu Pia masih dijalankan hingga kini.
Perayaan Kue Bulan mempertemukan bagian-bagian itu dalam satu waktu. Lentog Tanjung ikut disajikan, ritual berlangsung di bekas lokasi klenteng, dan warga dengan latar agama berbeda datang mengikuti rangkaian kegiatan.
Apa yang terlihat pada perayaan tersebut sebenarnya telah lama menjadi bagian dari keseharian Tanjungkarang. Tradisi tetap dijalankan oleh mereka yang meyakininya, sementara warga lain hadir, membantu, atau sekadar ikut mengenalnya.
Karena itu, sejarah Tanjungkarang tidak hanya tersimpan pada umpak Klenteng Hok Tik Bio yang masih tersisa. Ia juga berlanjut melalui tradisi yang tetap dijalankan dan hubungan antarwarga yang tumbuh bersamanya. (OEB/YSR/mainkekudus)