

Pendakian Puncak 29 Bersama Bupati Kudus Tunjukkan Potensi Wisata Berkelanjutan Muria
KUDUS – Fajar belum sepenuhnya membuka langit ketika ratusan pasang sepatu mulai menapaki jalur pendakian menuju Puncak Songolikur di Desa Wisata Rahtawu, Kecamatan Gebog, Sabtu pagi. Di antara rombongan pendaki terlihat Bupati Kudus Sam’ani Intakoris berjalan berdampingan dengan masyarakat, anggota TNI, relawan, komunitas pecinta alam, hingga wisatawan dari berbagai daerah. Di jalur setapak yang membelah lereng Muria, batas antara pejabat dan warga seolah menghilang. Semua melangkah dalam ritme yang sama, menikmati perjalanan menuju puncak.
Pendakian bertajuk “Naik Gunung Bareng Bupati” menjadi lebih dari sekadar aktivitas olahraga akhir pekan. Perjalanan menuju kawasan berketinggian sekitar 1.602 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu membawa pesan tentang upaya mengenalkan kembali potensi wisata alam Pegunungan Muria sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup di kawasan lereng gunung.
Menyusuri Jalur yang Menawarkan Pengalaman Alam
Perjalanan menuju Puncak 29 menyuguhkan lanskap yang berubah perlahan seiring bertambahnya ketinggian. Pepohonan rindang membentuk kanopi alami, udara pegunungan terasa sejuk, sementara suara burung dan serangga menjadi latar yang menemani setiap langkah pendaki.
Di sejumlah pos peristirahatan, warung-warung sederhana milik warga menjadi tempat singgah sekaligus ruang pertemuan antara pendaki dengan masyarakat setempat. Secangkir kopi hangat, teh panas, atau semangkuk mie instan bukan hanya menjadi pelepas lelah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana aktivitas wisata menghadirkan perputaran ekonomi hingga ke jalur pendakian.
Suasana tersebut memperlihatkan bahwa sebuah perjalanan mendaki tidak hanya menghadirkan pengalaman menikmati alam, melainkan juga mempertemukan wisatawan dengan kehidupan masyarakat yang selama ini menjaga kawasan pegunungan.
Pendakian sebagai Cara Memperkenalkan Muria
Sesampainya di Puncak 29, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kudus memperkenalkan kekayaan wisata alam yang dimiliki Pegunungan Muria.

“Alhamdulillah kita naik Puncak 29. Maksudnya adalah olahraga, rekreasi dan juga mengenalkan puncak-puncak di Kudus salah satunya Puncak 29. Mari kita jaga kebersihan dan juga lingkungan, baik olahraga maupun wisata,” ujar Sam’ani.
Menurutnya, Pegunungan Muria menyimpan banyak tujuan pendakian yang memiliki karakter berbeda, mulai dari Natas Angin, Jembangan, Argopiloso, Songgo Langit, hingga sejumlah puncak lain yang belum banyak dikenal masyarakat luas.
Keberagaman jalur tersebut menjadi modal bagi pengembangan wisata berbasis alam. Namun, pengembangan itu harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian kawasan hutan.

“Kita eksplor, tapi kita tidak merusak,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengenalan destinasi alam tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada tanggung jawab menjaga ekosistem yang menjadi daya tarik utama kawasan Muria.
Infrastruktur dan Keselamatan Menjadi Bagian Pengembangan
Selain promosi wisata, Sam’ani juga menilai pengembangan kawasan pendakian memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai dan sistem keselamatan yang terus ditingkatkan.
Ia berharap akses menuju kawasan wisata semakin baik sehingga memudahkan wisatawan menjangkau berbagai titik pendakian. Di sisi lain, aspek keamanan juga perlu mendapat perhatian melalui penerapan protokol pendakian yang lebih modern.

“Yang perlu dibenahi protokol pendakian jangan sampai terjadi korban. Kalau bisa menggunakan gelang GPS sehingga ketika ada pendaki yang tersesat bisa segera ditemukan. Infrastruktur juga sangat penting dalam mendukung pariwisata,” katanya.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan wisata alam tidak hanya berbicara tentang promosi destinasi, tetapi juga kesiapan fasilitas yang mendukung keselamatan pengunjung selama berada di kawasan pegunungan.
Keaslian Alam Menjadi Daya Tarik Muria
Keindahan Pegunungan Muria juga dirasakan langsung oleh pengelola kawasan hutan. Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Ternadi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Pati Ayam, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, Teguh Jumadi Yanto, menyebut keaslian bentang alam menjadi kekuatan utama kawasan tersebut.

pendakian, wisata religi, hingga trekking dengan panorama yang menarik untuk fotografi maupun videografi.
“Daya tarik Gunung Muria ini adalah suasana alam yang masih asli dan view-view yang bisa dijadikan spot foto maupun video,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis alam, keberadaan kawasan yang masih terjaga menjadi nilai penting yang perlu dipertahankan.
Menjaga Alam Bersama-sama

Pengembangan wisata alam, menurut Teguh, harus dibarengi dengan upaya menjaga kelestarian kawasan hutan. Karena itu, pihaknya terus mengedukasi masyarakat dan para pemangku kepentingan melalui kegiatan penanaman pohon serta pengawasan kawasan.
Ia juga mengingatkan setiap pengunjung untuk mematuhi aturan selama berada di jalur pendakian.
“Jangan merusak alam, jangan membuang sampah sembarangan, jangan merokok sembarangan, dan tetap menghormati lingkungan sekitar,” pesannya.
Ajakan tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun budaya wisata yang bertanggung jawab. Kelestarian hutan tidak hanya bergantung pada pengelola kawasan, tetapi juga pada perilaku setiap orang yang datang menikmati keindahan Muria.
Warung di Jalur Pendakian Ikut Merasakan Dampaknya
Ramainya aktivitas pendakian membawa dampak langsung bagi pelaku usaha kecil di sepanjang jalur.

Sukatmi, pemilik warung di Pos 4 Puncak 29, mengaku telah berjualan selama tujuh tahun melayani kebutuhan para pendaki. Menurutnya, setiap kegiatan yang mendatangkan banyak pengunjung turut meningkatkan penjualan dagangannya.

“Kalau ada event seperti ini alhamdulillah ramai. Yang paling laris gorengan, kopi, teh hangat, mie instan, sama minuman dingin. Harapannya ya diadakan event-event seperti ini lagi, kalau ramai kan dagangan juga laris,” katanya.
Bagi warga lereng Muria, pendaki bukan sekadar tamu yang singgah sesaat. Kehadiran mereka menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang membantu menggerakkan usaha kecil di kawasan pegunungan.
Media Sosial Mengantarkan Pendaki ke Muria
Daya tarik Muria juga menjangkau wisatawan dari luar daerah. Salah satunya Amana Restu Aulia, peserta asal Demak yang memutuskan mengikuti kegiatan tersebut setelah melihat unggahan Bupati Kudus di media sosial.

“Tertarik dari video Pak Bupati di TikTok, jadi langsung ingin mencoba. Saya memang suka muncak, sudah pernah ke Andong, Ungaran, Lawu, dan jalur 29 ini yang kedua kali. Jalurnya enak, alamnya masih sangat asri dan udaranya sejuk,” ungkapnya.
Pengalaman Amana menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu pintu awal masyarakat mengenal destinasi wisata alam. Ketika informasi dipadukan dengan pengalaman positif para pengunjung, daya tarik sebuah kawasan dapat menjangkau calon wisatawan yang lebih luas.
Langkah Kecil Menuju Pariwisata Berkelanjutan

Perjalanan menuju Puncak 29 memperlihatkan bahwa wisata alam tidak hanya berbicara tentang mencapai titik tertinggi sebuah gunung. Di sepanjang jalur, tersimpan kisah tentang warga yang membuka warung, pengelola hutan yang menjaga kelestarian kawasan, pemandu lokal yang mengenalkan karakter setiap rute, hingga wisatawan yang datang karena rasa ingin tahu.

Melalui kegiatan “Naik Gunung Bareng Bupati“, Pegunungan Muria menghadirkan gambaran bagaimana olahraga, rekreasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dalam ruang yang sama. Setiap langkah di jalur pendakian bukan hanya mendekatkan pendaki ke puncak, tetapi juga mempertemukan mereka dengan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama alam.
Jika upaya memperkuat infrastruktur, keselamatan pendakian, serta pelestarian kawasan terus dilakukan secara konsisten, Muria memiliki ruang untuk berkembang sebagai destinasi wisata alam yang tetap menjaga karakter lingkungannya. Pada akhirnya, kekuatan kawasan ini bukan hanya terletak pada deretan puncaknya, melainkan pada kemampuannya menghadirkan pengalaman yang menghubungkan manusia, alam, dan kehidupan masyarakat di lereng gunung. (ITN/mainkekudus)