

KUDUS – Batik Kudus memiliki perjalanan yang panjang sebagai bagian dari batik pesisiran. Jejaknya dapat dilihat dari motif, warna, serta pengaruh budaya yang berkembang di wilayah pesisir. Namun, keberadaan batik Kudus pernah mengalami masa ketika produksinya semakin jarang ditemukan. Kondisi tersebut kemudian mendorong sejumlah pihak untuk kembali mengenali dan mengembangkan batik dari daerah ini.
Salah satunya adalah Alfa Shoofa Batik Kudus. Usaha ini didirikan oleh pasangan suami istri Ummu Asiyati dan Fatchur Rochman pada 2008.

Sebelum masuk ke dunia batik, keluarga tersebut telah menjalankan usaha bordir sejak 1992. Rumah produksi dan Galeri Alfa Shoofa berada di Jalan Sudimoro Nomor 178, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus.

Peralihan dari bordir menuju batik berawal dari perjalanan usaha dan pertemuan dengan konsumen dari berbagai daerah. Ketika mengikuti pameran di luar Kudus, muncul pertanyaan mengenai keberadaan batik khas Kudus. Pertanyaan tersebut kemudian mendorong pengelola menelusuri kembali keberadaan motif-motif batik lama.
Fike, salah satu pengelola Alfa Shoofa, mengatakan pertanyaan mengenai batik Kudus muncul ketika mereka memperkenalkan produk bordir dalam berbagai pameran.

“Dari situ kami berpikir, iya juga, ke mana batik Kudus? Kok sudah lama sekali kami tidak pernah dengar,” ujar Fike.
Pertanyaan tersebut menjadi awal dari proses penelusuran yang lebih panjang. Pengelola mulai mencari informasi mengenai motif batik lama dan orang-orang yang pernah membuat batik di Kudus. Pada saat itu, menurut Fike, produk yang mengatasnamakan motif Kudus lebih banyak ditemukan dalam bentuk printing.

Penelusuran tersebut membuat Alfa Shoofa menemukan bahwa pembatik yang masih aktif tidak mudah ditemukan. Kondisi itu kemudian mendorong pengelola untuk mempelajari kembali motif dan proses batik dari para sesepuh.

Alfa Shoofa berawal dari usaha bordir yang telah dijalankan sejak 1992. Usaha tersebut berkembang melalui kegiatan produksi dan pameran hingga membawa pengelola bertemu dengan konsumen dari berbagai daerah.
Dari pertemuan tersebut muncul pertanyaan mengenai produk batik dari Kudus. Pengelola kemudian mulai mencari motif-motif lama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mengenai batik Kudus.
Proses pencarian dilakukan sekitar 2005. Fike menjelaskan, mereka berusaha menemui para sesepuh yang sebelumnya pernah membuat batik. Namun, sebagian besar sudah tidak lagi aktif memproduksi.
Karena itu, proses belajar dilakukan dengan menggali informasi dari para sesepuh, mempelajari artikel lama, serta mencoba membuat kembali motif batik kuno.

“Jadi batik-batik motif asli itu kami repro dulu, kami belajar bikin itu, terus kami mempelajari sejarahnya,” kata Fike.
Proses tersebut bukan sekadar mencari bentuk motif. Pengelola juga mencoba memahami mengapa batik Kudus pernah berada dalam kondisi hampir punah. Dari penelusuran itu muncul keinginan untuk kembali menghadirkan produksi batik Kudus.
“Dari situ kami berpikir, batik Kudus harus ada lagi. Batik Kudus jangan sampai hilang lagi,” ujar Fike.
Pada 2008, Alfa Shoofa kemudian mulai serius mengembangkan produksi batik Kudus. Langkah tersebut juga dilakukan oleh Ummu Asiyati dengan mempelajari teknik membatik di sejumlah daerah. Dokumentasi mengenai perjalanan usaha Alfa Shoofa menyebutkan proses belajar dilakukan antara lain di Semarang, Bandung, Yogyakarta, dan Cirebon.
Dari proses pembelajaran tersebut, produksi batik Alfa Shoofa berkembang dengan teknik batik tulis dan batik cap. Produk yang dibuat mencakup motif klasik hasil reproduksi serta motif baru yang mengambil unsur identitas Kudus.

Keputusan untuk memproduksi batik asli menjadi bagian penting dalam perjalanan Alfa Shoofa. Bagi pengelola, keberadaan batik Kudus tidak cukup hanya ditunjukkan melalui motif, tetapi juga melalui proses pembuatannya.
Fike mengatakan pada masa penelusuran, produk printing dengan nama atau motif Kudus lebih mudah ditemukan dibandingkan produk yang dibuat dengan proses batik.

“Kami tidak ingin batik Kudus ini tumbang kembali oleh printing. Kami berkomitmen bahwa batik kami harus batik asli,” kata Fike.
Pilihan tersebut kemudian menjadi bagian dari arah produksi Alfa Shoofa. Batik dibuat menggunakan kain berbahan serat alam, seperti katun atau sutra, serta lilin panas untuk membentuk motif.
Tahapannya dimulai dari desain atau tracing, kemudian pencantingan atau pengecapan menggunakan lilin panas. Setelah itu dilakukan pewarnaan, perebusan untuk menghilangkan lilin, dan pengulangan proses sesuai kebutuhan warna serta motif.



Proses tersebut membuat waktu pengerjaan setiap batik berbeda. Batik cap dengan desain sederhana dapat selesai sekitar satu hari. Batik tulis sederhana membutuhkan sekitar satu minggu, sedangkan batik tulis dengan motif rumit dapat dikerjakan selama enam hingga delapan bulan.
Perbedaan waktu pengerjaan juga mempengaruhi harga. Batik tulis klasik dapat mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta atau lebih, tergantung kerumitan motif dan tahapan produksinya.

Penelusuran terhadap motif lama juga membawa Alfa Shoofa pada pemahaman mengenai karakter Batik Kudus. Fike menjelaskan bahwa Batik Kudus termasuk kelompok batik pesisiran.
Karakter tersebut membuatnya memiliki sejumlah kesamaan dengan batik dari daerah pesisir lain, terutama dalam penggunaan warna dan pengaruh gaya.

“Kalau batik pesisiran itu seperti Pekalongan, jadi mungkin nanti akan ada kesamaan-kesamaan sedikit warna dengan Pekalongan, Kebumen yang ada di pesisiran ini, atau bahkan Jawa Timur,” jelas Fike.
Karakter tersebut berbeda dengan batik dari wilayah seperti Yogyakarta atau Solo yang memiliki perkembangan gaya tersendiri.
Dari sisi motif, batik lama Kudus banyak ditemukan dalam bentuk unsur bunga. Berdasarkan penelusuran terhadap artikel-artikel lama yang dipelajari Alfa Shoofa, terdapat dugaan pengaruh Eropa pada sejumlah motif.
“Kalau motif-motif yang lama mungkin lebih banyak motif-motif bunga dan berdasarkan apa yang kami lihat dari artikel-artikel lama, sepertinya itu adalah pengaruh Eropa,” kata Fike.
Beberapa motif juga memiliki bentuk yang menyerupai kaligrafi. Namun, unsur floral lebih banyak ditemukan dalam penelusuran terhadap motif lama.

Menurut Fike, motif-motif tersebut merupakan bagian dari motif yang berkembang di masyarakat Kudus. Karena itu, penggunaannya tidak ditempatkan sebagai kepemilikan eksklusif satu produsen.
“Ini adalah motif masyarakat Kudus, ya, karena ini kan tidak bisa dipatenkan. Siapa pun berhak membuat,” ujarnya.

Pengembangan batik kemudian tidak berhenti pada reproduksi motif lama. Alfa Shoofa juga mengembangkan motif baru dengan memasukkan berbagai unsur yang memiliki hubungan dengan Kudus.
Cengkeh dan tembakau menjadi salah satu unsur dalam pengembangan desain. Ikon GK3 juga menjadi bagian dari eksplorasi motif. Selain itu, terdapat motif Parijoto yang mengambil inspirasi dari buah yang dikenal dari kawasan Gunung Muria.
Pengembangan tersebut dilakukan untuk menghadirkan desain yang dapat digunakan pada masa sekarang. Motif lama tetap dipelajari, sementara unsur lokal lain diterjemahkan menjadi desain baru.
Dengan demikian, batik Kudus tidak hanya hadir sebagai reproduksi motif masa lalu. Identitas daerah juga dapat dikembangkan melalui desain yang digunakan pada kain dan produk siap pakai.

Produk Alfa Shoofa berkembang dari kain batik dan bordir menjadi berbagai kebutuhan. Batik dibuat dalam bentuk pakaian siap pakai, mukena, kebaya, hingga suvenir.
Pilihan produk tersebut mengikuti kebutuhan konsumen dari Kudus maupun luar daerah. Pengunjung yang datang ke Kudus dapat mencari batik sebagai oleh-oleh, sedangkan konsumen lokal dapat memilih motif yang sesuai untuk digunakan dalam berbagai kesempatan.
Batik cap menjadi pilihan bagi konsumen yang membutuhkan produk dengan proses pengerjaan lebih singkat. Sementara itu, batik tulis klasik membutuhkan waktu lebih panjang karena melalui proses pencantingan dan pewarnaan yang berulang.

Lamanya proses produksi berkaitan dengan tingkat kerumitan desain. Semakin banyak detail dan tahapan pewarnaan, semakin panjang pula waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Perbedaan proses tersebut kemudian berpengaruh pada harga. Produk dengan pengerjaan sederhana memiliki harga yang lebih terjangkau, sedangkan batik tulis klasik dapat mencapai jutaan rupiah.
Kegiatan olahraga di Kudus turut membawa pergerakan orang dari luar daerah ke berbagai titik di kota. Atlet, official, pendamping, dan pengunjung tidak hanya berada di lokasi pertandingan, tetapi juga dapat mengunjungi tempat usaha dan pusat produk lokal.
Bagi Alfa Shoofa, kondisi tersebut membuka kesempatan untuk memperkenalkan batik kepada konsumen yang datang karena agenda olahraga.
Salah satu contohnya adalah kunjungan kontingen Timnas Putri U-16 Malaysia dalam Cultural Visit di sela-sela turnamen Caffino Srikandi Merdeka Cup pada Agustus 2026. Kedatangan kontingen dari luar negeri tersebut menjadi kesempatan bagi Alfa Shoofa untuk memperkenalkan produk dan Batik Kudus kepada pengunjung yang sebelumnya tidak memiliki hubungan langsung dengan produk tersebut.



Kunjungan kontingen olahraga dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung ketika pengunjung melakukan pembelian. Di sisi lain, manfaatnya juga berada pada bertambahnya orang yang mengenal produk Alfa Shoofa dan Batik Kudus.
Batik dapat menjadi pilihan oleh-oleh karena memiliki hubungan dengan daerah yang mereka kunjungi. Pengunjung yang datang untuk bertanding kemudian memiliki kesempatan membawa pulang produk yang berkaitan dengan Kudus.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa event olahraga memiliki hubungan dengan aktivitas ekonomi di luar arena pertandingan. Ketika kontingen dari luar daerah datang, kebutuhan mereka dapat menyentuh berbagai sektor, termasuk makanan, penginapan, transportasi, oleh-oleh, dan kerajinan.
Bagi Alfa Shoofa, event olahraga menjadi salah satu jalur pertemuan dengan pasar baru. Orang datang ke Kudus karena pertandingan, kemudian mengenal batik sebagai salah satu produk lokal.

Bagi Alfa Shoofa, keberlanjutan batik tidak hanya ditentukan oleh jumlah produk yang dibuat. Pengetahuan mengenai proses pembuatannya juga perlu diteruskan.
Karena itu, Alfa Shoofa menerima kunjungan edukasi, siswa magang, dan peserta PKL. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan proses batik tulis kepada pengunjung.
Pengunjung dapat mengenal bahan, lilin panas, canting, pewarnaan, hingga proses menghilangkan lilin dari kain. Pengetahuan tersebut membantu memperlihatkan bahwa batik tidak berhenti pada motif yang terlihat di permukaan kain.

Edukasi juga menjadi bagian dari upaya membedakan batik asli dengan kain bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik lain. Bagi pengelola, pemahaman mengenai proses menjadi bagian penting dalam mengenalkan Batik Kudus.
Penggunaan batik dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian dari pelestarian. Batik masih dapat digunakan dalam berbagai kegiatan keluarga dan adat, termasuk acara kelahiran dan pernikahan.


Upaya menjaga kualitas produk dilakukan melalui standar dan sertifikasi. Alfa Shoofa memperoleh sertifikasi Batik Indonesia atau BMI serta label Batik Mark untuk produk batik cap dan batik tulis. Situs resmi Alfa Shoofa juga mencantumkan sertifikasi BMI sebagai bagian dari informasi produknya.
Sejumlah produk juga menjalani pengujian laboratorium. Beberapa produk memperoleh sertifikat halal yang berkaitan dengan bahan baku dan proses produksinya.
Standar tersebut memberikan informasi tambahan kepada konsumen mengenai produk yang mereka beli. Hal ini menjadi penting ketika satu motif dapat dibuat melalui teknik yang berbeda.
Bagi Alfa Shoofa, proses produksi menjadi bagian dari upaya mempertahankan Batik Kudus. Motif lama tetap dipelajari, teknik batik asli digunakan dalam produksi, sementara motif baru dikembangkan dengan mengambil unsur lokal.

Perjalanan Alfa Shoofa dimulai dari usaha bordir pada 1992, kemudian berlanjut pada penelusuran terhadap batik Kudus yang semakin sulit ditemukan. Sekitar 2005, pencarian motif lama dan pembelajaran dari para sesepuh dilakukan sebelum produksi batik asli dikembangkan secara serius pada 2008.
Bagi Fike, perjalanan tersebut berangkat dari pertanyaan mengenai keberadaan batik Kudus. Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi proses mencari kembali motif, mempelajari sejarah, dan memahami teknik pembuatan batik.

Komitmen terhadap batik asli menjadi salah satu pilihan utama Alfa Shoofa. Pada saat yang sama, motif Kudus terus dapat dikembangkan melalui unsur lokal seperti Parijoto, cengkeh, tembakau, dan berbagai identitas daerah lainnya.
Event olahraga dan kunjungan dari luar daerah kemudian memberikan ruang tambahan bagi produk tersebut untuk bertemu dengan konsumen baru. Kunjungan kontingen Timnas Putri U-16 Malaysia menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas olahraga dapat membawa pengunjung mengenal produk lokal di luar arena pertandingan.
Pelestarian batik pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kain yang disimpan. Batik perlu tetap digunakan, dipelajari, diproduksi, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Dari usaha bordir yang telah berjalan sejak 1992 hingga produksi batik yang dimulai pada 2008, Alfa Shoofa menempatkan produksi batik asli, pengembangan motif, edukasi, dan pengenalan produk kepada masyarakat sebagai bagian dari perjalanan usahanya.
Batik Kudus kemudian tidak hanya hadir sebagai motif pada kain. Di dalamnya terdapat sejarah, proses produksi, pengetahuan pembatik, kebutuhan konsumen, serta aktivitas ekonomi yang terus bergerak mengikuti masyarakat dan berbagai kegiatan yang berlangsung di Kudus. (SNS/OEB/redaksimkk/mainkekudus)