

KUDUS — Penyelenggaraan Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 pada 20–25 Oktober 2026 tak sekadar menyajikan adu mekanik dan smash tajam di atas lapangan GOR Djarum Arena 2, Kaliputu, Kudus. Di balik gemuruh tepuk tangan para suporter yang memadati tribun, ada denyut sibuk yang berpacu dengan waktu di balik meja resepsionis dan dapur hotel-hotel di Kota Kretek.
Bagi para atlet yang datang dari berbagai penjuru daerah hingga mancanegara, kamar hotel adalah benteng pertahanan terakhir. Tempat di mana otot-otot yang tegang diregangkan, dan fokus mental dirajut kembali sebelum memasuki arena laga.
Pengalaman bertanding pertama kali di Kudus menyisakan kesan tersendiri bagi Terry Hee. Pebulu tangkis ganda campuran asal Singapura ini mengaku fasilitas penginapan yang nyaman dan kesiapan staf hotel sangat membantu menjaga kestabilan kondisinya selama kompetisi.

“Fasilitas hotel cukup baik dan nyaman. Staf hotel juga sangat membantu selama saya menginap,” tutur Terry.
Jadwal tanding yang padat membuat Terry lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar untuk beristirahat. Kebugaran tubuh menjadi prioritas utama, hingga fasilitas kolam renang dan pusat kebugaran tak sempat ia jajahi secara maksimal. Meski mengakui cuaca Kudus tergolong cukup menyengat, antusiasme warga Kudus sukses mengobati rasa lelahnya.
“Walaupun Kudus kota kecil, banyak suporter datang untuk menonton kami. Terima kasih kepada semuanya,” tuturnya.
Nada serupa diungkapkan oleh Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, pebulu tangkis tunggal putri asal Bali. Bagi Dhinda, kualitas tidur menjadi kunci utama untuk meredam rasa lelah yang menumpuk usai bertanding.

“Kalau bertanding, rasanya bisa lebih melelahkan daripada latihan, meskipun latihan terkadang berlangsung lebih lama. Untuk pemulihan, saya juga dibantu tim,” jelas Dhinda.
“Sejauh ini hotel dan pelayanannya nyaman,” katanya.
Selain kenyamanan penginapan, jarak menuju arena juga menjadi bagian dari kebutuhan selama turnamen. Dhinda menyebut jarak tersebut tidak menjadi hambatan berarti bagi kesiapan bertanding. Ia dan tim terbiasa menyesuaikan rutinitas dengan kebutuhan kompetisi.
Dhinda juga mengapresiasi kelengkapan fasilitas GOR Djarum Arena 2, khususnya area pemanasan yang luas. Menurutnya, ketersediaan ruang pemanasan membantu atlet mempersiapkan diri ketika beberapa lapangan digunakan untuk pertandingan secara bersamaan.
“Area pemanasannya luas dan bagus. Di beberapa tempat, area pemanasan hanya menyediakan satu atau dua lapangan, sehingga kurang leluasa ketika banyak pertandingan berlangsung,” jelasnya.

Dampak bergulirnya turnamen bulu tangkis internasional ini langsung terasa pada bisnis akomodasi lokal. Selain tiga hotel yang ditunjuk resmi oleh panitia, Sapphire Hotel, Hotel @Hom, dan Hotel Griptha, sejumlah kontingen dan atlet memilih menyewa penginapan secara mandiri.
Hotel Horison IJ Kudus menjadi salah satu penginapan yang menerima atlet di luar skema tersebut. Diah Kusuma, Sales Manager Hotel Horison IJ Kudus, mengatakan sekitar 10–12 kamar digunakan atlet selama turnamen. Jumlah itu belum dapat ditambah karena sebagian kamar telah dipesan oleh kelompok tamu lain.

“Untuk atlet, ada sekitar 10 sampai 12 kamar yang digunakan. Kami sebenarnya ingin mengakomodasi lebih banyak, tetapi beberapa kamar sudah dipesan oleh tamu lain,” kata Diah.
Hotel menyediakan fasilitas pusat kebugaran dan kolam renang yang dapat digunakan tamu. Atlet yang menginap juga memperoleh paket kamar dan sarapan, sementara menu reguler tetap tersedia di hotel.


Menurut Diah, kehadiran turnamen ikut meningkatkan tingkat keterisian kamar. Okupansi Horison IJ Kudus naik sekitar 30 persen dibandingkan kondisi normal, terutama pada akhir pekan.

“Peningkatan okupansi sekitar 30 persen dibandingkan kondisi normal. Ketika ada event seperti ini, tingkat hunian hotel terasa lebih baik, terutama pada akhir pekan,” ujarnya.
Diah berharap kegiatan berskala besar dapat kembali diselenggarakan di Kudus. Menurutnya, agenda olahraga membuka peluang bagi hotel untuk meningkatkan keterisian kamar sekaligus menjangkau pasar tamu yang lebih luas.
Penyesuaian tak kalah dinamis terjadi di @Hom Hotel Kudus. Nova, Sales Manager @Hom Hotel Kudus, membeberkan sekitar 60 kamar digunakan rombongan yang berkaitan dengan turnamen. Rombongan tersebut mencakup atlet, official, panitia, dan liaison officer (LO), sehingga jumlah itu tidak seluruhnya merupakan kamar atlet.

Hotel tersebut memiliki total 87 kamar. Selama turnamen, tingkat keterisiannya mencapai penuh, dibandingkan rata-rata hari biasa yang berada di kisaran 50 persen. Hotel tetap melayani tamu reguler dari kalangan korporasi dan pemerintahan, sementara permintaan tambahan tidak seluruhnya dapat dipenuhi.

“Selama kegiatan berlangsung okupansinya penuh,” terang Nova.
Selain berkutat pada ketersediaan kamar, pengelola juga memperhatikan detail menu makanan harian para atlet. Paket penginapan mencakup kamar dan sarapan, sedangkan makan siang serta malam dapat diperoleh melalui restoran dan kafe hotel dengan biaya tersendiri.
Hotel tetap menyajikan menu reguler. Namun, setelah mengetahui adanya permintaan telur rebus dari atlet, pengelola mulai menyediakan menu tersebut setiap hari sebagai salah satu pilihan makanan selama menginap.

“Ada permintaan telur rebus dari atlet. Akhirnya, kami menyediakan telur rebus setiap hari agar mereka bisa mendapatkan makanan yang sesuai kebutuhan,” ungkap Nova.
Tak berhenti di urusan konsumsi, urusan mobilitas peserta menuju arena pertandingan turut diatur ketat. Kebutuhan transportasi menuju arena juga mendapat dukungan dari LO yang menyediakan dua kendaraan antar-jemput. Kendaraan tersebut beroperasi mengikuti jadwal pertandingan, dari pagi hingga malam. Sementara itu, tiga kendaraan operasional milik hotel belum cukup untuk melayani seluruh kebutuhan antar-jemput secara mandiri.
Menurut Nova, lonjakan permintaan ketika ada kegiatan besar menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola hotel. Kapasitas kamar tidak dapat langsung ditambah, sehingga kesiapan fasilitas dan pemeliharaan kondisi kamar menjadi bagian dari upaya menjaga kenyamanan tamu.

Di @Hom Hotel Kudus, sejumlah rombongan menginap sejak beberapa hari sebelum kompetisi berlangsung. Sebagian tamu bahkan tinggal hingga sembilan malam untuk mengikuti rangkaian turnamen. Kamar tipe superior menjadi pilihan yang paling banyak digunakan.
Tarif normal kamar superior sekitar Rp 475.000 per malam. Untuk rombongan turnamen, tarif berdasarkan kontrak lebih rendah daripada harga normal, meski pihak hotel tidak menyebutkan nominalnya.

Panjangnya durasi menginap ini menegaskan bahwa kebutuhan akomodasi turnamen tidak bisa disamakan dengan kunjungan wisata biasa. Ada ritme persiapan, pemulihan, hingga penyesuaian jadwal tanding yang membuat hotel harus bertransformasi menjadi markas kedua bagi para tamu.
Bagi pengelola perhotelan, fleksibilitas operasional adalah kunci. Menjaga kamar tetap siap huni, menyesuaikan nutrisi menu makanan, serta menyelaraskan jam operasional armada dengan jadwal pertandingan menjadi tantangan seru yang memacu standar pelayanan industri hospitalitas lokal.
Suksesnya penyelenggaraan Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 pada akhirnya tak lepas dari kolaborasi apik antara arena pertandingan dan kesiapan fasilitas pendukung kota. Lapangan boleh jadi panggung utama pembuktian performa, namun hotel adalah fondasi yang menyokong ketahanan para atlet di balik layar.
Pengalaman Terry Hee dan Dhinda Amartya membuktikan bahwa kenyamanan kamar, kualitas tidur, dan kehangatan pelayanan berpengaruh langsung pada performa atlet. Di sisi lain, peningkatan okupansi hingga penyesuaian fasilitas di Horison IJ dan @Hom Hotel menjadi bukti nyata bagaimana agenda olahraga mampu menggerakkan roda ekonomi daerah.
Ajang ini membuktikan bahwa suksesnya turnamen bulu tangkis tak sekadar diukur dari trofi dan papan skor. Ada peran vital ekosistem pendukung, mulai dari kerapian sprei kamar, keramahan staf, hingga sebutir telur rebus di meja makan, yang bekerja senyap demi menjaga performa para atlet di atas lapangan. (OEB/YSR/mainkekudus)