

KUDUS – Prestasi seorang atlet tidak dibentuk hanya di arena pertandingan. Jauh sebelum berdiri di podium, atlet harus menjalani latihan berulang, menerima koreksi, dan memperbaiki setiap kekurangan. Gerakan jurus dipelajari, posisi kaki dibenahi, keseimbangan dijaga, lalu seluruh rangkaian diulang sampai dapat dilakukan dengan tepat.
Proses itu menjadi bagian dari keseharian atlet Wushu Indonesia Kudus. Latihan tetap berjalan tanpa bergantung pada jadwal pertandingan. Para atlet datang ke tempat latihan untuk mengikuti program yang disusun berdasarkan kelompok usia, tingkat penguasaan teknik, dan kebutuhan masing-masing.
Melalui pola tersebut, Pengurus Kabupaten Wushu Indonesia Kudus membangun pembinaan atlet secara bertahap. Anak-anak yang baru mengenal wushu mendapat materi teknik dasar. Atlet yang masuk kelompok kompetisi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknik, kondisi fisik, dan kesiapan mental bertanding.
Salah satu hasil pembinaan terlihat dalam Kejuaraan Nasional Wushu Kungfu Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) 2026 di Alam Sutera, Tangerang, pada 22–27 Juli 2026. Sebanyak 13 atlet junior dan senior asal Kudus mengikuti kejuaraan itu. Mereka membawa pulang 15 medali yang terdiri atas enam emas, tujuh perak, dan dua perunggu.

Perolehan tersebut melampaui sasaran yang ditetapkan tim. Pendiri sekaligus pelatih Wushu Indonesia Kudus, Harjana Wijaya, mengatakan pihaknya menargetkan tiga medali emas sebelum berangkat ke Tangerang.
“Targetnya kemarin tiga medali emas dan ternyata kami mendapatkan enam emas. Jadi memang atlet kami di kejuaraan kungfu ini potensinya bisa melampaui target,” ujar Harjana.
Enam medali emas itu disumbangkan oleh empat atlet. Gavrila Widhi Aurellia meraih dua emas, Jessica Laurens Tannia satu emas, Kenichi Rain Lie Listiyanto dua emas, dan Nindya Umi Abinaya satu emas.

Harjana mulai aktif mengembangkan Wushu Indonesia Kudus pada 2008. Pada tahap awal, pembinaan berjalan dengan jumlah peserta yang terbatas. Prestasi yang kemudian diraih para atlet membuat wushu semakin dikenal dan menarik minat lebih banyak anak untuk mengikuti latihan.
Pembinaan tidak hanya ditujukan kepada atlet remaja dan senior. Anak-anak usia sekolah dasar juga dilibatkan sebagai bagian dari regenerasi. Rentang peserta yang dibina dimulai dari siswa kelas I sekolah dasar hingga mahasiswa. Mereka ditempatkan dalam jenjang junior C, junior B, junior A, dan senior.
Pengelompokan itu membantu pelatih menyusun program yang sesuai dengan tahap perkembangan atlet. Peserta yang baru mempelajari dasar tidak menerima porsi latihan yang sama dengan atlet yang telah disiapkan mengikuti kompetisi. Materi, intensitas, dan sasaran latihan disesuaikan agar setiap atlet berkembang secara terukur.
Anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun sudah dapat mengikuti latihan. Pada rentang usia tersebut, anak dinilai mulai mampu memahami dan menjalankan instruksi pelatih. Namun, kesiapan setiap anak tetap diperhatikan karena kemampuan menerima materi dan menyesuaikan diri dengan latihan dapat berbeda.
Pembinaan juga dikembangkan melalui SD Kanisius dan SMP Kanisius. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan wushu kepada pelajar sekaligus membuka jalur pencarian calon atlet. Sekolah menjadi ruang awal bagi anak untuk mengetahui karakter olahraga wushu sebelum mengikuti pembinaan yang lebih terarah.
Bagi peserta baru, latihan dimulai dari teknik dasar dan standar gerakan. Mereka mempelajari posisi kaki, kuda-kuda, keseimbangan, koordinasi tubuh, serta urutan gerakan. Setelah fondasi itu terbentuk, materi dapat ditingkatkan menuju kebutuhan pertandingan.
Kesalahan ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar. Posisi kaki yang kurang tepat, kuda-kuda yang belum stabil, atau urutan jurus yang terlewat harus diperbaiki melalui koreksi dan pengulangan. Pelatih memantau perkembangan atlet dari ketepatan gerakan, bukan hanya dari kecepatan menguasai materi.

Rutinitas menjadi unsur penting dalam pola pembinaan. Atlet Wushu Indonesia Kudus menjalani latihan lima kali dalam sepekan dengan durasi sekitar dua setengah jam dalam setiap sesi. Latihan di Sasana Klenteng Hok Hien Bio berlangsung Senin dan Rabu pukul 15.00–17.30 WIB serta Kamis pukul 15.30–18.00 WIB. Sementara sesi Jumat digelar di GOR Arena 3 Djarum, Kaliputu, mulai pukul 15.00–17.30 WIB.
Jadwal tersebut diikuti atlet pemula maupun atlet yang dipersiapkan mengikuti kejuaraan. Program latihan disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan masing-masing kelompok. Atlet pemula lebih dulu mempelajari teknik dasar dan standar gerakan, sedangkan atlet kompetisi diarahkan untuk mematangkan rangkaian jurus dan meningkatkan ketepatan gerakan.
Menjelang Kejurnas Wushu Kungfu PBWI 2026, persiapan ditingkatkan melalui pemusatan latihan atau training camp selama sekitar tiga bulan. Pada tahap ini, materi latihan disesuaikan dengan nomor yang diikuti dan kebutuhan setiap atlet.
Persiapan pertandingan tidak hanya berisi pengulangan jurus. Atlet membutuhkan kondisi fisik yang memadai untuk menyelesaikan rangkaian gerakan dengan stabil. Mereka juga harus mempertahankan konsentrasi di tengah tekanan pertandingan, termasuk ketika tampil di hadapan juri dan menghadapi lawan dari berbagai daerah.
Bagi atlet pemula, latihan dimulai dari hal-hal dasar. Posisi kaki, kuda-kuda, keseimbangan, dan rangkaian gerakan terus diperbaiki melalui pengulangan. Setelah fondasi teknik terbentuk, latihan dapat diarahkan pada kebutuhan kompetisi.
Harjana menempatkan kesiapan mental sebagai salah satu unsur yang harus dibentuk sejak awal pembinaan.
“Kalau fisik masih bisa kita gembleng. Tapi kalau mentalnya kurang bagus dan fisiknya bagus, atlet bisa down dan lupa semua gerakannya. Jadi pertama mental dulu yang dibina,” jelasnya.

Perjalanan setiap atlet berawal dari latar yang berbeda. Tidak semua anak datang ke tempat latihan dengan keinginan menjadi juara. Sebagian tertarik setelah melihat gerakan wushu, sebagian diperkenalkan oleh keluarga, dan sebagian lainnya bergabung untuk mencoba kegiatan baru.
Harjana pernah menangani seorang atlet yang berhenti setelah sekitar tiga bulan berlatih karena merasa takut menghadapi karakter pelatih yang tegas. Dukungan orang tua mendorong atlet tersebut untuk kembali mengikuti latihan.
Setelah bergabung kembali, perkembangannya menunjukkan perubahan. Kemampuan tekniknya meningkat seiring latihan yang dijalani secara konsisten. Pengalaman itu menjadi contoh bahwa kemajuan atlet tidak selalu terlihat dalam waktu singkat dan setiap anak memerlukan masa adaptasi yang berbeda.
“Sekarang bagus. Jadi memang ada yang awalnya coba-coba, kemudian berkembang menjadi atlet yang luar biasa,” ungkap Harjana.


Pola pembinaan bertahap memberi ruang bagi anak untuk mengenal wushu tanpa harus segera mengejar hasil pertandingan. Selain mempelajari teknik, mereka beradaptasi dengan jadwal, aturan latihan, karakter pelatih, dan lingkungan sesama atlet. Proses ini turut menentukan apakah seorang peserta dapat berkembang dalam jangka panjang.

Kenichi Rain Lie Listiyanto menjadi salah satu atlet yang merasakan hasil pembinaan tersebut. Ia menjalani latihan lima hingga enam hari dalam sepekan. Intensitas itu menjadi bagian dari persiapannya menghadapi pertandingan, termasuk Kejurnas Wushu Kungfu PBWI 2026.

Dalam kejuaraan di Tangerang, Kenichi memperoleh dua medali emas dan satu perak. Ia harus bersaing dengan atlet dari berbagai daerah pada ajang tingkat nasional tersebut. Setiap penampilan menuntut konsentrasi agar rangkaian gerakan yang telah dilatih dapat dilakukan secara tepat sesuai standar penilaian.

Saat hasil pertandingan diumumkan dan namanya tercatat sebagai peraih medali, Kenichi merespons pencapaiannya dengan singkat.
“Rasanya senang, agak kaget, dan bangga,” kata Kenichi.
Kenichi juga menyebut dukungan pelatih dan orang tua sebagai bagian penting dalam prosesnya sebagai atlet. Dukungan itu membantunya menjalani jadwal latihan yang padat, mengulang gerakan, dan menjaga kondisi. Tiga medali dari Tangerang menjadi bekal pengalaman untuk menghadapi pertandingan lain.
Di kelompok usia yang lebih muda, Nindya Umi Abinaya menjalani jalur pembinaan dengan latar berbeda. Ia mengenal wushu melalui keluarganya. Sang ibu menyukai unsur seni dalam bela diri, sedangkan sang ayah menginginkannya menekuni olahraga. Wushu dipilih karena memadukan kedua unsur tersebut.
Nindya mulai berlatih pada Agustus 2022. Ketertarikannya tumbuh karena wushu tidak hanya berkaitan dengan bela diri, tetapi juga menampilkan unsur seni melalui bentuk, irama, dan rangkaian gerakan. Meski demikian, latihan tetap menghadirkan tantangan, terutama ketika ia harus mengingat banyak jurus.

“Di wushu tidak hanya satu jurus. Jadi harus ingat gerakan. Kalau latihan biasanya kadang lupa jurus,” tuturnya.
Nindya memasang target membawa perguruan dan wushu Kudus ke tingkat internasional. Untuk mencapainya, ia masih harus menjalani proses panjang: berlatih secara konsisten, meningkatkan kemampuan teknik dan fisik, serta menambah pengalaman melalui berbagai kompetisi.

Bagi Wushu Indonesia Kudus, atlet junior memegang peran penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan. Atlet berpengalaman membutuhkan program peningkatan kemampuan, sementara anak-anak yang baru bergabung harus mendapat dasar teknik yang memadai. Keduanya berjalan dalam satu sistem dengan sasaran yang berbeda.
Penerimaan angkatan baru dilakukan secara berkala. Setelah satu kelompok melewati tahapan pembinaan tertentu, proses regenerasi diteruskan melalui kelompok berikutnya. Dengan cara itu, pasokan atlet tidak bergantung pada satu generasi.
Pola tersebut menjelaskan mengapa pembinaan tidak berhenti pada atlet yang telah menghasilkan medali. Ketika atlet junior berkembang menuju kelompok kompetisi, peserta baru mulai mengenal posisi kaki, kuda-kuda, dan rangkaian jurus. Setiap kelompok bergerak dalam tahapan berbeda, tetapi berada dalam jalur pembinaan yang sama.

Kejurnas Wushu Kungfu PBWI 2026 menghasilkan 15 medali bagi kontingen Kudus. Capaian itu mencerminkan hasil latihan, tetapi juga menyediakan bahan untuk mengukur kekurangan yang masih harus diperbaiki.
Harjana menilai kemampuan teknik atlet Kudus telah berada pada tingkat yang cukup baik. Evaluasi lanjutan lebih banyak diarahkan pada kondisi fisik. Kekuatan, daya tahan, dan kestabilan gerakan perlu ditingkatkan agar atlet dapat mempertahankan kualitas penampilan sepanjang pertandingan.
Peta persaingan tingkat nasional juga menjadi perhatian tim pelatih. DKI Jakarta, yang keluar sebagai juara umum, dijadikan salah satu tolok ukur untuk mengamati kualitas lawan dan menentukan aspek yang perlu dikejar atlet Kudus.
“Kami tetap evaluasi meskipun sudah mendapatkan 15 medali. Terutama melihat DKI yang menjadi juara umum. Dari situ kami melihat bagaimana mereka bermain jurus dan apa yang harus kami kejar,” katanya.

Ada anak yang baru mengenal wushu, ada yang sedang menghafal jurus, dan ada pula yang mulai menjalani latihan kompetisi. Masing-masing berada pada tingkat berbeda. Namun, seluruhnya mengikuti proses yang menempatkan kedisiplinan, pengulangan, dan evaluasi sebagai bagian utama.
Podium merupakan hasil yang terlihat dari rangkaian tersebut. Pekerjaan utama tetap berlangsung di tempat latihan: mengoreksi gerakan, menjaga kebugaran, mengulang jurus, membangun keberanian, dan menyiapkan atlet dari satu generasi ke generasi berikutnya. (ITN/mainkekudus)