Logo Kudus
Ahmad Maulana Umar Al Fatih
Ahmad Maulana Umar Al Fatih
Atlet Atletik

Ahmad Maulana Umar Al Fatih

Ahmad Maulana Umar Al Fatih Konsisten Meniti Prestasi Panahan

KUDUS – Di usia 11 tahun, Ahmad Maulana Umar Al Fatih telah terbiasa menjalani rutinitas yang menuntut disiplin. Setelah menyelesaikan kegiatan belajar di sekolah, ia tidak langsung menghabiskan waktu untuk bermain. Sore hari menjadi waktu yang hampir selalu ia gunakan untuk berlatih panahan. Kebiasaan itu mengantarkannya menjadi salah satu atlet panahan muda berprestasi asal Kudus yang telah menjuarai sejumlah kejuaraan pada nomor PVC dan Horsebow

Salah satu pencapaian yang menonjol adalah keberhasilannya menjadi juara pertama pada MilkLife Archery Challenge Seri 2 Tahun 2025 dan kembali meraih juara pertama pada MilkLife Archery Challenge Seri 1 Tahun 2026 di kategori PVC U-12

Siswa kelas VI MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus itu tidak memperoleh berbagai gelar tersebut dalam waktu singkat. Di balik setiap medali terdapat proses latihan yang dijalani hampir setiap hari, pengorbanan waktu bermain, serta dukungan dari keluarga, pelatih, dan sekolah yang terus mendampinginya. Perjalanan itulah yang membentuknya menjadi atlet muda yang terus berkembang dari satu kejuaraan ke kejuaraan berikutnya. 

Tinggal di Desa Pasuruhan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Al Fatih tetap menjalani keseharian layaknya anak seusianya. Di luar jadwal sekolah dan latihan, ia senang bermain sepak bola, bulu tangkis, berkunjung ke rumah kakeknya, atau berkumpul bersama teman-temannya. Namun, hampir setiap sore, ia memiliki rutinitas yang berbeda. Ia datang ke lapangan untuk berlatih panahan, mengulang berbagai teknik yang telah dipelajari sebagai bekal menghadapi kejuaraan berikutnya. 

Awal Mengenal Dunia Panahan

Buat Fatih, panahan memberikan kesempatan kesempatan mengikuti berbagai kompetisi. (Foto: FZ/mainkekudus)

Perjalanan Al Fatih di dunia panahan dimulai sekitar dua tahun lalu ketika duduk di kelas III menuju kelas IV sekolah dasar. Orang pertama yang mengenalkannya dengan olahraga ini adalah sang ayah. Saat itu, ia belum benar-benar yakin akan menyukai panahan.

“Awalnya saya ragu, tapi lama-lama jadi senang,” ujarnya.

Ketertarikan tersebut tumbuh seiring semakin seringnya ia berlatih. Baginya, panahan bukan hanya olahraga yang menyenangkan, tetapi juga memberikan kesempatan mengikuti berbagai kompetisi.

“Supaya bisa ikut lomba dan mendapatkan banyak prestasi,” katanya.

Dari rasa penasaran itu, Al Fatih mulai menjalani latihan secara rutin. Dalam proses pembinaannya, ia sempat berlatih bersama beberapa klub dan komunitas panahan, yakni Kwaci, Panahmu, dan Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati) Kudus.

Saat ini ia aktif mengikuti pertandingan pada dua nomor, yaitu PVC dan Horsebow. Nomor PVC menggunakan busur berbahan polyvinyl chloride (PVC), yaitu material plastik yang ringan dan sederhana sehingga banyak dimanfaatkan sebagai media pembinaan atlet usia dini untuk mempelajari teknik dasar memanah. Sementara itu, Horsebow merupakan nomor panahan tradisional yang menggunakan busur tanpa alat bidik (sight) maupun penstabil (stabilizer). Pada nomor ini, atlet lebih mengandalkan insting, koordinasi gerakan, serta konsistensi latihan untuk menghasilkan tembakan yang akurat.

Kemampuan bertanding di dua nomor tersebut membuat Al Fatih harus menyesuaikan teknik, ritme latihan, dan karakter busur yang berbeda. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terus membentuk kemampuannya sebagai atlet muda.

Belajar Teknik dan Membangun Kebiasaan Latihan

Sering berlatih menjadi bekal bagi Fatih untuk terus mengejar target prestasi yang ingin diraihnya di dunia panahan.  (Foto: FZ/mainkekudus)

Lapangan Hizbul Wathan (HW) di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, menjadi lokasi yang paling sering digunakan Al Fatih untuk berlatih. Di tempat itu pula ia menghabiskan sebagian besar waktu sore setelah pulang sekolah.

Orang pertama yang mengajarkan teknik dasar memanah adalah pamannya sendiri, Abdul Aziz, yang juga merupakan seorang pemanah. Dari sanalah Al Fatih mulai memahami cara memegang busur, menarik tali busur, menjaga postur tubuh, hingga melepaskan anak panah dengan benar sebelum kemudian melanjutkan pembinaan bersama pelatih di klub dan sekolah.

Kini jadwal latihannya berlangsung hampir setiap hari. Seusai sekolah, sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB, ia langsung menuju lapangan latihan. Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada kemampuan membidik sasaran, tetapi juga melatih konsentrasi, mental bertanding, teknik tarikan busur, hingga kebugaran fisik.

Menurut Al Fatih, tantangan saat latihan justru muncul ketika pelatih memberikan berbagai target yang harus dicapai.

“Kalau menang dapat hadiah, jadi lebih semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Menjelang kejuaraan, intensitas latihan semakin ditingkatkan. Selain menambah porsi latihan, ia juga selalu memeriksa kondisi perlengkapan panahnya. Salah satu yang paling diperhatikan adalah anak panah (arrow). Baginya, anak panah harus tetap lurus karena sedikit perubahan bentuk dapat memengaruhi arah terbang dan akurasi tembakan.

Menjalani Sekolah dan Latihan Secara Bersamaan

Ahmad Maulana Umar Al Fatih, atlet panahan muda asal Kudus, Jawa Tengah. (Foto: FZ/mainkekudus)

Padatnya jadwal latihan tidak membuat Al Fatih mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar. Ia mengaku sudah terbiasa membagi waktu antara sekolah dan olahraga.

“Kalau sekolah dari pagi sampai siang, latihan sore. Jadi sudah terbiasa,” katanya.

Rutinitas tersebut membuatnya belajar mengatur waktu sejak usia dini. Ketika aktivitas belajar selesai, ia langsung beralih menjalani sesi latihan yang telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Dukungan sekolah menjadi salah satu faktor penting yang membuat keseimbangan itu dapat terjaga. Guru-guru terus memberikan semangat, bahkan ikut mendampingi ketika ia mengikuti berbagai kejuaraan. Teman-temannya pun mengetahui bahwa dirinya merupakan atlet panahan sehingga banyak yang ikut memberikan dukungan.

Di sekolah, mata pelajaran favorit Al Fatih adalah Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Di luar olahraga, ia juga memiliki ketertarikan pada dunia teknologi. Ia senang belajar coding atau membuat kode untuk website sebagai kegiatan yang mengisi waktu luangnya.

Mental Bertanding Terbentuk Melalui Pengalaman

Prestasi yang diraih Al Fatih tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi juga membentuk mental bertandingnya.

Guru olahraga sekaligus pelatih panahan MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus, Miftahul Ridho, mengikuti perkembangan Al Fatih sejak pertama kali mengikuti kejuaraan.

Miftahul Ridho, guru dan pelatih panahan MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus. (Foto: FZ/mainkekudus)

Menurutnya, ketika tampil pada ajang MilkLife Archery di usia 10 tahun, Al Fatih masih membutuhkan adaptasi, terutama dalam membangun kepercayaan diri saat bertanding. Namun setelah menjalani evaluasi dan kembali mengikuti latihan, perkembangan mulai terlihat.

“Setelah satu kali ikut event, mentalnya bertumbuh sangat signifikan. Saat masuk kategori U-12, Alhamdulillah berhasil menjadi juara satu tahun 2025, kemudian tahun 2026 juga kembali meraih juara satu,” ujarnya.

Miftah menilai perkembangan mental tersebut berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan teknik. Ia melihat Al Fatih memiliki potensi yang terus berkembang dibandingkan atlet seusianya.

Meski demikian, menurutnya masih ada satu hal yang harus terus dijaga, yakni konsistensi.

“Kesuksesan atlet itu ditentukan oleh disiplin dan konsisten. Kadang masih ada momen dia sedikit kurang konsisten. Itu yang terus kami benahi bersama,” katanya.

Menurut Miftah, pembinaan atlet sejak usia dini merupakan investasi penting bagi masa depan olahraga panahan. Semakin banyak kompetisi yang tersedia, semakin besar pula peluang melahirkan regenerasi atlet yang mampu bersaing hingga tingkat nasional maupun internasional.

Dukungan Sekolah dalam Pembinaan Atlet

Selain keluarga dan pelatih, sekolah juga memiliki peran penting dalam perjalanan Al Fatih.

Kepala MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus, Suryanto, mengatakan sekolah berkomitmen memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berkembang, baik di bidang akademik maupun non akademik.

Suryanto, Kepala MI Muhammadiyah Al Tanbih Kudus. (Foto: FZ/mainkekudus)

Bagi siswa yang mengikuti kejuaraan, sekolah memberikan dispensasi belajar, pendampingan, hingga berbagi pembiayaan bersama orang tua agar aktivitas bertanding tidak menjadi beban.

“Semua anak kami dorong berprestasi. Untuk Mas Fatih, kami mendukung penuh ketika mengikuti berbagai kejuaraan,” katanya.

Menurutnya, prestasi olahraga tidak hanya menghasilkan medali, tetapi juga membentuk karakter. Ia melihat siswa yang aktif mengikuti pembinaan olahraga umumnya lebih disiplin, santun, mudah membantu teman, dan mampu bekerja sama dengan baik.

Untuk menjaga keseimbangan antara akademik dan latihan, sekolah memberikan fleksibilitas melalui pembelajaran daring ketika siswa harus mengikuti kejuaraan di luar kota. Sementara itu, latihan panahan sebagai kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan setiap Sabtu dan dapat ditambah intensitasnya menjelang perlombaan di Lapangan Hizbul Wathan Purwosari.

Tekun Berlatih Berbuah Prestasi

Berbagai kejuaraan yang diikuti Al Fatih tidak hanya menghasilkan medali, tetapi juga memperkaya pengalaman bertanding. Dalam waktu sekitar dua tahun menekuni panahan, ia telah tampil pada sejumlah kompetisi tingkat regional, provinsi, hingga nasional. Setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus belajar menghadapi lawan dengan karakter dan kualitas yang berbeda.

Di antara seluruh medali yang dimilikinya, ada satu yang paling berkesan, yakni medali yang diraih pada kejuaraan panahan di Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Yogyakarta, setelah mengikuti MilkLife Archery sekitar September 2025.

“Medalinya bagus, jadi itu yang paling saya ingat,” ujarnya.

Tidak semua kejuaraan berakhir dengan posisi tertinggi. Al Fatih juga pernah meraih juara kedua pada Liga Fespati 2025 Chapter Pantura 1 kategori Horsebow U-12 dan MilkLife Archery Challenge Seri 1 Tahun 2025 kategori PVC U-12. Di tingkat provinsi, ia menambah pengalamannya dengan meraih juara ketiga pada Kejuaraan Daerah Fespati Tahun 2026 kategori Horsebow U-12. Bagi Al Fatih, setiap kejuaraan menjadi ruang untuk belajar, mengevaluasi kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan berikutnya. 

Meski sudah beberapa kali naik podium, Al Fatih mengaku kejuaraan tingkat nasional masih menjadi tantangan terbesar. Menurutnya, kompetisi tersebut mempertemukan atlet-atlet terbaik dari berbagai provinsi sehingga menuntut kesiapan teknik, mental, dan konsentrasi yang lebih baik.

Di luar arena pertandingan, Al Fatih tetap menjalani kesehariannya sebagai anak berusia 11 tahun. Ia senang bermain sepak bola bersama teman-temannya, berkunjung ke rumah kakeknya, menikmati makanan seblak, dan memiliki cita-cita menjadi anggota TNI.

Bagi anak-anak yang ingin mengikuti jejaknya di dunia panahan, Al Fatih memiliki pesan sederhana.

“Sering latihan, latihan mental, latihan fokus, dan harus konsisten.”

Perjalanan Ahmad Maulana Umar Al Fatih menunjukkan bahwa perkembangan seorang atlet tidak hanya diukur dari jumlah medali yang dikumpulkan, tetapi juga dari proses belajar yang dijalani secara berkesinambungan. Latihan rutin, pengalaman bertanding, serta dukungan keluarga, pelatih, dan sekolah menjadi bekal yang terus membantunya berkembang sebagai atlet panahan muda sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan pada jenjang kompetisi berikutnya. (FZ/mainkekudus)

PROFIL ATLET LAINNYA

Foto Asyifa Sholawa Farizqi

Asyifa Sholawa Farizqi

Foto Della Citra Ayu

Della Citra Ayu

Foto Irgi Candra Pranata

Irgi Candra Pranata

Foto Muhammad Daffa Nugraha

Muhammad Daffa Nugraha

PROFIL ATLETIK LAINNYA

Foto Irgi Candra Pranata

Irgi Candra Pranata