
KUDUS – Ketika musim kemarau datang, masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, memiliki tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Tradisi tersebut dikenal sebagai Guyang Cekathak, sebuah rangkaian kegiatan adat yang berkaitan dengan pelana kuda dan harapan akan turunnya hujan.
Pelaksanaan Guyang Cekathak digelar setiap tahun pada Jumat Pahing di musim kemarau. Rangkaian kegiatan dimulai dari Masjid Sunan Muria, kemudian dilanjutkan dengan kirab menuju Sendang Rejoso. Di tempat tersebut, cekathak atau pelana kuda yang dipercaya berkaitan dengan Sunan Muria diusung dalam prosesi adat.
Bagi masyarakat setempat, cekathak bukan lagi sekadar benda yang memiliki bentuk seperti pelana kuda. Benda tersebut menjadi bagian dari ingatan sejarah yang terus dirawat melalui tradisi. Tidak ada lagi kuda yang menggunakan pelana tersebut, tetapi masyarakat tetap mempertahankan prosesi memandikannya sebagai bagian dari warisan leluhur.
Mastur, atau yang akrab disapa Mbah Tur, Dewan Pembina Yayasan Makam Sunan Muria, menuturkan Guyang Cekathak telah dijalankan secara turun-temurun. Menurutnya, tradisi tersebut bahkan sudah dikenal sejak zaman Hindia Belanda.

Cerita mengenai Guyang Cekathak berkaitan dengan Sunan Muria yang pada masa lalu menggunakan kuda sebagai tunggangan. Kuda tersebut biasanya dimandikan di Sendang Rejoso.
Seiring berjalannya waktu, kuda yang dahulu digunakan sebagai tunggangan Sunan Muria tentu tidak lagi ada. Yang kemudian tersisa dalam ingatan masyarakat adalah cekathak, pelana yang menjadi bagian dari tunggangan tersebut.
Pelana itulah yang kemudian digunakan dalam prosesi Guyang Cekathak. Benda yang dahulu memiliki fungsi untuk menopang penunggang kuda kini menjadi bagian dari ritual yang dilakukan masyarakat Desa Colo.
Perubahan fungsi tersebut membuat cekathak memiliki kedudukan tersendiri dalam tradisi. Masyarakat tidak lagi melihatnya berdasarkan fungsi awal sebagai perlengkapan berkuda, tetapi sebagai benda yang menghubungkan pelaksanaan tradisi saat ini dengan cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Prosesi memandikan cekathak juga menunjukkan bagaimana sebuah benda dapat menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Cerita tentang Sunan Muria tidak hanya diwariskan melalui penuturan, tetapi juga melalui tempat, benda, dan kegiatan yang masih dijalankan.

Rangkaian Guyang Cekathak dimulai dari kawasan Masjid Sunan Muria. Masyarakat berjalan bersama dalam sebuah kirab menuju Sendang Rejoso.
Perjalanan tersebut menjadi bagian penting karena cekathak tidak langsung berada di sendang. Pelana diusung dalam iring-iringan sebelum akhirnya sampai di lokasi sumber air yang menjadi tempat berlangsungnya prosesi.
Sendang Rejoso memiliki hubungan dengan cerita yang melatarbelakangi tradisi. Tempat tersebut dahulu digunakan untuk memandikan kuda yang dikaitkan dengan Sunan Muria.

Kini, kegiatan memandikan kuda tidak lagi dilakukan karena kuda tersebut sudah tidak ada. Sebagai gantinya, cekathak yang menjadi bagian dari tunggangan digunakan dalam prosesi.
Kirab sekaligus membuat tradisi tersebut menjadi kegiatan bersama. Warga tidak hanya berkumpul ketika prosesi utama berlangsung, tetapi ikut hadir sejak perjalanan menuju sendang.

Guyang Cekathak tidak hanya berkaitan dengan sejarah cekathak. Dalam rangkaian kegiatan tersebut terdapat prosesi Udan Dawet yang menggunakan cendol.
Cendol ditaburkan dalam prosesi tersebut. Bentuk dan gerakannya ketika jatuh ke tanah dianggap menyerupai air hujan yang turun.
Mbah Tur menjelaskan, penggunaan cendol berkaitan dengan permohonan agar hujan turun. Harapan tersebut muncul ketika masyarakat menghadapi musim kemarau dan membutuhkan air untuk kehidupan sehari-hari.

Dalam keyakinan yang menyertai tradisi tersebut, doa ditujukan kepada Allah SWT. Sunan Muria dan Nyai Ageng Ratu menjadi wasilah dalam doa yang dipanjatkan masyarakat.
Dengan demikian, hujan tidak diposisikan sebagai sesuatu yang dapat dipanggil hanya melalui pelaksanaan ritual. Prosesi menjadi bagian dari doa dan harapan masyarakat kepada Allah SWT.
Di tengah perubahan zaman, kebutuhan terhadap air tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pengetahuan tentang cuaca dan teknologi memang dapat membantu manusia memperkirakan kondisi musim, tetapi datangnya hujan tetap tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Karena itu, Guyang Cekathak menjadi salah satu cara masyarakat Colo menyampaikan harapan ketika musim kemarau berlangsung.

Kebersamaan masyarakat tidak berhenti setelah prosesi di Sendang Rejoso selesai. Makanan menjadi bagian lain dari rangkaian kegiatan tersebut.
Nasi beserta lauk-pauk disiapkan dan dinikmati bersama. Pindang ayam, tahu, tempe, dan dawet menjadi hidangan yang hadir dalam kegiatan masyarakat.
Makan bersama membuat tradisi tidak hanya berisi kegiatan adat. Warga memiliki kesempatan untuk berkumpul dalam satu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama.
Keterlibatan masyarakat juga muncul dalam berbagai bentuk. Ada warga yang mengikuti kirab dan prosesi, ada yang membantu menyiapkan hidangan, ada pula yang datang untuk berdagang atau menyaksikan kegiatan.

Lestari, warga asli Desa Colo, menjadi salah satu masyarakat yang mengikuti pelaksanaan Guyang Cekathak secara langsung. Ia sudah dua kali datang mengikuti kegiatan tersebut. Sebelumnya, ia lebih sering melihat Guyang Cekathak melalui layar.
Kehadirannya kali ini juga berkaitan dengan aktivitas berjualan. Namun, di tengah kegiatan tersebut, Lestari tetap memiliki harapan yang sama dengan masyarakat lainnya, yakni agar hujan segera turun setelah musim kemarau berlangsung.
Harapan tersebut sederhana. Masyarakat membutuhkan air dan berharap musim kemarau tidak membuat kebutuhan tersebut menjadi persoalan.

Selain prosesi memandikan cekathak, Guyang Cekathak memiliki bagian lain yang berkaitan langsung dengan lingkungan. Mbah Tur menjelaskan, pada masa lalu rangkaian kegiatan juga disertai dengan membersihkan Sendang Rejoso.
Lumpur, daun-daunan, sampah, dan kotoran dibersihkan dari kawasan sumber mata air. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berisi permohonan agar hujan turun, tetapi juga memiliki hubungan dengan cara masyarakat memperlakukan sumber air.
Kepala Desa Colo, Suwanto, melihat pesan menjaga lingkungan sebagai salah satu bagian penting dari Guyang Cekathak. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tetap menjaga lingkungan, terutama sumber-sumber air yang berada di lereng Gunung Muria.

Desa Colo belum sampai mengalami krisis air meskipun musim kemarau telah berlangsung selama sekitar dua bulan terakhir. Kondisi tersebut tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan keberadaan sumber air.
Sumber mata air menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, menjaga kawasan di sekitarnya menjadi langkah yang tidak terpisahkan dari kebutuhan terhadap air.
Dalam konteks tersebut, kegiatan membersihkan sendang memiliki makna praktis. Masyarakat tidak hanya menyampaikan harapan agar mendapatkan hujan, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap tempat yang menjadi sumber air.
Tradisi kemudian bertemu dengan kebutuhan sehari-hari. Doa tetap dilakukan, sementara lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat juga perlu dirawat.

Guyang Cekathak bertahan melalui proses pewarisan yang dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Masyarakat masih mengulang rangkaian kegiatan yang sama, mulai dari kirab, membawa cekathak, prosesi di Sendang Rejoso, Udan Dawet, hingga makan bersama.
Di dalamnya terdapat beberapa unsur yang saling berkaitan. Cekathak mengingatkan masyarakat pada cerita tentang Sunan Muria. Sendang Rejoso menjadi lokasi yang berhubungan dengan cerita tersebut sekaligus berkaitan dengan sumber air. Cendol dalam Udan Dawet menjadi bagian dari permohonan hujan. Sementara makan bersama mempertemukan warga dalam satu kegiatan.
Bagi masyarakat Desa Colo, keberadaan tradisi tersebut membuat sejarah tetap memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari. Cerita tentang masa lalu tidak hanya disimpan dalam ingatan, tetapi diwujudkan melalui kegiatan yang masih dilakukan.
Pada saat yang sama, Guyang Cekathak juga memperlihatkan persoalan yang selalu berulang dalam kehidupan masyarakat, yakni kebutuhan terhadap air ketika kemarau datang.
Perubahan zaman telah menghadirkan berbagai cara untuk mengelola kebutuhan air dan membaca kondisi cuaca. Namun, masyarakat tetap memiliki batas dalam menentukan kapan hujan akan turun.
Karena itu, Guyang Cekathak terus dilakukan bukan sebagai pengganti ikhtiar manusia dalam menghadapi kemarau, melainkan sebagai bagian dari tradisi, doa, dan kebersamaan masyarakat.
Pada akhirnya, pelana kuda yang sudah tidak digunakan sebagaimana fungsi awalnya tetap dibawa menuju Sendang Rejoso. Cendol tetap ditaburkan dalam Udan Dawet. Doa tetap dipanjatkan, makanan tetap dibagikan, dan masyarakat tetap berkumpul.
Semua rangkaian tersebut membuat Guyang Cekathak tetap hadir dalam kehidupan masyarakat Desa Colo. Tradisi itu menjadi cara untuk menjaga ingatan tentang leluhur sekaligus mengingatkan pentingnya air dan lingkungan bagi kehidupan.
Selama masyarakat masih menjaga tradisi tersebut, cekathak tidak hanya menjadi benda peninggalan. Ia tetap menjadi bagian dari cerita yang menghubungkan masyarakat Colo dengan sejarah, lingkungan, kebersamaan, dan harapan mereka ketika musim kemarau datang. (OEB/YSR/ITN/mainkekudus)