

“Pasti yang pertama untuk sehat. Yang kedua untuk latihan bareng. Jadi waktu itu memang belum banyak komunitas lari seperti yang ada sekarang ini. Jadi ibaratnya membuat suatu wadah, latihan bareng, senang-senang bareng,” kata Izzad.
Karakter tersebut membuat Kudus Runners tidak menetapkan standar kemampuan tertentu bagi anggotanya. Pelari yang baru memulai bisa berada dalam satu lingkungan dengan mereka yang sudah memiliki pengalaman lebih panjang. Kecepatan, jarak tempuh, maupun target latihan dapat berbeda tanpa menghilangkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan bersama.
Akses bergabung juga dibuat sederhana. Tidak ada persyaratan khusus yang membuat orang harus terlebih dahulu menjadi pelari berpengalaman sebelum masuk ke dalam komunitas.
“Siapa pun yang mau bergabung, kita open banget. Memang tidak ada iuran apapun setiap bulannya,” ujar Izzad.

Seiring perjalanan komunitas, jumlah orang yang terhubung dengan Kudus Runners terus bertambah. Saat ini, grup WhatsApp komunitas beranggotakan sekitar 200 orang. Jaringan tersebut menjadi ruang komunikasi bagi anggota untuk saling terhubung dan mengetahui kegiatan yang berlangsung.
Sebelum pandemi Covid-19, Kudus Runners memiliki beberapa agenda rutin dengan karakter berbeda. Ada La-Salsa atau Lari Selasa Malam dan Lajunda atau Lari Jumat Ndalu. Pada Minggu pagi, komunitas menggelar Melayu Minggu Enjing dengan jarak yang biasanya lebih panjang, rata-rata sekitar 10 kilometer.
Agenda tersebut memberi ruang bagi anggota untuk mengikuti kegiatan sesuai kebutuhan. Sebagian datang untuk menjaga kebugaran, sebagian ingin meningkatkan kemampuan, sementara yang lain memanfaatkan momentum latihan sebagai kesempatan bertemu teman setelah menjalani aktivitas sehari-hari.
Kegiatan para anggota juga tidak berhenti pada agenda internal. Sejumlah pelari dari Kudus Runners mengikuti event di berbagai kota, seperti Borobudur Marathon, Jogja Marathon, serta perlombaan lari di Semarang. Bagi anggota yang menyukai tantangan, event menjadi kesempatan menguji kemampuan dan mendapatkan pengalaman baru.
Namun, perlombaan bukan satu-satunya tujuan komunitas. Anggota yang tidak memiliki target mengikuti race tetap dapat menikmati kegiatan bersama. Ruang itu membuat Kudus Runners dapat menampung alasan orang berlari yang berbeda-beda, dari sekadar ingin aktif bergerak hingga mengejar pencapaian pribadi.
Muhammad Soleh menjadi salah satu anggota yang telah cukup lama mengikuti perjalanan Kudus Runners. Guru SMP 3 Kudus tersebut bergabung sejak 2018 setelah sebelumnya mengenal aktivitas lari dari ajakan seorang teman. Ia tidak datang dengan latar belakang khusus sebagai pelari.
Seiring waktu, lari berkembang menjadi rutinitas yang terus ia jalani. Keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan juga membuat lingkaran pergaulannya semakin luas karena bertemu orang-orang dari profesi dan lingkungan yang berbeda.

“Yang jelas paling berkesannya ya memang relasi. Teman atau relasi ini tidak bisa kita pungkiri dan itu jelas jauh penting dari semuanya,” ungkap Soleh.
Selain pertemanan, Soleh juga merasakan perubahan pada kebugaran tubuhnya. Ia berusaha menjaga berat badan tetap berada di kisaran 60-an kilogram dan tetap menyempatkan diri berolahraga di tengah kesibukannya sebagai guru.
“Yang namanya sehat itu adalah kebutuhan atau bahkan mungkin kebutuhan pokok yang memang harus dipenuhi,” ujarnya.
Pengalaman Soleh memperlihatkan bahwa alasan seseorang bertahan dalam komunitas tidak selalu berkaitan dengan prestasi atau catatan waktu. Lingkungan pertemanan dapat berjalan beriringan dengan manfaat fisik yang diperoleh dari kebiasaan berolahraga secara rutin.
Keterbukaan komunitas juga dirasakan Sofyan Maarif. Pria berusia 43 tahun itu baru bergabung dengan Kudus Runners dalam beberapa bulan terakhir setelah mengetahui keberadaan komunitas melalui Instagram.

Sebelum bergabung, Sofyan sudah memiliki ketertarikan pada olahraga lari. Namun, mengikuti komunitas memberinya suasana berbeda karena ia dapat berlatih bersama orang-orang dengan usia, pengalaman, dan kemampuan yang beragam.
Bagi anggota baru, perbedaan kemampuan tidak menjadi hambatan untuk mengikuti kegiatan. Setiap orang dapat menyesuaikan latihan dengan kapasitasnya sendiri tanpa harus lebih dulu menyamai anggota lain yang sudah berpengalaman.
“Di sini tidak ada target untuk latihan harus tes berapa, harus kecepatan berapa. Jadi semua boleh gabung, mungkin yang mau baru mulai latihan maupun yang sudah kencang-kencang,” jelas Sofyan.
Keberadaan komunitas juga memberinya alasan untuk tetap datang dan berolahraga ketika motivasi pribadi sedang menurun. Agenda yang dilakukan bersama membuat aktivitas lari tidak sepenuhnya bergantung pada dorongan diri sendiri.
“Dengan komunitas ini kadang kan ada event, ada latihan bersama, ada apa. Nah itu yang menjadi semangat saya untuk yang tadinya malas, bisa semangat lagi,” katanya.
Dalam hampir satu dekade perjalanan Kudus Runners, perubahan tidak hanya terjadi di dalam komunitas. Lanskap olahraga lari di Kudus ikut berkembang dengan munculnya semakin banyak kelompok baru.
Setiap komunitas dapat memiliki karakter dan fokus berbeda. Ada kelompok yang menjalankan aktivitas lari secara umum, ada pula yang lebih berkaitan dengan atlet atau jenis lari tertentu, termasuk trail run. Bagi masyarakat, keragaman tersebut berarti semakin banyak pilihan untuk menemukan lingkungan yang sesuai.
Izzad pun melihat perkembangan itu sebagai sesuatu yang positif bagi pertumbuhan olahraga lari di Kudus.
“Semakin banyak komunitas yang ada di Kudus, kita semakin senang. Akhirnya semakin banyak komunitas yang ada di Kudus,” ungkapnya.
Situasi itu berbeda dengan masa awal Kudus Runners berdiri ketika wadah bagi pelari masih terbatas. Kini, orang yang ingin mulai berlari memiliki lebih banyak pintu masuk untuk mengenal olahraga tersebut.
Perbedaan antar komunitas juga tidak harus menjadi persaingan. Masing-masing dapat berkembang dengan ciri khasnya sendiri, sekaligus menjangkau kelompok masyarakat yang mungkin memiliki kebutuhan dan cara berolahraga berbeda.
Setelah berjalan selama satu dekade, Kudus Runners mulai mengembangkan aktivitas ke bidang event organizer dan race management. Pengalaman para anggotanya mengikuti berbagai kegiatan lari menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membuka peluang baru bagi komunitas.
Ke depan, Izzad berharap Kudus Runners dapat dipercaya menangani event lari berskala besar di Kudus. Namun, kegiatan semacam itu baginya juga perlu meninggalkan dampak yang bertahan setelah perlombaan selesai. Tantangannya bukan sekadar menghadirkan peserta, tetapi bagaimana olahraga kemudian terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Harapan tersebut membuat perhatian Kudus Runners tidak berhenti pada semakin banyaknya event. Mereka ingin masyarakat memiliki hubungan yang lebih panjang dengan aktivitas fisik, termasuk dengan menjadikan olahraga sebagai investasi kesehatan untuk masa mendatang.
“Kita penginnya olahraga itu benar-benar jadi satu kebutuhan bagi seluruh masyarakat Kudus. Karena kita memikirkan olahraga saat ini itu memang untuk kebutuhan kita lima, sepuluh tahun yang akan datang,” tuturnya.

Perjalanan Kudus Runners menunjukkan bagaimana sebuah aktivitas sederhana dapat berkembang menjadi ruang yang memiliki banyak fungsi. Bagi sebagian orang, komunitas membantu menjaga kebugaran. Bagi yang lain, kegiatan lari membuka kesempatan memperluas relasi, menemukan teman latihan, atau menjaga motivasi agar tetap bergerak.
Pertumbuhan komunitas lari lain di Kudus kemudian memperluas pilihan tersebut. Masyarakat tidak harus berada dalam satu kelompok yang sama untuk ikut membangun budaya olahraga. Setiap komunitas dapat mengambil perannya masing-masing dengan karakter dan kegiatannya sendiri.
Pada akhirnya, pilihan komunitas bukan menjadi hal utama bagi Izzad. Menurutnya, semakin banyak warga menemukan ruang yang membuat mereka nyaman berolahraga, semakin besar pula kesempatan lari menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.
“Silakan teman-teman yang ada di kota Kudus mau mengikuti komunitas apa pun. Saya pikir tidak ada larangan. Yang penting kita sama-sama sehat bareng, sama-sama lari bareng, sama-sama membuat kota Kudus semakin membudayakan lari di mana pun kita berada,” tandasnya.

Bagi Kudus Runners, perjalanan itu masih terus berlangsung. Dari latihan bersama yang menjadi alasan awal komunitas berdiri, aktivitas lari berkembang menjadi ruang untuk menjaga kebugaran, membangun relasi, mengikuti event, sekaligus mendorong lebih banyak warga mengenal olahraga.
Budaya lari tidak harus dimulai dari target perlombaan atau pencapaian tertentu. Kebiasaan tersebut dapat tumbuh dari langkah sederhana, memiliki teman untuk bergerak bersama, lalu menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagi yang ingin ikut berlari bersama Kudus Runners, informasi mengenai jadwal latihan dan fun run dapat dipantau melalui akun Instagram resmi Kudus Runners atau laman Schedules Run Kudus Runners. Calon anggota juga dapat datang langsung ke titik kumpul latihan sesuai jadwal atau menghubungi kontak yang tersedia di media sosial komunitas untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. (OEB/mainkekudus)