


KUDUS – Excited Girls Kudus lahir dari kebutuhan sederhana: mencari teman bermain badminton. Berdiri pada 1 November 2025, komunitas khusus perempuan ini awalnya hanya beranggotakan tiga orang.
Seiring waktu, jumlah pemain terus bertambah. Aktivitas yang semula dilakukan dalam lingkup kecil berkembang menjadi agenda rutin bagi perempuan dengan latar kemampuan berbeda.
Ada yang sudah terbiasa bermain, ada yang masih mempelajari teknik dasar, hingga mereka yang baru ingin kembali aktif berolahraga. Di komunitas ini, pengalaman bermain bukan menjadi syarat untuk bergabung.

Friska Amelia Riski, admin Excited Girls Kudus, masih mengingat bagaimana komunitas tersebut dirintis hanya oleh tiga orang.
“Awalnya dari tiga orang menjadi nambah, nambah, nambah, nambah gitu,” ungkap Friska.
Semakin banyak perempuan kemudian ikut bermain. Agenda main bareng yang awalnya sederhana pun berkembang menjadi kegiatan rutin.
Pertambahan anggota juga membuat dinamika permainan semakin beragam. Sebagian masih belajar teknik dasar, sementara yang lain sudah lebih terbiasa membaca arah bola, mengatur pukulan, dan memahami ritme permainan.
Perbedaan kemampuan itu justru membuka ruang belajar antarpemain. Mereka bisa mengamati permainan anggota lain, mencoba pola baru, sekaligus memperoleh pengalaman dari sesi yang dijalani bersama.

Masuk ke komunitas baru tidak selalu mudah. Hal itu sempat dirasakan Afliyatus Sholihah ketika pertama kali datang ke Excited Girls Kudus.
Ia belum mengenal anggota lain dan merasa kemampuan bermainnya masih terbatas. Rasa canggung sempat muncul sebelum akhirnya ia ikut turun ke lapangan.
Namun, sambutan para anggota membuat pengalaman pertamanya terasa lebih ringan.
“Pengalaman pertama saya sangat baik karena anggota-anggotanya baik-baik, ramah-ramah, dan saling support,” tuturnya.
Bagi Afliyatus, pertemuan rutin membuat proses adaptasi berjalan lebih mudah. Dari yang semula datang tanpa mengenal siapa pun, ia perlahan mulai akrab dengan pemain lain yang memiliki minat serupa.
Badminton pun tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga pintu masuk untuk mengenal lingkungan baru.
Bagi pemula, rasa minder kerap muncul ketika harus bermain bersama pemain yang lebih mahir. Kekhawatiran tidak mampu mengikuti tempo atau justru merepotkan pasangan bisa membuat seseorang urung mencoba.
Excited Girls mencoba menjembatani perbedaan kemampuan melalui sistem yang mereka sebut sebagai sistem gendong.
Pemain pemula dipasangkan dengan anggota yang lebih berpengalaman. Cara ini membuat permainan tetap berjalan sekaligus memberi kesempatan bagi pemain baru untuk belajar langsung di lapangan.
Komunitas juga sesekali menghadirkan sesi coaching untuk membantu anggota memperbaiki teknik dan memahami pola permainan.
Pengalaman itu dirasakan Vina Tri Aristyani. Sebelum bergabung dengan Excited Girls, ia biasa bermain badminton secara kasual di rumah atau lapangan dekat tempat tinggal saat memiliki waktu luang.

Setelah bergabung, ia mulai mengenal aspek permainan yang sebelumnya belum banyak dipahami.
“Sekarang selain sudah bergabung di sini, jadi tahu untuk taktiknya. Jadi enggak asal-asalan,” jelas Vina.
Baginya, badminton kemudian tidak lagi sekadar soal memukul shuttlecock melewati net. Ada taktik, penempatan posisi, membaca arah permainan, hingga komunikasi dengan pasangan yang ikut menentukan jalannya pertandingan.
Excited Girls Kudus menggelar kegiatan rutin setiap Sabtu malam, mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.
Untuk mengikuti satu sesi, peserta dikenai biaya Rp15 ribu. Biaya tersebut sudah mencakup penggunaan lapangan dan shuttlecock. Bagi anggota yang belum memiliki raket, komunitas juga menyediakan raket untuk dipakai selama bermain.
Sesekali, sesi reguler turut dilengkapi dengan coaching bagi anggota yang ingin meningkatkan kemampuan.
Namun, pertemuan tidak selalu berhenti ketika permainan selesai.

Selepas dari lapangan, sebagian anggota masih melanjutkan malam dengan mengobrol atau ngopi bersama. Momen tersebut menjadi kesempatan untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih santai.
Vina mengaku merasa nyaman berada di lingkungan yang seluruh anggotanya perempuan. Sementara bagi Afliyatus, aktivitas rutin itu memberi ruang untuk menjalankan hobi sekaligus memperluas pergaulan.
Dari sana, hubungan antaranggota tidak hanya terbentuk melalui pasangan bermain atau lawan di lapangan, tetapi juga lewat interaksi di luar sesi badminton.

Bagi Excited Girls, kemampuan bukan alasan untuk menunda bermain.
Vina mengingatkan perempuan yang masih ragu mencoba agar tidak menunggu sampai merasa cukup mahir.
“Enggak langsung pro, enggak langsung bisa, enggak. Pasti step by step itu pasti ada,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan berkembang secara bertahap melalui latihan dan pengalaman. Ada yang memulai dari teknik dasar, kemudian belajar memahami posisi, membaca arah bola, hingga mencoba strategi yang lebih terarah.
Friska berharap Excited Girls terus berkembang dan dikenal lebih luas. Ia juga memiliki keinginan membuka cabang di tempat lain agar kegiatan serupa dapat menjangkau lebih banyak perempuan.
Bagi perempuan di Kudus dan sekitarnya yang tertarik bergabung, informasi mengenai jadwal kegiatan dapat diperoleh melalui Instagram Excited Girls Kudus. Calon peserta juga dapat menghubungi admin melalui pesan langsung.

Setiap Sabtu malam, lapangan menjadi titik temu bagi perempuan dengan pengalaman bermain yang berbeda.
Sebagian datang untuk berlatih, sebagian ingin menjaga kebugaran, sementara yang lain menikmati kesempatan bermain bersama.
Dari agenda sederhana yang bermula dengan tiga orang, Excited Girls kini tumbuh menjadi komunitas yang mempertemukan badminton, proses belajar, dan pertemanan dalam satu lapangan. (OEB/YSR/mainkekudus)


