


Sejarah PB Djarum bermula dari aktivitas sederhana. Pada 28 April 1969, klub ini berdiri dari kumpulan karyawan yang memiliki kegemaran bermain bulu tangkis bersama. Kegiatan yang awalnya dilakukan sebagai aktivitas olahraga kemudian berkembang dan dikelola secara lebih serius.
Perkembangan klub kemudian berjalan seiring dengan munculnya atlet-atlet binaan yang mencatat prestasi di berbagai ajang. Liem Swie King menjadi salah satu nama penting dalam sejarah PB Djarum. Permainannya yang dikenal dengan King Smash turut menandai salah satu periode penting dalam perjalanan klub.

Perjalanan tersebut berlanjut pada generasi berikutnya. Hariyanto Arbi menjadi salah satu atlet PB Djarum yang mencatat prestasi pada era 1990-an. Legenda tunggal putra Indonesia itu dikenal dengan julukan “Smash 100 Watt” karena pukulan smashnya yang keras dan tajam.

Selain keduanya, PB Djarum kemudian membina sejumlah atlet yang mencatat prestasi di tingkat nasional dan internasional. Alan Budikusuma, Sigit Budiarto, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, Praveen Jordan, dan Debby Susanto menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.
Deretan atlet dari berbagai generasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan PB Djarum dalam menjaga kesinambungan pembinaan. Prestasi yang dicapai para atlet berjalan beriringan dengan proses pencarian dan pembentukan pemain muda yang terus berlangsung.
Gagasan mengenai arah pembinaan itu kemudian dirangkum melalui kalimat “Dari Kudus Menuju Dunia”. Kudus menjadi tempat atlet menjalani latihan dan pendidikan, sementara pembinaan diarahkan untuk memberi kesempatan kepada mereka berkembang hingga mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Bagi PB Djarum, pembinaan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian di pertandingan. Daya juang dan kemampuan atlet menghadapi tekanan juga menjadi bagian yang diperhatikan. Perkembangan atlet dipantau secara berkala melalui sistem pemeringkatan internal untuk kelompok usia U-13, U-15, dan U-17.

Regenerasi menjadi bagian dari perjalanan pembinaan PB Djarum. Melalui Audisi Umum, pencarian pemain muda dilakukan di berbagai daerah untuk membuka kesempatan bagi talenta potensial masuk ke dalam sistem pembinaan. Dengan pola tersebut, regenerasi atlet tidak hanya bertumpu pada Kudus, tetapi juga menjangkau pemain muda dari wilayah lain di Indonesia.
Pola pencarian tersebut telah berjalan dalam beberapa periode. Pada 2019, misalnya, Audisi Umum PB Djarum digelar di lima kota di Pulau Jawa, yakni Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo Raya, dan Kudus. Rangkaian itu menjadi bagian dari proses pencarian atlet muda yang berlangsung hingga tahap final.
Pelaksanaan audisi sempat terhenti selama pandemi Covid-19. Setelah kembali berjalan, jangkauan pencarian talenta tidak hanya dilakukan di Kudus, tetapi juga diperluas ke Pekanbaru dan Makassar. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PB Djarum menjangkau calon atlet dari latar daerah yang lebih beragam.

Selain Audisi Umum, pencarian atlet dilakukan melalui tim talent scout serta kerja sama dengan klub-klub mitra daerah. Atlet potensial dapat dipantau melalui program magang dan latihan bersama sebelum mengikuti tahap pembinaan lebih lanjut.
Pola tersebut membuat proses pencarian atlet tidak hanya bergantung pada pemain yang datang langsung ke Kudus. Potensi atlet dapat dipantau sejak berada di daerah asal sebelum mendapatkan kesempatan mengikuti pembinaan lebih lanjut.
Setelah masuk ke dalam sistem pembinaan, atlet menjalani proses latihan sesuai sektor dan kelompok usia. Berdasarkan data operasional per 24 April 2025, PB Djarum membina 162 atlet aktif dengan dukungan 31 pelatih. Sebanyak 101 atlet berada di sektor ganda dengan 14 pelatih, sedangkan 61 atlet berada di sektor tunggal dengan 17 pelatih.
Kegiatan pembinaan dipusatkan di GOR Djarum (Jati) dan Djarum Arena (Kaliputu) di Kudus, dengan dukungan fasilitas pelatihan di GOR Djarum (Jakarta). Pembagian sektor dan kelompok usia tersebut memungkinkan latihan disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan masing-masing atlet.

Setelah seorang atlet masuk dalam sistem pembinaan, proses berikutnya berlangsung melalui latihan yang terstruktur. Pelatih tidak hanya melihat kemampuan teknis, tetapi juga karakter dan kebiasaan atlet dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
David Hedija Pohan, Kepala Pelatih Sektor U-15 dan U-17 PB Djarum, menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang diperhatikan ketika menjaring atlet muda, antara lain usia, postur tubuh, teknik, dan karakter permainan.

Teknik menjadi salah satu dasar penting. Atlet juga dinilai dari arah permainan yang dimiliki, termasuk keberanian menerapkan pola permainan menyerang yang sesuai dengan kebutuhan permainan modern.
Namun, kemampuan bermain tidak berdiri sendiri. Sikap atlet menjadi bagian dari proses pembentukan yang berjalan setiap hari.
“Nilai yang selalu kita ajarkan adalah nilai keseharian. Mulai dari attitude mereka di asrama, disiplin waktu, hingga perilaku di dalam lapangan,” kata David.
Karena itu, latihan juga menjadi tempat untuk menguji daya juang. Atlet dibiasakan menghadapi tekanan pertandingan dan kelelahan fisik. Tujuannya agar mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi situasi sulit dalam pertandingan.
Pembinaan generasi muda saat ini juga menghadapi persoalan yang berbeda. Penggunaan gadget dan media sosial menjadi salah satu distraksi yang mendapat perhatian pelatih. Atlet dituntut mampu menjaga fokus karena perjalanan menuju level profesional membutuhkan waktu, konsistensi, dan pengorbanan.
Sistem pembinaan yang berjalan selama puluhan tahun kemudian melahirkan sejumlah atlet yang tampil di tingkat internasional. Liem Swie King tercatat sebagai juara All England pada 1978, 1979, dan 1981. Alan Budikusuma meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, sedangkan Sigit Budiarto menjadi juara dunia ganda putra pada 1997 bersama Candra Wijaya.
Pada generasi berikutnya, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir meraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, Praveen Jordan, dan Debby Susanto juga mencatat gelar internasional dalam perjalanan karier mereka.
Prestasi atlet binaan terus menjadi bagian dari catatan pembinaan. Pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin tercatat meraih gelar juara Taipei Open Super 300 pada Minggu, 2 Agustus 2026, setelah mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia dan Aaron Tai di babak final. Pada level nasional junior, PB Djarum juga meraih predikat Juara Umum pada Kejuaraan Sirnas Kapolri tahun 2026.
Selain prestasi atlet, keberadaan pusat latihan dan penyelenggaraan kejuaraan di Kudus turut membuat aktivitas olahraga berlangsung di kota tersebut. GOR Djarum (Jati) dan Djarum Arena (Kaliputu) menjadi bagian dari kegiatan pembinaan sekaligus tempat berlangsungnya kompetisi.
Di balik catatan tersebut, proses regenerasi tetap berjalan. Atlet baru terus datang, mengikuti seleksi, beradaptasi dengan lingkungan pembinaan, lalu menjalani latihan dan pendidikan dalam jadwal yang teratur.
Salah satu atlet yang kini menjalani proses pembinaan di PB Djarum adalah Muhammad Rasya Adhyazka. Atlet tunggal putra berusia 14 tahun asal Sampit, Kalimantan Tengah, itu bergabung pada 2024 melalui jalur Home Tournament. Jalur tersebut berkaitan dengan Kejuaraan Klub Mitra PB Djarum 2024 yang digelar di GOR Djarum, Kudus, pada Februari 2024. Ajang internal khusus undangan itu mempertemukan atlet-atlet muda dari klub-klub mitra binaan PB Djarum untuk mengasah kemampuan bertanding. Bagi Rasya, keikutsertaan dalam ajang tersebut menjadi bagian dari perjalanannya hingga bergabung dalam pembinaan PB Djarum.

Sebelum mendapatkan kesempatan tersebut, Rasya telah mengikuti Audisi Umum pada 2022 dan 2023. Perjalanannya menunjukkan bagaimana proses pencarian atlet dapat berlangsung lebih dari satu tahap sebelum seorang pemain masuk dalam sistem pembinaan.
Setelah berada di Kudus, kehidupan Rasya berubah mengikuti jadwal sebagai atlet sekaligus pelajar. Pukul 05.00 WIB menjadi waktu bangun dan persiapan. Setelah sarapan bersama di asrama pada pukul 05.30 WIB, ia menuju sesi latihan pagi mulai pukul 06.15 hingga 09.00 WIB.

Latihan pagi berisi pemanasan, teknik, dan pergerakan. Setelah itu, Rasya memiliki waktu untuk mandi, beristirahat, dan menjalani pendidikan sekolah. Sore hari, ia kembali ke lapangan untuk latihan fisik dan strategi hingga sekitar pukul 19.00 WIB.
Sesi fisik menjadi salah satu bagian yang menurut Rasya cukup berat. Lari jarak jauh dan latihan ketahanan harus dijalani secara rutin. Di sisi lain, ada momen yang membuat proses tersebut terasa berarti ketika hasil latihan terlihat dalam pertandingan, salah satunya saat berhasil mencapai partai final.
Rasya juga merasakan manfaat dari program beasiswa yang diterimanya. Ia menyebut fasilitas tersebut membantu mengurangi beban orang tua karena kebutuhan seperti makan dan tempat tinggal di asrama telah menjadi bagian dari program pembinaan.
Kini, targetnya mulai diarahkan ke kompetisi yang lebih tinggi. Ia ingin meraih prestasi di Sirnas dan Grand Prix serta mendapatkan kesempatan bertanding di Badminton Asia Championships di China. Setelah itu, ia berharap dapat masuk Pelatnas dan melanjutkan perjalanan ke level internasional.
Perjalanan Rasya masih panjang. Ia baru menjadi salah satu bagian dari proses regenerasi yang terus berjalan di PB Djarum sejak 1969. Seleksi, latihan, pendidikan, pembentukan karakter, hingga pertandingan menjadi tahapan yang harus dilalui atlet sebelum melangkah ke tingkat berikutnya. Di dalam proses tersebut, setiap generasi mendapat kesempatan untuk tumbuh, sementara pembinaan terus dipersiapkan untuk menemukan dan membentuk atlet berikutnya.
Kisah Rasya juga menunjukkan bahwa regenerasi tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ada atlet yang datang dari berbagai daerah, mengikuti seleksi, beradaptasi dengan kehidupan di asrama, kemudian menjalani rutinitas latihan yang teratur. Dari proses itulah PB Djarum menjaga kesinambungan pembinaan, dari atlet yang sedang berlatih hari ini hingga mereka yang kelak mendapat kesempatan tampil di tingkat nasional dan internasional.
Pesan Rasya kepada anak-anak yang memiliki cita-cita menjadi atlet pun sederhana: disiplin, konsisten, dan terus bersemangat. Nilai tersebut tidak hanya menjadi pesan bagi mereka yang ingin mengikuti jejaknya, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian yang sedang ia jalani. Dari lapangan latihan di Kudus, proses regenerasi itu terus berlangsung, dengan atlet muda yang hari ini belajar dan berlatih untuk mengisi generasi berikutnya. (HNR/mainkekudus)