Dari Spegaku Balistha, Dua Pemain Muda Asal Kudus Menembus Level Tim Nasional
KUDUS – Nama Della Citra Ayu Anggraeni dan Asyifa Sholawa Farizqi kini berada di panggung yang lebih besar. Keduanya tampil dalam Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 di Kudus dengan memperkuat dua tim Indonesia. Della menjadi bagian dari Garuda Pertiwi, sedangkan Asyifa bermain untuk Putri Nusantara.

Kesempatan tersebut tidak datang dalam waktu singkat. Sebelumnya, Della dan Asyifa merupakan bagian dari Spegaku Balistha U-15 di lingkungan SMP 3 Kudus. Di sana, keduanya menjalani latihan, mengikuti pertandingan, serta mendapat evaluasi bersama pemain lain.
Della bergabung dengan SMP 3 Kudus pada 2024, sementara Asyifa menyusul pada 2025. Keduanya telah mengenal sepak bola sejak sekolah dasar dan mengikuti kompetisi usia muda sebelum memasuki lingkungan pembinaan di tingkat SMP.
Dari proses tersebut, keduanya kemudian mendapat panggilan pemusatan latihan Timnas Putri U-17 hingga mengikuti agenda latihan di The Clairefontaine Academy, Prancis, sebagai bagian dari program pembinaan pemain muda.


Kini, pengalaman itu berlanjut di Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. Namun, bagi Spegaku Balistha, keberadaan dua pemain tersebut di level tim nasional bukan sekadar pencapaian individu. Keduanya menjadi gambaran dari proses pembinaan yang berlangsung sejak usia sekolah.
Membawa Bekal dari Kompetisi Usia Muda

Pembinaan sepak bola putri di SMP 3 Kudus berjalan melalui Kelas Khusus Olahraga (KKO), yang menjadi lingkungan bagi siswa dengan kemampuan dan minat di bidang olahraga.
Pelatih Spegaku Balistha sekaligus guru SMP 3 Kudus, Ahmad Rizza Aftoni, menjelaskan bahwa pemain yang masuk ke jenjang SMP umumnya telah memiliki bekal teknik dasar dari sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau sekolah sepak bola.
Karena itu, materi yang diberikan tidak lagi berhenti pada kemampuan dasar. Pemain mulai diarahkan untuk memahami permainan secara lebih luas dan mampu menerapkan kemampuan tersebut dalam situasi pertandingan.

“Kalau kita di tingkat SMP, ya lanjutannya. Kalau memang fokusnya di Hydroplus. Dari MilkLife ke Hydroplus itu sudah berurutan,” ungkap Rizza.
Kompetisi usia muda menjadi bagian dari tahapan tersebut. Della dan Asyifa sebelumnya telah mengikuti berbagai ajang, termasuk MilkLife dan Hydroplus. Pengalaman dari kompetisi-kompetisi itu menjadi bekal ketika mereka memasuki tuntutan permainan di jenjang berikutnya.
Membiasakan Pemain Membaca Permainan

Salah satu penyesuaian yang dilakukan di Spegaku Balistha adalah membiasakan pemain dengan format 11 lawan 11 di lapangan penuh.
Della dan Asyifa sebelumnya lebih banyak bermain dalam format sembilan lawan sembilan di lapangan yang lebih kecil. Keduanya juga pernah mengikuti seleksi Timnas Putri U-16, tetapi belum terpilih.
Menurut Rizza, perubahan format permainan membuat pemain perlu memahami ruang dan posisi dengan lebih baik. Lapangan yang lebih luas menuntut pemain membaca jarak dengan rekan satu tim, melihat ruang yang tersedia, serta menentukan pilihan ketika situasi permainan berubah.
Karena itu, latihan kemudian mencakup aspek taktikal, passing-support, pemahaman posisi, serta kemampuan menjalankan lebih dari satu peran.
“Jadi tidak hanya bermain di satu posisi, tapi ketika kita membutuhkan anak itu di posisi yang lainnya, anak itu mampu,” jelas Rizza.
Pendekatan tersebut membuat pemain tidak hanya terpaku pada tugas di satu posisi. Mereka juga belajar memahami kebutuhan tim dan menyesuaikan peran ketika pertandingan berlangsung.
Kemampuan Teknik Saja Tidak Cukup

Latihan menjadi tempat pemain mempelajari materi, sedangkan pertandingan memberikan ruang untuk mengujinya dalam situasi yang lebih dinamis.
Menurut Rizza, pengalaman bertanding penting karena pemain akan menghadapi kondisi yang tidak selalu muncul saat latihan. Mereka harus menentukan kapan mengoper, bergerak mencari ruang, bertahan, atau mengambil keputusan sendiri.
Pertandingan sekaligus membantu pelatih melihat bagian permainan yang masih perlu diperbaiki. Hasilnya kemudian menjadi bahan untuk menentukan materi latihan berikutnya.
Dengan pola tersebut, pembinaan tidak berhenti pada penguasaan teknik. Pemain juga diarahkan untuk memahami bagaimana teknik digunakan dalam permainan dan bagaimana keputusan dibuat ketika berada di lapangan.
Della dan Asyifa menjalani tahapan tersebut bersama pemain lain di Spegaku Balistha. Pengalaman dari berbagai pertandingan kemudian menjadi bagian dari perkembangan permainan yang mereka bawa ketika mendapat kesempatan tampil di level yang lebih tinggi.
Kesiapan Mental

Selain kemampuan bermain, Rizza memberi perhatian pada kesiapan mental pemain. Menurutnya, respons setiap pemain ketika menghadapi tekanan bisa berbeda. Ada yang membutuhkan dorongan agar tetap percaya diri ketika berhadapan dengan pemain lain yang dianggap lebih baik.
Karena itu, pendekatan pelatih tidak selalu berupa teguran keras. Rizza memilih memberikan dorongan dan contoh ketika pemain melakukan kesalahan.
“Ayo bisa, ayo bisa. Tapi kadang kata-kata pelatih yang keras itu malah menjadikan anak minder. Jadi kita kadang mendekati, kasih contoh, ini yang benar,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari keseharian latihan. Pemain diarahkan untuk memahami kesalahan dan mencoba memperbaikinya, tanpa kehilangan kepercayaan diri untuk kembali bermain.
Bagi Rizza, kemampuan seperti ini penting karena perkembangan pemain tidak hanya terlihat dari cara mereka memainkan bola, tetapi juga dari bagaimana mereka merespons situasi yang dihadapi di lapangan.
Perkembangan Terlihat di Dalam dan Luar Lapangan

Perubahan pemain juga terlihat dari sikap mereka selama berada di lingkungan tim.
Rizza mencontohkan Della yang ketika pertama bergabung cenderung pendiam dan malu-malu. Seiring bertambahnya pengalaman, ia dinilai mulai lebih mudah berbaur dengan rekan-rekannya hingga kemudian dipercaya menjadi kapten Spegaku Balistha.
Kepercayaan tersebut membawa tanggung jawab baru. Della tidak hanya dituntut memikirkan permainan sendiri, tetapi juga mengambil peran di antara rekan-rekannya.
Sementara itu, Asyifa dinilai mengalami perkembangan dalam mengelola emosinya ketika bermain.
“Sekarang sudah mulai menurunkan emosinya, lebih dewasa dalam bermain juga, tegas. Bukan keras, tapi kalau dia lihat, dia lihat juga tegas,” tutur Rizza.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan di lingkungan sekolah berjalan beriringan dengan perkembangan kemampuan bermain dan sikap pemain.
Tumbuh Bersama Rekan Satu Tim
Della dan Asyifa juga berkembang bersama pemain lain di Spegaku Balistha. Rekan satu tim mereka dapat melihat perubahan tersebut dari dekat, sekaligus menjadikan keduanya sebagai salah satu rujukan dalam belajar bermain sepak bola.
Amira Sailin Nihla, kiper SMP 3 Kudus, mengenal permainan Della dan Asyifa melalui latihan bersama. Menurut Amira, keduanya terlihat lebih agresif dan lincah ketika bermain.

Namun, ketika ditanya hal yang ingin dipelajari dari kedua pemain tersebut, jawabannya bukan teknik tertentu.
“Semangat juangnya,” jawab Amira.
Ia mengaku ingin mengikuti perjalanan kedua temannya hingga bisa masuk tim nasional. Bagi Amira, pengalaman Della dan Asyifa memperlihatkan bahwa pemain dari lingkungan sekolah memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh.

Clea Rista Naura Baihzara, pemain kelas VIII SMP 3 Kudus yang biasa bermain sebagai gelandang maupun striker, juga memperhatikan kemampuan keduanya.
Menurut Clea, salah satu hal yang menonjol adalah cara Della dan Asyifa mengalirkan bola. Passing dilakukan dengan cepat dan akurat. Keduanya juga tidak terlalu lama membawa bola sehingga keputusan dapat dibuat lebih cepat.
“Meniru cara mainnya,” ujar Clea ketika ditanya hal yang ingin dipelajari dari kedua pemain tersebut.
Di luar lapangan, Della dan Asyifa tetap menjadi bagian dari lingkungan pertemanan mereka. Amira dan Clea mengatakan keduanya masih suka bercanda dan berbaur bersama rekan-rekan satu tim.
Pengalaman Timnas Menjadi Bahan Belajar Baru
Kesempatan tampil di Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 menjadi salah satu tahap baru dalam perkembangan Della dan Asyifa setelah menjalani pembinaan di Spegaku Balistha.


Bagi Rizza, kesempatan bermain di level tim nasional bukan akhir dari proses pembinaan. Justru, pengalaman tersebut menjadi bagian dari tahap berikutnya yang perlu dijalani pemain untuk terus berkembang.
“Masih harus banyak belajar, jangan cepat puas,” tegas Rizza.
Menurutnya, pemain yang telah mendapat kesempatan di level lebih tinggi tetap perlu menambah pengalaman dan memperbaiki bagian-bagian permainan yang masih kurang. Pengalaman tersebut kemudian dapat menjadi bahan evaluasi untuk perkembangan mereka selanjutnya.
masih memiliki ruang untuk memperbaiki permainan dan menambah pengalaman.

Muncul Harapan untuk Generasi Berikutnya
Pengalaman Della dan Asyifa tidak berhenti sebagai pencapaian dua pemain. Bagi lingkungan Spegaku Balistha, keberadaan mereka di level tim nasional mulai memberikan gambaran baru bagi pemain-pemain yang masih berlatih di sekolah.
Indah Setyaningsih, ibu dari Clea Rista Naura Baihzara, melihat kesempatan yang diperoleh Della dan Asyifa sebagai pengalaman yang membuka pandangan anak-anak terhadap sepak bola.

“Semakin termotivasi. Ternyata tidak cuma untuk lingkup kota saja, ternyata bisa sampai ke luar negeri, sampai internasional,” ujarnya.
Indah berharap Clea dapat berkembang sesuai kemampuannya. Namun, ia memilih memberikan dukungan tanpa menetapkan hasil tertentu kepada anaknya.
“Harapan tetap selalu ada, tapi semua kan tergantung rezeki masing-masing anak. Mendukung saja,” katanya.
Bagi Rizza, pengalaman dua pemain tersebut juga menjadi alasan untuk terus membuka kesempatan bagi pemain lain di Kudus.
“Semoga nantinya ada anak-anak lagi yang bisa masuk timnas,” harapnya.
Della dan Asyifa kini telah melangkah ke panggung yang lebih tinggi. Keduanya tampil bersama Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara dalam Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 setelah melewati berbagai tahapan sebagai pemain muda di Spegaku Balistha.
Namun, cerita pembinaan tidak berhenti pada dua nama tersebut. Di lapangan yang sama, masih ada pemain-pemain lain yang berlatih, bertanding, belajar dari kesalahan, dan melihat langsung bagaimana rekan mereka berkembang.
Bagi Spegaku Balistha, keberhasilan Della dan Asyifa menjadi salah satu hasil yang terlihat dari proses tersebut. Harapannya, pengalaman keduanya dapat menjadi pijakan bagi munculnya pemain-pemain berikutnya dari Kudus yang mampu melangkah ke level yang lebih tinggi. (oeb/ysr/mainkekudus)






