Super Elite Karate Kudus Gembleng Atlet dari Dojo hingga Podium
KUDUS – Setiap Senin, Kamis, dan Sabtu, aktivitas latihan Super Elite Karate Kudus berlangsung sejak pukul 16.30 hingga 20.00 WIB di GOR Djarum Arena Kaliputu. Atlet dari berbagai kelompok usia datang untuk mengikuti latihan bersama. Ada anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar, remaja, hingga atlet senior yang sudah memiliki pengalaman bertanding.
Ketika jumlah atlet yang hadir belum terlalu banyak, latihan dapat berlangsung dalam satu kelompok. Dalam salah satu sesi latihan pada Kamis, sekitar 40–50 atlet hadir dan berlatih bersama. Jika seluruh atlet datang hingga mendekati jumlah 100 orang, pelatih membagi mereka berdasarkan kelompok agar latihan dapat berlangsung sesuai kebutuhan masing-masing.

Pola tersebut menjadi bagian dari pembinaan Super Elite Karate Kudus yang resmi berdiri pada Februari 2026. Tim ini dibentuk sebagai wadah bagi atlet dari berbagai klub dan perguruan karate di Kabupaten Kudus. Sekitar 100 atlet bergabung, mulai dari kelompok Pra Usia Dini hingga Senior.
Dalam waktu yang relatif singkat sejak berdiri, Super Elite Karate Kudus telah mengikuti sejumlah kejuaraan. Pada tiga kejuaraan sepanjang 2026, tim meraih gelar juara umum dengan total 199 medali. Di balik hasil tersebut terdapat latihan yang berlangsung tiga kali sepekan, evaluasi setelah pertandingan, serta pembinaan atlet yang berjalan dari kelompok usia dini hingga senior.
Menghimpun Delapan Perguruan

Super Elite Karate Kudus dibentuk untuk menghimpun atlet dari berbagai perguruan karate di Kabupaten Kudus. Sebanyak delapan perguruan bergabung dalam latihan bersama di bawah kepengurusan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kabupaten Kudus.
Ketua Pengurus Cabang FORKI Kabupaten Kudus sekaligus Manajer Super Elite Karate Kudus, Niendio Woro Permono, mengatakan penyatuan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan bibit-bibit atlet yang memiliki potensi.

Atlet dari berbagai perguruan tetap berada dalam kelompok masing-masing, tetapi mengikuti latihan bersama melalui Super Elite Karate Kudus. GOR Djarum Arena Kaliputu menjadi tempat latihan sekaligus lokasi pemusatan latihan atau centralisation.
Pembinaan terutama diarahkan kepada atlet usia dini hingga junior. Kelompok tersebut masih memiliki waktu pengembangan yang panjang untuk mengikuti berbagai agenda kompetisi pada tahun-tahun berikutnya.
Di dalam tim, atlet terbagi berdasarkan jenjang usia, mulai dari Pra Usia Dini 6–7 tahun, Usia Dini 8–9 tahun, Pra Pemula 10–11 tahun, Pemula 12–13 tahun, Kadet 14–15 tahun, Junior 16–17 tahun, U-21 18–21 tahun, hingga Senior di atas 22 tahun. Enam pelatih menangani proses latihan para atlet tersebut.
Intens Latihan Jelang Laga

Jadwal latihan seluruh atlet berlangsung pada waktu yang sama, yakni Senin, Kamis, dan Sabtu pukul 16.30–20.00 WIB. Perbedaan kelompok bukan ditentukan melalui jadwal yang berbeda, tetapi melalui pembagian yang dilakukan pelatih selama latihan.
Ketika jumlah atlet yang datang sekitar 40–50 orang, latihan dapat dilakukan bersama tanpa banyak pembagian kelompok. Namun, jika seluruh atlet hadir hingga mendekati jumlah 100 orang, pelatih membagi mereka sesuai kelompok agar latihan lebih mudah diarahkan.
Program latihan mencakup latihan fisik dan teknik. Porsi latihan juga dapat berubah mengikuti agenda kompetisi. Ketika mendekati kejuaraan, intensitas latihan dan pemantapan teknik ditingkatkan untuk menyiapkan atlet menghadapi pertandingan.
Sementara itu, sparing tidak dilakukan dalam setiap sesi latihan. Kegiatan tersebut menyesuaikan kebutuhan tim, terutama ketika ada undangan dari dojo lain atau ketika jadwal turnamen sudah semakin dekat.

Pola tersebut membuat sparing menjadi bagian dari persiapan pada momentum tertentu, sedangkan latihan rutin tetap menjadi kegiatan utama dalam pembinaan. Setelah mengikuti kejuaraan, pelatih melakukan evaluasi dan menyusun kembali program latihan berdasarkan hasil pertandingan.
199 Medali dari Tiga Kejuaraan
Hasil dari proses tersebut terlihat dalam tiga kejuaraan yang diikuti Super Elite Karate Kudus sepanjang 2026.
Pada Kejuaraan Nasional Karate Piala Wira Adhyaksa Kejati Jateng 2026 di GOR Jatidiri Semarang pada 25–26 April, Super Elite Karate Kudus meraih 37 medali emas, 21 perak, dan 26 perunggu. Total perolehan dari kejuaraan tersebut mencapai 84 medali dan membawa tim menjadi juara umum.
Capaian tersebut kembali diperoleh pada Rektor Cup XI UIN Walisongo International Karate Open Championship 2026 di Semarang pada 11 Juli. Super Elite Karate Kudus mengumpulkan 27 medali emas, 22 perak, dan 22 perunggu dengan total 71 medali. Tim kembali meraih gelar juara umum.
Pada 1–2 Agustus, Super Elite Karate Kudus kembali tampil dalam Ultramen Hydroplus Karate Championship 2026 di GOR Djarum Arena Kaliputu, Kudus. Tim memperoleh 23 medali emas, 12 perak, dan 9 perunggu dengan total 44 medali sekaligus kembali menjadi juara umum.
Dari tiga kejuaraan tersebut, Super Elite Karate Kudus mengumpulkan 199 medali yang terdiri atas 87 emas, 55 perak, dan 57 perunggu. Perolehan itu menjadi catatan hasil pertandingan yang dijalani tim sepanjang 2026.
Bagi tim pelatih, setiap kejuaraan juga menjadi bahan untuk melihat perkembangan atlet. Evaluasi dilakukan setelah pertandingan, kemudian digunakan untuk menentukan bagian yang perlu diperbaiki dalam latihan berikutnya.
Menjaring Kelompok Usia Dini
Muhammad Ade Sebastian, 25, selaku pengurus sekaligus pelatih kepala Super Elite Karate Kudus, mengatakan pembentukan tim juga diarahkan untuk membangun regenerasi atlet sejak usia sekolah.

Pembinaan tidak hanya ditujukan kepada atlet yang sudah memiliki prestasi. Anak-anak tingkat SD, SMP, hingga SMA menjadi bagian dari kelompok yang dipersiapkan melalui latihan. Menurut Ade, kegiatan olahraga juga menjadi salah satu cara mengarahkan aktivitas anak-anak agar memiliki kegiatan yang lebih positif di tengah penggunaan gawai dan media sosial.
Bagi Ade, kekompakan dan rutinitas latihan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Karena itu, evaluasi dilakukan setelah kejuaraan untuk melihat perkembangan atlet dan menentukan program berikutnya.
Penjaringan atlet juga dilakukan melalui dojo atau ranting perguruan di luar Super Elite. Atlet yang berkembang dari kelompok usia dini kemudian memiliki kesempatan untuk mengikuti pembinaan dalam wadah yang lebih terpusat.
Pola tersebut membuat pembinaan berjalan secara bertahap. Atlet yang masih berada pada usia anak-anak tidak dituntut berada pada tahap yang sama dengan atlet senior. Mereka berkembang sesuai kelompok usia dan kebutuhan latihan yang diarahkan oleh pelatih.
Di kelompok usia muda, proses pembinaan dijalani Dean Ikmal Zidny. Atlet berusia 10 tahun tersebut merupakan siswa kelas 5 SDN 1 Rendeng Kudus.
Dean mulai mengenal karate sejak TK dan mengikuti pertandingan pertamanya ketika duduk di kelas 1 SD atas dorongan orang tua. Sejak saat itu, ia mengikuti sejumlah kejuaraan dan meraih prestasi dalam Kejurkab, Kejurnas Piala Wira Adhyaksa Kejati Jateng, hingga Ultramen Hydroplus Karate Championship.

Bagi Dean, menjaga tenaga menjadi salah satu hal yang dipelajari dari pertandingan. Ia memahami bahwa tenaga harus diatur karena pertandingan tidak selalu selesai dalam satu kali penampilan.
Menjelang kejuaraan, porsi sparing ditambah sebagai bagian dari persiapan. Latihan tersebut membuat Dean memiliki kesempatan untuk menghadapi lawan sebelum pertandingan sebenarnya.
Medali emas menjadi salah satu hal yang membuat Dean bangga karena prestasinya dapat membawa nama sekolah dan keluarga. Di usianya yang masih 10 tahun, ia sudah memiliki target untuk terus berprestasi hingga dapat tampil di Asian Games.
Bagi Waktu Latihan dan Kuliah
Muhammad Dzaka Hibatullah, 20, menjalani proses tersebut sebagai atlet senior. Atlet kelahiran Kudus itu saat ini menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya Malang sambil tetap menjalani aktivitas sebagai karateka.

Dzaka mengenal karate sejak TK karena tumbuh di lingkungan keluarga karateka. Sejak itu, karate menjadi bagian dari kehidupannya. Ketika memilih menekuni olahraga secara serius, ia harus membagi waktu antara latihan, pendidikan, dan kegiatan lainnya.
Menjadi atlet membuat Dzaka harus mengurangi waktu bermain dan menyesuaikan waktu belajar. Latihan dan pertandingan menjadi bagian dari jadwal yang harus dijalani secara konsisten.
Ia mengakui perjalanan sebagai atlet memiliki banyak pengorbanan. Namun, rasa bangga ketika meraih prestasi serta keinginan membahagiakan orang tua menjadi alasan untuk terus menjalani proses tersebut.
Dzaka pernah meraih juara tiga dan medali perunggu pada Porprov Bela Diri di Kudus. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian yang ingin dikembangkan pada kompetisi berikutnya.
Kini, target Dzaka adalah meraih medali emas pada Porprov Jawa Tengah 2026. Menjelang pertandingan, ia memperketat latihan dan mempersiapkan mental untuk menghadapi lawan-lawan yang akan ditemui di atas matras.
Target Emas Porprov
Bagi FORKI Kabupaten Kudus, pembinaan usia dini hingga junior menjadi salah satu fokus utama. Kelompok tersebut dipersiapkan secara bertahap karena masih memiliki waktu pengembangan untuk menghadapi berbagai kompetisi.
Penyatuan delapan perguruan melalui Super Elite Karate Kudus menjadi bagian dari pola pemusatan latihan. Atlet dari berbagai perguruan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti latihan bersama dengan program yang diarahkan oleh pelatih.
Untuk kelompok senior, perhatian diarahkan pada persiapan menghadapi agenda multi event regional. Sementara kelompok usia dini hingga junior diproyeksikan untuk terus berkembang dan memiliki peluang masuk dalam skuad FORKI Jawa Tengah.
FORKI Kudus menargetkan minimal satu medali emas pada Porprov Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026. Target tersebut menjadi salah satu agenda lanjutan setelah rangkaian tiga gelar juara umum yang diraih Super Elite Karate Kudus sepanjang 2026.

Super Elite Karate Kudus baru berdiri pada Februari 2026. Namun, dalam perjalanan awalnya, tim telah menghimpun sekitar 100 atlet dari delapan perguruan dan mengikuti sejumlah kejuaraan.
Perolehan 199 medali dari tiga kejuaraan menjadi bagian dari catatan tersebut. Setelah hasil pertandingan diperoleh, proses kembali berlanjut melalui latihan dan evaluasi. Atlet kembali ke dojo untuk memperbaiki kemampuan sebelum menghadapi agenda berikutnya.
Di dalam satu sesi latihan, kebutuhan atlet tidak selalu sama. Jumlah peserta menentukan pembagian kelompok, sementara pelatih menyesuaikan latihan berdasarkan usia dan kemampuan atlet. Sparing juga dilakukan pada waktu tertentu, terutama ketika ada undangan dari dojo lain atau turnamen sudah semakin dekat.
Dzaka menjadi contoh atlet yang berada pada tahap senior dan sedang mengejar target emas Porprov. Dean masih berada pada tahap awal dan memiliki perjalanan yang lebih panjang untuk menuju kelompok usia berikutnya. Keduanya memperlihatkan bahwa pembinaan tidak berhenti pada satu hasil pertandingan.
Latihan yang berlangsung hingga pukul 20.00 WIB menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani para atlet. Setelah satu sesi berakhir, agenda berikutnya sudah menunggu: latihan, evaluasi, dan pertandingan yang menjadi tahapan untuk mengukur perkembangan mereka.
Bagi Super Elite Karate Kudus dan FORKI Kabupaten Kudus, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga regenerasi atlet. Dari kelompok usia dini hingga senior, setiap atlet menjalani tahapan masing-masing dalam satu wadah pembinaan yang sama. (JMY/mainkekudus)






