

Menurut Vera, keberadaan klub bukan sekadar tempat berkumpul untuk berlatih. Yang lebih penting adalah bagaimana proses pembinaan terus berjalan sehingga regenerasi atlet tidak terputus. Karena itu, selain latihan rutin, Kudus Archery School juga secara berkala menggelar Archery Challenge dua kali dalam setahun sebagai ruang bagi atlet-atlet muda mengukur kemampuan mereka dalam suasana kompetisi.

Kompetisi tersebut menjadi pengalaman penting bagi anak-anak. Mereka belajar menghadapi tekanan pertandingan, mengenal lawan dari berbagai daerah, sekaligus memahami bahwa latihan memiliki tujuan yang jelas. Dari tahun ke tahun, jumlah peserta yang mengikuti kegiatan maupun bergabung di Kudus Archery School terus bertambah. Antusiasme itu terlihat pula dalam penyelenggaraan MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 yang diikuti atlet-atlet muda dari berbagai daerah.
Bagi Vera, pembinaan sejak usia dini menjadi investasi jangka panjang. Ketertarikan anak terhadap olahraga perlu dijaga melalui proses yang menyenangkan sekaligus menantang. Dari sana diharapkan lahir atlet-atlet yang mampu melangkah dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga membawa nama Indonesia pada ajang internasional.

Namun perjalanan menuju level tersebut tidak dimulai dengan langsung memegang busur.
Pelatih Kudus Archery School, Rio Riswandha, mengatakan bahwa peserta baru justru lebih dahulu diperkenalkan pada teknik dasar tanpa menggunakan peralatan panahan. Mereka belajar posisi tubuh, keseimbangan, koordinasi gerak, hingga cara membangun postur yang benar sebelum akhirnya diperbolehkan menggunakan busur dan anak panah.

Setelah melewati masa pengenalan sekitar tiga bulan, para peserta dikelompokkan sesuai perkembangan kemampuan. Ada kelas pemula, kelas menengah, hingga kelas lanjutan. Dari proses itu pelatih mulai melihat minat masing-masing anak, apakah mereka ingin menjadikan panahan sebagai hobi atau memilih jalur pembinaan prestasi.
Rio menilai tantangan terbesar dalam melatih anak-anak bukan berada pada teknik memanah, melainkan membangun fokus mereka. Karakter anak usia dini masih sangat dipengaruhi suasana hati. Tidak sedikit yang mudah kehilangan konsentrasi atau lebih tertarik bermain bersama teman-temannya.
Karena itu, latihan tidak hanya berisi peregangan dan penguatan fisik. Para pelatih juga memasukkan latihan konsentrasi melalui metode meditasi sederhana. Tujuannya bukan sekadar membuat anak tenang ketika membidik sasaran, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian emosi, dan kemampuan menjaga fokus dalam waktu yang lebih lama.
Pendekatan tersebut terus berlanjut ketika atlet mulai dipersiapkan mengikuti kompetisi. Penilaian pelatih tidak berhenti pada angka yang muncul di papan skor.
Rio menjelaskan bahwa seorang atlet baru akan diberangkatkan ke kejuaraan apabila kemampuan teknik berjalan seiring dengan kesiapan mental. Atlet yang mampu mencatat skor tinggi belum tentu langsung dikirim bertanding apabila masih kesulitan mengendalikan tekanan saat berada di arena. Mental bertanding menjadi bagian penting dari proses pembinaan karena suasana kompetisi sangat berbeda dengan latihan sehari-hari.
Pengalaman itulah yang kini dijalani Deeva Earlyta Arsyfa.
Siswi asal Desa Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, itu mengenal panahan ketika masih duduk di kelas dua sekolah dasar melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ketertarikannya tumbuh perlahan hingga akhirnya bergabung dengan Kudus Archery School. Sejak saat itu, latihan menjadi bagian dari rutinitasnya.

Bagi Deeva, tantangan terbesar justru datang dari faktor yang tidak bisa dikendalikan. Ketika angin bertiup kencang, arah anak panah dapat berubah sehingga ia harus belajar menyesuaikan bidikan. Kondisi itu mengajarkannya bahwa kemampuan seorang pemanah bukan hanya ditentukan oleh teknik, tetapi juga kemampuan membaca situasi.
Jam terbang Deeva pun terus bertambah. Ia telah mengikuti berbagai kejuaraan tingkat regional maupun nasional. Pada MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 yang berlangsung di Supersoccer Arena Kudus, Deeva dipercaya memperkuat Kontingen Jawa Tengah A pada nomor Compound U-13.
Meski masih duduk di bangku SMP, ia telah memiliki tujuan yang ingin dicapai. Deeva berharap suatu hari dapat mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia dan terus meningkatkan kemampuannya melalui setiap kesempatan bertanding.
Perjalanan itu tentu tidak dijalani sendirian. Di balik aktivitas latihan yang berlangsung hampir setiap pekan, ada keluarga yang ikut menjaga ritme perkembangan atlet muda. Orang tua berperan mengatur waktu belajar, memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi, menyediakan perlengkapan latihan, hingga mendampingi anak ketika mengikuti kejuaraan.
Hal itu dirasakan langsung oleh Prisca Rani Yusnita Dewi, ibu dari Deeva. Ia bercerita bahwa panahan bukan olahraga yang dipilihkan untuk anaknya. Ketertarikan itu justru muncul setelah Deeva mengikuti ekstrakurikuler di sekolah. Melihat anaknya menikmati proses tersebut, keluarga kemudian mencari tempat pembinaan yang dapat mendukung perkembangan kemampuannya.

Pilihan itu akhirnya membawa Deeva bergabung dengan Kudus Archery School sejak kelas dua sekolah dasar. Selama kurang lebih enam tahun berlatih, Rizka melihat perubahan yang jauh melampaui kemampuan memanah.
Menurutnya, Deeva menjadi lebih disiplin dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Kemampuan mengendalikan emosi juga berkembang lebih baik. Beberapa kali pendampingan psikolog yang diberikan ketika mengikuti kejuaraan membantu anak-anak memahami cara menghadapi tekanan pertandingan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Perubahan itu bahkan dirasakan dalam kegiatan belajar di sekolah. Deeva dinilai lebih mampu mempertahankan fokus ketika mengerjakan pelajaran yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Bagi Rizka, manfaat tersebut menjadi nilai yang sama pentingnya dengan prestasi di arena pertandingan.

Suasana latihan Kudus Archery School di lapangan Superscoccer Arena. (Foto: JMY/mainkekudus)