Logo Kudus

7 Kuliner Khas yang Wajib Dicoba Saat Berkunjung ke Kudus 

Diterbitkan: 7 Agustus 2026Penulis: Saldy Nurzaman

KUDUS – Aroma kuah Soto Kudus mulai memenuhi sudut-sudut warung sejak pagi. Di tempat lain, sate kerbau perlahan matang di atas bara arang. Memasuki waktu makan siang, pengunjung mulai berdatangan ke warung garang asem dan Opor Sunggingan. Menjelang sore, banyak wisatawan menyempatkan diri membeli jenang sebagai buah tangan sebelum meninggalkan kota. Bagi banyak orang, mengenal Kudus tidak hanya dilakukan melalui bangunan bersejarah atau destinasi wisatanya, tetapi juga melalui kuliner yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Wisatawan yang berkunjung ke Kudus rasanya belum lengkap jika belum mencicipi kuliner khas kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (Foto dok.mainkekudus)

Kuliner kini menjadi salah satu alasan wisatawan melengkapi perjalanan mereka di Kabupaten Kudus. Setelah berziarah ke Menara Kudus maupun makam Sunan Muria, mengikuti kegiatan olahraga, atau menghadiri berbagai agenda berskala nasional, banyak pengunjung melanjutkan perjalanan dengan mencicipi makanan khas daerah. Setiap hidangan menghadirkan cerita yang berbeda, mulai dari sejarah, budaya, hingga tradisi yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Bimo Sekti Bagus Tohari, mengatakan wisata kuliner telah menjadi bagian penting dalam pengalaman berkunjung ke Kudus. Menurutnya, makanan tradisional bukan sekadar pelengkap perjalanan wisata, tetapi juga menjadi cara untuk mengenalkan sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Bimo Sekti Bagus Tohari, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus. (Foto:OEB/mainkekudus)

Ia menyebut Soto Kudus, sate kerbau, dan Lentog Tanjung merupakan tiga makanan berat yang paling banyak dicari wisatawan. Sementara itu, Jenang Kudus masih menjadi pilihan utama sebagai oleh-oleh. Bahkan, atlet maupun peserta berbagai kejuaraan yang datang dari luar daerah hampir selalu menyempatkan diri menikmati kuliner khas Kudus setelah menyelesaikan pertandingan.

Perkembangan wisata kuliner juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnakerperinkop-UKM) Kabupaten Kudus yang dipublikasikan melalui Open Data Kabupaten Kudus per Juni 2026, terdapat lebih dari 27.000 UMKM aktif di Kabupaten Kudus. Sekitar 40 persen di antaranya bergerak di sektor makanan dan minuman sehingga menjadi kelompok usaha terbesar dibandingkan sektor lainnya.

Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disnakerperinkop-UKM Kabupaten Kudus, M. Faiz Anwari, mengatakan besarnya jumlah pelaku usaha kuliner menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki peran penting dalam perekonomian daerah. Pemerintah terus mendorong peningkatan daya saing UMKM melalui pelatihan, pendampingan, promosi, serta perluasan pemasaran berbasis digital agar produk lokal mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

M. Faiz Anwari, Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disnakerperinkop-UKM Kabupaten Kudus. (Foto:OEB/mainkekudus)

Menurut Faiz, menjaga kuliner tradisional tidak hanya berarti mempertahankan resep yang diwariskan turun-temurun. Di balik setiap usaha kuliner terdapat mata pencaharian ribuan pelaku UMKM yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Karena itu, peningkatan kualitas produk menjadi salah satu upaya yang terus didorong agar mampu menjaga kepercayaan konsumen sekaligus memperluas pasar.

Di sisi lain, Disbudpar juga melakukan kurasi terhadap pelaku usaha yang terlibat dalam berbagai kegiatan promosi maupun festival kuliner. Penilaian dilakukan terhadap cita rasa, kebersihan, penyajian, hingga kesesuaian harga. Namun, pemerintah tidak ikut campur dalam urusan resep karena setiap pelaku usaha memiliki racikan yang menjadi identitas sekaligus warisan keluarga.

“Yang kami tekankan, menu aslinya jangan sampai hilang. Mau berinovasi silakan, tetapi kuliner khasnya tetap harus dipertahankan,” kata Bimo.

Selain melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha, Pemerintah Kabupaten Kudus juga mengusulkan makanan olahan berbahan dasar kerbau sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Usulan tersebut telah memasuki tahap verifikasi di kementerian sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan kuliner daerah.

Soto Kudus, Kuliner Bersejarah Simbol Toleransi

Soto Kudus (Sumber foto: tourism.kuduskab.go.id)

Di antara berbagai makanan khas yang berkembang di Kudus, Soto Kudus menjadi salah satu yang paling mudah dijumpai. Ciri khasnya terletak pada penyajian menggunakan mangkuk berukuran kecil dengan kuah bening yang kaya rempah. Meski porsinya tidak besar, isinya tetap lengkap, mulai dari suwiran ayam atau daging kerbau, tauge, daun bawang, seledri, hingga taburan bawang goreng.

Penggunaan daging kerbau memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Kudus. Tradisi tersebut berkembang dari ajaran Sunan Kudus yang menghormati masyarakat Hindu dengan tidak menyembelih sapi. Nilai toleransi itu kemudian diwariskan melalui berbagai olahan berbahan dasar kerbau yang masih bertahan hingga sekarang.

Penggunaan daging kerbau memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Kudus. (Sumber foto: jateng.tribunnews)

Salah satu warung yang masih mempertahankan tradisi tersebut ialah Soto Kudus Bu Djatmi di Jalan KH Wahid Hasyim, Panjunan. Berdiri sejak 1982, warung ini tetap menyajikan Soto Kudus dalam mangkuk kecil dengan pilihan aneka sate pendamping seperti sate paru, sate usus, sate telur puyuh, hingga perkedel. Lokasinya yang tidak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh membuat warung tersebut hampir selalu ramai, terutama saat jam makan siang.

Soto Kudus Bu Djatmi. (Foto dok.mainkekudus)

Harga semangkuk Soto Kudus di berbagai warung makan di Kabupaten Kudus relatif terjangkau, yakni berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 35.000 per porsi. Perbedaan harga umumnya dipengaruhi oleh jenis isian yang dipilih, ukuran porsi, serta lokasi warung. Soto ayam dengan porsi biasa atau kecil umumnya dijual mulai Rp 11.000 hingga Rp 20.000 per porsi, sedangkan soto kerbau berada pada kisaran Rp 25.000 hingga Rp 35.000 karena menggunakan daging yang bernilai lebih tinggi. 

Pengunjung juga dapat melengkapi hidangannya dengan berbagai menu pendamping, seperti sate jeroan, perkedel, maupun aneka gorengan yang tersedia di sebagian besar warung Soto Kudus. 

Tekstur Khas Sate Kerbau Menjadi Pembeda

Sate kerbau. (Sumber foto: tourism.kuduskab.go.id)

Jejak sejarah yang sama juga terlihat pada sate kerbau. Sekilas tampilannya menyerupai sate sapi, tetapi tekstur daging yang lebih padat berpadu dengan bumbu rempah sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda. Menurut Bimo, karakter daging kerbau tidak dapat digantikan begitu saja menggunakan daging sapi karena memiliki tekstur dan rasa yang khas.

Keunikan itu pula yang membuat sate kerbau tetap menjadi salah satu kuliner yang paling banyak dicari wisatawan. Menariknya, setiap penjual memiliki cara pengolahan yang berbeda. Ada yang menggeprek daging sebelum dibumbui, ada pula yang menggilingnya agar lebih empuk. Perbedaan teknik tersebut melahirkan cita rasa khas yang menjadi identitas masing-masing warung.

Salah satu yang cukup dikenal adalah Sate Kerbau 57 di Jalan Kutilang, Wergu Kulon. Berdiri sejak 1975 dan kini dikelola generasi kedua keluarga pendiri, warung tersebut masih mempertahankan racikan bumbu yang diwariskan secara turun-temurun. Selain menjadi tujuan wisatawan, warung ini juga kerap dikunjungi masyarakat lokal yang telah mengenal cita rasanya selama bertahun-tahun.

Harga sate kerbau di Kudus relatif bervariasi, bergantung pada jumlah tusuk, ukuran porsi, dan warung yang dipilih. Untuk porsi standar berisi sekitar 10 tusuk, wisatawan umumnya dapat menikmati sate kerbau dengan harga berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 40.000, belum termasuk nasi. Sementara itu, beberapa warung legendaris atau penyedia porsi lebih besar menawarkan harga sekitar Rp 50.000 hingga Rp 65.000 per porsi. 

Bagi yang ingin mencicipi dalam jumlah lebih sedikit, sejumlah kedai juga menyediakan pilihan porsi kecil atau menu eceran dengan harga mulai sekitar Rp 9.000. Ragam pilihan tersebut membuat sate kerbau dapat dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa mengurangi ciri khas cita rasanya. 

Berawal dari Hidangan Rumahan, Lentog Tanjung Laris Lintas Generasi

(Sumber foto: tourism.kuduskab.go.id)

Hidangan ini terdiri atas irisan lontong yang disiram sayur nangka muda atau gori, lodeh tahu, sambal, serta pelengkap seperti sate telur puyuh, ati ampela, maupun gorengan. Bahan-bahan yang sederhana dipadukan dengan racikan bumbu khas sehingga menghadirkan cita rasa yang tetap diminati lintas generasi.

Nama “Tanjung” berasal dari Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, tempat kuliner tersebut berkembang. Berawal dari hidangan rumahan yang dijajakan masyarakat, Lentog Tanjung kemudian menjadi salah satu menu sarapan khas yang identik dengan Kabupaten Kudus. Keberadaannya hingga kini menunjukkan bahwa makanan tradisional masih mampu bertahan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.

Lentog Tanjung menjadi salah satu kuliner khas Kudus yang banyak dicari wisatawan, berdampingan dengan Soto Kudus dan sate kerbau. Meski menggunakan bahan utama yang serupa, setiap warung memiliki racikan dan penyajian yang berbeda. Ada pengunjung yang memiliki warung favorit karena cita rasanya lebih sesuai dengan selera, sementara yang lain justru memilih tempat berbeda. Keragaman tersebut menjadi bagian dari kekayaan kuliner Kudus yang terus dipertahankan oleh para pelaku usaha dari generasi ke generasi. 

Salah satu warung yang cukup dikenal adalah Lentog Tanjung Bu Ita di kawasan Pasar Lentog Kudus. Warung tersebut mulai melayani pembeli sejak pukul 06.00 WIB dan biasanya telah ramai sebelum pukul 09.00 WIB. Banyak wisatawan datang lebih pagi agar masih mendapatkan pilihan lauk yang lengkap.

Selain dikenal sebagai kuliner legendaris, Lentog Tanjung juga menjadi pilihan sarapan yang ramah di kantong. Di berbagai warung di Kabupaten Kudus, harga satu porsi standar umumnya berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 8.000. Bagi pengunjung yang menginginkan porsi lebih banyak, sejumlah warung juga menyediakan porsi ganda atau double dengan kisaran harga Rp 12.000 hingga Rp 18.000. Sementara itu, aneka lauk pendamping seperti sate telur puyuh, sate ati, gorengan, maupun kerupuk dapat ditambahkan dengan biaya sekitar Rp 2.000 hingga Rp 6.000, tergantung jenis lauk yang dipilih. 

Garang Asem Pilihan Kuliner dengan Perpaduan Gurih dan Asam 

Memasuki waktu makan siang, pilihan kuliner bergeser ke Garang Asem. Hidangan ayam yang dimasak bersama santan dan rempah, kemudian dikukus di dalam bungkus daun pisang, menghasilkan perpaduan rasa gurih, asam, dan sedikit pedas. Aroma daun pisang yang muncul saat hidangan dibuka menjadi salah satu ciri khas yang membedakannya dari masakan sejenis di daerah lain.

Rumah makan Gasasa jadi pilihan untuk menikmati Garang Asem. (Foto: OEB/mainkekudus)
Garang Asem. (Sumber foto: tourism.kuduskab.go.id)

Salah satu warung yang masih mempertahankan sajian tersebut adalah Garang Asem Gasasa di Jalan AKBP Agil Kusumadya. Berdiri sejak 1977, warung ini tetap menggunakan ayam kampung yang dimasak hingga bumbunya meresap. Selain garang asem ayam, tersedia pula pilihan garang asem jeroan maupun ceker yang juga banyak diminati pelanggan.

Harga satu porsi garang asem khas Kudus umumnya berkisar antara Rp 35.000 hingga Rp 53.000, bergantung pada rumah makan, jenis potongan ayam yang dipilih, serta layanan yang digunakan. Kisaran harga tersebut umumnya berlaku untuk olahan ayam kampung dan belum termasuk nasi putih. Di Rumah Makan Sari Rasa Kudus, misalnya, garang asem ayam maupun jeroan dijual seharga Rp 37.500 per porsi, sedangkan garang asem ceker dibanderol Rp 25.000. 

Sementara itu, di RM Gasasa (Garang Asem Sari Rasa), harga garang asem ayam kampung atau jeroan berada pada kisaran Rp 43.000 hingga Rp 52.500 per porsi. Adapun di sejumlah rumah makan lainnya di Kudus, garang asem umumnya dijual dengan harga sekitar Rp 38.000 hingga Rp 42.000 per porsi. 

Opor Sunggingan dengan Aroma Khas, Cocok Dinikmati Pagi dan Siang 

Tidak jauh dari kawasan itu, terdapat Opor Sunggingan yang memiliki karakter berbeda dibandingkan opor ayam pada umumnya. Setelah dimasak menggunakan bumbu opor hingga meresap, ayam kembali dibakar sebelum disajikan bersama kuah. Proses tersebut menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri utama kuliner ini.

 Opor Sunggingan. (Foto: OEB/mainkekudus)

Warung Opor Sunggingan yang kini dikelola generasi penerus keluarga pendiri masih mempertahankan cara memasak tersebut. Setiap pagi hingga menjelang siang, pelanggan terus berdatangan, baik warga Kudus maupun wisatawan yang ingin mencicipi salah satu kuliner legendaris daerah.

Harga satu porsi Opor Sunggingan khas Kudus berkisar antara Rp 16.000 hingga Rp 18.000. Dengan harga tersebut, pengunjung akan mendapatkan seporsi nasi opor yang terdiri atas nasi, suwiran atau potongan ayam kampung panggang dengan aroma asap yang khas, kuah opor, serta sambal goreng tahu sebagai pelengkap. 

Jenang Kudus Oleh-Oleh Legendaris Favorit Wisatawan

Jenang Kudus. (Sumber foto: espos.id)

Menjelang sore, banyak wisatawan mulai mencari oleh-oleh sebelum meninggalkan Kudus. Di antara berbagai pilihan, Jenang Kudus masih menjadi produk yang paling banyak dibawa pulang.

Harga Jenang Kudus di berbagai pusat oleh-oleh di Kabupaten Kudus bervariasi, bergantung pada merek, ukuran, dan jenis kemasannya. Untuk kemasan kecil atau nampan, harganya umumnya berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 21.000. Sementara itu, kemasan kotak atau dus berisi sekitar 30 potong maupun kombinasi berbagai varian dijual dengan kisaran Rp 35.000 hingga Rp 45.000. 

Bagi pembeli yang menginginkan kemasan lebih besar, jenang kiloan dalam wadah mika berukuran satu kilogram tersedia dengan harga sekitar Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Variasi harga tersebut memberikan pilihan bagi wisatawan yang ingin membeli Jenang Kudus sebagai buah tangan sesuai kebutuhan maupun anggaran. 

Jenang tidak hanya dikenal sebagai kudapan berbahan dasar tepung ketan, santan, dan gula. Di balik proses pembuatannya, tersimpan perjalanan panjang industri rumahan yang kemudian berkembang menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kudus. Usaha pembuatan jenang yang tumbuh sejak awal abad ke-20 kini melahirkan berbagai merek yang dipasarkan hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Proses pembuatan Jenang Kudus. (Sumber foto: tourism.kuduskab.go.id)

Bagi wisatawan yang ingin mengetahui perjalanan tersebut, Museum Jenang dan Gusjigang menjadi salah satu tempat yang layak dikunjungi. Museum yang berada di kompleks Mubarokfood itu mendokumentasikan perkembangan industri jenang dari masa ke masa, mulai dari proses produksi tradisional hingga berkembang menjadi industri modern. Pengunjung juga diperkenalkan dengan filosofi Gusjigang yang diwariskan Sunan Kudus, yakni berperilaku baik, rajin mengaji, dan memiliki semangat berdagang.

(Foto dok.mainkekudus)

Menurut Bimo, Jenang Kudus hampir selalu menjadi pilihan utama wisatawan yang mencari buah tangan. Sementara itu, Faiz menilai perkembangan industri jenang menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki peluang untuk terus berkembang apabila kualitasnya tetap dijaga.

Data Disnakerperinkop-UKM Kabupaten Kudus menunjukkan terdapat lebih dari 27.000 UMKM aktif hingga Juni 2026. Sekitar 40 persen di antaranya bergerak di sektor makanan dan minuman. Besarnya jumlah tersebut memperlihatkan bahwa usaha kuliner menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat sekaligus membuka lapangan usaha bagi ribuan pelaku UMKM di Kabupaten Kudus.

Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, pendampingan, promosi, serta perluasan pemasaran berbasis digital. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing produk lokal sekaligus menjaga keberlanjutan kuliner tradisional di tengah persaingan pasar yang semakin berkembang.

Pecel Pakis Kuliner Khas dari Kawasan Muria

Perjalanan kuliner di Kudus tidak berhenti di pusat kota. Di lereng Gunung Muria, wisatawan dapat menemukan Pecel Pakis yang menjadi salah satu hidangan khas kawasan Colo. Berbeda dengan pecel pada umumnya, menu ini menggunakan pucuk tanaman pakis yang tumbuh subur di kawasan pegunungan sebagai bahan utama.

Pecel Pakis hidangan khas Colo, Kudus, Jawa Tengah. (Sumber foto: detikfood)

Sayur pakis memiliki tekstur yang renyah dan sedikit kenyal ketika dipadukan dengan bumbu kacang. Kesederhanaan bahan bakunya justru menjadi daya tarik karena memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan hasil alam di sekitarnya menjadi makanan yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Salah satu warung yang cukup dikenal ialah Pecel Pakis dan Ayam Bakar Mbok Yanah di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Lokasinya berada di jalur menuju kawasan wisata religi Sunan Muria sehingga banyak disinggahi wisatawan sebelum maupun sesudah berziarah.

Warung makan Pecel Pakis dan Ayam Bakar Mbok Yanah di Desa Colo, Kecamatan Dawe, (Sumber foto: liputanbangsa.com)

Pecel pakis khas Colo juga dikenal sebagai salah satu kuliner yang ramah di kantong. Satu porsi pecel pakis umumnya dijual dengan harga sekitar Rp 8.000 hingga Rp 10.000, sedangkan pengunjung dapat menambahkan lauk pendamping, seperti tahu, tempe, peyek, atau telur, dengan kisaran harga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per porsi. Dengan harga tersebut, wisatawan sudah dapat menikmati sajian khas lereng Gunung Muria yang menggunakan sayur pakis segar sebagai bahan utamanya. Bagi yang belum sempat datang langsung ke Desa Colo, beberapa warung juga telah menyediakan layanan pemesanan melalui aplikasi daring sehingga pecel pakis dapat dinikmati tanpa harus berkunjung ke lokasi. 

Keberadaan tujuh kuliner tersebut menunjukkan bahwa setiap makanan khas di Kudus memiliki latar belakang yang berbeda. Soto Kudus dan sate kerbau tumbuh dari nilai toleransi yang diwariskan Sunan Kudus. Lentog Tanjung berkembang dari tradisi masyarakat sebagai menu sarapan. Garang Asem dan Opor Sunggingan mempertahankan teknik memasak yang menjadi ciri khas masing-masing. Sementara itu, Jenang Kudus berkembang dari industri rumahan menjadi salah satu produk unggulan daerah, sedangkan Pecel Pakis mencerminkan pemanfaatan hasil alam di kawasan lereng Muria.

Di tengah berkembangnya berbagai pilihan makanan modern, warung-warung tradisional tersebut tetap bertahan. Sebagian besar masih dikelola oleh keluarga yang mempertahankan resep turun-temurun, sementara pemerintah daerah terus melakukan pembinaan, kurasi pelaku usaha, serta mendorong pelestarian kuliner melalui berbagai program pengembangan UMKM.

Kuliner akhirnya tidak hanya menjadi pelengkap perjalanan wisata di Kudus. Di balik setiap hidangan terdapat sejarah, budaya, serta usaha masyarakat yang terus dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Soto Kudus, sate kerbau, Lentog Tanjung, Garang Asem, Opor Sunggingan, Jenang Kudus, dan Pecel Pakis tidak hanya dikenal sebagai makanan khas, tetapi juga menjadi bagian dari identitas Kabupaten Kudus yang terus hidup bersama masyarakatnya. (OEB/mainkekudus)

ATRAKSI TERKAIT

Gambar Museum Jenang Mubarok

Museum Jenang Mubarok

4.7

KULINER TERKAIT

Gambar Nasi Opor Sunggingan

Nasi Opor Sunggingan

4.5
Gambar Pecel Pakis & Ayam Bakar Mbok Yanah

Pecel Pakis & Ayam Bakar Mbok Yanah

4.4
Gambar RM Gasasa Garang Asem Sari Rasa

RM Gasasa Garang Asem Sari Rasa

4.4
Gambar sate kerbau 57, gang 1 pak sutrimo dan ibu siti rochmah

Sate Kerbau 57, gang 1 Pak Sutrimo dan Ibu Siti Rochmah

4.4
Gambar Soto Kudus Bu Djatmi

Soto Kudus Bu Djatmi

4.5