
Jl. Sunan Muria No.33, Glantengan, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59313, Indonesia
Suasananya menyerupai pusat oleh-oleh modern. Bagi pengunjung yang baru pertama datang, ruang tersebut mudah menimbulkan kesan bahwa kunjungan akan berakhir setelah memilih beberapa kotak jenang untuk dibawa pulang.

Padahal, ruang itu hanyalah pengantar. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai ketika pengunjung menaiki tangga menuju lantai dua. Di sanalah Museum Jenang dan Gusjigang membuka kisah yang lebih panjang, mengajak setiap orang memahami bahwa jenang bukan sekadar makanan khas, melainkan bagian dari perjalanan sejarah sebuah daerah.
Konsep tersebut memang sengaja dirancang demikian. Showroom di lantai dasar menjadi penghubung antara produk yang masih hidup di tengah masyarakat dengan museum di lantai atas yang menjelaskan akar sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya.
Aktivitas membeli oleh-oleh akhirnya berubah menjadi pintu masuk untuk mengenal Kudus secara lebih mendalam.
Keberadaan museum ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Jenang Mubarok. Perusahaan tersebut bermula sebagai industri rumahan pada 1910 dan terus berkembang selama lebih dari satu abad. Memasuki usia 100 tahun, muncul gagasan untuk menghadirkan sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan sejarah perusahaan, tetapi juga merangkum perjalanan budaya masyarakat Kudus.
Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui Museum Jenang dan Gusjigang yang dibuka untuk umum pada 2017. Museum ini tidak hanya mendokumentasikan perkembangan jenang dari masa ke masa, tetapi juga menghadirkan berbagai literasi mengenai sejarah Islamisasi, budaya lokal, perdagangan, hingga perkembangan Kota Kudus.
Bagi Muhammad Fawwaz Daffa, generasi keempat Jenang Mubarokfood Cipta Delicia, sejak awal museum tersebut memang tidak dirancang sebagai museum kuliner semata.

“Konsep Museum Jenang dan Gusjigang sebagai representasi sekaligus akulturasi budaya Kudus tempo dulu. Di dalamnya juga membahas sejarah Jenang Kudus Mubarok, bagaimana Syekh Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus menyebarkan Islam, hingga berbagai literasi yang berkaitan dengan budaya dan sejarah Islamisasi di Kudus dan sekitarnya,” ujar Daffa.
Pernyataan itu menjadi kunci untuk memahami isi museum. Nama “Museum Jenang” memang terpampang di bagian depan bangunan. Namun, ketika memasuki ruang demi ruang, pengunjung akan menemukan bahwa museum ini sesungguhnya sedang bercerita tentang identitas Kudus.

Pertanyaan yang kerap muncul dari para pengunjung adalah mengapa museum ini menggabungkan jenang dan Gusjigang dalam satu nama.
Jawabannya terletak pada hubungan keduanya dalam kehidupan masyarakat Kudus.
Gusjigang merupakan filosofi yang diwariskan Sunan Kudus. “Gus” bermakna berakhlak baik, “Ji” berarti pandai mengaji, sedangkan “Gang” bermakna pandai berdagang. Ketiga nilai tersebut menjadi pedoman yang membentuk karakter masyarakat Kudus hingga sekarang.
Menurut Daffa, Sunan Kudus mengajarkan bahwa kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari semangat bekerja dan berdagang. Nilai tersebut kemudian tumbuh bersama perkembangan kota yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan.
Dalam konteks itulah jenang menemukan tempatnya.
Jenang bukan hanya makanan khas yang dijual sebagai oleh-oleh. Ia lahir dari tradisi perdagangan masyarakat Kudus, berkembang bersama denyut perekonomian kota, lalu menjadi bagian dari identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Museum kemudian merangkai sejarah perdagangan, perkembangan jenang, dan filosofi Gusjigang menjadi satu narasi yang saling menguatkan. Pengunjung tidak hanya diajak mengenal produk khas Kudus, tetapi juga memahami nilai-nilai yang melahirkan produk tersebut.
Memasuki ruang pamer berikutnya, suasana berubah. Berbagai koleksi membawa pengunjung menyusuri perjalanan panjang Kota Kudus.
Miniatur Menara Kudus berdiri menyambut di salah satu sudut ruangan. Di dekatnya terdapat maket kawasan Menara Kudus yang membantu pengunjung memahami perkembangan kawasan bersejarah tersebut dari masa ke masa.


Perjalanan kemudian berlanjut menuju Rumah Joglo Pencu, rumah adat yang hingga kini menjadi simbol identitas masyarakat Kudus. Tidak jauh dari sana, foto-foto Kudus tempo dulu memperlihatkan perubahan wajah kota melalui dokumentasi jalan, bangunan, hingga aktivitas masyarakat pada zamannya.

Museum juga menghadirkan berbagai mainan tradisional yang dahulu akrab dengan kehidupan anak-anak Indonesia. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perubahan zaman tidak hanya mengubah teknologi, tetapi juga cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.
Di bagian lain, perhatian pengunjung kerap tertuju pada Rumah Kapal milik Kyai Jamhari. Bentuk kapal yang menjadi ciri bangunan tersebut menjadi simbol perjalanan ibadah haji pada masa ketika masyarakat harus menempuh perjalanan laut selama berbulan-bulan menuju Tanah Suci.

Tak jauh dari sana berdiri replika pesawat Fokker milik almarhum Nitisemito yang dahulu digunakan untuk menyebarkan pamflet promosi rokok Bal Tiga. Koleksi ini memperlihatkan bagaimana perkembangan industri kretek ikut membentuk sejarah ekonomi Kudus.

Satu per satu koleksi memang memiliki cerita masing-masing. Namun ketika dinikmati secara berurutan, semuanya membentuk gambaran yang utuh mengenai perjalanan budaya, perdagangan, religi, dan kehidupan masyarakat Kudus selama berabad-abad.
Di antara berbagai ruang yang mengisahkan sejarah Kudus, jenang tetap menjadi inti dari perjalanan museum. Bukan karena makanan ini menjadi oleh-oleh paling dikenal dari Kota Kretek, melainkan karena dari sepotong jenang tersimpan cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan perkembangan sebuah industri yang tumbuh bersama masyarakatnya.

Perjalanan itu dimulai dari ruang yang menampilkan bahan-bahan utama pembuatan jenang. Gula, tepung, santan, hingga berbagai perlengkapan memasak tersusun berdampingan dengan tungku tradisional yang dahulu digunakan generasi awal pembuat jenang. Di sisi lain, mesin-mesin produksi modern memperlihatkan bagaimana proses pembuatan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi tanpa meninggalkan cita rasa yang diwariskan turun-temurun.
Bagi pengunjung, ruang ini menjelaskan bahwa menghasilkan jenang bukan sekadar mencampurkan bahan-bahan hingga menjadi makanan manis. Ada proses yang panjang, ketelitian dalam mengolah adonan, tenaga yang tidak sedikit, serta kesabaran yang menjadi bagian dari setiap tahap pembuatannya.
“Di spot pertama setelah pintu masuk museum terdapat bahan baku jenang, tungku memasak, hingga mesin modern. Dari situ pengunjung bisa mengetahui bahwa menghasilkan jenang yang lezat melalui proses yang luar biasa,” ujar Muhammad Fawwaz Daffa.
Transformasi proses produksi tersebut juga menunjukkan bagaimana industri jenang mampu beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Perubahan tidak hanya terlihat pada penggunaan peralatan yang lebih modern, tetapi juga pada pengemasan dan pengembangan berbagai varian produk. Meski demikian, museum memperlihatkan bahwa nilai utama yang dipertahankan tetap sama, yakni menjaga kualitas dan cita rasa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Kudus, jenang akhirnya tidak lagi dipahami hanya sebagai makanan khas. Ia menjadi bagian dari perjalanan sejarah kota yang tumbuh bersama aktivitas perdagangan masyarakatnya. Tak mengherankan apabila hingga kini banyak orang menganggap perjalanan ke Kudus belum lengkap tanpa membawa pulang jenang sebagai buah tangan.

Perjalanan kemudian berlanjut ke salah satu ruang yang menawarkan pengalaman berbeda. Jika ruang sebelumnya banyak berbicara mengenai sejarah dan perkembangan industri, Ruang Trilogi Ukhuwah justru mengajak pengunjung memahami nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Di ruangan ini dijelaskan tiga bentuk persaudaraan yang menjadi pesan utama. Pertama, ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam. Kedua, ukhuwah wathaniyah, yaitu persaudaraan sebagai sesama bangsa Indonesia yang hidup dalam keberagaman. Ketiga, ukhuwah basyariyah, yakni persaudaraan antarsesama manusia tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun budaya.
Melalui ruang tersebut, museum memperlihatkan bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan tua atau benda-benda bersejarah. Nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting yang patut diwariskan.

“Ruang Trilogi Ukhuwah” mempresentasikan keberagaman dalam sebuah persatuan, yakni Indonesia Raya dan kemanusiaan,” ungkap Daffa.
Pesan toleransi itu melengkapi filosofi Gusjigang yang sejak awal diperkenalkan kepada pengunjung. Berakhlak baik, rajin belajar agama, dan bekerja dengan sungguh-sungguh diposisikan sebagai nilai yang berjalan berdampingan dengan semangat menghargai sesama.
Nuansa religi kembali terasa ketika pengunjung memasuki bagian lain museum. Di ruangan ini tersimpan mushaf Al-Qur’an berukuran jumbo, Al-Qur’an yang ditulis di atas daun lontar, ukiran ayat suci pada media kayu, hingga Asmaul Husna yang dipajang sebagai bagian dari koleksi edukatif.

Keberadaan koleksi tersebut menjadi penegas bahwa filosofi Gusjigang tidak berhenti pada aktivitas berdagang. Museum ingin menunjukkan bahwa kehidupan dunia dan kehidupan spiritual merupakan dua hal yang saling melengkapi.
“Kami berharap para pengunjung tidak melupakan pesan akhiratnya dalam menjalankan dunianya,” ujar Daffa.
Pesan itu terasa konsisten hadir sejak awal hingga akhir perjalanan museum. Dari ruang yang berbicara tentang perdagangan, sejarah, hingga budaya, semuanya kembali bermuara pada nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kudus.
Museum ini tidak hanya didatangi wisatawan yang memang datang khusus untuk belajar sejarah. Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya berbagai agenda berskala nasional di Kudus juga menghadirkan pengunjung baru yang menyempatkan diri mengenal kota ini melalui museum.
Salah satunya terlihat ketika dua atlet panahan muda asal Balikpapan, Kalimantan Timur, mengunjungi Museum Jenang dan Gusjigang di sela mengikuti kejuaraan panahan di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.

Zaila Kuratul Ain Sarmadi dan Rindu Ayunda Candra datang bukan dengan tujuan utama berwisata. Setelah mengetahui museum tersebut melalui YouTube dan mendapat rekomendasi dari pengemudi Maxim yang mengantar mereka berkeliling Kudus, keduanya memutuskan menyisihkan waktu untuk berkunjung.
“Kayaknya seru,” kata Zaila, mengingat alasan awal mereka memilih museum tersebut.
Ekspektasi itu terjawab setelah mereka menyusuri setiap ruang pamer.
“Seru,” ucap keduanya kompak ketika diminta menceritakan kesan selama berada di museum.
Dari berbagai koleksi yang dilihat, replika Ka’bah dan Rumah Kapal menjadi bagian yang paling menarik perhatian mereka. Namun, pengalaman yang dibawa pulang ternyata jauh lebih banyak daripada sekadar mengingat koleksi favorit.
Sebelum datang, pengetahuan mereka tentang jenang hanya sebatas makanan yang mirip dodol. Setelah membaca panel-panel informasi dan mengamati koleksi museum, keduanya mulai mengenal sejarah Menara Kudus, perkembangan budaya masyarakat, filosofi Gusjigang, hingga berbagai kisah yang sebelumnya belum pernah mereka dengar.
Perjalanan ke Kudus yang awalnya hanya diisi agenda pertandingan akhirnya menghadirkan pengalaman lain. Mereka tidak hanya membawa pulang cerita mengenai kejuaraan yang diikuti, tetapi juga pemahaman baru mengenai kota yang menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.
Menurut Daffa, Museum Jenang dan Gusjigang saat ini menerima sekitar 500 hingga 700 pengunjung setiap bulan, dengan mayoritas berasal dari rombongan pelajar. Selain itu, tidak sedikit wisatawan dari luar Pulau Jawa yang datang untuk mengenal sejarah dan budaya Kudus melalui museum ini.
Meningkatnya berbagai kegiatan berskala nasional di Kudus juga ikut memperluas jangkauan pengunjung. Banyak peserta kejuaraan olahraga, festival, maupun kegiatan lainnya memanfaatkan waktu luang untuk singgah dan mengenal kota ini lebih dekat.
Barangkali di situlah letak peran Museum Jenang dan Gusjigang. Tempat ini memang menyimpan berbagai benda bersejarah, tetapi yang sesungguhnya diwariskan kepada setiap pengunjung bukanlah koleksi-koleksi tersebut. Museum ini mewariskan cerita tentang bagaimana sebuah kota dibentuk oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan nilai-nilai yang tetap hidup dari masa ke masa.
Di Kudus, semua cerita itu ternyata dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bukan dari ruang pamer pertama, melainkan dari langkah kecil menaiki tangga di atas showroom jenang. Dari sanalah perjalanan mengenal identitas sebuah kota benar-benar dimulai. (OEB/mainkekudus)