Memulai Pagi dengan Sarapan Khas Kudus, Lentog Tanjung Pak Di
KUDUS – Aktivitas pagi di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, mulai berjalan sejak selepas subuh. Di kawasan yang dikenal sebagai sentra lentog, warga datang untuk sarapan sebelum melanjutkan pekerjaan. Salah satu tempat yang dapat menjadi pilihan adalah lentog tanjung Pak Di.
Warung mulai melayani pelanggan sekitar pukul 04.30. Ketika pagi semakin ramai, satu per satu pembeli datang dan memilih lentog sebagai menu sarapan. Potongan lontong berukuran besar disajikan bersama kuah sayur nangka atau tewel dan tahu. Pelanggan juga dapat menambahkan tempe, telur bacem, serta aneka sate.
Bagi warga Kudus, kebiasaan menyantap lentog pada pagi hari telah berlangsung dalam keseharian. Makanan tersebut tidak hanya dicari ketika ada wisatawan yang datang, tetapi juga menjadi pilihan warga sebelum bekerja dan menjalankan aktivitas lainnya.
Cocok untuk Sarapan
Lentog tanjung memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan sejumlah menu sarapan lainnya. Bahan utamanya berupa beras yang dimasak menyerupai lontong, tetapi dibuat dengan ukuran relatif besar. Lontong kemudian dipotong kecil-kecil dan disajikan dengan kuah sayur nangka atau tewel serta tahu.
Proses membuat lontong membutuhkan waktu cukup panjang. Beras dimasak selama sekitar enam hingga delapan jam untuk mendapatkan tekstur yang lembut dan pulen. Setelah siap, lontong dipotong dan disusun di atas piring sebelum diberi kuah dan pelengkap.
Kuah tewel memberikan perpaduan rasa gurih dan manis yang menjadi bagian dari karakter lentog tanjung. Tekstur lontong yang lembut membuat makanan ini cukup mudah disantap pada pagi hari.

Satu porsi lentog dijual dengan harga Rp 8 ribu. Pilihan pelengkap tersedia dengan harga berbeda, seperti sate ati Rp 5 ribu, usus Rp 4 ribu, dan telur Rp 5 ribu. Dengan pilihan tersebut, pelanggan dapat menyesuaikan menu sarapan sesuai kebutuhannya.
Nur Hadi, warga Kudus, termasuk pelanggan yang cukup sering menyantap lentog. Dalam seminggu, ia bisa datang tiga hingga empat kali untuk menjadikannya menu sarapan sebelum bekerja.

“Kalau pengen makan lentog, ya langsung ke sini. Lebih mudah, lebih praktis. Ada tahu, ada sayur nangka atau tewel, rasanya juga enak,” ujarnya.
Setelah sarapan, Nur Hadi kembali melanjutkan aktivitas. Bagi dirinya, lentog tidak membutuhkan alasan khusus untuk disantap. Ketika ingin sarapan dengan makanan yang sudah dikenalnya, ia dapat langsung datang ke sentra lentog.
Kebiasaan seperti itu menunjukkan bahwa lentog masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Kudus. Makanan tradisional tersebut hadir sebagai bagian dari rutinitas, bukan hanya sebagai menu yang diperkenalkan kepada orang dari luar daerah.
Turun-Temurun

Keberadaan lentog tanjung juga berkaitan dengan tradisi keluarga para penjualnya. Usaha lentog yang dijalankan secara turun-temurun membuat cara pengolahan makanan ini tetap bertahan di tengah perubahan kebiasaan makan masyarakat.
Dalam cerita mengenai sentra lentog tanjung, dahulu penjual tidak selalu menggunakan warung seperti sekarang. Ada yang menjajakan lentog dengan cara dipikul dan berkeliling. Sebagian lainnya berjualan di warung sederhana, termasuk di bawah pohon.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang hingga kawasan Tanjungkarang dikenal sebagai salah satu tempat untuk mencari lentog. Sejumlah penjual yang berada di kawasan itu juga masih memiliki hubungan kekerabatan.
Bagi pengelola lentog tanjung Pak Di, mempertahankan usaha bukan hanya berkaitan dengan menjual makanan setiap pagi. Ada proses yang harus dilakukan sejak dini hari, mulai dari menyiapkan bahan, memastikan lontong siap disajikan, hingga menyediakan kuah dan pelengkap untuk pelanggan.
Rasa juga menjadi bagian yang diperhatikan. Pelanggan lama yang kembali datang menjadi salah satu ukuran apakah makanan yang mereka kenal sejak dahulu masih memiliki rasa yang sama.

Beberapa pelanggan lama, menurut pengelola, menyebut rasa lentog yang mereka santap masih terasa seperti sebelumnya. Bagi usaha yang telah berjalan selama puluhan tahun, tanggapan semacam itu menjadi bagian dari perjalanan kuliner yang terus berlangsung.
Aktivitas penjualan biasanya mulai ramai sekitar pukul 06.30 hingga 10.00. Setelah itu, jumlah pelanggan berangsur berkurang dan warung tutup sekitar pukul 13.00.
Dalam kondisi sepi, penjualan dapat mencapai sekitar 50 porsi dalam sehari. Saat jumlah pembeli meningkat, penjualan bisa mencapai 100 porsi atau lebih.
Pelanggan Lokal hingga Luar Daerah
Pada hari biasa, pembeli lentog sebagian besar merupakan warga lokal. Mereka datang untuk sarapan sebelum bekerja atau menjalankan kegiatan lainnya. Namun, suasana berbeda dapat terlihat pada akhir pekan, libur panjang, dan Lebaran ketika pelanggan dari luar daerah ikut berdatangan.
Amalia Rizki, warga Jepara yang bekerja di Kudus, sudah beberapa kali menyantap lentog tanjung. Ia menilai makanan tersebut memiliki rasa yang berbeda dari makanan yang biasa ditemukan di daerah asal.

“Porsinya nggak terlalu banyak, tapi rasanya enak dan khas. Ada gurih, ada manis, tekstur lentognya juga empuk,” ujar Amalia.
Menurutnya, lentog tanjung memiliki karakter rasa yang belum ia temukan di Jepara.
“Kalau di Jepara enggak ada lentog yang rasanya khas seperti di sini,” katanya.
Buat Amalia lentog tanjung bukan hanya sebagai pilihan sarapan, tetapi juga makanan yang dapat diperkenalkan kepada orang lain ketika berkunjung ke Kudus. Wisatawan dapat mencobanya untuk mengenal salah satu bagian dari kuliner lokal.
Bagian dari Perkembangan Sports Tourism

Perkembangan sports tourism di Kudus tidak hanya berlangsung di arena olahraga. Kehadiran atlet, official, keluarga, dan penonton dari berbagai daerah turut membuka kesempatan bagi mereka untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat, termasuk melalui kuliner.
Lentog Tanjung menjadi salah satu pilihan. Menu ini terdiri dari lontong, kuah tewel, tahu, dan pelengkap yang umumnya disantap pada pagi hari. Pengunjung dapat menikmatinya di warung lokal yang juga menjadi tempat warga sarapan sebelum memulai aktivitas.

Salah satunya Lentog Tanjung Pak Di. Sejak dini hari, pengelola menyiapkan lontong, kuah tewel, tahu, dan pelengkap lainnya. Pagi hari, pelanggan mulai berdatangan untuk sarapan.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih menjadi bagian dari keseharian warga. Bagi pengunjung dari luar daerah, makan di warung lokal memberi kesempatan untuk mencoba menu yang biasa dikonsumsi masyarakat Kudus.
Pengalaman kuliner juga dapat melengkapi perjalanan sports tourism. Setelah menyaksikan pertandingan, mendampingi atlet, atau mengikuti kegiatan di venue, pengunjung dapat menjelajahi kuliner lokal di luar kawasan arena.
Bagi Narsih, pengelola Lentog Tanjung Pak Di, kunjungan orang dari luar daerah menjadi kesempatan untuk memperkenalkan menu yang selama ini mereka sajikan. Ia berharap lentog semakin dikenal dan menjadi salah satu pilihan kuliner wisatawan yang datang ke Kudus.

“Mudah-mudahan semakin menjadi favorit makanan lentog, supaya lebih diprioritaskan wisatawan dan lebih dikenal,” ujar Narsih.
Lentog Tanjung menjadi salah satu contoh keterkaitan antara sports tourism dan aktivitas ekonomi lokal. Turnamen dan kegiatan olahraga mendatangkan pengunjung, sementara kuliner memberi mereka pilihan untuk mengenal Kudus di luar arena pertandingan.
Bagi warga, lentog tetap menjadi menu sarapan. Bagi pengunjung dari luar daerah, makanan ini dapat menjadi bagian dari pengalaman selama berada di Kudus. (DN/mainkekudus)






























