
5RFP+FWF, Jl. Getas Pejaten No.155, Getas, Getas Pejaten, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59343, Indonesia
Dari koleksi tersebut, Nifa memperoleh pengetahuan mengenai sejarah industri rokok di Kudus, termasuk proses pembuatannya. Benda-benda lama yang tersimpan di dalam museum juga membuat informasi yang diterima tidak hanya berupa cerita.
“Keren. Informasinya jelas semuanya, kita jadi tahu apa saja,” katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Dinda Ayu Maharani, warga Demak. Ia datang karena ingin melihat foto-foto masa lalu sekaligus mengetahui bagaimana proses pembuatan rokok di Kudus.
Perhatian Dinda tertuju pada foto-foto lama yang menjadi bagian dari koleksi museum. Melalui dokumentasi tersebut, ia mendapatkan gambaran mengenai kondisi Kudus pada masa yang berbeda dengan kehidupan saat ini.
“Benar-benar seperti kenangan banget, waktu Kudus zaman dulu itu bagaimana,” tuturnya.
Kunjungan itu tidak hanya membuat Dinda mengetahui sejarah kretek. Ia juga mendapatkan gambaran mengenai perjalanan Kudus secara lebih luas. Menurutnya, informasi yang disampaikan museum menjadi lebih mudah dipahami karena disertai benda-benda peninggalan yang dapat dilihat secara langsung.

“Bagus banget, tenang, dan informasinya juga lengkap. Bukti-buktinya juga ada. Jadi kita tidak cuma dengar cerita, tetapi juga bisa melihat langsung peninggalan zaman dulu,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat Dinda berencana merekomendasikan Museum Kretek kepada keluarga dan teman-temannya, terutama mereka yang berasal dari luar Kudus.
Bagi pengunjung seperti Nifa dan Dinda, koleksi museum menjadi titik awal untuk mengenal Kudus melalui sejarah. Namun, keberadaan benda-benda tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Museum Kretek diresmikan pada 3 Oktober 1986. Gagasan pendiriannya berawal dari perhatian Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Rustam, yang melihat Kudus sebagai daerah yang memiliki hubungan erat dengan industri kretek, tetapi belum memiliki museum yang secara khusus merekam sejarah tersebut.
Pembangunan museum kemudian dilakukan oleh Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK). Soepardjo Rustam, yang saat peresmian telah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, turut hadir meresmikan museum.
Pengelolaan Museum Kretek berada di bawah PPRK hingga 2007. Setelah itu, pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Sejak awal, museum tidak hanya diarahkan sebagai tempat menyimpan benda-benda lama. Keberadaannya berkaitan dengan upaya menjaga informasi mengenai perjalanan kretek agar tetap dapat dipelajari masyarakat.
Edukator Museum Kretek Kudus, Novi Hidayati, mengatakan pelestarian sejarah menjadi bagian utama dari keberadaan museum.

“Visi Museum Kretek yang paling utama adalah melestarikan sejarah mengenai kretek itu sendiri, sehingga informasi-informasi mengenai kretek dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas,” jelas Novi.
Saat ini, Museum Kretek memiliki sekitar 1.200 koleksi yang berkaitan dengan sejarah kretek di Kudus.
Berbagai benda yang tersimpan di museum membantu pengunjung mengenal perjalanan industri kretek dari sisi yang lebih konkret. Salah satunya buku akuntansi Bal 3 yang ditemukan di Belanda.

Museum juga memiliki alat giling yang hingga kini masih digunakan dalam industri kretek. Keberadaan alat tersebut memberikan gambaran mengenai peralatan yang digunakan dalam proses produksi.

Bagi Novi, setiap benda yang menjadi koleksi memiliki cerita. Koleksi tersebut membantu pengunjung memahami bagaimana industri kretek berkembang dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat Kudus.
Dengan melihat benda secara langsung, pengunjung tidak hanya menerima informasi mengenai sejarah melalui tulisan atau penjelasan. Mereka juga dapat melihat bentuk peralatan, dokumentasi, serta berbagai peninggalan yang berkaitan dengan perjalanan industri tersebut.
Hal itu menjadi bagian penting dari pengalaman belajar di museum. Benda yang tersimpan tidak berdiri sendiri, tetapi disertai informasi mengenai konteks dan sejarahnya.

Kisah kretek di Kudus bermula sekitar 1880 melalui Haji Djamhari. Dalam riwayat yang berkembang, Djamhari mengalami gangguan pada bagian dada dan kerap menggunakan minyak cengkih untuk meredakan rasa sesak. Ia kemudian bereksperimen dengan mencampurkan cengkih yang telah dirajang ke dalam tembakau untuk dilinting dan dibakar.
Campuran tembakau dan cengkih itu kemudian menghasilkan rokok dengan bunyi khas ketika dibakar. Suara cengkeh yang terbakar terdengar seperti kretek-kretek. Dari bunyi itulah sebutan kretek kemudian dikenal dan melekat pada rokok berbahan tembakau dan cengkih tersebut.
Pada masa awal, kretek masih dibuat secara sederhana di rumah-rumah. Lintingan dikerjakan dengan tangan menggunakan bahan yang tersedia, termasuk kulit jagung sebagai pembungkus. Dari kegiatan rumahan tersebut, kretek perlahan berkembang menjadi produk yang diperdagangkan lebih luas.
Perkembangan itu kemudian dilanjutkan oleh pengusaha pribumi Kudus, salah satunya Nitisemito. Ia melihat peluang dari produk yang sebelumnya dibuat dalam skala rumah tangga dan mengembangkannya menjadi usaha dengan produksi serta pemasaran yang lebih terorganisasi.
Nitisemito kemudian dikenal melalui merek Tjap Bal Tiga. Perkembangan usahanya menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah industri kretek Kudus. Ia memperkenalkan cara pemasaran yang lebih luas dan membawa produksi kretek dari skala rumahan menuju industri dengan jumlah pekerja yang besar.
Pada 1934, perusahaan Nitisemito disebut mempekerjakan sekitar 10.000 pekerja. Angka tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan kretek tidak hanya mengubah skala produksi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak orang.
Perjalanan Nitisemito juga memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan Indonesia. Ia dikenal memiliki hubungan dengan Soekarno dan disebut menjadi salah satu donatur perjuangan. Menurut keterangan Yudhi Ernawan, cucu Nitisemito, dukungan tersebut disalurkan melalui orang kepercayaan karena situasi pada masa itu penuh pengawasan dan risiko. Nama Nitisemito bahkan disebut Soekarno dalam pidatonya di sidang BPUPKI.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui pertempuran. Sebagian masyarakat mengambil bagian melalui kemampuan ekonomi yang mereka miliki. Pengusaha dapat memberikan dukungan dana dan sumber daya, sementara jaringan usaha yang telah terbentuk menjadi bagian dari hubungan masyarakat pada masa perjuangan.
Cerita mengenai peran pengusaha kretek juga terdapat dalam perjalanan Tjap Saboek. Haji Muhammad Nur Hamid, Haji Nawi, dan Haji Alisikin dikenal sebagai tokoh yang berada di balik perkembangan perusahaan tersebut. Ketiganya menjadi bagian dari sejarah pengusaha pribumi Kudus yang membangun kegiatan ekonomi sekaligus memiliki keterkaitan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Haji Muhammad Nur Hamid menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan Tjap Saboek. Perusahaan yang dibangunnya berkembang melalui kegiatan produksi dan perdagangan. Ketika perjuangan kemerdekaan berlangsung, Nur Hamid disebut menolak bekerja sama dengan Belanda dan menggunakan kekuatan ekonomi yang dimilikinya untuk membantu kebutuhan perjuangan.
Haji Nawi dan Haji Alisikin juga tercatat dalam perjalanan Tjap Saboek. Bersama Nur Hamid, keduanya disebut memberikan dukungan melalui jaringan usaha dan sumber daya yang tersedia. Dalam situasi perang, kemampuan pengusaha menyediakan dana dan kebutuhan logistik menjadi salah satu bentuk dukungan kepada perjuangan.
Novi Hidayati, Edukator Museum Kretek Kudus, menuturkan sejumlah saudagar kretek pada masa lalu turut berkontribusi dalam perjuangan bangsa. Salah satunya Nur Hamid yang disebut ikut mendanai Serangan Umum 1 Maret. Selain itu, terdapat pula tokoh seperti Nawi dan Alisikin.
Cerita mengenai ketiga tokoh tersebut memperlihatkan bentuk perjuangan dari sisi ekonomi. Mereka tidak harus berada di medan pertempuran untuk mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan. Kemampuan usaha, jaringan perdagangan, dan sumber daya yang dimiliki dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan perjuangan.
Jejak hubungan antara pengusaha kretek dan perjuangan juga muncul dalam cerita mengenai kedatangan utusan tokoh militer ke Kudus. Jaringan pengusaha lokal menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan menghimpun dukungan. Dalam catatan mengenai Tjap Saboek, terdapat cerita mengenai hubungan dengan tokoh militer seperti Jenderal Sudirman dan Jenderal Gatot Subroto.
Pada masa tersebut, industri kretek tidak berdiri sendiri. Di belakang kegiatan produksi terdapat pekerja, pedagang, pemasok, dan jaringan distribusi yang saling berkaitan. Ketika situasi politik dan keamanan berubah, jaringan ekonomi yang telah terbentuk dapat pula menjadi bagian dari dukungan terhadap perjuangan.
Sebagian jejak perjalanan Tjap Saboek kini tersimpan di Museum Kretek. Koleksi yang diserahkan keluarga pengusaha tersebut mencakup foto, dokumen, produk rokok, serta sejumlah benda yang berkaitan dengan sejarah perusahaan. Kehadiran koleksi itu menambah sumber bagi pengunjung untuk mengenal perjalanan industri sekaligus tokoh-tokoh yang berada di balik perkembangannya.
Dari Haji Djamhari hingga para pengusaha yang muncul pada masa berikutnya, sejarah kretek di Kudus menunjukkan perubahan dari sebuah racikan tembakau dan cengkeh menjadi industri yang melibatkan banyak orang. Perkembangannya ikut membentuk aktivitas ekonomi masyarakat dan melahirkan jaringan usaha yang bertahan lintas masa.
Ketika perjuangan kemerdekaan berlangsung, sebagian pengusaha kretek menggunakan kemampuan ekonomi yang mereka miliki untuk memberikan dukungan. Cerita Haji Muhammad Nur Hamid, Haji Nawi, dan Haji Alisikin menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut, bersama kisah Nitisemito dan pengusaha pribumi lainnya.
Melalui koleksi dan dokumentasi yang tersimpan, Museum Kretek tidak hanya mencatat bagaimana kretek diproduksi dan diperdagangkan. Museum juga memperlihatkan hubungan industri tersebut dengan kehidupan masyarakat, perkembangan ekonomi pribumi, serta peran sejumlah pengusaha dalam mendukung perjuangan Indonesia melalui jalur ekonomi.

Museum Kretek juga memiliki fungsi sebagai ruang edukasi. Pelajar dari berbagai jenjang menjadi salah satu kelompok yang banyak berkunjung, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.
Program edukasi yang disiapkan museum disesuaikan dengan karakter pengunjung. Selain pelajar, terdapat program untuk masyarakat umum dan pengunjung berkebutuhan khusus.
Museum juga menggelar sejumlah program publik, seperti pameran dan kegiatan belajar bersama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan koleksi sebagai bahan pembelajaran.

Pengalaman Nifa menunjukkan salah satu bentuk pemanfaatan tersebut. Ia datang bersama temannya dan menggunakan kunjungan sebagai bagian dari tugas sekolah. Sementara Dinda datang dengan tujuan mengenal foto-foto lama dan proses pembuatan rokok.
Keduanya datang dengan kebutuhan berbeda, tetapi sama-sama memperoleh pengetahuan mengenai sejarah Kudus setelah melihat koleksi secara langsung.

Selain berfungsi sebagai ruang edukasi, Museum Kretek menjadi salah satu tempat yang dapat dikunjungi wisatawan ketika ingin mengenal Kudus melalui sisi sejarahnya.
Lokasi museum berada di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Museum buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Harga tiket masuk juga relatif terjangkau. Pengunjung dikenakan tarif Rp 4.000 per orang pada Senin hingga Sabtu. Pada Minggu dan hari libur nasional, tarifnya Rp 5.000 per orang.
Selain ruang museum, pengunjung juga dapat menikmati Waterboom Museum Kretek yang berada di kawasan Pemerintah Kabupaten Kudus. Tiket masuknya dibeli terpisah dari tiket museum dengan tarif Rp 15.000 per orang. Waterboom buka pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, mengikuti jam operasional kawasan.

Fasilitas yang tersedia terdiri atas kolam untuk orang dewasa dan anak-anak, prosotan air, serta ember tumpah. Pengunjung juga dapat menggunakan area mandi bola dan tempat bilas. Dengan fasilitas tersebut, kawasan Museum Kretek tidak hanya menjadi tempat untuk melihat koleksi sejarah, tetapi juga menyediakan pilihan aktivitas rekreasi bagi pengunjung yang datang bersama keluarga.
Informasi tersebut membuat kunjungan ke Museum Kretek dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata keluarga maupun kegiatan belajar. Pengunjung dapat melihat koleksi sejarah sekaligus memanfaatkan fasilitas yang tersedia di kawasan tersebut.
Jumlah pengunjung museum disebut mengalami peningkatan setiap tahun. Kunjungan juga dipengaruhi berbagai kegiatan yang berlangsung di Kudus.
Menurut Novi, kegiatan atau event tertentu dapat memberikan pengaruh terhadap jumlah pengunjung. Salah satunya kegiatan olahraga yang menghadirkan peserta dari luar daerah.
“Untuk pengunjung setiap tahun ada peningkatan. Tergantung event-event yang ada di Kudus, itu juga mempengaruhi,” ujar Novi.
Meski demikian, besaran pengaruh kegiatan olahraga terhadap jumlah kunjungan belum dapat dipastikan karena belum seluruhnya tercatat dalam data.

Museum Kretek juga menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar serial Netflix Gadis Kretek. Proses syuting di kawasan museum berlangsung selama tiga hari pada Agustus 2022. Saat produksi berlangsung, area museum ditutup sementara bagi pengunjung umum.
Pemilihan Museum Kretek berkaitan dengan cerita serial yang mengangkat perkembangan industri kretek dan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Serial yang diadaptasi dari novel karya Ratih Kumala tersebut menggunakan alur yang bergerak antara dua masa, yakni era 1960-an dan awal 2000-an.
Pada bagian masa lalu, cerita berpusat pada Dasiyah atau Jeng Yah yang diperankan Dian Sastrowardoyo dan Soeraja yang diperankan Ario Bayu. Dasiyah digambarkan sebagai perempuan yang memiliki kemampuan meracik saus kretek, sementara Soeraja masuk ke dunia industri kretek dan kemudian membangun usahanya sendiri.
Cerita kemudian berlanjut pada masa awal 2000-an melalui Lebas, yang diperankan Arya Saloka, dan Arum, diperankan Putri Marino. Keduanya menelusuri kisah masa lalu keluarga Soeraja dan mencari jawaban mengenai Dasiyah. Alur tersebut membuat berbagai tempat yang berkaitan dengan sejarah kretek menjadi bagian penting dalam perjalanan cerita.

Bagi Museum Kretek, keberadaan koleksi sejarah dan suasana bangunan menjadi bagian yang mendukung kebutuhan produksi. Koleksi museum mencakup dokumentasi sejarah industri kretek, tokoh-tokoh pengusaha, peralatan produksi, serta berbagai benda yang berkaitan dengan perkembangan kretek di Kudus.
Beberapa bagian kawasan museum digunakan selama proses pengambilan gambar. Kehadiran kamera dan kru produksi untuk sementara mengubah aktivitas museum yang biasanya diisi pengunjung dan kegiatan edukasi.
Setelah serial tersebut tayang pada November 2023, Museum Kretek memiliki keterkaitan baru dengan penonton Gadis Kretek. Orang yang sebelumnya mengenal museum melalui koleksi sejarah dapat melihat tempat tersebut melalui cerita fiksi, sementara penonton serial memiliki alasan lain untuk datang dan melihat langsung lokasi yang pernah muncul di layar.
Kunjungan ke museum kemudian tidak hanya berkaitan dengan cerita serial. Pengunjung tetap dapat melihat koleksi, foto, diorama, dan peralatan produksi yang menjadi bagian dari sejarah industri kretek. Dengan begitu, lokasi yang hadir dalam cerita fiksi tetap dapat ditemui dalam konteks sejarah yang disimpan museum.
Kehadiran Gadis Kretek menambah satu lapisan dalam perjalanan Museum Kretek sebagai tempat yang memperkenalkan sejarah industri kretek. Setelah tampil sebagai bagian dari cerita di layar, museum tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat untuk melihat, mengenal, dan mempelajari jejak perjalanan kretek di Kudus.

Perjalanan Museum Kretek tidak berhenti pada koleksi yang telah tersimpan selama puluhan tahun. Museum kini menyiapkan pembaruan tata pamer agar informasi sejarah dapat disajikan dengan cara yang lebih sesuai bagi pengunjung dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga benda-benda bersejarah sekaligus memastikan cerita yang menyertainya tetap dapat dipahami oleh generasi yang berbeda. Sebab, fungsi museum bukan hanya merawat peninggalan, tetapi juga menyampaikan pengetahuan yang terdapat di balik setiap benda.

Karakter pengunjung yang beragam membuat kebutuhan terhadap informasi juga berbeda. Pelajar datang untuk belajar, wisatawan ingin mengenal sejarah Kudus, sementara masyarakat umum dapat melihat langsung peninggalan yang berkaitan dengan perjalanan industri kretek.
Bagi Novi Hidayati, pembaruan tersebut diharapkan dapat mendukung Museum Kretek sebagai ruang belajar yang terus berkembang. Ia berharap museum dapat semakin luas menjangkau masyarakat, jumlah pengunjung terus bertambah, serta keberadaannya dapat memberikan inspirasi bagi berbagai pihak.

Cerita yang tersimpan di dalam museum hadir melalui berbagai bentuk, mulai dari foto yang menggambarkan Kudus pada masa lalu, dokumen aktivitas ekonomi, peralatan produksi, hingga kisah para tokoh yang berada dalam perjalanan industri kretek. Keseluruhan peninggalan tersebut membantu pengunjung melihat perubahan Kudus melalui bukti yang masih terjaga.
Setelah melihat berbagai koleksi, Nifa mendapatkan gambaran tentang kondisi Kudus pada masa lalu. Dinda juga menemukan cara yang berbeda untuk memahami sejarah melalui foto dan peninggalan yang dapat dilihat secara langsung.
Pengalaman keduanya menunjukkan bahwa sejarah Kudus tidak hanya tercatat dalam tulisan. Foto, dokumen, peralatan produksi, dan benda peninggalan menyimpan informasi tentang kehidupan masyarakat serta perkembangan industri kretek dari masa ke masa.
Museum Kretek menjaga berbagai jejak tersebut agar tetap dapat dilihat dan dipelajari. Dari koleksi yang tersimpan di dalamnya, pengunjung dapat mengenal perjalanan industri kretek sekaligus memahami bagian dari sejarah Kudus yang masih berkaitan dengan kehidupan masyarakat hingga sekarang. (DN/mainkekudus)