Logo Kudus
Sate Kerbau Sederhana Pak Bambang

Sate Kerbau Sederhana Pak Bambang

Menikmati Sate Kerbau Pak Bambang untuk Makan Siang di Kudus

KUDUS – Waktu makan siang bisa menjadi kesempatan untuk mengenal kuliner khas suatu daerah. Di Kudus, sate kerbau menjadi salah satu menu yang dapat dicoba wisatawan untuk merasakan makanan yang memiliki kaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat setempat.

Salah satu tempat yang menyajikan menu tersebut adalah warung Sate Kerbau milik Bambang Sutomo di Jalan Jenderal Sudirman, sisi utara Pasar Kliwon, Kudus. Warung ini berada di tepi jalan utama dengan proses pembakaran sate yang berlangsung di depan meja saji.

Daging kerbau yang telah dibumbui dibakar diatas arang hingga matang. Setelah itu, sate diletakkan dalam wadah besar dan dapat diambil sendiri oleh pengunjung. Bagi wisatawan, cara penyajian tersebut menjadi bagian dari pengalaman ketika mencicipi kuliner khas Kudus.

Sate Kerbau Disajikan Secara Prasmanan

Sate yang telah matang ditempatkan di dalam wadah besar di meja saji. Pengunjung dapat mengambil sendiri jumlah tusuk yang ingin disantap sesuai selera.

Di meja tersedia dua pilihan bumbu, yakni pedas dan tidak pedas. Cabai rawit rebus juga disediakan bagi pengunjung yang ingin menambah rasa pedas. Sate dapat disantap bersama nasi putih.

Harga sate kerbau dibanderol Rp 6.000 per tusuk. Minuman yang tersedia antara lain teh hangat, es teh, jeruk hangat, dan es jeruk. Pengunjung dapat makan di tempat atau membawa sate untuk disantap di luar warung.

Sate kerbau disajikan secara prasmanan dengan pilihan bumbu pedas dan tidak pedas, serta nasi putih sebagai pelengkap. (Foto: JMY/mainkekudus)

Bagi Anwar, warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kudus, sistem prasmanan menjadi salah satu hal yang membuatnya tetap datang. Ia sudah mengenal sate tersebut sejak ibunda Bambang masih berjualan di Pasar Kliwon.

“Kalau pengen banget gitu bisa 10 tusuk biasanya. Rasanya enak, empuk, bumbunya itu kan meresap karena gula arennya, rempah-rempah kerasa,” kata Anwar.

Anwar, pelanggan setia Sate Kerbau Pak Bambang asal Kudus. (Foto: JMY/mainkekudus)

Ia biasanya datang pada akhir pekan dan terkadang bisa berkunjung beberapa kali dalam satu minggu. Menurut Anwar, rasa sate yang dikenalnya sejak dahulu tidak banyak berubah.

Usaha Keluarga Berjalan Sejak 1960-an

Bambang Sutomo meneruskan usaha sate kerbau keluarga yang dirintis neneknya sejak 1960-an dan dilanjutkan oleh ibunya, Bu Dairi. (Foto: JMY/mainkekudus)

Usaha sate kerbau yang dijalankan Bambang memiliki sejarah panjang dalam keluarganya. Usaha tersebut dirintis oleh neneknya sejak 1960-an dan kemudian diteruskan oleh ibunya, almarhumah Bu Dairi.

Bambang sudah terlibat dalam kegiatan berjualan sejak masih sekolah. Sepulang sekolah, ia membantu menyiapkan dagangan di rumah dan ikut berjualan di pasar.

Kebiasaan tersebut membuat Bambang terbiasa melihat proses pengolahan sate. Ketika mulai berjualan sendiri sekitar 1997, ia menempati lantai dua Pasar Kliwon, sementara ibunya masih menjalankan usaha di lokasi tersebut.

Pengetahuan mengenai resep tidak diperoleh melalui catatan tertulis. Bambang mempelajarinya dengan memperhatikan cara ibunya meracik bumbu dan menyiapkan sate setiap hari.

“Dulu resepnya ya melihat ibu sehari-hari gimana meraciknya,” ujar Bambang.

Bagi Bambang, usaha tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Penghasilan dari berjualan sate membantu membiayai pendidikannya hingga ia dapat hidup mandiri.

Daging Kerbau Dimarinasi Sebelum Dibakar

Daging kerbau untuk sate terlebih dahulu dibumbui dan direndam sekitar dua jam sebelum ditusuk dan dibakar agar bumbu meresap ke dalam daging. (Foto: JMY/mainkekudus)

Sate kerbau yang dijual Bambang memiliki proses pengolahan yang dilakukan sebelum daging dibakar. Daging tidak langsung ditusuk dan diletakkan di atas bara setelah diiris.

Daging terlebih dahulu diberi bumbu dan dimarinasi (terendam dalam bumbu) selama sekitar dua jam. Proses tersebut dilakukan agar bumbu meresap ke dalam daging sebelum pembakaran.

“Kalau sate lain kan diirisi disunduki terus bisa dibakar, kalau sate kerbau tidak. Diirisi terus dibumbui dulu, kemudian direndam aneka bumbu resep zaman dulu sekitar dua jam biar bumbunya meresap,” jelas Bambang.

Proses pembaceman membuat warna daging menjadi lebih gelap. Bumbu utamanya menggunakan kelapa dan berbagai rempah. Sementara komposisi lengkapnya tetap menjadi resep keluarga.

Setelah direndam, daging ditusuk dan dibakar diatas arang. Pembakaran dilakukan di depan meja saji sehingga pengunjung dapat melihat langsung proses memasak.

Dalam sehari, Bambang dapat menghabiskan sekitar lima kilogram daging kerbau. Jumlah tersebut biasanya ditambah pada akhir pekan atau hari libur ketika jumlah pembeli meningkat.

Pelanggan Datang dari Kudus dan Luar Kota

Pelanggan sate kerbau Bambang berasal dari berbagai latar belakang. Warga Kudus yang telah mengenal menu tersebut sejak lama tetap datang, sementara pengunjung dari luar daerah juga mulai mencobanya ketika berada di kota tersebut.

Tia, warga Semarang, merupakan salah satu pengunjung yang sudah tiga kali mampir. Ia datang bersama rekan kerjanya ketika sedang melakukan perjalanan dinas.

Tia (jaket jeans biru muda dan berkacamata), pelanggan Sate Kerbau Pak Bambang asal Semarang, menikmati sate kerbau bersama rekannya. (Foto: JMY/mainkekudus)

Tia memilih sate daging dan koyor apabila tersedia. Menurutnya, daging kerbau memiliki karakter yang berbeda dari sate yang biasa disantapnya. Koyor merupakan bagian jaringan ikat dan urat yang terdapat di sekitar persendian atau bagian kaki kerbau. Bagian ini memiliki tekstur yang lebih kenyal dibandingkan daging biasa karena banyak mengandung jaringan ikat. Sebelum dibakar, koyor diolah terlebih dahulu dengan bumbu bacem sehingga rasanya lebih gurih dan bumbunya meresap. Setelah dibakar, koyor menghasilkan tekstur kenyal dan empuk yang menjadi pembeda dari sate daging kerbau. 

“Kalau sate kerbau itu teksturnya lebih berserat, lebih gurih,” ujar Tia.

Selain pengunjung yang datang secara perorangan, warung tersebut juga didatangi orang dari luar daerah ketika Kudus menggelar kegiatan olahraga. Bambang menyebut pelanggan pernah datang dari Jakarta, Bogor, Kalimantan, Medan, hingga Pekalongan.

Lokasi warung yang berada di Jalan Jenderal Sudirman juga membuatnya mudah dijangkau dari berbagai arah. Jaraknya yang tidak jauh dari Supersoccer Arena Kudus menjadi salah satu alasan pengunjung kegiatan olahraga dapat mampir.

Sebagian pelanggan mengetahui keberadaan warung melalui rekomendasi orang lain. Informasi dari media sosial juga membuat pengunjung luar daerah mengenal sate kerbau tersebut.

Bentuk Toleransi, Daging Kerbau Pengganti Daging Sapi

Sate kerbau menjadi bagian dari kuliner Kudus yang berkaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat setempat sejak masa Sunan Kudus. (Foto: JMY/mainkekudus)

Penggunaan daging kerbau di Kudus memiliki cerita yang berkaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat setempat. Cerita tersebut sering dihubungkan dengan Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Sadiq, salah satu anggota Wali Sanga.

Dalam kisah mengenai penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus dikenal mengajarkan penghormatan terhadap masyarakat Hindu yang telah lebih dahulu hidup di wilayah tersebut. Sapi memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Hindu sehingga penggunaan kerbau kemudian menjadi bagian dari pilihan pangan masyarakat.

Kebiasaan tersebut berkembang dalam kehidupan masyarakat Kudus dan ikut mempengaruhi kuliner setempat. Kerbau kemudian digunakan sebagai bahan dalam berbagai makanan yang dikenal di daerah tersebut.

Sate kerbau menjadi salah satu kuliner yang memperlihatkan hubungan antara kebiasaan masyarakat dan makanan. Karena itu, mencicipinya juga dapat menjadi cara bagi pengunjung untuk mengenal salah satu bagian dari cerita kuliner Kudus.

Bagian dari Wisata Kuliner

Sate kerbau menjadi salah satu pilihan makan siang wisatawan untuk mengenal kuliner khas Kudus setelah berkunjung ke destinasi atau mengikuti kegiatan di kota. (Foto: JMY/mainkekudus)

Makanan lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata karena pengunjung tidak hanya mendatangi tempat, tetapi juga berinteraksi dengan kebiasaan masyarakat melalui makanan.

Sate kerbau dapat menjadi salah satu pilihan makan siang bagi wisatawan yang sedang berada di Kudus. Setelah berkunjung ke destinasi wisata atau mengikuti kegiatan di kota, pengunjung dapat mampir untuk mencicipi menu yang menggunakan bahan dan resep khas daerah.

Pengalaman tersebut juga terlihat dari cara sate disiapkan. Pengunjung dapat menyaksikan daging dibakar di depan meja, memilih sendiri jumlah tusuk, kemudian menentukan bumbu yang diinginkan.

Bagi pelanggan lama seperti Anwar, kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan. Sementara bagi pengunjung dari luar daerah seperti Tia, mencicipi sate kerbau menjadi pengalaman yang membuatnya kembali ketika memiliki kesempatan.

Kedekatan warung dengan kawasan Supersoccer Arena juga membuatnya menjadi salah satu pilihan tempat makan bagi orang yang datang untuk kegiatan olahraga. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa kuliner lokal dapat ikut menjadi bagian dari perjalanan mereka di Kudus.

Resep Keluarga Tetap Dipertahankan

Bambang melanjutkan usaha sate kerbau keluarganya dengan mempertahankan proses pengolahan daging, mulai dari perendaman bumbu hingga pembakaran sate. (Foto: JMY/mainkekudus)

Bambang kini melanjutkan usaha yang telah dijalankan keluarganya selama beberapa generasi. Cara mengolah daging, merendamnya dengan bumbu, hingga membakarnya masih menjadi bagian dari proses yang ia jalankan sehari-hari.

Bagi Bambang, menjaga usaha berarti mempertahankan resep yang telah dikenalnya sejak kecil. Ia berharap bukan hanya usahanya yang terus berjalan, tetapi kuliner warisan Kudus juga tetap dijaga oleh para pelaku usaha lainnya.

“Harapan saya ya jualan lancar, pelanggan tambah banyak, dan banyak penjual yang tetap melestarikan menjaga kuliner warisan leluhur khas Kudus ini,” tuturnya.

Warung Sate Kerbau Bu Dairi berada di Jalan Jenderal Sudirman, sisi utara Pasar Kliwon, Kudus. Warung buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga waktu makan siang. Pengunjung disarankan datang lebih awal karena sate dapat habis sebelum siang.

Dengan harga Rp6.000 per tusuk, sate dapat disantap bersama nasi putih dan pilihan bumbu pedas atau tidak pedas. Cabai rawit rebus tersedia di meja, sementara pilihan minuman meliputi teh dan jeruk dalam sajian hangat maupun dingin. Pengunjung dapat menikmati makanan di tempat atau membawanya pulang.

Makan siang dengan sate kerbau di Kudus pada akhirnya memberikan pengalaman yang tidak berhenti pada makanan. Ada resep keluarga yang terus digunakan, proses pengolahan yang dapat dilihat langsung, pelanggan yang datang kembali, serta cerita tentang tradisi yang membuat daging kerbau menjadi bagian dari kuliner kota tersebut.

Dari satu warung sederhana di sisi utara Pasar Kliwon, wisatawan dapat mengenal Kudus melalui satu hidangan yang masih dipertahankan dari generasi ke generasi. (JMY/mainkekudus)

LOKASI

ALAMAT

Pasar Kliwon, Rendeng, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59311, Indonesia

JAM BUKA

  • Senin08.00–12.00
  • Selasa08.00–12.00
  • Rabu08.00–12.00
  • Kamis08.00–12.00
  • Jumat08.00–12.00
  • Sabtu08.00–12.00
  • Minggu08.00–12.00

KULINER KHAS KUDUS LAINNYA

Gambar Nasi Pindang Kerbau & Soto Kerbau Sidodadi

Nasi Pindang Kerbau & Soto Kerbau Sidodadi

4.7
1.10 km
Gambar Sate Kerbau Pak Sunar

Sate Kerbau Pak Sunar

4.6
1.17 km
Gambar Warung Soto Kebo Pak Marjan

Warung Soto Kebo Pak Marjan

4.8
1.24 km
Gambar Nasi Jangkrik Menara

Nasi Jangkrik Menara

4.8
2.45 km
Gambar Soto Kudus Pak Ramidjan

Soto Kudus Pak Ramidjan

4.3
3.07 km
Gambar Soto Kudus Pak Denuh

Soto Kudus Pak Denuh

4.1
3.55 km
Gambar lentog-tanjung-pak-di

Lentog Tanjung Pak Di

4.43 km
Gambar Sentra Kuliner Lentog tanjung

Sentra Kuliner Lentog tanjung

4.6
4.89 km