
Jl. AKBP Agil Kusumadya No.100, Jatimakmur, Jati Wetan, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59346, Indonesia
Di saat pertandingan masih berlangsung di Supersoccer Arena Kudus, pekerjaan di hotel juga terus berjalan. Para atlet kembali ke hotel setelah menjalani pertandingan, beristirahat, makan, dan mempersiapkan diri untuk agenda berikutnya.

Hotel Griptha dikelola PT Griptha Putra Persada Tbk. Perusahaan tersebut didirikan pada 2010 di Kabupaten Kudus dan mulai menjalankan aktivitas usaha pada 2015. Hotel Griptha memiliki 138 kamar dengan tiga tipe, yakni Deluxe, Business Class, dan Suite. Selain akomodasi, tersedia fasilitas MICE berupa tujuh ruang pertemuan dan satu ballroom. Hotel juga memiliki restoran dan kafe, kolam renang, pusat kebugaran, serta fasilitas pendukung lainnya.




Kapasitas tersebut menjadi salah satu kebutuhan ketika hotel menerima rombongan olahraga dalam jumlah besar. Kontingen membutuhkan kamar untuk atlet dan official, tempat makan, ruang untuk berkumpul, serta fasilitas yang dapat digunakan selama berada di Kudus.
Untuk Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, sekitar 85 kamar digunakan oleh empat kontingen. Rombongan mulai melakukan check-in sekitar 12 Agustus, atau sebelum pertandingan pertama digelar pada 14 Agustus.
Masa tinggal mereka diperkirakan berlangsung hingga 20 Agustus dan dapat diperpanjang sampai 24 Agustus apabila perjalanan kontingen berlanjut dalam kompetisi.
Persiapan menerima kontingen sebenarnya telah dilakukan sebelum turnamen dimulai. Informasi mengenai kedatangan rombongan sudah diterima manajemen Hotel Griptha beberapa bulan sebelumnya.
Front Manager Hotel Griptha Kudus Ewert Yapius Yusuf mengatakan persiapan mulai dilakukan sekitar Mei atau Juni untuk menyambut pelaksanaan event pada Agustus.

Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah mengatur penempatan rombongan. Manajemen berupaya menempatkan anggota dari negara yang sama dalam area atau lorong yang berdekatan.
“Kalau dari setiap negara itu, saya fokuskan untuk setiap lorong satu negara saja. Jadi biar mereka saling berdekatan dan komunikasi dengan coach juga lebih mudah,” ujar Ewert.
Pengaturan tersebut membantu atlet, pelatih, dan official dari satu negara berkomunikasi lebih mudah selama tinggal di hotel. Penempatan kamar juga tetap harus dapat disesuaikan ketika kebutuhan rombongan berubah.
Bagi hotel, persiapan semacam ini diperlukan karena aktivitas kontingen tidak berhenti pada saat mereka berada di arena pertandingan. Sebagian besar waktu di luar pertandingan tetap berlangsung di tempat menginap.
Kebutuhan kamar tidak berhenti pada pengaturan awal. Selama proses persiapan hingga kontingen mulai tinggal di hotel, permintaan dapat berubah berdasarkan kebutuhan masing-masing rombongan.
Ewert mengatakan perubahan tersebut dapat berkaitan dengan jumlah kamar maupun jenis tempat tidur.
“Awalnya mereka minta berapa kamar, besok harinya berubah lagi. Jadi saya harus nge-adjust dan relay out berdasarkan request mereka. Mereka butuh berapa kamar dan jenis bed-nya apa, itu harus saya ubah terus,” jelasnya.
Perubahan tersebut membuat bagian hotel harus memperbarui pengaturan sesuai permintaan terbaru. Ketika jumlah kamar atau jenis tempat tidur berubah, informasi juga perlu diteruskan kepada bagian lain yang berkaitan dengan pelayanan.
Situasi tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang terus berjalan selama kontingen masih menginap. Pengelola harus menjaga agar kebutuhan rombongan dapat terpenuhi tanpa mengganggu pelayanan kepada tamu lain.
Selain kamar, makanan menjadi bagian penting dalam rutinitas kontingen. Jadwal pertandingan membuat waktu makan tidak selalu dapat mengikuti pola pelayanan hotel pada umumnya.
Manager F&B Hotel Griptha Kudus Edwin Leonardo mengatakan menu awal disusun berdasarkan standar yang direkomendasikan penyelenggara. Setelah kontingen datang, hotel kemudian menyesuaikan penyajian berdasarkan preferensi makanan yang ditemui selama pelayanan.

Salah satu contohnya adalah pilihan sumber karbohidrat. Kontingen dari Thailand, Indonesia, dan Malaysia lebih banyak memilih nasi dibandingkan pasta.
“Thailand, Indonesia, Malaysia itu lebih banyak memang lebih suka untuk karbonya adalah nasi. Ketimbang pasta seperti spaghetti, mac and cheese,” ujar Edwin.
Preferensi tersebut menjadi pertimbangan dalam penyajian makanan. Hotel menyesuaikan menu berdasarkan kebutuhan yang disampaikan selama kontingen menjalani aktivitas di Kudus.
Waktu makan juga mengikuti jadwal pertandingan. Ketika pertandingan berlangsung pada malam hari, waktu makan malam dapat bergeser mengikuti agenda tim.
Edwin mencontohkan, apabila pertandingan berlangsung sekitar pukul 20.00 WIB, makan malam dapat dilayani sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kita memang mengikuti match yang berlangsung,” katanya.
Dengan pola tersebut, restoran harus mengikuti perubahan agenda kontingen dari hari ke hari. Pelayanan makanan menjadi bagian dari persiapan atlet sebelum pertandingan maupun kebutuhan mereka setelah kembali dari arena.
Kehadiran tamu dari beberapa negara juga membuat komunikasi menjadi bagian dari persiapan pelayanan. Petugas di area makanan mendapatkan pengarahan mengenai istilah dasar bahasa Inggris yang berkaitan dengan menu.
Beberapa istilah seperti poached egg, scrambled egg, dan omelette diperkenalkan kepada petugas agar permintaan makanan dapat dipahami ketika disampaikan oleh atlet atau official.
Komunikasi berlangsung dalam berbagai kebutuhan selama kontingen berada di hotel. Petugas harus meneruskan informasi apabila terdapat perubahan mengenai kamar, makanan, maupun penggunaan fasilitas.
Bagi pekerja hotel, pelayanan kepada atlet memiliki pola yang berbeda karena aktivitas mereka mengikuti jadwal pertandingan. Permintaan dapat muncul pada waktu tertentu dan membutuhkan penyesuaian dengan agenda tim.
Karena itu, komunikasi antara petugas hotel dengan rombongan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari selama turnamen masih berlangsung.
Sejumlah fasilitas Hotel Griptha juga digunakan oleh kontingen selama mengikuti turnamen. Kolam renang dan pusat kebugaran digunakan secara terbatas sesuai kebutuhan rombongan.
Kolam renang bahkan digunakan untuk ice bath sebagai bagian dari pemulihan kondisi fisik atlet setelah menjalani aktivitas pertandingan.

Fasilitas pertemuan yang dimiliki hotel juga dapat digunakan untuk kebutuhan kelompok. Hotel Griptha memiliki tujuh ruang pertemuan dan satu ballroom yang mendukung berbagai kegiatan dalam satu rombongan.


Penggunaan fasilitas tersebut tetap mengikuti pengaturan yang dibuat hotel. Kontingen memiliki agenda sendiri, sementara fasilitas juga digunakan oleh tamu lainnya.
Selama turnamen berjalan, pengelola perlu memastikan fasilitas dapat digunakan sesuai kebutuhan tanpa mengubah pelayanan hotel secara keseluruhan.

Kehadiran kontingen Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 turut memberikan aktivitas tambahan bagi Hotel Griptha selama turnamen berlangsung.
Manajemen menyebut tingkat okupansi hotel berada di kisaran 80 persen selama periode event. Dari 138 kamar yang tersedia, sekitar 85 kamar digunakan untuk kebutuhan empat kontingen.
Aktivitas rombongan juga terlihat pada penggunaan restoran dan fasilitas hotel. Atlet dan official membutuhkan makanan selama mengikuti pertandingan, sementara kolam renang dan pusat kebugaran digunakan sesuai kebutuhan mereka.
Kondisi tersebut membuat dampak event bagi hotel tidak hanya terlihat dari kamar yang terisi. Selama rombongan masih tinggal di Kudus, kebutuhan mereka terus berhubungan dengan berbagai bagian hotel.
Restoran melayani jadwal makan yang menyesuaikan pertandingan. Petugas menangani kebutuhan kamar. Fasilitas tertentu digunakan untuk pemulihan. Semua aktivitas tersebut berlangsung bersamaan dengan pelayanan kepada tamu lainnya.

Hotel Griptha sebelumnya juga pernah menangani event internasional. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kesiapan manajemen ketika menerima kembali rombongan olahraga dari luar negeri.
Namun, setiap event memiliki kebutuhan yang berbeda. Jumlah rombongan, pengaturan kamar, jadwal pertandingan, pilihan makanan, hingga penggunaan fasilitas perlu disesuaikan dengan permintaan kontingen yang sedang ditangani.
Ewert melihat kegiatan olahraga memiliki peluang untuk menghadirkan kebutuhan akomodasi bagi hotel ketika Kudus kembali menjadi lokasi penyelenggaraan event nasional maupun internasional.
“Kalau menurut kami memang sangat potensial. Apalagi kalau kita lihat beberapa pengadaan event olahraga dan kebutuhan hotelnya memang sangat tinggi,” ujarnya.
Bagi Hotel Griptha, pengalaman yang sedang berlangsung ini menjadi bagian dari proses pelayanan kepada rombongan internasional. Selama pertandingan masih berjalan, kebutuhan hotel juga terus bergerak mengikuti agenda kontingen.

Bagi para atlet dari Yordania, Malaysia, Thailand, dan Hong Kong, China, Hotel Griptha menjadi tempat kembali setelah menjalani aktivitas di arena. Mereka makan, beristirahat, melakukan pemulihan, dan menunggu jadwal pertandingan berikutnya.
Sementara itu, para pekerja hotel terus menjalankan tugas sesuai kebutuhan rombongan. Ada kamar yang harus disiapkan, makanan yang perlu menyesuaikan waktu pertandingan, fasilitas yang digunakan secara terbatas, serta komunikasi yang berlangsung antara petugas dan official.
Hotel Griptha menjadi bagian dari keseharian para kontingen selama berada di Kudus. Kehadiran hotel ini turut melengkapi pengalaman peserta selama mengikuti rangkaian Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026. (ITN/mainkekudus)