
United Square, Jl. Ring Road Utara, RT.001/RW.001, Candi Baru, Singocandi, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59314, Indonesia
Langkah rebranding ini secara resmi diperkenalkan pada pertengahan Agustus 2026. Ivan Gunawan menegaskan bahwa ia memang tidak ingin membangun kesan restoran yang kaku atau eksklusif. Sebaliknya, ia memilih merawat kehangatan suasana warung yang merakyat, sederhana, namun kaya akan cita rasa.

“Ini bukan restoran, guys, tapi ini warung. Konsepnya masakan rumahan yang disajikan sederhana, dengan pilihan lauk yang banyak,” ujar Igun, Sabtu (15/8/2026).
Kehadiran konsep baru ini sekaligus melepaskan keterikatan warung pada satu menu tunggal. Nasi kulit tidak lagi berdiri sendiri sebagai bintang utama, melainkan menjadi bagian dari puluhan sajian lezat lainnya. Keberagaman ini sengaja dihadirkan agar setiap kali pelanggan berkunjung, mereka dapat menikmati pengalaman kuliner yang berbeda dan tidak membosankan.

Untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner, Warung Makan Haji Igun menyiapkan sekitar 30 varian menu. Ragam olahan tersebut dirancang agar pengunjung memiliki alasan untuk selalu kembali dan mencoba hidangan yang berbeda di setiap kedatangan.
Daftar Menu Favorit dan Andalan:
Selain variasi hidangan yang ramah di lidah, penetapan harga juga menjadi pertimbangan utama. Paket Nasi Kulit Lengkap ditawarkan mulai dari harga Rp13.900, sementara sajian lauk favorit lainnya berada di kisaran belasan ribu rupiah. Harga yang terjangkau ini membuat warung menjadi pilihan ideal untuk santap sehari-hari tanpa perlu khawatir merogoh kocek terlalu dalam.


Keputusan menarik lainnya terletak pada penentuan arah menu. Warung Makan Haji Igun secara sadar memilih untuk tidak menyajikan hidangan khas Kudus seperti soto Kudus atau lentog tanjung.
Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap para pelaku usaha lokal yang sudah puluhan tahun melestarikan kuliner khas daerah tersebut. Warung ini hadir bukan untuk bersaing dengan tradisi yang ada, melainkan menawarkan alternatif masakan Nusantara dan peranakan dengan rasa autentik khas masakan rumah.
“Aku memang sengaja hadir dengan suasana yang berbeda, pilihan yang berbeda sehingga masyarakat yang ada di Kudus punya pilihan,” jelasnya.
Dengan menciptakan ruang rasa baru, masyarakat Kudus maupun wisatawan memiliki lebih banyak pilihan saat hendak menikmati hidangan bersama keluarga. Suasana hangat yang ditawarkan menjadi nilai tambah tersendiri bagi warga lokal yang mendambakan variasi makanan harian.


Perubahan konsep ini dengan cepat menyebar dan memantik perhatian publik, salah satunya berkat pergerakan di media sosial seperti Instagram dan TikTok. Informasi pembukaan warung yang ramai dibicarakan menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk para penggiat konten lokal.
M. Daffa Nugraha, seorang guru SMP 5 Kudus yang juga aktif sebagai influencer, menjadi salah satu pengunjung yang tertarik membuktikan keseruan konsep baru ini. Ia menyoroti tiga hal utama yang menjadi daya tarik: keterjangkauan harga, kelezatan menu, serta nuansa tempat yang nyaman.

Menurut Daffa, suasana tempat yang mengusung sentuhan klasik membuat momen makan terasa lebih santai.
“Yang bikin menarik adalah makanannya, harganya lumayan lebih murah daripada restoran-restoran lain. Terus kemudian tempatnya juga asik, semi-semi klasik,” kata Daffa.
Menu Nasi Kulit Cumi Oseng menjadi salah satu sajian yang paling mencuri perhatian Daffa karena paduan rasa gurih dan tingkat pedas yang pas dengan selera warga Kudus.
“Rasanya juga pedas, cocok di lidah bagi masyarakat Kota Kudus dan sekitarnya,” ujarnya.
Daya tarik di media sosial ini terbukti efektif menggerakkan minat masyarakat dari sekadar melihat layar ponsel menjadi langkah nyata untuk datang, mengantre, dan menikmati hidangan langsung di lokasi. Media sosial menjadi jembatan efektif dalam mengenalkan wajah baru usaha ini secara instan kepada masyarakat luas.



Lokasi Warung Makan Haji Igun di United Square Kudus memberikan nilai tambah yang sangat strategis. Berida di kawasan terpadu yang dilengkapi dengan kedai kopi dan pusat oleh-oleh, area ini berkembang menjadi titik singgah yang praktis bagi para pelancong.
Fasilitas utama yang menjadi keunggulan lokasi ini meliputi:
Ketersediaan ruang dan fasilitas parkir yang memadai ini sangat relevan dengan dinamika Kota Kudus yang sering menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala regional, mulai dari acara keagamaan, ziarah, hingga kejuaraan olahraga. Kebutuhan akan tempat makan yang siap melayani rombongan besar dalam waktu singkat menjadi peluang besar yang mampu diakomodasi oleh warung ini. Kedatangan rombongan dalam jumlah banyak tentu menuntut efisiensi kerja tim pelayanan di lapangan.

“Jadi memang titik kumpul dan Alhamdulillah di warung kita juga parkirannya juga luas. Jadi mungkin kalau buat teman-teman yang singgah, bisa parkir bus. Kalau bawa rombongan juga parkirannya juga luas,” ungkap Igun.

Di balik keriuhan antrean dan kepulan asap dapur, ada perputaran roda ekonomi yang melibatkan banyak tenaga kerja. Penambahan variasi menu otomatis menuntut kesiapan tim dapur yang lebih terampil. Peningkatan jumlah pengunjung juga membutuhkan kesigapan staf pelayan agar kenyamanan konsumen tetap terjaga.
Meskipun secara spesifik data penyerapan tenaga kerja belum dipublikasikan secara mendetail, keberadaan tempat makan dengan skala operasional seperti ini memberikan dampak positif bagi penyediaan lapangan kerja di sekitarnya.
Sebuah usaha kuliner pada dasarnya adalah rangkaian rantai kerja. Dari proses penerimaan bahan baku, pengolahan, hingga penyajian di meja, semua membutuhkan koordinasi yang matang. Ketika sebuah warung berkembang pesat, ruang bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi dan mendapatkan penghasilan pun terbuka semakin lebar.

Pemilihan Kudus sebagai lokasi perdana pembukaan konsep baru ini menjadi fondasi penting bagi langkah bisnis Ivan Gunawan ke depan. Kota Kudus dimanfaatkan sebagai ruang untuk menguji dan mematangkan sistem operasional sebelum melangkah lebih jauh.
Igun menyebut Surabaya, Malang, Jakarta, dan Bekasi sebagai sejumlah kota yang masuk dalam rencana pengembangan. Meski demikian, ekspansi akan dilakukan secara bertahap.
“Inovasi terus bertahap,” tambah Igun.
Pengembangan yang dilakukan secara terukur memberikan kesempatan bagi pengelola untuk terus mengevaluasi kualitas rasa dan pelayanan. Inovasi berkala akan terus dihadirkan agar setiap cabang baru siap menyapa penikmat kuliner di berbagai daerah dengan standar yang tetap terjaga.
Perjalanan Warung Makan Haji Igun di Kudus membuktikan bahwa bisnis kuliner adalah tentang membangun hubungan, baik dengan pelanggan yang menikmati hidangan maupun dengan tim yang bekerja di balik layar.
Dari luar, pengunjung mungkin hanya melihat papan nama baru, dekorasi yang hangat, serta sajian lauk yang menggugah selera dengan harga terjangkau. Namun di dalam, ada denyut aktivitas ekonomi yang menghidupi banyak orang dan menggerakkan roda perekonomian lokal.
Warung Makan Haji Igun kini telah memulai babak barunya dari Kudus. Kehadirannya tidak hanya memberi warna baru pada peta kuliner daerah, tetapi juga menegaskan bahwa kesederhanaan masakan rumahan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Perjalanan dari sebuah warung sederhana ini membuktikan bahwa keberhasilan kuliner tidak hanya diukur dari kelezatan rasa, melainkan dari kebermanfaatan yang disebarkannya bagi lingkungan sekitar. (OEB/mainkekudus)