
6R9P+WFV, Jl. Lkr. Utara Kudus, Penganjaran, Peganjaran, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59327, Indonesia
Layanan Pelatih Professional (Coach) Bagi pemula yang ingin belajar teknik bertanding atau pemain yang ingin mengasah pemahaman taktik, Peepz menyediakan layanan pelatih profesional. Tarif dihitung per jam berdasarkan jumlah peserta dalam satu sesi (sudah mencakup jasa pelatih, bola latihan, dan ballboy, belum termasuk biaya sewa lapangan):
Pemesanan lapangan (booking) maupun sesi pelatihan dapat dilakukan secara daring melalui WhatsApp di nomor +62 882-0088-78838 atau akun Instagram @peepz.padel. Sementara untuk menikmati aneka hidangan di Peepz Coffee, pengunjung cukup menyiapkan anggaran berkisar antara Rp25.000 hingga Rp50.000 per orang.

Padel membawa karakter permainan yang khas. Berbeda dengan tenis lapangan konvensional atau bulu tangkis, padel menggabungkan elemen kedua olahraga tersebut dalam ukuran lapangan yang lebih ringkas dan dikelilingi dinding kaca serta pagar besi.
Exelino Setyo Dilanviano, Guest Relation Officer Peepz Coffee & Padel, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Komposisi pengunjung tidak hanya didominasi warga lokal Kudus, melainkan juga dari kota tetangga seperti Semarang, Jepara, Pati, hingga Rembang.

“Karena kalau Padel kan nggak bisa satu orang atau dua orang. Butuh regu, butuh dua lawan dua. Atau semisal kita ketemu orang random, itu bisa banget diajak berinteraksi. Jadi buat nambah relasi juga lumayan,” ujarnya.
Format dua lawan dua ini menciptakan iklim sosial yang hangat. Lapangan padel tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tempat kompetisi sengit, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang perkenalan yang menyenangkan. Pemain pemula dapat berbaur dengan pemain berpengalaman tanpa merasa minder. Hubungan yang terbentuk karena kebutuhan mencari kawan bertanding pada akhirnya sering berlanjut menjadi pertemanan akrab di luar lapangan.

Salah satu keunggulan yang membuat Peepz Coffee & Padel diminati adalah penerapan sistem pelayanan berbasis teknologi. Pengelola menempatkan kode QR di setiap meja area pertandingan dan kafe. Pemain yang selesai bertanding atau sedang menunggu giliran main cukup memindai kode tersebut dengan ponsel untuk memesan menu tanpa perlu mengantre di kasir.
Exel mengatakan makanan ringan dan menu manis menjadi salah satu pilihan yang cukup sering dipesan pemain setelah bermain.
“Kalau yang main Padel, yang paling sering banget dipesan itu ketan ataupun yang manis-manis. Soalnya kalau habis olahraga butuh energi lagi,” katanya.
Untuk sajian minuman, Peepz Coffee menawarkan varian berbasis kopi maupun non-kopi. Salah satu menu khas berbasis kopi susu yang digemari adalah Sweet Butter, yang menyajikan perpaduan tekstur lembut dan cita rasa gurih-manis. Bagi pengunjung yang ingin memulihkan kesegaran tubuh secara instan, racikan minuman berbasis buah segar seperti varian Berry menjadi pilihan favorit.

Bagi para penggiatnya, padel berfungsi sebagai media efektif untuk merajut kembali tali silaturahmi yang sempat terputus oleh kesibukan harian. Aprilliana, seorang karyawan bank di Kudus yang rutin bermain padel seminggu sekali bersama suaminya, membagikan pengalamannya. Sebelum tren padel berkembang, ia lebih sering berolahraga tenis lapangan.

“Begitu Padel mulai menjamur di sini, jadinya pengen nyoba-nyoba aja. Ternyata ketika nyoba cocok juga,” ujarnya.
Setelah mencoba, ia merasa permainan padel relatif ringan, tetapi tetap membutuhkan strategi. Pemain tidak hanya mengandalkan gerakan, tetapi juga perlu memikirkan cara mengarahkan permainan.
“Kalau Padel tuh ringan. Tapi ringannya itu ada mikirnya juga. Jadi teori sama prakteknya seimbang. Nggak asal main, tapi yang paling digarisbawahi itu serunya,” lanjut karyawan bank tersebut.
Bagi Aprilliana sendiri, padel dapat mempertemukannya kembali dengan kawan lama. Saat rutin datang bermain bersama suami pada akhir pekan, ia sering tidak sengaja bertatap muka dengan teman semasa SMA, kenalan masa kecil, hingga rekan bisnis. Pertemuan di arena yang sama itu kerap berubah menjadi ajang reuni spontan yang hangat di area kafe.
“Kalau misalnya aku Padel bareng suami itu pasti ada aja ketemu sama teman yang lama. Nggak pernah ketemu terus akhirnya ketemu. Teman SMA, terus ada temannya teman. Jadi itu konek lagi,” jelasnya.
Lia Nur Hidayah mengenal padel melalui Instagram setelah melihat sejumlah temannya bermain. Sebelumnya, ia juga rutin bermain tenis.
Saat mulai mengikuti kegiatan padel bersama komunitas, Lia menemukan lingkungan baru yang terbuka bagi pemain dengan kemampuan berbeda. Mereka yang sudah berpengalaman dapat bermain bersama pemula yang masih belajar dasar-dasar permainan.

Menurut Lia, suasana seperti ini membuat padel menjadi ruang yang nyaman untuk mengenal orang baru. Pertemanan bisa berawal dari percakapan sederhana di lapangan, lalu berlanjut setelah permainan usai.
“Bisa banget dapat teman baru. Misal nanti kita kenalan, terus habis itu mungkin bisa dilanjut ngopi bareng,” katanya.
Bagi para pemain komunitas, ngopi setelah bermain bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Momen tersebut menjadi kesempatan untuk berbicara lebih santai tanpa perlu lagi fokus pada pertandingan. Obrolan yang semula berlangsung di sela permainan pun dapat berlanjut di meja kafe, sehingga anggota komunitas bisa saling mengenal di luar lapangan.
Sebagai pemain yang memiliki latar belakang dokter di PKU Muhammadiyah Mayong, Lia juga melihat padel dari sisi aktivitas fisiknya.
Berdasarkan pengalaman bermain tenis dan padel, ia merasakan hampir seluruh bagian tubuh ikut bergerak selama permainan.
“Padel ini termasuk olahraga dengan intensitas tinggi. Capeknya itu nggak cuma di kaki atau tangan, tapi semuanya, karena semuanya ikut bergerak,” terangnya.
Karena itu, ia mengingatkan pemain pemula agar tidak langsung bermain tanpa persiapan. Pemanasan dan pemahaman teknik tetap diperlukan untuk membantu pemain melakukan gerakan dengan benar.
Lia juga menyoroti pentingnya memperhatikan persendian, termasuk pergelangan tangan. Pemain perlu memahami teknik sebelum bermain agar gerakan tidak dilakukan secara keliru.
Bagi masyarakat yang belum pernah mencoba, ia menyarankan untuk tidak terlalu khawatir memulai.
“Jangan takut salah, jangan takut memulai, coba aja. Nanti pasti ketagihan,” ujarnya.

Kebiasaan bermain lalu nongkrong juga didukung oleh tempat yang menyediakan kedua aktivitas tersebut dalam satu area.
Owner Peepz Coffee & Padel, Salzavira Belliananda Birton, mengatakan kehadiran padel di Kudus berangkat dari keinginannya menghadirkan olahraga yang sebelumnya belum tersedia di daerah tersebut.

“Padel itu belum ada di Kudus juga. Ini kan olahraga yang baru. Saya lihat trennya kayaknya oke di Kudus, jadi saya berani buka,” katanya.
Menurut Belliananda, pemain yang datang tidak hanya berasal dari Kudus. Warga dari daerah sekitar, seperti Pati dan Jepara, juga datang untuk mencoba bermain.
Keberadaan lapangan dan kafe dalam satu lokasi memberi kemudahan bagi pemain setelah pertandingan. Mereka dapat langsung beristirahat, makan, minum, atau berbincang tanpa harus berpindah tempat.

Belliananda berharap semakin banyak masyarakat mengenal padel dan komunitas yang terbentuk dapat terus berkembang.
“Harapannya makin banyak yang suka Padel, makin banyak juga yang mau nyoba. Jadi ke depannya Padel ini makin berkembang di Kudus, terutama komunitasnya juga makin banyak,” ungkapnya.
Harapan ini sejalan dengan perubahan cara masyarakat menikmati olahraga saat ini. Aktivitas fisik tidak lagi sekadar soal melatih tubuh, tetapi juga momen untuk makan, minum, dan bersosialisasi.
Pengalaman Aprilliana dan Lia menjadi gambaran nyata. Melalui padel, mereka tidak hanya menemukan hobi baru, tetapi juga kesempatan untuk reuni dengan teman lama sekaligus menambah kenalan baru.
Lapangan dan kafe pun hadir saling melengkapi. Lapangan menjadi arena untuk bertanding, sementara meja kafe menjadi sudut yang pas untuk melepas lelah sambil berbincang santai.
Di tengah padatnya rutinitas, padel berkembang menjadi agenda sosial yang menyenangkan. Datang untuk bermain, bertemu orang lain, lalu duduk bersama usai pertandingan, rangkaian sederhana ini membuat olahraga terasa makin dekat dengan kehidupan komunitas di Kudus. (OEB/mainkekudus)