
Jl. Lkr. Utara Kudus, Ledok, Karangmalang, Kec. Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59333, Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, ia mencermati geliat futsal di Kudus semakin berkembang. Munculnya kompetisi lokal dan regional mendorong pemain serta tim berlatih lebih disiplin. Kelompok usia sekolah termasuk pengguna yang paling aktif, terutama ketika agenda turnamen antar pelajar sedang berlangsung. Bagi mereka, latihan bukan sekadar bermain, melainkan kesempatan mematangkan teknik, kerja sama tim, taktik, dan kondisi fisik sebelum bertanding.
Arif juga melihat adanya kelompok yang memesan lapangan secara berulang. Pola ini menjadi tanda bahwa fasilitas tersebut telah dipercaya untuk mendukung pembinaan jangka panjang. Pada satu waktu, pemain muda dapat terlihat menyimak instruksi pelatih; di jadwal berikutnya, masyarakat umum memakai lapangan untuk melepas penat setelah bekerja atau belajar. Pertemuan beragam pengguna itu menjadikan arena sebagai titik temu pegiat olahraga di Kudus.
Ketersediaan lapangan yang layak akan tetap penting ketika minat anak muda terhadap kompetisi meningkat. Atlet tidak cukup mengandalkan pertandingan untuk berkembang. Mereka memerlukan tempat berlatih yang konsisten agar kualitas teknis, kebugaran, dan kesiapan mental terbentuk jauh sebelum hari pertandingan.

Salah satu lembaga pembinaan yang rutin memakai Berlian Sports Centre adalah Privat Futsal Club Academy. Pendiri sekaligus pelatih kepala akademi, Muhammad Arief Assegaf, mengatakan timnya telah menggunakan arena itu sebagai basis latihan selama sekitar empat tahun. Akademi yang berdiri pada 2017 tersebut menjalankan empat sesi pembinaan setiap pekan: Senin, Rabu, dan Jumat untuk latihan reguler, sedangkan Sabtu dikhususkan bagi penjaga gawang.
Pemilihan tempat itu didasarkan pada kelayakan fasilitas. Arief menilai kebersihan lingkungan, pencahayaan malam, dan dimensi lapangan membantu pelatih menjalankan program dengan lebih baik.
“Tempatnya representatif, bersih, penerangannya juga bagus. Ukurannya paling mendekati standar lapangan futsal internasional,” katanya.
Menurut Arief, ukuran lapangan merupakan pertimbangan penting saat menyiapkan pemain untuk atmosfer kompetisi yang lebih tinggi. Lapangan futsal standar berdimensi 40 meter x 20 meter. Fasilitas yang mendekati ukuran tersebut masih tidak mudah ditemukan di Kudus. Lapangan yang proporsional membantu pemain memahami ruang, pergerakan, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang menyerupai pertandingan resmi.
Infrastruktur yang memadai bukan hanya bermanfaat bagi latihan internal. Arena dengan fasilitas baik juga dapat memperbesar peluang Kudus menjadi tuan rumah pertandingan atau turnamen dengan skala yang lebih besar. Karena itu, Arief berharap penyediaan ruang olahraga berkualitas terus bertumbuh agar pembinaan pemain muda tidak kehilangan tempat untuk berjalan secara berkesinambungan.

Meski serius menyiapkan pemain, Privat Futsal Club Academy tidak menjadikan keterampilan teknis sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Bagi Arief, latihan merupakan ruang pendidikan yang membangun disiplin, ketahanan mental, kebiasaan bekerja keras, dan sikap pantang menyerah.
“Kita tidak bisa mencetak pemain profesional semua. Tapi paling tidak kita bisa mencetak anak-anak yang kuat secara jiwanya, mentalnya kuat, karakter pantang menyerah, dan disiplin,” tegasnya.

Nilai-nilai itu dipelajari melalui rutinitas yang sederhana namun menuntut konsistensi. Pemain harus datang sesuai jadwal, mengikuti materi pelatih, menjaga kebugaran, dan bekerja sama dengan rekan satu tim. Dalam kompetisi, mereka belajar mengelola tekanan, mengambil keputusan dengan cepat, serta menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif. Pengalaman tersebut relevan bukan hanya di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan sekolah dan pergaulan mereka.
Arief melihat iklim futsal antar pelajar di Kudus semakin positif setelah pandemi Covid-19. Bertambahnya kejuaraan memberi pemain muda lebih banyak kesempatan bertanding dan mengukur perkembangan mereka. Salah satu hasil pembinaan itu terlihat pada tim putri Privat Futsal Club Academy yang menembus enam besar dalam kompetisi regional. Tim tersebut kemudian dipersiapkan untuk mengikuti eksibisi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dengan membawa nama Kabupaten Kudus.


Perjalanan menuju kompetisi yang lebih tinggi membutuhkan dukungan yang tidak sedikit. Karena bergerak mandiri di luar kontingen cabang olahraga resmi pemerintah, kebutuhan operasional tim diupayakan melalui kerja sama orang tua, pihak swasta, dan sponsor lokal. Berlian Sports Centre juga memberi dukungan dengan menyediakan arena latihan melalui skema sewa yang disepakati serta akses gym gratis untuk membantu penguatan fisik pemain akademi.


Salah satu pemain yang tumbuh dalam proses pembinaan tersebut adalah Vea Anindya Putri, siswi kelas IX SMP Negeri 2 Jekulo. Ia rutin berlatih di Berlian Sports Centre dan menyimpan cita-cita menjadi atlet nasional. Ketertarikannya pada futsal bermula ketika duduk di kelas VII SMP. Awalnya, Vea mengikuti ajakan teman untuk mencoba futsal setelah mengenal sepak bola lapangan besar di lingkungan tempat tinggalnya.
Dari pengalaman mencoba, minat itu berkembang menjadi keseriusan. Kini Vea berlatih tiga kali sepekan dan bermain sebagai pivot, posisi penyerang yang menuntut kemampuan menahan bola, membaca pergerakan, serta membuka peluang bagi tim. Ia telah mengikuti turnamen tingkat daerah di Jepara dan Kejuaraan Nasional Pro Futsal di Batam. Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya menjaga latihan secara teratur.
Vea pernah merasakan dampak ketika jadwal latihannya berkurang karena tugas sekolah. Saat kembali ke lapangan, ia merasa tertinggal materi taktis dan kondisi fisiknya belum siap mengikuti intensitas latihan.
“Kalau tidak ikut latihan satu dua kali sudah ketinggalan materi. Secara fisik juga kaget,” tuturnya.
Pengalaman itu mendorongnya mengatur waktu dengan lebih cermat. Kewajiban sebagai pelajar tetap ia selesaikan, sementara latihan dijaga sebagai komitmen untuk mengembangkan kemampuan. Usahanya mulai membuka peluang: Vea masuk radar pemantauan awal untuk Timnas Futsal Putri U-16 Indonesia. Ia berharap dapat menembus futsal profesional dan kelak mengenakan seragam Merah Putih di ajang internasional.
Pembinaan atlet usia muda tidak berdiri sendiri. Dukungan keluarga berperan besar dalam menjaga konsistensi anak. Yana Widiastuti, ibu dari atlet futsal putri Valencia Agustina, merasakan perubahan positif sejak putrinya berlatih di Privat Futsal Club Academy. Valencia mulai mengenal futsal saat kelas V SD dan kini duduk di kelas VIII SMP.

Menurut Yana, olahraga membantu Valencia membangun manajemen waktu. Ia belajar membagi jadwal sekolah, tugas, istirahat, dan latihan.
“Kalau dia mau latihan futsal, dia sudah tahu jam sekian untuk mempersiapkan dirinya,” ujar Yana.
Kebiasaan itu membuat anak lebih mandiri sekaligus bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Kegiatan terstruktur juga memberi ruang positif bagi anak di luar jam sekolah. Energi mereka dapat disalurkan melalui olahraga, bukan hanya dihabiskan untuk penggunaan gawai atau kegiatan yang kurang terarah. Dukungan orang tua pun tidak cukup berupa izin. Yana secara rutin mengantar, menjemput, dan menunggu putrinya selama latihan. Saat pertandingan berlangsung, ia berusaha hadir untuk memberi semangat.
Kehadiran keluarga menjadi penopang ketika atlet muda menghadapi rasa lelah, kejenuhan, atau hasil pertandingan yang belum sesuai harapan. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar mempertahankan minatnya tanpa mengabaikan tanggung jawab di sekolah dan rumah.
Ekosistem olahraga yang sehat membutuhkan hubungan antara atlet, pelatih, keluarga, komunitas, dan sarana latihan yang dapat diakses. Berlian Sports Centre memperlihatkan bagaimana sebuah fasilitas olahraga dapat melayani kebutuhan yang berlapis: warga memperoleh tempat menjaga kebugaran, komunitas memiliki ruang berkegiatan, sedangkan atlet pelajar mendapat arena untuk membangun kemampuan dan karakter.
Keberadaan fasilitas yang terawat menjaga aktivitas olahraga tetap hidup di luar musim turnamen. Latihan dapat berlangsung secara rutin, pertemuan antarkomunitas terbentuk, dan pengalaman pemain muda terus bertambah. Manfaatnya tidak berhenti pada hasil pertandingan, melainkan juga pada terbentuknya kebiasaan hidup sehat, disiplin, kerja sama, serta jalur pembinaan bagi generasi berikutnya.
Aktivitas yang berlangsung dari pagi hingga malam juga memperlihatkan bahwa olahraga dapat menyatukan kebutuhan yang berbeda dalam satu ruang. Anak-anak datang untuk belajar, tim datang untuk berlatih, dan warga datang untuk menjaga tubuh tetap bugar. Semua pengguna berbagi lapangan yang sama dengan semangat bergerak dan berkembang.
Dengan pengelolaan yang baik dan akses yang terbuka, arena seperti Berlian Sports Centre dapat terus menjadi bagian penting dari budaya olahraga di Kudus. Bagi pemain muda, lapangan adalah tempat mengejar prestasi. Bagi keluarga dan masyarakat, ia menjadi ruang bersama untuk bergerak, bertemu, dan menumbuhkan semangat hidup sehat. (OEB/mainkekudus)