
Jl. Jend. Ahmad Yani No.36, Getas, Getas Pejaten, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59343, Indonesia

Sebagai showroom resmi Polygon, Rodalink menyediakan berbagai pilihan sepeda sesuai kebutuhan pengguna. Pilihannya meliputi mountain bike (MTB), road bike, sepeda lipat, BMX, hingga city bike. Rentang harganya juga bervariasi, mulai sekitar Rp1,5 juta hingga lebih dari Rp100 juta. Selain Polygon, tersedia pula sepeda merek Marin dan dan Wim Cycle.

Tidak hanya menjual sepeda, Rodalink juga menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan pesepeda sebelum turun ke jalan maupun jalur pegunungan. Helm, jersey, sepatu, sarung tangan, kacamata, lampu sepeda, pompa, botol minum, groupset, hingga berbagai suku cadang tersusun di rak-rak toko.
Menurut Rinto, produk yang paling banyak diminati masyarakat Kudus masih didominasi MTB, terutama Polygon seri X-Trada. Kondisi geografis Kudus menjadi salah satu penyebabnya.
“Kalau di Kudus memang sepeda gunung paling banyak dicari. Kontur wilayah menuju Colo, Rahtawu maupun rute ke Pati dan Jepara sangat cocok untuk MTB,” katanya.

Selain penjualan, pelanggan juga dapat memanfaatkan layanan servis, konsultasi perakitan sepeda, bike fitting, hingga penyesuaian posisi berkendara sesuai ukuran tubuh. Layanan tersebut membantu pesepeda memperoleh posisi berkendara yang lebih nyaman sesuai karakter penggunaan masing-masing.
Bagi wisatawan yang datang ke Kudus, Rodalink juga menyediakan layanan penyewaan sepeda dengan tarif mulai sekitar Rp 250 ribu per hari. Fasilitas tersebut menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana Kota Kudus maupun mencoba jalur menuju kawasan Muria tanpa membawa sepeda sendiri.

Rodalink buka setiap Senin hingga Jumat pukul 09.00–18.00 WIB. Sementara pada Sabtu dan Minggu, toko mulai melayani pelanggan sejak pukul 08.00 WIB. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai maupun non-tunai melalui QRIS. Area parkir yang luas juga memudahkan pelanggan membawa kendaraan pribadi.
Selama 1–31 Agustus 2026, Rodalink menghadirkan program “Pesta Merdeka di Rodalink” dengan potongan harga hingga 81 persen untuk sejumlah produk pilihan.

Menurut Rinto, meningkatnya aktivitas komunitas dan penyelenggaraan kegiatan bersepeda ikut mempengaruhi kebutuhan pelanggan. Namun, peningkatan kunjungan biasanya terjadi beberapa hari sebelum kegiatan berlangsung.
Pesepeda memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan servis, mengganti komponen yang sudah aus, maupun membeli perlengkapan keselamatan sebelum mengikuti kegiatan.
“Biasanya sebelum event mereka beli jersey, helm, aksesori atau servis dulu supaya saat lomba semuanya siap,” jelasnya.
Selain melayani pelanggan, Rodalink juga aktif mengadakan fun bike sebanyak tiga kali setiap bulan. Kegiatan tersebut terbuka bagi pelanggan maupun masyarakat yang ingin bersepeda bersama.
Melalui kegiatan itu, peserta tidak hanya berolahraga, tetapi juga saling bertukar pengalaman mengenai teknik berkendara, perawatan sepeda, hingga mengenal komunitas yang aktif di Kudus.
“Bagi kami, toko sepeda bukan sekadar tempat berjualan. Dari sini orang bisa mengenal komunitas baru, belajar bersepeda dengan benar, sampai akhirnya menjadikan olahraga sebagai gaya hidup,” kata Rinto.
Ia berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan sepeda sebagai sarana olahraga maupun transportasi ramah lingkungan. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang bersepeda akan semakin baik bagi perkembangan olahraga di Kudus.
Bagi Awang Sunarso, bersepeda telah menjadi bagian dari rutinitas sejak 2017. Buruh pabrik asal Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu itu hampir selalu menghabiskan hari liburnya dengan mengayuh sepeda bersama teman-temannya.

Awalnya ia menggunakan Polygon Strattos S2 sebagai sepeda yang menemaninya menjelajahi berbagai rute di Kudus. Hingga kini, kawasan Muria masih menjadi tujuan yang paling sering ia datangi.
“Kalau libur biasanya gowes ke arah Muria. Rute favorit kami itu Rute Getukan, naik sampai Desa Kajar. Di sana banyak warung getuk yang jadi tempat istirahat pesepeda,” ujarnya.
Perjalanan dari pusat Kota Kudus menuju kawasan Muria memiliki jarak sekitar 15,9 kilometer. Jalur tersebut menawarkan kombinasi tanjakan, turunan, udara pegunungan, dan pemandangan alam yang menjadi daya tarik bagi pesepeda dari dalam maupun luar daerah.
Menurut Awang, keberadaan dealer resmi juga memberikan rasa tenang ketika membutuhkan suku cadang maupun perlengkapan.
“Kalau ke sini biasanya beli kampas rem atau sparepart lain. Yang paling penting buat pesepeda itu helm, kemudian sarung tangan, sepatu, dan kacamata. Keselamatan tetap nomor satu,” katanya.
Perkembangan olahraga sepeda di Kudus juga didukung oleh komunitas yang aktif mengadakan latihan rutin. Salah satunya Muria Sepeda Club (MSC), yang telah berdiri sejak era 1990-an.
Anggota MSC, Saiful Hidaya atau Paul, mengatakan komunitas tersebut kini memiliki sekitar 30 anggota aktif. Mereka rutin berlatih setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu, serta sesekali mengadakan kegiatan bersama pada Minggu.

“Sekarang anggota aktif sekitar 30 orang. Latihan rutin tiga kali seminggu. Kadang Minggu juga kalau ada agenda bersama,” ujarnya.
Rute latihan mereka meliputi kawasan Muria Raya, Rahtawu, hingga Patiayam. Setiap jalur menawarkan karakter yang berbeda sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pesepeda.
“Kalau Muria itu tantangannya berbeda. Jalurnya banyak sungai kecil, bebatuan, tanjakan alami. Itu yang membuat gowes di sini selalu menarik,” katanya.
Meski menyukai jalur yang menantang, Paul mengingatkan bahwa keselamatan tetap harus menjadi perhatian utama. Helm menjadi perlengkapan yang wajib digunakan, kemudian dilengkapi pelindung tubuh, celana sepeda, dan kacamata sesuai kebutuhan.

“Jangan sampai karena ingin cepat malah mengabaikan keselamatan,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang tertarik menjadikan bersepeda sebagai aktivitas rutin.
“Kalau bisa semakin ramai. Jangan hanya mager di rumah. Bersepeda itu sehat, bisa kumpul teman, sekaligus menikmati alam Kudus,” ujarnya.

Meningkatnya aktivitas bersepeda di Kudus menunjukkan bahwa olahraga ini semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Komunitas terus berkembang, jalur menuju Muria semakin ramai digunakan, sementara kebutuhan akan sepeda, perlengkapan keselamatan, dan layanan servis juga terus berjalan seiring aktivitas para pesepeda.
Di tengah perkembangan tersebut, Rodalink Kudus menjadi salah satu fasilitas yang melengkapi kebutuhan pesepeda. Tidak hanya menyediakan sepeda dan perlengkapannya, tetapi juga layanan servis, konsultasi, penyewaan sepeda bagi wisatawan, hingga kegiatan fun bike yang mempertemukan masyarakat dengan komunitas.
Bagi sebagian orang, bersepeda dimulai sebagai kegiatan mengisi waktu luang. Bagi yang lain, olahraga ini menjadi rutinitas menjaga kebugaran atau sarana menjelajahi jalur-jalur di kawasan Muria. Apa pun tujuan mereka, kebutuhan akan perlengkapan yang memadai dan penggunaan perlengkapan keselamatan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap perjalanan. Di tengah semakin aktifnya masyarakat berolahraga, keberadaan Rodalink Kudus ikut melengkapi ekosistem olahraga sepeda yang terus berkembang di Kudus. (ITN/mainkekudus)