
Jl. Kepodang No.12, Wergu Kulon, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59317, Indonesia

Untuk mendukung aktivitas rombongan, Hotel Horison IJ juga menyediakan ruang pertemuan khusus yang dapat digunakan untuk sarapan maupun kegiatan internal. Penggunaan fasilitas seperti kolam renang dan ruang gym juga dapat diatur ketika pemain memiliki jadwal latihan atau pemulihan.

Setelah latihan atau pertandingan, fasilitas tersebut menjadi salah satu pilihan bagi pemain untuk menjalani aktivitas sebelum kembali beristirahat.
Kebutuhan tim juga terlihat dari menu makanan yang disiapkan hotel.
Executive Sous Chef Hotel Horison IJ, Gading Ganesa, bersama tim Food & Beverage Product berkoordinasi dengan pelatih dan tim gizi Yordania untuk menentukan makanan yang disajikan kepada pemain.

Pola makan pemain Yordania memiliki sejumlah perbedaan dengan kebiasaan makan tamu Indonesia. Makanan berminyak dihindari. Protein dan karbohidrat kompleks mendapat porsi penting dalam menu harian.
Untuk sumber protein, pemain lebih banyak mengonsumsi daging sapi, ayam, dan udang. Sementara untuk sumber karbohidrat, nasi bukan satu-satunya pilihan. Arabian bread, roti bagel, dan kentang lebih banyak digunakan.
Hotel juga menyiapkan sejumlah menu yang sesuai dengan selera mereka, seperti nasi biryani, nasi kabsah, bistik daging, ayam panggang, dan berbagai makanan grilled.
Para pemain bahkan membawa saus hummus dari negara asal mereka.
Meski sebagian besar menu menyesuaikan kebiasaan makan pemain Yordania, hotel juga sesekali memasukkan makanan Nusantara setelah mendapat persetujuan dari pelatih.
Bagi tim dapur, penyesuaian tersebut berarti memperhatikan dua hal sekaligus, kebutuhan pemain dan kebiasaan makan mereka. Bahan serta menu yang tersedia di hotel kemudian disesuaikan dengan permintaan tim.
Saat sarapan, beberapa makanan yang cukup sering dipilih pemain antara lain pancake buatan bagian pastry Hotel Horison IJ, keju, roti, dan madu.
Interaksi antara pemain dan staf tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan tim. Beberapa kebiasaan sederhana muncul selama rombongan Yordania tinggal di hotel.
Perbedaan bahasa menjadi salah satu hal yang ditemui staf. Sebagian pemain lebih fasih berbahasa Arab, sementara komunikasi sehari-hari dengan staf berlangsung dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Setelah beberapa hari, sejumlah pemain mulai mengenal ungkapan yang sering mereka dengar dari staf hotel.
Badrus mengatakan beberapa pemain bahkan mulai menggunakan ungkapan bahasa Jawa seperti “matur suwun” dan “sami-sami” saat berinteraksi dengan staf.
Ungkapan tersebut muncul dari percakapan sehari-hari. Pemain mendengarnya berulang kali ketika menerima pelayanan, kemudian mulai menggunakannya sendiri.

Staf juga menemukan kebiasaan lain dari pemain. Beberapa di antaranya cukup sering lupa membawa key card ketika keluar kamar. Untuk menghindari pintu kamar terkunci dan harus kembali ke lobi, mereka terkadang tidak menutup pintu kamar secara rapat atau membiarkannya sedikit terbuka dengan bantuan ganjalan.
Hal-hal kecil tersebut muncul di sela jadwal latihan, pertandingan, makan, dan istirahat yang sudah diatur oleh tim.
Lokasi hotel juga menjadi pertimbangan dalam mengatur kegiatan tim.
Hotel Horison IJ berada di pusat Kota Kudus dengan waktu tempuh menuju Supersoccer Arena sekitar 10 menit.

Bagi tim yang memiliki jadwal pertandingan, waktu perjalanan perlu disesuaikan dengan agenda. Keberangkatan harus memperhitungkan waktu pertandingan, sedangkan perjalanan kembali ke hotel perlu menyesuaikan kondisi pemain setelah bertanding.
Jarak yang relatif dekat membuat tim tidak membutuhkan waktu perjalanan yang panjang untuk menuju arena.
Setelah pertandingan, pemain dapat kembali ke hotel untuk makan, beristirahat, dan menjalani pemulihan. Keesokan harinya, agenda kembali berjalan sesuai jadwal tim.
Karena itu, akses hotel menuju venue ikut membantu tim mengatur waktu sejak keberangkatan hingga kembali setelah pertandingan.

Selama berada di Kudus, Timnas Putri U-16 Yordania membutuhkan lebih dari sekadar kamar hotel. Mereka membutuhkan tempat tinggal, makanan, ruang berkumpul, fasilitas pendukung, serta akses menuju Supersoccer Arena.
Kamar digunakan untuk beristirahat. Restoran dan dapur menyiapkan makanan sesuai kebutuhan tim. Ruang pertemuan digunakan untuk kegiatan internal. Kolam renang dan gym dapat dimanfaatkan dengan pengaturan tertentu. Lokasi hotel juga memudahkan perjalanan menuju arena.
Pola tersebut membuat pelayanan kepada tim olahraga berbeda dengan tamu yang datang untuk berlibur atau melakukan perjalanan biasa. Jadwal makan dapat berubah, menu perlu dikonsultasikan dengan pelatih dan tim gizi, fasilitas tertentu harus diatur penggunaannya, dan waktu istirahat perlu diperhatikan.
Kehadiran tim dari luar negeri juga membawa interaksi baru bagi staf hotel. Bahasa, makanan, dan kebiasaan yang berbeda muncul dalam aktivitas sehari-hari selama mereka tinggal di Kudus.

Pada skala yang lebih luas, kedatangan tim dari luar daerah dan luar negeri ikut menciptakan kebutuhan terhadap akomodasi, makanan, transportasi, dan berbagai layanan lain di kota penyelenggara.
Hotel menjadi salah satu sektor yang menerima dampak langsung dari aktivitas tersebut.

Bagi Horison IJ, pengalaman menerima Timnas Putri U-16 Yordania menjadi salah satu bentuk keterlibatan hotel dalam kegiatan olahraga di Kudus. Badrus berharap perkembangan sports tourism di Kudus terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak kegiatan yang melibatkan sektor perhotelan.

Selama beberapa hari, kebutuhan pemain Yordania di Horison IJ berlangsung melalui rutinitas yang cukup praktis: makan mengikuti jadwal tim, beristirahat, menggunakan fasilitas hotel, berinteraksi dengan staf, kemudian menuju arena dan kembali lagi ke hotel.
Hotel bukan tempat pertandingan. Namun, selama turnamen berlangsung, aktivitas tim tetap berjalan di sana. (ITN/JMY/mainkekudus)