
Jl. KH. Agus Salim, Wergu Wetan, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59318, Indonesia
General Manager The Junction Kudus, Fadhilatul Fithri, mengatakan konsep tersebut memang disiapkan agar kawasan ini berkembang menjadi pusat berbagai cabang olahraga.

“Kenapa The Junction kita set up seperti ini untuk sport center atau sport destination di Kudus, nantinya akan ada beberapa cabang olahraga. Saat ini yang kami dahulukan adalah biliar,” ujarnya.

Pemilihan biliar sebagai fasilitas pertama bukan tanpa alasan. Menurut Fadhilatul Fithri, olahraga ini sedang mengalami peningkatan minat di berbagai daerah. Di sisi lain, Kudus juga memiliki atlet-atlet yang membutuhkan tempat latihan dengan standar yang memadai.
Ia menjelaskan, The Junction tidak hanya ingin menghadirkan tempat bermain, tetapi juga membuka ruang bagi atlet muda untuk mengembangkan kemampuan mereka.
“Melihat animo biliar yang sedang tinggi, kami ingin mengakomodasi bibit-bibit potensial atlet Kudus untuk berlatih sekaligus menghidupkan kembali kawasan bekas stasiun ini agar menjadi salah satu tujuan olahraga di Kudus,” katanya.
Pengembangan kawasan juga belum berhenti pada fasilitas biliar. Ke depan, pengelola berencana melengkapi area tersebut dengan lapangan padel, pusat kebugaran, layanan fisioterapi, hingga wellness center. Seluruh fasilitas itu dirancang agar masyarakat dapat melakukan berbagai aktivitas olahraga dalam satu lokasi.
Menurut Fadhilatul Fithri, jumlah meja yang hanya mencapai 20 unit juga merupakan keputusan yang disengaja. Prioritas utama bukan mengejar kapasitas sebanyak mungkin, melainkan memastikan setiap pemain memperoleh ruang gerak yang nyaman.

“Kami ingin memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Jadi ruang bermain dibuat lebih lega sehingga orang bisa menikmati permainan dengan nyaman. Harapannya tentu semakin banyak atlet biliar dari Kudus yang bisa berkembang,” jelasnya.
Selain menghadirkan fasilitas olahraga, The Junction juga melengkapi pengalaman pengunjung melalui layanan makanan dan minuman yang terintegrasi dengan aktivitas bermain. Pengunjung dapat menikmati berbagai paket permainan yang dipadukan dengan hidangan maupun minuman sehingga waktu berolahraga sekaligus menjadi ruang berkumpul bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja.
Pengelola menyusun sejumlah program berdasarkan hari kunjungan. Pada hari Senin, misalnya, tersedia paket bermain selama dua jam seharga Rp85 ribu yang sudah termasuk pisang goreng dan dua botol air mineral. Hari Selasa menghadirkan paket Rp90 ribu dengan tambahan chicken popcorn dan dua soft drink. Sementara pada hari Rabu, melalui program Girls Come Out & Play, pengunjung perempuan dapat memperoleh dua jam bermain ditambah satu jam gratis serta chicken wings dan dua soft drink dengan harga Rp100 ribu.
Program serupa juga tersedia pada hari Kamis melalui paket Escape Work. Dengan harga Rp100 ribu, pengunjung mendapatkan dua jam bermain, tambahan satu jam gratis, spring roll, dan dua botol air mineral. Adapun pada hari Jumat dan Sabtu, tersedia paket Happy Weekend seharga Rp100 ribu yang mencakup dua jam bermain, mix platter, serta dua soft drink.
Selain program harian, The Junction juga menawarkan keanggotaan (membership) selama tiga bulan dalam dua pilihan paket, yakni Silver seharga Rp799 ribu dan Gold seharga Rp999 ribu. Program ini dilengkapi sejumlah fasilitas berupa kartu anggota resmi, prioritas daftar tunggu, exclusive merchandise, serta kuota bermain gratis hingga 30 jam sesuai ketentuan paket. Jumlah keanggotaan tersebut juga dibatasi sebanyak 100 anggota.
Di luar area bermain reguler, The Junction menyediakan ruang VIP dengan meja Brunswick yang dipisahkan dari area umum. Sementara meja Rasson ditempatkan pada area reguler yang dapat digunakan masyarakat maupun atlet untuk berlatih. Pembagian fasilitas tersebut memberikan pilihan sesuai kebutuhan pengunjung, baik yang datang untuk meningkatkan kemampuan bermain maupun sekadar menghabiskan waktu bersama komunitas.
Berbagai layanan pendukung itu melengkapi konsep one stop sport yang dikembangkan di The Junction. Kawasan ini tidak hanya menyediakan fasilitas biliar, tetapi juga menghadirkan ruang yang menggabungkan olahraga, kuliner, dan aktivitas sosial dalam satu lokasi.
Beragam fasilitas pendukung tersebut dilengkapi dengan jam operasional yang relatif panjang. The Junction membuka arena mulai pukul 11.00 hingga 01.00 WIB pada Senin sampai Kamis, sedangkan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu layanan berlangsung hingga pukul 02.00 WIB. Waktu operasional yang lebih panjang pada akhir pekan memberikan pilihan bagi masyarakat yang ingin bermain, berlatih, ataupun berkumpul bersama komunitas pada malam hari.
Konsep tersebut dirasakan langsung oleh para pengunjung. Salah satunya Marcell Pratama Nathaniel (20), warga Desa Glantengan yang rutin datang bersama teman-temannya.

Baginya, kenyamanan menjadi hal pertama yang terasa ketika bermain di The Junction. Ruangan yang sejuk membuat aktivitas bermain tetap nyaman dilakukan pada siang maupun malam hari.
“Tempatnya sangat asyik dan nyaman. Mau main siang atau malam tetap terasa sejuk. Pelayanannya juga cepat, racker-nya sigap membantu tanpa harus dipanggil berkali-kali,” ungkapnya.

Selain fasilitas bermain, Marcell juga menilai layanan makanan dan minuman menjadi nilai tambah karena pengunjung dapat beristirahat tanpa harus keluar dari area permainan.
“Saya sudah mencoba beberapa menu, menurut saya cocok untuk dicoba. Mau main di meja Rasson atau Brunswick sama-sama enak,” katanya.

Marcell mengaku masih banyak belajar bermain biliar sehingga lebih sering menggunakan meja Rasson. Menurutnya, pelayanan petugas yang cepat membantu proses pergantian permainan membuat waktu bermain menjadi lebih efektif.
Ia juga melihat keberadaan tempat seperti The Junction memberi alternatif aktivitas positif bagi anak muda di Kudus.
“Sekarang sudah ada tempat seperti ini, jadi teman-teman seusia saya atau atlet muda bisa belajar dan latihan bareng di sini,” ujarnya.
Salah satu daya tarik The Junction adalah penggunaan dua merk meja biliar yang selama ini dikenal luas di kalangan pemain, yakni Rasson dan Brunswick. Keduanya sama-sama berada di segmen premium, tetapi memiliki karakter permainan yang berbeda sehingga memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung.
Rasson merupakan produsen asal Tiongkok yang berkembang pesat melalui inovasi teknologi dan kini banyak digunakan pada berbagai kejuaraan pool internasional. Meja ini dikenal memiliki konstruksi rangka baja, sistem leveling yang presisi, serta karakter pantulan bola yang cepat dan konsisten. Karakter tersebut membuat Rasson banyak dipilih sebagai meja pertandingan pada sejumlah kompetisi dunia, seperti World Pool Championship, World Cup of Pool, Mosconi Cup, hingga US Open Pool Championship.
Di sisi lain, Brunswick merupakan produsen asal Amerika Serikat yang berdiri sejak 1845 dan memiliki sejarah panjang dalam industri biliar. Meja Brunswick, khususnya seri Gold Crown, dikenal melalui konstruksi kayu keras berkualitas tinggi serta karakter permainan yang lebih halus. Reputasi tersebut menjadikan Brunswick tetap banyak digunakan di klub-klub biliar premium dan berbagai arena pertandingan di Amerika Serikat.
Kehadiran kedua merek tersebut dalam satu arena memberikan pilihan pengalaman bermain yang berbeda bagi pengunjung. Pemain yang ingin merasakan sensasi meja pertandingan modern dapat memilih Rasson, sementara mereka yang menyukai karakter permainan yang lebih klasik dapat mencoba Brunswick. Kombinasi ini juga memberi kesempatan bagi atlet untuk beradaptasi dengan karakter meja yang berbeda saat mengikuti berbagai kompetisi.
Pandangan serupa disampaikan atlet biliar Kudus, Benny Setiawan, yang akrab disapa Jenggo. Warga Desa Mlati Lor itu telah menekuni olahraga biliar sejak 2004 dan pernah mempersembahkan medali perak serta perunggu bagi Kudus pada Porprov Jawa Tengah 2013 di Banyumas.
Menurut Jenggo, keberadaan dua jenis meja premium di The Junction menjadi nilai tambah bagi pemain maupun atlet yang berlatih. Ruang VIP menggunakan meja Brunswick dengan area bermain yang lebih luas, sedangkan area reguler dilengkapi meja Rasson yang memiliki karakter serupa dengan meja yang banyak digunakan dalam berbagai turnamen internasional. Kombinasi keduanya memberi kesempatan bagi pemain untuk beradaptasi dengan karakter meja yang berbeda sekaligus membiasakan diri dengan standar yang ditemui di arena kompetisi.

Ia menilai fasilitas yang tersedia sudah mendukung kebutuhan latihan maupun penyelenggaraan pertandingan. Luasnya area bermain juga memberikan kenyamanan sehingga pemain dapat lebih leluasa saat bertanding maupun berlatih.
“Kesan pertama saya, ini tempat yang paling nyaman dan paling besar di Kudus. Tempatnya luas, mejanya standar untuk latihan maupun turnamen. Pelayanannya juga bagus,” katanya.
Bagi Jenggo, keberadaan tempat seperti The Junction dapat mendukung proses pembinaan atlet karena pemain memiliki akses terhadap fasilitas yang lebih mendekati kebutuhan pertandingan. Menurutnya, atlet juga memerlukan kesempatan mengikuti berbagai kompetisi untuk menambah pengalaman sekaligus membangun rekam jejak prestasi sebagai bekal mengikuti seleksi ke jenjang yang lebih tinggi.

“Tempat seperti ini sangat mendukung untuk menggali bakat atlet-atlet muda di Kudus. Atlet juga perlu mengikuti berbagai pertandingan supaya punya catatan prestasi untuk seleksi ke jenjang berikutnya,” jelasnya.

Selain melihat perkembangan fasilitas, Jenggo juga merasakan perubahan cara masyarakat memandang olahraga biliar. Jika pada masa awal dirinya berlatih olahraga ini masih sering dipandang negatif, kini semakin banyak kompetisi yang dipublikasikan melalui media sosial sehingga masyarakat mulai mengenal biliar sebagai cabang olahraga prestasi.
“Sekarang sudah berbeda. Banyak event yang diunggah di media sosial sehingga masyarakat juga tahu kalau biliar adalah olahraga yang dipertandingkan. Pandangannya sekarang jauh lebih positif,” ujarnya.
Setelah mulai beroperasi, The Junction langsung menggelar turnamen perdananya sebagai bagian dari upaya mengembangkan komunitas biliar di Kudus.
Fadhilatul Fithri mengatakan Nine Ball Mini Tournament berlangsung pada 22 Juli 2026 dengan mempertandingkan kategori 3, 3+, 4C, dan 4B. Turnamen tersebut memperebutkan total hadiah Rp7,5 juta.

Selain menjadi wadah kompetisi, turnamen ini juga dimanfaatkan untuk menguji kesiapan tim dalam menyelenggarakan event berskala lebih besar.
“Kami ingin melihat kesiapan tim sekaligus mengetahui bagaimana animo masyarakat terhadap event yang kami buat,” katanya.
Kompetisi ini diikuti 32 peserta dari wilayah eks Karesidenan Pati maupun daerah lain di Jawa Tengah. Menurut Fadhilatul Fithri, kuota peserta langsung terpenuhi tidak lama setelah pendaftaran dibuka.
“Begitu pendaftaran dibuka, pesertanya langsung penuh. Respons masyarakat cukup besar sampai kami kewalahan menerima pendaftar,” ungkapnya.
Masyarakat juga dapat menyaksikan langsung pertandingan tersebut. Fadhilatul Fithri berharap kehadiran turnamen seperti ini dapat menjadi agenda yang rutin digelar sekaligus memperkuat ekosistem olahraga biliar di Kudus.

Kehadiran The Junction menambah ragam aktivitas olahraga yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan saat berkunjung ke Kudus. Pemanfaatan kawasan bekas Stasiun Wergu juga menunjukkan bahwa ruang lama dapat diberi fungsi baru tanpa melepaskan nilai sejarah yang melekat pada lokasinya.
Di satu sisi, tempat ini menjadi ruang rekreasi bagi masyarakat yang ingin mencoba olahraga biliar dalam suasana yang nyaman. Di sisi lain, fasilitas yang tersedia membuka peluang bagi atlet lokal untuk berlatih lebih rutin dan mengikuti berbagai kompetisi.

Rencana pengembangan kawasan dengan tambahan fasilitas olahraga lain juga memperlihatkan arah yang ingin dibangun pengelola, yakni menjadikan The Junction sebagai pusat aktivitas olahraga yang dapat digunakan berbagai kelompok usia.
Dengan memanfaatkan bangunan bersejarah menjadi ruang olahraga modern, kawasan Eks Stasiun Wergu kini memasuki babak baru. Tidak lagi hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah transportasi Kudus, tetapi juga menjadi salah satu ruang yang mempertemukan olahraga, komunitas, dan aktivitas masyarakat dalam satu kawasan. (JMY/mainkekudus)